9 Things I Will do With My Wife : Things Number 4

Aryo meraih botol Russo Baltique Vodkanya, lalu dengan lihai ia membuka tutup emasnya. Kedua mata sipitnya tidak lepas memandang Tiara barang sedetikpun. Tiara yang dipandangi seperti itu, seketika merasa gugup. Bagaimana bisa, Aryo yang tengah membuka botol minuman kini terlihat begitu menggoda baginya.

Keadaannya seperti telah berbalik. Kini Tiara yang tidak bisa melepaskan pandangannya dari Aryo. Ia merutuki dirinya sendiri yang 'mabuk' akan pesona Aryo.

Tanpa sadar, Tiara menelan salivanya begitu saja. Ia memerhatikan Aryo yang mulai meneguk minuman berakohol itu langsung dari botolnya. Mata Tiara turun menatap jakun menonjol Aryo yang bergerak keatas kebawah. Hal tersebut seketika mampu membangkitkan sesuatu dalam diri Tiara. Rasanya bergejolak, hangat, dan adrenalinnya seperti dipacu ke level tinggi.

“Aryo, kamu minumnya jangan banyak-banyak lho,” ucap Tiara ketika Aryo tengah menjeda aksi minumnya.

“Ini nggak banyak Sayang,” ujar Aryo.

“Botolnya besar dan kamu hampir habisin setengahnya.”

Aryo menggelengkan kepalanya dan mengacak rambutnya miliknya sekilas. “Say good bye to my beloved vodka,” Aryo menatap lekat botol di tangannya dan seolah berbicara pada benda itu, “I don't want you again, in my life. I will leave you forever,” cerocos Aryo dan sedetik kemudian kepalanya terkulai di atas meja.

“Aryo,” panggil Tiara. “Tuh kan kamu mabuk. Jangan tidur di sini, ayo ke ke kamar,” sambungnya.

“Aku nggak mabuk, Ra. Kamu ... kamu mau tau rasanya vodka, kan?” racau Aryo sembari berusaha membuka matanya. Pandangan pria itu kini terasa kabur dan sulit untuk mempertahankan matanya tetap terbuka.

“Kita tidur aja, yaa?” titah Tiara.

“Nggak mau tidur. Aku pengennya sama kamu.”

“Yaa ... kan tidurnya sama aku.”

“Oh iya, aku lupa. Tidurnya sama istriku yang cantik banget. Paling cantik sedunia.” Aryo mengucapkannya sambil tersenyum lebar.

Beruntungnya Aryo masih bisa berjalan dengan kedua kakinya sendiri menuju kamar. Sesampainya di kamar mereka, Aryo langsung ambruk ke kasur.

“Tiara,” ujar Aryo yang kesadarannya masih tersisa setengah.

Tiara duduk di tepi kasur, ia mengusap kening Aryo dan menyilakan rambut pria itu ke belakang. “Kenapa?” tanyanya.

“Aku cuci muka dulu yaa.”

Tiara tertawa pelan, “Kamu mau ngapain cuci muka?”

Aryo mengangkat tangannya ke udara lalu mengarahkan telunjuknya ke arah Tiara, “Aku mau nepatin janji. Aku mau nunjukin ke kamu rasanya vodka tanpa kamu minum langsung.”

“Besok aja yaa? Ini udah malam, Aryo.”

Aryo menggeleng dan pria itu segera bergerak dari posisi baringannya. Tiara yang khawatir, cepat-cepat menyusul langkah Aryo ke dalam kamar mandi. Di depan wastafel, Aryo membilas wajahnya, lalu bergegas mengusap sisa air di sana dengan handuk kecil.

Setelah selesai dengan urusan mencuci wajahnya, Aryo berbalik dan mendapati Tiara di sana. “Ra, aku udah nggak mabuk,” ujarnya.

“Kamu bener-bener ya,” cetus Tiara yang dibalas cengiran kecil oleh Aryo.

Hangover kamu udah ilang?” tanya Tiara.

“Udah, Sayang. Emangnya kenapa kalau aku masih hangover?”

“Yaa ... aku nggak mau ngelakuinnya sama orang yang mabuk,” aku Tiara.

Aryo sudah lebih segar meskipun belum sepenuhnya pengaruh alkohol itu hilang dari tubuhnya. “You will not, Sweety,” ucap Aryo.

Pandangan mereka bertemu tepat di satu titik. Aryo pun memangkas jarak yang ada diantara ia dengan Tiara. Rambut depan Aryo yang jatuh dikeningnya nampak sedikit basah karena kegiatannya membilas muka. Tiara memerhatikannya dan itu nampak begitu seksi di matanya. Hal kecil, tapi Tiara rasa ia bisa gila dibuatnya.

“Aryo,” ucap Tiara spontan dan suaranya terdengar sedikit serak.

Yes, Sweety?”

Tiara mengarahkan satu tangannya untuk mengusap sisi wajah Aryo, “I want to kiss you so bad,” cetus Tiara.

You can do it, Sweety.” Kini Aryo membiarkan Tiara untuk melakukannya lebih dulu.

Aryo menghela tubuh Tiara untuk duduk di meja marmer di kamar mandi. Kemudian dengan perlahan dan halus, bibir hangat Tiara mulai mengecup belah bibir Aryo. Tiara melakukannya dengan sangat apik, gerakannya, sentuhannya di dada bidang Aryo, itu terasa sempurna.

Kini tangan Aryo yang bebas, menyilakan surai panjang Tiara yang menggelitik permukaan kulit wajahnya. Di tengah kegiatan yang indah itu, sebuah senyum tercetak di bibir Aryo. Namun tidak bertahan lama, senyumannya itu pudar karena Tiara kembali menekan bibirnya dan hal tersebut membuat Aryo lumayan kualahan.

Tiara melancarkan tangannya di antara surai legam Aryo, mengisyaratkan pria itu untuk melakukan lebih. Setelah sekitar 5 menit pergulatan yang cukup panas tersebut, mereka memutuskan untuk saling melepaskan.

Keduanya lalu sama-sama mengulaskan senyum. Tidak lama kemudian, Aryo menghela Tiara untuk ia gendong ala bridal style. Tiara mengalungkan lengannya di leher Aryo dan mendekatkan dirinya untuk kembali mengecup bibir Aryo.

Hey, easy Babe,” ucap Aryo diiringi kekehannya.

I'm drunk. The taste was incredible and perfect,” ucap Tiara. Ia mengusapkan tangannya sensual di sekitaran rahang Aryo, “I'm drunk over you. You look really fucking hot,” aku Tiara.

Indeed, Babe. You're drunk.” Aryo pun sukses tertawa. Sebelum membaringkan Tiara di ranjang, ia menyematkan kecupan dalam di dahi wanitanya.

Dari posisinya, Tiara memerhatikan Aryo yang tengah melepas rolex di pergelangan tangannya. Kebiasaan yang Tiara suka, Aryo selalu memerhatikan hal kecil untuk tujuan membuatnya nyaman ketika mereka akan melakukannya. Belum selesai dengan itu, Aryo mengambil parfumnya dan menyemprotkannya di pergelangan tangan dan tidak lupa di area tengkuknya. Pergerakan Aryo itu tidak sedetikpun lepas dari sepasang mata beriris legam milik Tiara.

Aryo kini tengah berbaring di ranjang bersama Tiara, mendekap torso wanitanya dengan dekapan hangat. Mereka saling menyentuh dan meraba satu sama lain untuk pemanasan.

Tidak lama kemudian, Aryo merubah posisinya untuk berada di atas Tiara. “You're the most prettiest person I've ever seen,” ucap Aryo.

Tiara mengulaskan senyumnya. Kemudian ia mengarahkan tangannya untuk melepas satu persatu kancing kemeja Aryo. Selesai dengan itu, Tiara menjalarkan jemarinya untuk menyentuh otot di lengan Aryo dan perlahan bergerak ke dada bidangnya, lalu usapannya berakhir di perut six pack keras dan liat milik suaminya.

Saat tangan Tiara akan menjauh dari sana, Aryo menahannya agar Tiara terus melakukan sentuhan itu. Selama Tiara kembali melakukannya, Aryo bergerak mencium bibir Tiara, melumatnya lembut dengan ritme yang sedang. Keduanya bersamaan hanyut di dalam ikatan indah yang mereka ciptakan.

Begitu sesuatu tidak bertulang itu mendesak masuk ke mulut Tiara dan mulai menari dengan lihai di dalam sana, Tiara melengkungkan punggungnya ke atas dan meremas rambut Aryo sebagai pelampiasan. Sebuah pelampiasan akan sebuah rasa nikmat yang tiada tandingannya.

“Aryo,” ucap Tiara ketika mereka beristirahat. Aryo masih berada di atasnya, menahan bobot tubuhnya agar sebisa mungkin tidak mengenai baby bump Tiara yang sudah nampak lumayan besar.

“Kamu lupa lepas kalung kamu,” ujar Tiara diiringi senyum kecilnya.

Oh my god I forgot it. Aku lepas dulu kalau gitu Sayang—” ucapan Aryo tertahan karena Tiara lebih dulu menariknya mendekat untuk kembali mengecup bibirnya.

Hot 2

Mereka kembali bergelut dan merasakan keindahan yang selalu keduanya dambakan. Tiara sudah cukup basah di bawah sana dan milik Aryo sudah menegang.

“Ra, kalau terlalu sakit nanti kamu bilang ya,” ujar Aryo dan Tiara mengangguk. Aryo telah melepaskan rok diatas lutut yang di kenakan oleh Tiara sekaligus underwear merah mudanya.

Hot

Aryo mendekatkan dirinya untuk mencium surga miliknya. Itu sudah basah, Aryo melakukannya dengan begitu apik. Kemudian desahan seksi Tiara lolos saat Aryo mulai melesakkan juniornya di bawah sana. Tiara menggigit bibir bawahnya ketika Aryo mempercepat tempo penyatuan mereka. Keduanya saling bertatapan saat itu terjadi dan Tiara mendapati Aryo berkali lipat lebih mempesona, ketika dengan lincahnya pria itu bergerak di atasnya.

“Ra, sejak kamu hamil dan kita melakukannya, It's feels really amazing,” ucap Aryo, napasnya kini terdengar tidak beraturan.

You're always great when we are doing it,” balas Tiara.

Aryo kembali menghentak Tiara di surganya dan keduanya sama-sama meraih pelepasan sekitar 15 menit melakukannya. Tiara sedikit tidak menyangka, bahwa lumayan cepat waktu yang mereka butuhkan untuk pelepasan itu.

“Udah, Sayang?” tanya Aryo.

Tiara mengangguk lemah. Aryo lantas melepaskan miliknya dari bawah sana dan bergerak ke samping Tiara. Aryo menatap Tiara lekat-lekat, lalu menghujani Tiara ciuman hangat di pelipis dan pipinya.

“Ra, aku nggak bisa nyusun kata-kata indah buat diucapin ke kamu. Nilai bahasa Indonesia aku biasa aja, nggak bagus bagus banget. Mungkin aku nggak romantis dan ku belum bisa luangin banyak waktu buat quality time sama kamu,” ucap Aryo panjang lebar.

Tiara memosisikan tubuhnya untuk menghadap Aryo. Ia meraih lengan lelaki itu untuk melingkar di bahunya, “Hei, kata siapa aku butuh kata-kata romantis. Setiap orang punya love languange dominannya masing-masing. Kamu romantis dengan cara kamu sendiri,” Tiara menjeda ucapannya. Ia lantas memberikan kecupan manis di ujung hidung mancung Aryo, “Kamu peduli sama setiap detail untuk bikin aku nyaman saat sama kamu, dan itu berarti banget buat aku. Aku berterima kasih untuk semua yang udah kamu lakuin, dari hari pertama kita ketemu sampai saat ini.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷