A Game or Real ?
“Eyang putri keliatan sayang banget ya sama Tiara. Padahal baru berapa bulan jadi istrinya Aryo,” ujar seorang wanita.
“Bener juga kata kamu, Mbak. Kalau mereka bisa ngasih keturunan dalam waktu dekat, potensi Aryo untuk jadi presdir bakal lebih kuat dari El,” timpal wanita yang satunya lagi.
Tiara tidak sengaja mendengar pembicaraan itu ketika ia sampai di dapur. Tiara mengulas senyumnya dan mengatakan dengan sopan pada dua wanita yang merupakan tantenya Aryo, mengenai tujuannya kemari untuk mengambil makanan.
“Jujur aja, Tiara. Kamu harus tau sesuatu,” celetuk Tante Risma.
“Oh iya, Tante mau ngucapin selamat atas pernikahan kamu dan selamat datang di keluarga kita ya,” ucap wanita yang satunya lagi, Tante Sarah, sambil menyunggingkan senyuman di bibir ranumnya. Tiara sebenarnya sudah selesai mengambil makanannya, namun saat akan mengucapkan pamit pada kedua wanita itu, mereka menahannya.
“Tiara, keluarga ini emang sangat baik dalam menutupi apapun, bahkan dari dulu. Waktu eyang kakung nikah lagi, publik nggak langsung tau soal itu. Eyang putri sering ngelakuin sesuatu untuk nutupin semuanya dengan sangat apik dan tersusun, demi melindungi citra baik keluarga ini,” jelas Risma.
“Kenapa Eyang Putri ngelakuin itu?” tanya Tiara.
“Emangnya kamu nggak tahu? Cinta aja nggak akan cukup, membuat kamu bertahan di keluarga ini. Kami emang mencintai suami kami, tapi tanpa keturunan dalam pernikahan, akan besar kemungkinan suami kami ngikutin jejaknya eyang kakung,” jelas Sarah.
Tiara mengerti maksud pembicaraan kedua wanita itu. Sejak ia menikah dengan Aryo, ia mengetahui fakta kalau eyang kakung mempunyai 2 orang istri. Jadi dapat dikatakan eyang putri telah di madu.
Tidak berapa lama, Felicia menghampiri Tiara yang sedang bersama kedua adik iparnya itu.
“Tiara, suami kamu lagi nungguin kamu,” ucap Feli sambil melempar senyuman lembut Tiara.
“Iya, Mah. Tiara ke sana sekarang ya. Permisi Tante.” Tiara berpamitan pada Felicia dan kedua tante itu. Sementara Felicia masih berada di sana dan berniat untuk sedikit mengobrol dengan dua iparnya tersebut.
“Kakak perhatian banget sama menantu Kakak ya,” sindir Sarah.
“Iya, dong. Perhatian sama menantu sendiri, apa nggak boleh?” Feli mengambil sebuah gelas kaca tinggi di meja lalu mengisinya dengan minuman infuse lemon.
“Menantu yang akan ngasih keturunan untuk memenuhi keinginanan Kakak aja?” timpal Risma.
Sambil mendekati kedua iparnya, Felicia berkata, “Pasangan yang menikah dan saling mencintai, tujuannya untuk apa selain memiliki keturunan? Kalian berdua udah nikah, tapi nggak paham soal hal itu. Kakak permisi dulu ya,” tukas Felicia sebelum pergi dari sana.
***
Di perjalanan pulang dari acara keluarga, Tiara memikirkan kata-kata tante Sarah dan tante Risma. Soal menutupi segalanya sejak dulu? Apakah itu ada hubungannya juga dengan informasi yang Tiara butuhkan untuk rencana balas dendamnya?
“Kita udah sampe,” suara Aryo membuat Tiara menoleh dan mendapati mobil mereka berhenti di parkiran sebuah pusat perbelanjaan.
Aryo menarik rem tangan setelah memastikan dari spion bahwa mobilnya telah terparkir sempurna. Pria itu menoleh pada Tiara mendapati wajah bingungnya.
“Lo lagi mikirin apa?” tanya Aryo.
“Gue nggak mikirin apa-apa,” jawab Tiara sambil tersenyum kikuk. Jujur saja, dirinya terkejut dengan Aryo yang dapat menebak bahwa dirinya memang sedang memikirkan sesuatu.
“Apa lo denger sesuatu di rumah eyang tadi?” tembak Aryo.
Gotcha! Tiara memang tidak akan bisa menghindar dari Aryo. Tiara mendesahkan napasnya tanda menyerah bahwa ia telah kalah dari pria itu. Tiara mengarahkan cermin kecil yang menggantung di depannya lalu memperhatikan pantulan wajahnya disana.
“Kenapa?” tanya Aryo sambil sedikit tertawa memperhatikan tingkah aneh Tiara itu.
“Ya habis lo kayak cenayang, bisa baca raut wajah orang,” seru Tiara.
“Nggak semua orang, Tiara.”
“Terus?”
“Mungkin karena kita udah nikah, jadi gue udah hapal tingkah laku lo.”
“Tapi pernikahan kita baru beberapa bulan. Don’t lie to me. Lo ngelakuin apa supaya bisa baca pikiran gue? I’m watching you.” Tiara mem-pouty kan bibirnya, lalu ia bergerak untuk melepas seat belt-nya.
Aryo mengikuti yang dilakukan Tiara dan menatap matanya. “Gue pernah denger, katanya orang yang udah nikah akan punya ikatan dengan sendirinya. Mungkin itu yang lagi terjadi sama kita.” Aryo mengedikkan bahunya, lalu turun lebih dulu dari mobil.
Tiara mengikuti gerakan Aryo dan segera menyusul langkah lelaki itu.
“Kita nggak punya ikatan itu, Aryo,” ucap Tiara setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Aryo. Tiara mendongak untuk menatap Aryo karena pria itu lebih tinggi darinya. Sampai tiba-tiba lengannya dihela dan tubuhnya pun otomatis condong ke arah Aryo.
“Perhatiin langkah lo, Tiara,” peringat Aryo yang masih menahan tubuhnya. Tiara mengerjapkan matanya sesaat kemudian melepaskan tubuhnya agar menjauh dari Aryo.
“Tadi ada orang yang hampir nabrak lo,” jelas Aryo saat mereka menaiki lift dan hanya ada mereka berdua di dalam.
“Maaf gue kurang hati-hati. Thankyou for take care of me. You just say that we have a bonding, but I don’t think so.”
“Kenapa lo nggak berpikir seperti itu?”
Pintu lift terbuka dan mereka keluar dari sana. Supermarket tujuan mereka berada di lantai dua dan tidak jauh dari posisi mereka saat ini.
“Ikatan itu cuma berlaku untuk pasangan yang menikah dan saling mencintai,” papar Tiara.
Tiara mengambil troli di bagian depan pintu masuk supermarket. Aryo berjalan di samping gadis itu dan mereka memasuki pusat perbelanjaan.
“Karena kita juga belum pernah melakukannya. Semua itu udah jelas, Aryo,” lanjut Tiara sambil mengecilkan volume suaranya. Tiara mempercepat laju trolinya sehingga meninggalkan Aryo di belakangnya.
“How you say like that eventhough we never try?” Aryo berhasil menyamai langkahnya dengan Tiara, kini satu tangan pria itu ikut memegang troli sehingga Tiara tidak bisa bergerak lebih jauh untuk menghindarinya lagi.
“We never try? Are you forgeted? You kissed me in fitness room. Oh remember, before we got married, we do something that night in your apartment,” papar Tiara.
“Its all happen only because of me? Lo juga menginginkannya, Ra.” Aryo memberikan ekspresi sedikit tidak terima dengan perkataan Tiara bahwa kejadian itu hanya dirinya yang menjadi andil.
“Yes. It's all because of you.” Mata Tiara tidak lagi menatap Aryo, namun beralih pada jajaran produk dairy. Gadis itu mengambil sekotak susu cair dan memasukkannya ke dalam troli.
“It’s different, Tiara. It's only cuddle and kissed, it’s not called hubungan suami istri.” Perkataan Aryo telah sangat menampar Tiara dan membuktikan bahwa yang dilakukan pria itu selama ini padanya hanya sekedar main-main.
Tiara memilih brand sausage sapi karena ada lumayan banyak merek disini. Aryo beralih ke hadapannya, ia berdiri di depan troli untuk menahan Tiara melanjutkan acara berbelanjanya.
“Lo nggak mau ngakutin kalau kita punya ikatan batin, sebelum kita sungguhan melakukannya?” tanya Aryo.
“You're right. Tapi itu nggak akan pernah terjadi. Can we finish our conversation?” Setelah mengucapkan kalimat itu, Tiara menjadi ingat tentang pernikahan tanpa keturunan yang dikatakan kedua tantenya Aryo.
Jika dirinya dan Aryo tidak melakukan hubungan suami istri, maka tidak akan ada keturunan dalam pernikahan mereka. Itu artinya, kemungkinan pernikahannya tidak dapat bertahan.
Keluarga Aryo dapat menendangnya keluar dari keluarga Brodjohujodyo kapan saja, jika Tiara tidak ingin di madu. Bahkan kemungkinan yang terburuk, keluarga Aryo akan mengetahui pernikahan mereka yang sebenarnya hanya untuk sebuah status.
***
Sesampainya di rumah, Tiara membantu membawakan tas belanja yang ringan sementara Aryo membawa yang berukuran lebih besar dan berat.
Tiara menuju dapur untuk meletakkan belanjaannya di sana. Setelah menaruhnya, Tiara memutuskan menunggu Aryo karena pria itu masih harus mengambil satu kardus berisi belanjaan yang cukup besar.
“Aryo,” panggil Tiara ketika Aryo sampai di dapur dan meletakkan kardusnya di meja kitchen set.
“Kenapa?”
“Kira-kira lusa lo sibuk nggak?”
“Sebenernya gue libur, tapi ada meeting online paginya. Emangnya kenapa?” Aryo mengambil gelas lalu menaruhnya di mesin otomatis yang menyatu dengan kulkas. Setelah mesin selesai bekerja, pria itu meneguk air dingin dari gelasnya.
“Gue mau minta izin untuk pulang ke rumah. Karena lo besok ada meeting, jadi gue izinnya sekarang aja. Untuk satu minggu, gue mau nginep di rumah orang tua gue. Boleh kan?” tanya Tiara.
“Boleh. Gue bisa anter lo ke sana habis gue meeting.”
“Gue berangkat sendiri aja.”
“Karena lo udah mengenal keluarga gue sebagai istri gue, gue juga akan mengenal keluarga lo sebagai suami lo, Tiara,” pungkas Aryo.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷