A Better Marriage
Tiara tidak mendapat akses masuk karena rupanya Aryo belum pulang ketika ia sampai. Lantas ia menelfon Erza agar pria itu bersedia menemaninya di lobi pintu masuk sampai Aryo pulang.
“Za lo baik banget sih,” ucap Tiara ketika Erza datang.
“Udah jadi tugas saya untuk melayani Nyonya.” Erza mengambil tempat di samping Tiara. Mereka duduk di salah satu kursi di area taman.
“Jangan panggil Nyonya dong, kan mulai kemarin ktia temenan,” ucap Tiara.
“Gue nggak ngerti deh, kenapa orang kaya ngabisin duit buat bangun tempat tinggal sebesar ini, buat apa coba kalau dipikir-pikir.” Tiara menyapukan pandangannya ke area tempat ini.
“Maksud Nyonya tempat ini?”
“Iya, tempat ini. Kenapa coba Aryo harus bangun tempat seluas dan semegah ini? Gue nggak tau apa yang dia pikirin. Padahal rumah sederhana aja yang penting layak ditinggalin, udah lebih dari cukup.” Tiara mengutarakan pemikirannya lagi.
“Mungkin bukan seperti itu yang dimaksud sama tuan, Nyonya.” Balas Erza menanggapi pendapat Tiara.
“Jadi?”
“Tuan membangun tempat ini udah lumayan lama. Setelah nikah, Tuan bawa Nyoya tinggal disini. Kat tuan biar Nyonya nyaman dan senang dengan semua fasilitas yang ada, dan tentunya merasa aman,” papar Erza.
Tiara melongo tidak percaya dengan penuturan Erza barusan. Apanya yang bahagia? Tiara justru merasa Aryo telah mengekangnya dengan semua fasilitas dan peraturan yang pria itu berikan padanya.
“Yang ada, gue takut ngerasa kesepian di sini. Kayak sekarang, kalau Aryo belum pulang, gue nggak bisa masuk ke rumah ini. Tapi lebih baik di luar sih, nggak terlalu menakutkan dan untung ada lo yang nemenin gue.” Tiara kembali menatap bangunan rumah yang terlihat megah di hadapannya. Sepertinya setiap orang yang ditawari tinggal di sini akan setuju dan merasa sangat bahagia. Namun tidak bagi Tiara saat ini. Rasa sepi yang menyergapnya beberapa menit lalu, kembali mengingatkannya pada memori kelam itu.
“By the way, gue bosen nih. Lo mau nggak temenin gue jalan-jalan keliling tempat ini?” tanya Tiara.
“Sebentar lagi kayaknya Tuan sampai. Saya udah hubungim Tuan dan ngasih tau kalau Nyonya pulang lebih dulu dari beliau. Saya nggak enak kalau menghabiskan waktu terlalu banyak dengan Nyonya,” jelas Erza.
Setelah memikirkannya kalimat Erza itu, Tiara menjadi paham maksudnya. Oh oke, ini tidak baik. Tiara berpikir bahwa perilaku Aryo telah berlebihan terhadapnya.
“Enggak. Lo nggak boleh pergi. Biarin aja, Aryo lihat gue sama lo. Lagian siapa suruh buat gue nunggu dia di sini sendirian.” Tiara menahan lengan Erza saat pria itu hendak pamit padanya.
Kali ini Erza tidak bisa menolak keingian Tiara untuk menemaninya di sini sampai Aryo pulang. Hari sudah cukup malam dan sebenarnya Erza juga tidak tega meninggalkan Tiara sendirian. Tidak lama kemudian, Erza merasakan pundaknya sedikit berat dan ia mendapati Tiara tertidur dengan kepala gadis itu mendarat di bahunya.
“Nyonya,” panggil Erza untuk membangunkan Tiara, tapi tidak ada jawaban apapun dari gadis itu.
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil terparkir sempurna tidak jauh dari posisi Erza dan Tiara. Terlihat Aryo turun dari mobil dan mendapati Tiara dan Erza dengan istrinya yang tertidur di pundak Erza.
“Bangunin dia dan minta pake kakinya sendiri untuk masuk ke dalam,” ucap Aryo pada Erza sebelum melenggang dari sana.
“Baik, Tuan,” jawab Erza.
***
Meskipun sekujur tubuhnya terasa pegal dan matanya sungguh berat untuk diminta terbuka, Tiara tetap kekeuh mendemo Aryo atas semua tindakan yang telah dilakukan pria itu terhadapnya.
Aryo tersadar Tiara mengikutinya sampai ke depan kamar pria itu. Sebelum membuka knop pintuya, Aryo berbalik menghadap Tiara dengan tatapan dinginnya. Namun Tiara tidak menampakkan sama sekali raut terintimidasinya. Segala emosi berhasil mendobrak pintu rasa takutnya saat ia harus menghadapi Aryo yang seperti ini.
“Can you tell me why, you did this to me? You drive me crazy, dengan semua yang lo lakukan untuk mengekang gue,” ucap Tiara dengan napasnya yang tidak beraturan.
“Lo ngelakuin ini untuk ngelindungin reputasi lo dan perusahaan. Lo nggak sadar, kalau itu udah nyakitin gue,” Tiara ingin meluapkan perasaannya agar Aryo tahu dan tidak bersikap berlebihan terhadapnya.
“Lo udah berlebihan, Aryo,” sambung Tiara dengan napasnya yang naik turun.
Setelah beberapa detik, Aryo memerhatikan raut wajah Tiara yang sudah lebih tenang dan mulai bisa meredakan emosi dalam dirinya itu.
“Udah lebih tenang?” tanya Aryo yang nada suara yang tenang. Tiara mendongak untuk menatap Aryo dan ia mengangguk pelan.
“Oke, dengerin penjelasan gue. Lo mungkin perlu waktu untuk menerima dan mengerti situasi baru ini. Gue minta maaf, kalau semua ini nyakitin lo, Tiara. Lo nggak salah pergi sama temen cowok lo. Tapi setidaknya lo bisa kasih tau gue kemana lo pergi. If something happened to you, at least gue nggak akan terlambat ada di samping lo.” Aryo menghembuskan napasnya untuk menjeda ucapannya. “Kita punya waktu satu tahun untuk jalanin ini. Saat lo nggak lagi menyandang status istri gue, lo bisa bebas dari semua yang nggak lo sukai,” tutur Aryo.
Tiara mencerna kalimat demi kalimat yang Aryo katakan. Aryo mengatakan bahwa ia tahu dengan siapa Tiara pergi dan ia akan mengizinkan itu. Namun sifat Tiara yang tidak memberitahunya membuat Aryo justru semakin khawatir terhadapnya. Ucapan Aryo perlahan mulai mencairkan es yang membeku di hatinya dan membuka pikirannya yang beberapa detik lalu terasa seperti tersumbat.
“Seiring berjalannya waktu, lo akan paham kenapa gue ngelakuin ini untuk lo,” tukas Aryo.
Tiara menatap Aryo dan merasa dirinya justru yang terlihat lebih egois saat ini, dengan tidak mau mendengarkan apa yang baik dan buruk padahal itu untuk dirinya sendiri. Tiba-tiba terlintas ide di pikiran Tiara untuk membuat hubungannya dengan Aryo menjadi lebih baik. Sehingga mendapakan informasi yang ia butuhkan akan lebih mudah.
“Lo dapet poinnya?” tanya Aryo.
Tiara mengangguk. “Oke, gue akan coba untuk ngerti itu. Tapi boleh gue minta sesuatu dari lo?”
“Lo mau minta apa? Gue akan coba untuk pertimbangin.”
“Gue belum minta tolong sama Erza atau Egha untuk jelasin soal apa aja yang harus gue lakuin sebagai istri lo. Gue nggak akan tanya ke mereka, karena gue mau lo yang ajarin gue. Gue pikir, cara itu lebih baik untuk kita berdua kedepannya.”
Keduanya lantas saling bertatapan. Aryo menatapnya dengan ekspresi yang Tiara tidak bisa artikan dan pria itu sedikit memangkas jarak di antara mereka.
“Lo yakin itu bisa berhasil?” Nada suara Aryo melembut. Tiara tidak pernah mendengar nada tersebut keluar dari bibir Aryo ketika berbicara dengannya.
“Gue yakin. Kita bisa jalanin satu tahun ini dengan saling berdamai dan bersikap lebih saling mengerti satu sama lain,” jelas Tiara.
“Oke. Kalau gitu, kita akan coba sesuatu yang lebih baik, mulai besok.”
“Jadi, gue bisa kasih tau lo kemana pun gue pergi?” ucap Tiara sembari menampilkan gummy smile-nya dan Aryo pun mengangguk untuk menyetujui ide tersebut. Aryo mendapati kedua mata Tiara yang berbinar ketika menatapnya. Pria itu balas mengulaskan sebuah senyum tipis di bibirnya.
Sedangkan Tiara yang memerhatikan senyum Aryo itu merasakan jantungnya kembali berdetak tidak normal.
***
Hari ini terhitung memasuki dua bulan Aryo dan Tiara sepakat menjalani pernikahan secara kooperatif. Keduanya akan saling membantu satu sama lain, agar pernikahan mereka berjalan lebih baik. Sejauh ini berjalan lancar antara dirinya dan Aryo. Tidak banyak perdebatan yang terjadi. Jika ada masalah, mereka akan bicarakan dengan kepala dingin dan mencoba saling memahami satu sama lain.
Pagi ini Tiara turun ke lantai satu dan ia mendapati Aryo sedang menerima telepon dari mamanya.
“Iya Mah, Aryo dan Tiara akan datang acara keluarga nanti siang.” Aryo mengakhiri percakapan dengan mamanya dan menatap kearah Tiara yang kini berada di hadapannya.
Aryo berjalan menuju mini bar yang terletak di samping dapur, lalu ia kembali melanjutkan kegiatan sarapan paginya. Tiara mengambil tempat di samping Aryo, ia duduk di sana dan memperhatikan kegiatan yang sedang Aryo lakukan.
Aryo menyodorkan satu suap pada Tiara yang dibalas dengan tatapan sedikit terkejut dari gadis itu. Tiara akhirnya menerima suapan itu, lalu mengunyah makanan yang terasa enak sekali hingga mengakibatkan sebuah senyum lebar terbit di wajahnya.
“Ya tuhan, ini enak banget. Gue bisa masak kayak gini, tapi harus diajarin dulu,” ujar Tiara.
“Lo bisa ambil kursus masak kalau lo mau,” saran Aryo.
“Kursus masaknya sama lo aja, gimana?” celetuk Tiara.
Aryo menghentikan kegiatan makannya dan meletakkan sendoknya, “Emang lo mau masak buat siapa?”
“Mau masak buat lo. Jadi sebelum lo berangkat kerja, gue bisa masakin sarapan dulu,” jawab Tiara diiringi senyum kecilnya. Kemudian ia menyendok sendiri makanan yang ada di mangkok Aryo untuknya.
Tiara sangat senang bangun di pagi hari dan mendapat sarapan seenak ini. Ditambah lagi, ia disuguhi pemandangan sosok bertubuh gagah yang sanggup membuat matanya tidak mengantuk lagi. Ia dapat dengan puas memandangi Aryo tanpa memerlukan banyak usaha.
Saat gadis di luar sana mengidolakan lelaki di hadapannya ini dan berharap berada di posisinya, Tiara telah mendapatkannya Kalau di lihat-lihat, memang suaminya itu lumayan tampan. Ah bukan lumayan, tapi hampir mendekati kata sempurna.
“Tiara, tugas lo yang utama itu bukan masak,” ucapan Aryo membuyarkan pembicaraan monolog Tiara di dalam kepalanya. Tiara berusaha berekspresi normal dan menghempaskan apapun yang ada di pikirannya barusan tentang memuja visual Aryo.
“Terus? Tugas gue kan jadi istri lo. Bukannya masak itu kewajiban istri? Lagian gue nggak keberatan untuk itu,” cerocos Tiara.
“Oke, kalau gitu. Lo bisa pilih sendiri kursus masak mana pun yang lo mau.”
Tiara melukiskan senyumnya, “Ooh … jadi lo mau gue kursus masak terus ketemu chef chef yang ganteng dan gagah gitu? Gue pikir, itu nggak akan baik untuk reputasi suami gue di perusahaan dan juga untuk status pernikahan kita di mata publik,” ucap Tiara.
Tiara memerhatikan Aryo yang tidak melanjutkan acara sarapannya itu.
“Lo nggak mau makanannya? Gue habisin ya? Sayang tau kalau dibuang, kan mubazir makanan seenak ini.” Tiara hendak mengambil alih makanannya dengan menggeser mangkuk ke arahnya, namun ucapan Aryo menahan aksinya itu.
“Kita akan bahas ini nanti, habis dari acara keluarga. Lo bisa habisin makanannya, terus siap-siap. Dua jam lagi kita berangkat.” Aryo mengatakannya dan pria itu melenggang meninggalkannya.
Tiara berharap, rencananya untuk membuat Aryo percaya terhadapnya akan berjalan lancar. Melihat bagaimana pagi ini mereka dapat dengan tenang membicarakan sesuatu dan mendapatkan win win solution bagi kedua pihak. Aryo tidak telak mengucapkan kata ‘tidak’ pada keinginan Tiara yang memerlukan persetujuan pria itu. Namun mereka memilih untuk berdiskusi agar bisa menemukan jalan keluarnya bersama.
***
Aryo dan Tiara berjalan bersama melewati taman dan sampai di depan sebuah pintu masuk ganda berukuran besar.
Di perjalanan tadi, Aryo memberitahu Tiara bahwa rumah yang akan mereka datangi adalah rumah eyangnya. Hampir semua bibi, paman, dan keponakannya hadir di acara spesial malam ini.
“Aryo, tunggu.” Tiara menahan lengan Aryo sebelum mereka melepas sepatu di depan teras rumah yang luas itu.
“Kenapa?”
“Lo bilang, acara keluarga diadain kalau ada momen spesial. Jadi momen spesialnya itu apa?” tanya Tiara.
Aryo menghadap ke samping, sehingga kini dirinya dan Tiara saling berhadapan, “Momen spesial itu pernikahan kita,” jawab Aryo.
“Kenapa lo nggak bilang ke gue sebelumnya? Keluarga lo bisa aja curiga sama pernikahan kita yang sebenarnya.” Nampak kekhawatiran di wajah Tiara.
“Mungkin mereka bisa curiga. Tapi apapun itu, kita terikat sebuah pernikahan, Tiara. Kecurigaan mereka akan sia-sia, saat kita masih sama-sama. Gue akan pegang tangan lo kayak gini,” jelas Aryo sambil menatap matanya dengan lembut. Perkataan pria itu sukses meruntuhkan tembok ketakutan yang sebelumnya ada di dalam diri Tiara.
Tatapan Tiara pun turun ke arah dimana tangan Aryo menggenggam tangannya. Lantas sebuah senyum terlukis di wajah Tiara tanpa bisa ia cegah. Tanpa Aryo ketahui, senyum Tiara malam ini adalah senyuman yang tulus dari lubuk hatinya.
***
Ketika memasuki rumah bergaya eropa yang dipadukan dengan sentuhan minimalis iu, semua mata yang ada disana mengarah pada Tiara dan Aryo. Mereka menyapa satu persatu keluarga Aryo yang hadir, termasuk kedua mertuanya. Kemudian Tiara dan Aryo memberi salam kepada kedua eyang yang mana adalah kakek dan neneknya Aryo.
“Usia kalian masih muda banget waktu nikah. Apa kalian ingin segera punya anak atau ditunda dulu?” ujar eyang putri pada Tiara.
Tiara berpikir bahwa ia harus memberi jawaban yang dapat mendukung aktingnya dengan Aryo, agar tidak ada curiga soal pernikahan yang mereka jalani sesungguhnya.
“Tiara sama Aryo nggak nunda sama sekali, Eyang. Kita mau secepatnya punya anak,” jawab Tiara sopan. Tidak sengaja tatapannya bertemu dengan sepasang mata yang dikenalinya itu. Risa mengulaskan senyum kecilnya sebelum berlalu dari sana begitu saja.
“Eyang, ngobrol apa aja sama istri Aryo? Eyang lagi interograsi Tiara ya?” ucapan Aryo seketika membuat Tiara mengalihkan pandangannya pada Aryo. Pria itu kembali setelah mengambil dua minuman, satu untuknya dan satu untuk Tiara.
Aryo mengambil tempat duduk di samping kiri eyangnya. Sementara Tiara berada di sisi kanan eyang dan keduanya saling bertukar pandang.
“No. Eyang nggak lagi mengintrograsi istri kamu. Terus kenapa kalian cuma tatap-tatapan kayak gini? Eyang berasa nyamuk diantara pengantin baru deh,” celetuk wanita paruh baya itu.
“Bukan gitu, Eyang. Nggak papa dong, Eyang di antara kita. Aryo kan mau deket-deket sama istri Aryo.” Mendengar ucapan Aryo itu membuat Tiara terkejut dan rupanya eyang menyadari hal tersebut.
“Tiara, jangan dengerin anak ini. Suami kamu ini, kadang-kadang sikapnya masih kayak anak kecil. Manja banget ya pasti dia sama kamu?” Eyang berbicara pada Tiara dan justru mengabaikan keberadaan Aryo.
“Tiara kan istrinya Aryo, Eyang. Yaa boleh dong Aryo manja-manja ke Tiara,” ucap Aryo dengan ekspresinya yang tidak sama sekali menunjukkan bahwa ia seorang pria dewasa berusia 24 tahun. Tiara menyaksikan ekspresi Aryo yang sebelumnya tidak pernah ia dapati pada pria itu.
Ekspresi tersebut terlihat lucu dimata Tiara dan jantungnya berdebar mendapati itu, tapi segera ditampik oleh kenyataan bahwa saat ini Aryo hanya sedang berakting. Tiara berpikir Aryo pantas mendapatkan piala Oscar dengan kategori aktor terbaik.
“Eyang, boleh ya, Tiara ngambilin makanan untuk Aryo dulu? Jangan Eyang ajak ngobrol terus dong istri Aryo,” ucap Aryo masih berusaha mendapat perhatian dua perempuan yang mengabaikannya itu. Masih dicuekin, Aryo pun memutuskan untuk menjauh dari mereka dan bergabung dengan para keponakannya.
“Liat kan, Tiara. Dari pada bahas soal perusahaan sama Om-omnya, dia lebih milih main sama keponakannya. Makanya, sebenarnya Eyang agak khawatir waktu dia mutusin untuk menikah cepat,” ucap Eyang sambil tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiara mengulaskan senyumnya pada Eyang, lalu matanya mengarah pada satu titik dimana Aryo bermain dengan para keponakannya yang masih kecil itu.
Aryo tidak menyadari diperhatikan, sampai Tiara sudah tidak lagi disana dan Aryo baru menoleh. Aryo pun meninggalkan keponakannya dan beralih mencari keberadaan Tiara.
“Eyang, Tiara dimana?” tanya Aryo.
“Istri kamu lagi ngambilin makanan untuk kamu,” jawab Eyang.
Aryo bernapas lega. Lagipula apa yang ada dipikirannya itu. Mana mungkin Tiara menghilang begitu saja atau diculik oleh seseorang. Entah kemana akal sehatnya beberapa detik yang lalu. Aryo kembali pada keponakannya dan akan menunggu Tiara membawakan makanan untuknya.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷