1 dari Jutaan Kemungkinan
Siang ini Dara mendapati sosok yang selama ini menjadi sasaran umpatan-umpatannya di depan pintu apartemen Karin. Aryan Sakha, lelaki yang merupakan ayah biologis dari anak yang di kandung sahabatnya itu menampakkan dirinya di hadapan Dara yang jelas-jelas nampak sekali ingin membunuhnya. Kalau bisa, Dara ingin sekali menghabisi Aryan.
“Ada kepentingan apa lo ke sini?” tanya Dara dengan nada tidak bersahabatnya.
“Tolong izinin gue buat ketemu sama Karin. Ada hal penting yang perlu gue omongin berdua,” ujar Aryan menjelaskan maksudnya. Aryan mengerti dari sikap Dara padanya, kemungkinan besar ia tidak mendapat izin untuk menemui Karin.
“Gue pikir udah nggak ada yang perlu lo sama Karin omongin. Kalau lo cuma mau nyakitin Karin, you better go. Karin nggak butuh kehadiran lo.”
Rupanya tanpa Aryan tahu, dari dalam apartemennya, Karin mengetahui kedatangannya dan mendengar semua percakapan Aryan dengan Dara.
“Dara, tolong izinin gue ketemu Karin. Saat ini gue sama Karin punya anak, kita punya tanggung jawab bersama.”
“Tanggung jawab bersama? Dari awal lo sendiri yang nolak anak itu dan nyuruh Karin buat gugurin.”
Aryan kehilangan kata-katanya. Apa yang diucapkan Dara adalah benar apa adanya dan ia mengakui itu.
“Gue minta maaf dan gue nyesal pernah minta Karin menggugurkan anak itu,” ucap Aryan. Dara kini berusaha mencari penyesalan dari mata Aryan dan ia menemukan itu di sana. Lelaki di hadapannya ini rupanya sungguh menyesal dan bertekad untuk mendapat izin darinya supaya bertemu dengan Karin.
Dara menghembuskan napasnya panjang, “Oke. Gue izinin lo ketemu Karin.” Dara menggeser tubuhnya, membuka pintu apartemen lebih lebar.
“Lo bisa ngomong sama Karin berdua, gue akan kasih lo waktu. Tapi satu yang lo harus tau. Kalau lo sakitin Karin lagi, gue pastiin lo dapat hukuman atas perbuatan itu,” pungkas Dara sebelum ia melangkah keluar dan menyuruh Aryan untuk masuk.
***
Sesuai yang diperintahkan oleh dokter, Karin harus menjalani bed rest selama 1 minggu sekembalinya ia dari rumah sakit. Ini terhitung hari pertama bagi Karin dan kegiatannya di apartemen hanya makan, mandi, dan tidur.
Setelah Karin mendengar pembicaraan Dara dan Aryan di depan pintu apartemennya, Dara mengatakan padanya kalau ia memberi waktu pada Karin dan Aryan untuk bicara berdua. Dara pun mengerti, bahwa bagaimanapun kini Karin dan Aryan memiliki tanggung jawab yang harus diemban bersama. Keduanya harus menyelesaikannya dengan berkomunikasi, bukannya lari begitu saja.
Karin duduk di kasurnya, menyandarkan punggungnya ke header kasur. Karin melihat Aryan mengambil kursi untuk duduk di samping tempat tidurnya.
Aryan menatap Karin dan berdeham, sebelum lelaki itu memulai pembicaraannya. “Karin, aku mau jelasin soal apa yang di bilang dokter tentang kandungan kamu.”
Karin balas menatap Aryan. Dari sorot matanya, nampak kekhwatiran yang begitu jels dari kedua mata bulat itu.
“Bayinya saat ini baik-baik aja. Tapi dokter bilang kondisi kandungan kamu lemah,” ucap Aryan dengan nada pelannya. Tenggorokan Aryan terasa kering kala mengucapkannya. Begitu melihat Karin, Aryan mendapati ekspresi terluka dari paras pucat itu. Fakta ini merupakan tamparan yang cukup keras bagi Karin maupun dirinya.
“Karin, aku minta maaf. Maaf karena pernah minta kamu untuk gugurin kandungan. Aku sadar akhirnya kalau aku menyayangi anak kita. Aku nggak ingin kehilangan dia,” ungkap Aryan.
“Aku akan bertanggung jawab atas kamu dan anak ini,” sambung Aryan ketika Karin hanya terdiam dan seperti tidak berniat mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya.
Mendapati kenyataan mengenai kondisi kandungannya, membuat Karin tidak dapat berpikir jernih. Kini ia hanya memikirkan keselamatan anaknya dan bagaimana ia bisa menjaga anak ini sampai lahir? Pikiran Karin saat ini begitu buntu.
“Tanggung jawab? Maksud kamu tanggung jawab dalam bentuk apa?” tanya Karin.
“Aku akan menikahi kamu, Karin.”
Boom!
Kalimat yang Aryan lontarkan barusan terdengar seperti petir di tengah siang bolong bagi Karin.
“Kamu berpikir menikah semudah itu?” tanya Karin dengan nada pelannya.
“Itu mudah, Karin. Kita cuma menikah demi anak. Aku akan tetap berhubungan dengan Shakina setelah kita menikah.”
Karin berusaha mengontrol emosi yang sedang menguasai dirinya. Perempuan itu menghela napasnya panjang. “Oke. It's easy then. Aku juga ingin tetap berhubungan sama Rey selama kita menikah,” tukas Karin.
“Oke. Kamu bisa melakukannya. Setelah anak kita lahir, kita bisa berpisah. Apapun nanti keputusan hak asuh anak, aku akan terima.”
Detik berikutnya Aryan berujar lagi, “Ada syarat yang mau kamu ajukan ke aku?””
Karin terlihat memikirkan kalimat yang diucapkan oleh Aryan. Karin mempertimbangkan bahwa keputusan yang ia ambil tidak akan membuatnya menyesal suatu hari nanti. Toh saat ini bagi Karin yang terpenting adalah anaknya. Ia akan mengesampingkan prioritas tentnag dirinya lebih dulu.
Selama Karin tidak akan mencintai Aryan, maka dirinya tidak akan menyesal jika suatu saat mereka berpisah. Anaknya tetap akan mendapat kasih sayang yang penuh darinya muapun dari Aryan. Meskipun rasanya akan berbeda bagi seorang anak ketika memiliki kedua orang tua yang tidak bersama.
“Aku akan ngajuin satu syarat ke kamu sebelum menyetujui kesepakatan itu,” ucap Karin.
“Sure. You can tell me.”
“Aku mau hanya kita yang tau soal kesepakatan ini. Kita bisa berhubungan dengan pasangan kita selama itu di belakang keluarga. Keluargaku taunya kita akan menikah dan berpisah karena masalah ketidakcocokan. Kamu paham kan maksudku?”
“Iya, aku paham. Aku akan urus semuanya dan kamu tinggal terima beres,” ujar Aryan.
“Oke. Ada syarat yang mau kamu ajuin ke aku?” tanya Karin.
“Aku mau aku tetap bisa ketemu anakku kapan aja. Misalnya hal asuhnya jatuh ke tangan kamu.”
“Kamu tenang aja. Kamu bisa ketemu dia kapan pun yang kamu mau. Aku nggak akan melarang anakku untuk ketemu sama ayah kandungnya.”
Aryan mengangguk, “Terima kasih, Karin.”
Sebelum Aryan pamit dari sana, ia kembali pada Karin dan mengatakan sesuatu soal pernikahan mereka.
“Setelah masa bed rest kamu selesai, kita akan ke dokter untuk pastiin kondisi kamu dan bayinya. Kalau dokter bilang oke, kita bisa segera menikah.”
“Sure.”
Setelah ucapan Karin itu, Aryan pun pamit untuk pergi. Tidak lama berselang dari kepergian Aryan, Dara menemui Karin di kamarnya. Dara pun memutuskan tidak menanyai Karin soal apa yang ia bicarakan dengan Aryan.
“Lo istirahat aja ya. Kalau butuh apa-apa, panggil gue. Gue ada di ruang kerja.”
“Makasih ya, Dar.”
Dara mengangguk dan melangkah menjauhi Karin. Tidak lupa sebelum ia menutup pintu kamar, Dara mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur berwarna kuning.
Setelah Dara menghilang di balik pintu, Karin bergerak menaikkan selimut sampai menutupi hampir seluruh tubuhnya. Di bawah selimut tebal itu, Karin memikirkan banyak hal mengenai kesepakatannya bersama Aryan. Karin telah mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran tersebut, ia tidak ingin stressnya bisa berdampak pada bayi yang ada di kandungannya. Sebelum Karin benar-benar terjun ke alam mimpinya, sebuah pemikiran pun terlintas di benaknya. Pemikiran yang lebih seperti pertanyaan untuk dirinya sendiri.
Apakah Karin bisa menjamin kalau dirinya tidak akan mencintai Aryan? Seharusnya itu mudah, seru otaknya. Namun hatinya mengatakan sebuah sanggahan yang bertolak belakang dengan akal logisnya. Dari banyaknya waktu yang akan ia lalui bersama Aryan, sekitar 9 bulan lamanya, terdapat 1 dari jutaan kemungkinan untuknya bisa jatuh cinta terhadap Aryan.
Karin menggelengkan kepalanya. Ia pun segera memanjatkan doa dalam hatinya, sembari kedua matanya ia pejamkan. Karin menginginkan 1 dari jutaan kemungkinan yang ada, tidak ada yang akan berpihak dan Aryan. Karin berharap semoga Tuhan mengabulkan doanya yang satu ini.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷