A Mini Date

“Gue udah di jemput nih. Gue duluan ya guys. Semangat buat presentasi besok, kita harus dapet nilai A pokoknya,” ujar Tiara sambil ber-tosan satu persatu dengan teman-teman kelompoknya.

“Di jemput siapa lo Ra?” tanya Vania, salah satu temannya.

“Suami gue. Udah nunggu dia parkiran P1,” jawab Tiara.

“Cieeee di jemput suami,” seru Fashan menggoda Tiara.

“Kok suami lo nggak jemput ke sini Ra? Boleh lah bawa ke kita, kenalin dulu gitu,” celetuk Wilda.

Guys, dia udah nungguin. Gue harus cabut sekarang oke,” ucap Tiara sambil terkekeh.

“Oke deh. Lo hati-hati Ra. Jangan lupa salamin buat suami lo yaa Beb,” seru Vania sebelum Tiara melangkah pergi dari cafe itu.

***

Sama sekali tidak ada rencana bagi Aryo dan Tiara untuk mampir ke suatu tempat sebelum pulang. Aryo bilang dirinya belum makan malam, jadi mereka memutuskan untuk mampir terlebih dulu.

Mereka menatap ke hamparan gedung perkotaan yang terlihat lebih kecil dari atas sini. Restoran sekaligus *bar ini mengusung konsep rooftop, sehingga rasanya sangat cocok untuk menikmati makan malam sambil memanjakan mata dengan pemandangan kota Jakarta.

“Gue tebak, lo belum pernah makan makanan pedagang kaki lima atau paling enggak yang rumah makan biasa,” cetus Tiara membuka pembicaraan.

“Gue pernah.”

“Lo masih inget itu kapan?”

Aryo pun menggeleng untuk menjawab pertanyaan Tiara yang berikutnya.

Tiara mengatakan bahwa baginya restoran pilihan Aryo ini cukup mewah. Namun bagi Aryo, restoran ini masih terbilang biasa aja untuknya.

“Kapan-kapan mau nyobain makanan kaki lima? Gue bisa jamin, rasa makanannya nggak kalah jauh dari restoran mewah,” tutur Tiara dengan nada percaya dirinya. Ekspresi gadis itu terlihat sangat meyakinkan dan tidak ada keraguan sedikitpun dari ucapannya.

I bet you will like it,” timpal Tiara lagi.

Oke, I'll try,” putus Aryo.

Tidak lama kemudian, pesanan mereka pun datang. Tiara mulai menyantap sesuap makanannya dan Aryo menunggu reaksi gadis itu.

“Gimana rasanya? Lo kasih rate berapa makanan restoran mewah?” tanya Aryo.

“Delapan,” jawab Tiara.

Seriously? For me it's nine,” ujar Aryo sambil natap Tiara tidak percaya.

“Bagi gue delapan, Aryo.”

Tiara menghabiskan makanannya lebih dulu dari Aryo. Sadar di perhatikan, gadis itu lantas memergoki Aryo yang tengah menatapnya.

“Gue habis duluan karena gue laper banget,” jelas Tiara.

“Oke-oke. Lo mau nambah nggak? Biar gue pesenin lagi.”

“Nope. Gue udah kenyang,” ujar Tiara lantas menyeruput minumannya.

“Kalau lo suka, gue bisa masak yang kayak gini.”

“Beneran?”

Aryo mengangguk. “Kalau makanan kaki lima yang lo bilang bisa bersaing sama makanan restoran, gue akan masakin lo. Gimana?”

“Oke, deal ya?”

Deal.”

***

Saat lampu merah di depan, Tiara menoleh pada Aryo dan ia menanyakan sesuatu yang telah membuatnya cukup penasaran.

You have hated your life?”

Aryo nampak berpikir sejenak dan alisnya pun menyatu, “I've been there. I hated my life and felt empty.”

Tiara menatap Aryo tidak percaya. Selama ini ia berpikir kehidupan pria itu sempurna dan ia memiliki segalanya.

“Tapi lo hampir punya segalanya yang mungkin orang di luar nggak punya. What's make you feel empty?

I've lost someone I loved. I got privilege from my family, but I lost a lot too,” Aryo menoleh menatap Tiara. Dari tatapan itu Tiara menemukan kesedihan di sana.

Lampu lalu lintas pun berubah menjadi hijau dan Aryo lantas kembali memanuver mobilnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷