A Big News

1 bulan kemudian

Karin baru saja meletakkan sepatunya di rak sepatu dekat pintu apartemennya begitu Molly berlari menuju ke arahnya. Karin menorehkan senyumnya dan langsung mengangkat anjing poodle putih itu ke gendongannya.

“Hey, Molly. Kamu kangen aku yaa?” ujar Karin yang lantas dibalas gonggongan kecil oleh Molly. Tidak lama kemudian, Karin beranjak menurunkan Molly karena ia harus menaruh barang yang dibawanya dan segera mencuci kaki serta tangannya.

Karin berjalan menuju dapur dan menemukan sosok wanita paruh baya yang selama ini telah membantu membersihkan apartemennya. Mbak Fitri merupakan asisten di rumah kakaknya yang 3 kali seminggu datang ke apartemennya untuk mencuci dan menyetrika pakaian. Sisa pekerjaan rumah lainnya Karin masih bisa menghandle-nya sendiri.

“Non Karin, barusan Mbak masak ayam asam manis. Bu Syerin yang titip, katanya minta tolong masakin buat Non Karin,” ujar Mbak Fitri.

Karin selesai mencuci tangannya di wastafel dan segera berjalan menuju meja makan. Di sana ia melihat hidangan ayam asam manis yang nampak begitu menggugah selera.

“Makasih ya Mbak udah dimasakin,” ujar Karin pada Mbak Fitri.

“Sama-sama Non. Cucian udah Mbak jemur, baju Non juga udah di setrika. Jaga kesehatan ya Non, ibu takut Non sakit. Kemarin ibu bilang, Non sempat sakit ya karena kecapean kerja. Ibu khawatir lho Non,” terang mbak Fitri.

“Aku cuma nggak enak badan dikit kok. Nanti aku makan masakan Mbak, minum obat, terus tidur. Pasti mendingan habis itu,” ucap Karin diiringi sebuah senyum di wajahnya.

Mbak Fitri pun mengangguk mengiyakan. “Kalau perlu apa-apa, telfon Mbak aja ya Non. Jangan terlalu forsir kerja, Mbak nggak tega lho liat Non sakit, mana sendirian tinggal di sini.”

“Iya Mbak, tenang aja. Kalau masih sakit, besok Karin nginep di rumah kakak deh,” putus Karin. Ia memutuskan untuk menyantap makanannya karena setelah ini berniat untuk minum obat dan pergi tidur.

Mbak Fitri memastikan Karin melahap makanannya dan meminum obat sakit kepalanya sebelum wanita itu akhirnya pamit pulang. Sepeninggalan Mbak Fitri, Karin pun berbersih diri sebelum beranjak ke kamarnya untuk tidur siang. Ia berharap ketika bangun nanti kondisinya akan jauh lebih baik.

Kondisi Karin 3 hari belakangan ini memang kurang baik. Terdapat banyak hal yang harus ia kerjakan di luar kewajibannya sebagai mahasiswi, yakni pekerjaannya sebagai beauty influencer dan juga model. Kepadatan kegiatan itu membuat Karin drop dan berakhir hari ini ia izin pulang dari kampus lebih cepat.

Karin mengecek ponselnya sebelum memejamkan mata. Tiga pesan teratasnya adalah dari Dara, kak Syerin, dan grup 'My Babes' yang diisi olehnya, Jihan, dan Naya. Karin membalas pesan dari Dara dan kak Syerin lebih dulu dan terakhir ia membalas pesan dari grup bersama dua sahabatnya itu.

Chat 1

Chat 2

Selesai Karin membalas pesan di grup itu, tiba-tiba ia kepikiran untuk mengecek tanggal di kalender ponselnya. Angka di layar ponselnya pun menunjukkan angka 26. Artinya sudah 2 minggu lebih dari jadwal datang bulannya, tapi Karin belum mendapatkannya. Karin mencoba menepis pemikiran yang tiba-tiba saja singgah di benaknya. Namun rasa penasarannya membuatnya ingin mengeceknya sendiri dan memastikan bahwa pemikirannya tersebut tidaklah benar.

***

“Makasih ya Mas,” ujar Karin pada seorang kurir ojek online yang mengantar pesanannya di depan pintu apartemennya. Karin mendapatkan sebuah bungkusan plastik berlogo apotek dan segera membawanya ke dalam. Ia menutup pintu apartemennya dan melangkah menuju kamar mandi.

Karin merenungkannya. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi. Akhirnya sebelum berangkat ke kampus pagi ini, Karin memutuskan untuk mengeceknya. Karin menatap benda di tangannya itu sejenak, lalu ia membuka bungkusan yang pertama. Itu adalah sebuah test pack digital berwarna biru.

Karin tidak hanya membeli satu jenis test pack, tapi membeli model lainnya. Karin ingin memastikan bahwa hasilnya akurat, maka ia memerlukan beberapa merek dan jenis yang berbeda.

Karin menunggu hasilnya setelah melakukan langkah demi langkah untuk menggunakan benda itu sesuai dengan petunjuk yang tertera. Di sofa ruang tamunya, Karin menunggu dengan cemas selama kurang lebih 10 menit.

Setelah alarm di ponselnya berbunyi, Karin membalikkan posisi tangannya yang menggenggam tiga buah test pack berbeda. Dengan perlahan, Karin membuka matanya untuk melihat hasil yang tertera di sana.

5 detik, 10 detik, hingga 20 detik pun, hasil itu tidak berubah. Hasilnya tetap lah sama. Pregnant. Satu kata pada test pack digital itu membuat Karin kehilangan semua kata-katanya. Dua benda lainnya menunjukkan dua garis merah yang menandakan bahwa dirinya positif hamil. Karin bergerak mengambil satu buah lagi yang belum ia buka bungkusnya. Meskipun kemungkinannya kecil, Karin tetap berharap bahwa 3 benda itu salah dan yang 1 tersisa adalah benar.

Karin kembali ke kamar mandi dan memasukkan benda itu ke dalam gelas yang telah berisi air urinnya. Sekitar 10 menit berlalu, Karin mendapati dua garis merah di test pack itu. Tangan Karin yang masih memegang benda-benda itu pun bergetar dan seketika terasa lemas, air matanya pun luruh begitu saja membasahi pipinya.

Karin beranjak untuk mengambil ponselnya. Ia menghubungi satu-satunya orang yang ia pikir harus mengetahui ini lebih dulu.

“Dara ...” ucap Karin diiringi isak tangisnya ketika sambungannya terhubung dengan Dara.

“Karin? Lo nggak papa? Everything is oke?” balas Dara di ujung sana. Dara memang belum tahu apapun soal kejadian malam itu. Sesuai yang telah disepakatinya dengan Aryan, Karin tidak memberi tahu siapapun tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Aryan di kamar hotel malam itu.

Dara dapat langsung tahu bahwa Karin sedang menangis. Dari nada bicaranya, managernya itu terdengar khawatir. “Karin, you can tell me. What happened?” tanya Dara sekali lagi.

“Dar, gue hamil ... ” ucap Karin.

Hening. Karin hanya mendapati itu setelah mengucapkan berita besar itu. Dara di tempatnya saat ini sukses dibaut diam seribu bahasa.

“Dara ... gue harus gimana?” ucap Karin lagi ketika Dara tidak ada tanda-tanda akan menjawab.

Lima detik berikutnya, Karin dapat mendengar dehaman suara Dara dari ponselnya. “Rin, gue ke apartemen lo sekarang ya. Lo tenang di sana, jangan ngelakuin apa pun dulu, oke?” ucap Dara sebelum mengakhiri sambungan telfonnya dengan Karin.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷