A Best Man for Her Daughter
5 Tahun Kemudian …
Siang ini sebuah supermarket di salah satu pusat perbelanjaan di pusat kota, nampak cukup ramai oleh pengunjung. Mayoritas pengunjung di sana adalah para wanita muda sampai dengan yang berusia lebih tua. Ada yang berbelanja seorang diri, ada yang ditemani suami serta anak mereka, dan berbagai jenis pengunjung lainnya.
Di deretan produk dairy, nampak seorang perempuan berusia 36 tahun tengah melihat-lihat. Matanya memindai mencari sebuah merek dari kulkas yang menyajikan susu dengan berbagai rasa dalam kotak kemasan berukuran 1 liter tersebut. Begitu matanya menangkap sebuah kotak coklat yang fameliar, tangannya segera bergerak untuk mengambil barang tersebut.
Namun aksinya terhenti begitu saja kala tangannya bersinggungan dengan tangan seorang wanita. Begitu ia menoleh untuk melihat wanita itu, pandangannya sama sekali tidak dapat lepas dari sosok yang kini ada di hadapannya. Wanita paruh baya itu juga tengah menatapnya, matanya menyorotkan sebuah penyesalan yang terasa begitu menyakitkan.
“Mama,” ucap Karin akhirnya setelah keduanya terdiam cukup lama.
Karin tidak dapat menahan rasa sesak yang tiba-tiba saja menyerang dadanya. Rasanya seperti mimpi, entah harus bagaimana, rasa senang atau sedih yang harusnya dirasakan oleh Karin. Perempuan itu juga tidak tahu bagaimana harus mendeskirpsikannya.
***
Kini di sebuah kafé bergaya minimalis dengan nuansa warna earthtone, Karin dan wanita yang ia panggil mama beberapa saat lalu, tengah duduk berhadapan di salah satu meja. Dua buah minuman tampak tersaji di meja mereka, tapi belum ada yang berniat untuk menyentuh gelas itu.
Mereka dipertemukan kembali setelah 21 tahun berlalu. Waktu yang cukup lama itu, rupanya begitu menorehkan luka di hati Karin dan Diana mengetahui itu. Dari tatapan mata putrinya, Diana dapat merasakan kekecewaan yang begitu mendalam.
“Karin, maafkan Mama,” ucap Diana memulai pembicaraan.
Mereka ke sini memang untuk menyelesaikan semua yang terjadi. Beberapa menit yang lalu, Diana mengatakan bahwa ia meminta kesediaan Karin untuk berbicara dengannya. Hanya sebentar dan Diana sungguh meminta Karin bersedia melakukannya.
“Maaf, Mama gagal menjadi ibu yang baik untuk kamu dan Kavin. Mama tau ini udah terlambat dan mungkin kamu nggak bisa memaafkan Mama. Kesalahan Mama begitu besar, Nak,” ujar Diana.
Karin hanya di sana mendengarkan Diana sampai selesai. Mamanya terus mengucapkan kata maaf padanya. Bertahun-tahun yang lalu, Karin berpikir bahwa kata maaf dari seseorang yang menyakitinya mungkin dapat mengobati lukanya di hatinya. Namun kenyataannya pemikirannya itu sangat salah. Kini Karin justeu merasa begitu terluka melihat Diana yang menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan. Bagaimana pun mamanya, beliau tetaplah orang yang telah melahirkan Karin dan adiknya ke dunia ini. Karin sepantasnya menghormati dan berbakti pada mamanya.
“Boleh Karin tanya sesuatu?” tanya Karin setelah keterdiamannya itu. Diana pun mengangguk.
Karin nampak berdeham sekali, lalu ia meneguk minumannya baru setelah itu bertanya, “Waktu itu, apa ada alasan kenapa Mama pergi dari rumah?”
Mendapat pertanyaan itu dari Karin, Diana pun nampak sedikit terkejut. Anaknya rupanya benar-benar ingin tahu alasannya pergi begitu saja hari itu.
“Karin, Mama tau kalau keputusan Mama pegi dari rumah, meninggalkan kamu dan Kavin, bukan keputusan yang bijak. Tapi saat itu Mama nggak punya pilihan lain, Nak.”
Akhirnya terkuak lah alasan mamanya meninggalkannya dan Kavin. Setelah kepergian papanya, mamanya didiagnosis mengidap penyakit yang cukup serius. Diana menceritakan semuanya, tanpa terkecuali. Ia memutuskan meninggalkan Karin dan Kavin pada saat itu, ia tidak ingin membebani anak-anaknya dan pada akhirnya akan membuat keduanya hidup susah. Diana ingin kedua anaknya hidup cukup dan tidak terbebani. Maka dari itu, ia memutuskan pergi setelah sempat menghubungi Vanessa. Diana meminta tolong pada mantan istri almarhum suaminya untuk membantunya. Saat itu Diana tidak punya alternatif lain untuk meminta bantuan. Diana juga tidak memberi tahu Vanessa soal penyakitnya. Diana akhirnya berusaha mengumpulkan uang dengan bekerja giat guna membiayai operasi pengangkatan tumor di rahimnya.
Diana mengakui bahwa dirinya egois, maka dari itu ia lebih memilih pergi selamanya dan tidak menemui Karin dan Kavin. Ia tidak ingin kembali, rasanya dirinya tidak pantas disebut sebagai seorang ibu. Meskipun Diana sangat ingin menemui dua anaknya setelah bertahun-tahun, tapi menurutya itu adalah keputusan yang terbaik. Vanessa kerap kali mengabarinya soal kehidupan Karin dan Kavin, dan itu sudah cukup bagi Diana saat tahu anak-anaknya sudah hidup bahagia sekarang.
Karin kini telah mengatahui semua itu. Ia terdiam dan berusaha memahami, serta berusaha menerima penjelasan itu. Rasanya Karin masih sulit menerima akan keputusan Diana itu. Namun di benaknya juga terpikir bahwa yang dilakukan mamanya semata karena memikirkan ia dan Kavin, memikirkan kebahagian anak-anaknya.
Karin terlihat buru-buru menyeka air mata yang tiba-tiba turun membasahi pipinya. Karin menghela napasnya dan menghembuskannya panjang, sebelum akhirnya mengangkat panggilan telfon di ponselnya.
“Halo. Iya, ini aku lagi di kafe Beverly. Kamu sama anak-anak mau nyusul? Oh yaudah, oke aku tunggu di sini ya.”
Karin mengakhiri sambungan telfonnya. Ia kini menatap Diana, lalu meraih tangan mamanya di atas meja.
“Mah, Mama mau ya tinggal sama Karin? Mama jangan tinggal sendiri lagi,” ucap Karin dengan suaranya yang terdengar sedikit bergetar.
“Sebagai anak Mama, izinin Karin buat berbakti sama Mama, ya Mah? Karin mau merawat Mama. Bulan depan, Kavin akan menikah Mah. Dia pasti pengen banget Mama hadir di hari pentingnya,” sambung Karin.
Diana belum memberi jawabannya, air matanya hanya mengucur begitu saja dari kedua pelupuk matanya. Detik berikutnya, situasi tersebut terinterupsi oleh kedatangan 4 anak-anak dan 1 orang pria dewasa. Satu anak perempuan di sana memanggil Karin dengan sebutan Mama. Diana nampak terkejut tapi ia tidak dapat menyembunyikan raut bahagia di wajahnya.
Kemudian Karin berujar pada anak perempuan itu, memintanya dengan nada lembut, “Nak, salim dulu sama Oma.”
Akhirnya satu persatu anak-anak itu bergantian menyalami tangannya. Diana hanya bisa menatap itu terjadi tanpa dapat mengeluarkan kata-kata dari bibirnya.
Mereka masih nampak bingung, tapi lelaki dewasa yang Diana duga adalah ayah dari anak-anak Karin, terlihat sudah mengerti apa yang terjadi.
“Mah, kenalin ini anak-anak Karin. Svarga, River, dan Taura. Yang perempuan paling kecil, ini Anjani.”
Setelah mengenalkan anak-anaknya, Karin gantian mengenalkan Aryan sebagai suaminya, sebagai papahnya anak-anak. Aryan menundukkan badannya dan meraih tangan Diana untuk memberikan salam santunnya.
Di tengah-tengah situasi itu, Anjani tiba-tiba berceletuk, “Mommy, aku punya tiga oma? Kenapa bisa gitu? Aku kan udah punya Oma Vanessa sama Oma Tiara.”
Sontak mereka yang di sana nampak bingung memberikan penjelasan yang mudah dimengerti oleh anak berusia 4 tahun.
“Sayang, Oma Diana juga Omanya Anjani. Oma Diana adalah mamanya mama, jadi Anjani bisa panggil Oma juga, yaa?” ujar Karin akhirnya berusaha memberi penjelasan untuk anaknya.
“Mama punya dua mama? Anjani sama Mas-Mas cuma punya satu Mama. Kenapa?” tanya Anjani lagi.
Akibat pertanyaan polos Anjani itu, akhirnya Aryan berinisiatif untuk mengajak anak-anaknya guna mengalihkan perhatian mereka. Di luar kafé itu, Aryan pun meminta Svarga untuk menjaga adik-adiknya sementara. Svarga yang sudah beranjak remaja dan berusia 15 tahun itu dapat dipercaya untuk menjaga para adiknya. Aryan mengatakan pada anak-anaknya bahawa ia akan cepat kembali. Katanya ada urusan orang tua dan tugas anak-anak adalah menunggu papa dan mamanya selesai dengan urusan itu.
Aryan pun kembali ke dalam kafe, ia menemui Karin dan mama mertuanya, Diana. Karin akhirnya menjelaskan situasi yang tengah terjadi. Mengalirlah cerita tersebut dan istrinya juga menyampaikan padanya tentang niatnya mengajak Diana tinggal di rumah mereka.
Aryan dengan cepatmenyetujui itu. Justru itu sangat baik, pikirnya. Diana terharu akan perlakuan Karin dan Aryan yang begitu menerimanya. Luka yang pernah ia berikan pada Karin, tidak membuat rasa sayang seorang anak pada ibunya menghilang. Diana begitu bahagia dan merasa cukup, melihat akhirnya anaknya kini memiliki keluarga yang utuh dan begitu hangat. Karin memiliki anak-anak yang begitu lucu dan pintar. Selain itu, ada seorang pria yang terlihat begitu mencintai putrinya dan tahu cara memperlakukannya.
“Mah, besok Aryan sama Karin akan bantu urusan pindahannya. Mulai besok, Mama udah bisa tinggal sama kita,” ujar Aryan sembari mengulaskan senyumnya.
Diana lantas menjawabnya dengan sebuah anggukan. “Aryan, Karin, terima kasih ya, Nak.”
Diana mengatakan bahwa ia sangat berterima kasih pada Aryan. Lelaki itu adalah sosok yang menjadi idaman bagi putrinya, menjadi suami yang penuh kasih sayang, dan tentunya papa yang sangat hebat.
Lebih dari semua itu, Diana dapat melihat bahwa Aryan bukan hanya sekedar mencintai putrinya. Lelaki itu mencintai semua yang menyangkut putrinya, mengutamakan apa yang penting bagi Karin. Lelaki itu menempatkan Karin sebagai prioritas utamanya, salah satunya adalah caranya memperlakukan Diana. Perlakuan Aryan pada Diana, sudah selayaknya perlakuannya terhadap orang tua kandungnya sendiri.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷