A Choice to Marry You

Tiara merutuki kecerobohannya yang tertidur saat di perjalanan. Ketika ia terbangun, tahu-tahu Aryo sudah membawanya ke tempat yang memiliki luas lebih dari tiga hektar dengan sistem keamanan yang super canggih dan ketat ini.

Saat mereka masuk ke bangunan utama, terdapat sensor khusus yang hanya dapat diakses dengan sensor visual oleh Aryo Bimo Brodjohujodyo. Beberapa ruangan memiliki sensor untuk menyalakan lampu dan pendingin ruangan secara otomatis.

Dengan interior dan desain yang modern, di dalamnya terdapat elevator yang berfungsi menggantikan tangga untuk menuju ke lantai dua dan tiga. Kondominium ini terdiri dari tiga lantai dan satu buah basement. Aryo mengatakan malam ini mereka akan menempati kamar di lantai dua.

“Gue nggak mau tinggal disini,” ucap Tiara saat mereka hanya berdua di dalam lift.

Sementara para asisten yang membawakan barang menaiki lift khusus barang yang berbeda dengan lift untuk tuan dan nyonya mereka.

“Lo nggak punya pilihan, Tiara,” ucap Aryo.

Ting!

Pintu lift terbuka dan mereka melangkah keluar. Tempat yang semula tanpa cahaya itu menjadi terang ketika mereka melewati batas sensor di lantai dua.

“Oke, kalau gitu. Ide bagus juga sih tinggal di sini. Karena temen-temen gue bisa main kapan-kapan. Kondominium ini sangat lebih dari cukup,” ucap Tiara dengan nada cerianya.

“Tamen-temen mana yang lo maksud?” tanya Aryo.

“Teman kuliah gue dong,” jawab Tiara.

“Siapa yang ngizinin?”

Me. I just said that.”

Who own this place?”

“Lo pemiliknya. Nggak boleh emang gue ajak mereka kesini? Oke, kalau gitu gue yang nyamperin mereka. Kita selalu nongkrong sampai malam, terus biasanya nginep, stay cation gitu.” Tiara tersenyum lebar, lalu kakinya melangkah untuk menjelajahi tempat ini. Rupanya di lantai dua terdapat balkon luas yang memberikan pemandangan seluruh area kondominium serta gedung-gedung perkotaan yang tampak kecil dan berkilau dari sini.

Lampu-lampu milik kondominium menyala menerangi sepanjang jalan dari pintu masuk hingga dua paviliun yang terdapat di sisi kanan dan kiri. Tiara menyadari bahwa Aryo menyusul langkahnya. Wajah pria itu masih sama, dengan eskpresi datar dan tenangnya yang nampak menyebalkan bagi Tiara.

Tiara menampakkan ekspresi beraninya. Padahal sebenarnya, ketika Aryo menatapnya seperti ini, ia sedang berusaha menjaga image-nya agar terlihat tidak terpengaruh dengan intimidasi pria itu. Beberapa kali ia mencoba untuk mengontrol emosi dan ekspresinya di hadapan Aryo.

C’mon, Tiara. You can do this! Tiara menyemangati dirinya sendiri dalam hati.

How beautiful this view. Oh my god, I love this lights, and this one too.” Tiara mencoba terlihat antusias dan memuji tempat ini. Ia memang suka tempat ini. Namun hanya berdua dengan Aryo di kondominium yang bak istana ini, tidak pernah menjadi mimpi dalam hidupnya.

Condominium

This is such a good place,” ujar Tiara lagi sambil menikmati angin semilir yang menyapa lembut kulit wajahnya. Udaranya menjadi lumayan dingin karena Tiara hanya menggunakan blouse sutra tanpa lengan dan hotpants yang menjadi outfit favoritnya itu.

“Nggak akan ada perjanjian itu, kalau lo mau keinginan lo yang tadi gue turutin,” tutur ujar Aryo sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

Tiara menatap Aryo dengan tatapan tidak terimanya. Dadanya bergemuruh dan emosi seketika menguasai dirinya.

Tiara mengambil langkah untuk mendekati pria jangkung itu. “Gue perlu izin dari lo gitu?”

Aryo mengangguk. Tiara membalas dengan berdecih dan memutar bola matanya.

It’s you’re choice, Tiara. Kita nggak akan berdebat lagi soal ini. Ayo masuk, di sini dingin.” Aryo berbalik dan berjalan lebih dahulu meninggalkan Tiara di balkon. Tiara berusaha mengatur napasnya yang naik turun. Ia memejamkan matanya sejenak, lalu ia segera menyusul Aryo dengan segala emosi yang sangat ingin ia luapkan pada pria itu.

***

Keduanya telah selesai membersihkan diri masing-masing. Aryo yang mandi setelahnya, keluar dari walk in closet dengan tampilan lebih santai. Pria itu mengenakan sebuah kaus lengan pendek hitam dan sweat pants panjang abu-abu.

Selang waktu lima belas menit, Tiara melepas handuk di kepalanya dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer di walk in closet. Saat kembali, ia tidak mendapati Aryo di kamar. Tiara memutuskan untuk langsung tidur setelah melakukan kegiatan skincare malamnya.

Tiara baru akan terjun ke alam mimpinya, ketika merasakan pergerakan di atas kasur, yang seketika dapat menariknya kembali ke dunia nyata. Tercium semerbak aroma maskulin bercampur mint segar di dekatnya.

“Ada yang mau gue bicarain sama lo, tapi kayaknya lo udah tidur,” ucap Aryo di dekat punggungnya, lalu Tiara merasakan pinggangnya di dekap ringan oleh lengan besar pria itu.

Tiara yang belum terpejam, lantas melepaskan tangan Aryo dari pinggangnya, lalu ia berbalik dan mereka pun berhadapan.

“Lo habis dari mana?” tanya Tiara pada Aryo.

I need to called someone to finish my work,” jawab Aryo

“Apa gue nggak boleh denger, sampai lo harus nelfon di luar?”

“Kayaknya istri gue capek banget malam ini, jadi gue nggak ingin mengganggunya,” ujar Aryo.

“Lo mau ngomong apa tadi? You can tell me now” Tiara menaruh satu tangannya di bawah wajahnya sambil menatap kearah Aryo.

Oke, listen to me. Saat lo jadi istri gue, lo emang nggak bisa ngelakuin apa yang ingin lo lakukan, Tiara. Lo nggak bisa sebebas dulu, Tiara. We are married without love and I don’t have a choice to marry you, and you too. Posisi lo saat ini adalah istri gue. Lo harus tau, apa yang boleh dan nggak boleh lo lakuin untuk menjaga pernikahan dan nama baik keluarga gue,” jelas Aryo.

“Jadi maksudnya, lo nyalahin gue atas pernikahan ini? Lo pikir pernikahan ini nguntungin gue? Kalau lo mikir kayak gitu, lo salah.” Tiara sangat paham pembicaraan Aryo akan mengarah pada satu titik di mana mereka menikah hanya karena kesalahannya. “Gue nggak menginginkan pernikahan ini, you have to know that,” pungkas Tiara.

“Semuanya udah terjadi, Tiara. Kita bisa buat perjanjian dalam pernikahan ini. Kalau ada perjanjian, harus ada syarat dan ketentuannya. Kita bicarain lagi tentang perjanjiannya besok,” jelas Aryo.

Alright. Lo bebas ngasih syarat, begitupun juga gue,” ucap Tiara lalu membalikkan badannya memunggungi Aryo.

Tidak sampai 10 menit, bahu Tiara nampak naik turun dan napasnya mulai terdengar beraturan. Aryo menatap punggung kecil itu sebelum ia memutuskan untuk berbaring di samping Tiara.

Pikiran Aryo pun bercabang-cabang setelah menerima informasi yang ditemukan oleh Rama. Kepala bodyguard-nya itu mengirim sebuah email padanya dan mengatakan Aryo bahwa harus segera mengeceknya. Rama memaparkan bahwa ada sesuatu yang janggal setelah ia menyelidiki tentang Rudi Abimana. Jadi Aryo memutuskan menelfon Rama di luar kamar dan memintanya untuk menjelaskan lagi lebih detail.

Semua informasi tentang Rudi, Bagas, dan Akmal, serta hubungan mereka dengan Tiara, membuatnya ingin mencari tahu lebih jauh tentang itu. Aryo merasa ada benang merah yang harus ia temukan.

Logikanya mengatakan bahwa tidak seharusnya ia mencari tahu lebih lanjut, karena akhirnya ia dan Tiara juga akan bercerai. Namun hatinya berkata lain. Aryo memutuskan meminta Rama dan timnya untuk melanjutkan pencariannya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷