A Night for Us

Tiara menunggu Aryo kembali di rumah mereka setelah satu minggu ia menginap di rumah orang tuanya. Tiara beberapa kali menelfon Aryo untuk memastikan pria itu makan dan tidur dengan benar. Tiara mengetahui jadwal Aryo yang sangat padat di kantor, menjelang pengangkatan presiden direktur yang baru semakin dekat.

Matanya menangkap sebuah mobil yang amat Tiara kenali. Kemudian oa melihat sosok Aryo dengan tampilan formal khasnya tepat di depan matanya. Tuxedo hitam yang ditenteng dan hanya menyisakan kemeja putih yang melapisi tubuh tegapnya. Dasi yang dikenakan pria itu sudah sedikit dikendurkan dan raut wajah kelelehannya membuat Tiara sedikit khawatir.

Tiara berjalan kecil menghampiri Aryo, gadis itu menampakkan senyum cerianya ketika Aryo menatapnya dengan sedikit terkejut. Tiara memang tidak memberitahu Aryo tentang kepulangannya. Ini sudah menjelang malam, jadi Aryo berpikir mungkin Tiara memilih pulang besok pagi.

Sejenak tubuh Tiara terasa membeku kala Aryo meraih tubuhnya ke dalam pelukan pria itu.

Please give me a five minutes for this,” ujar Aryo di dekatnya.

Biasanya Tiara akan membalas apapun itu ketika Aryo berbicara atau melakukan sesuatu terhadapnya. Namun kali ini kata-kata itu tertahan di bibirnya. Tiara mencoba mengerti sikap Aryo untuk membuat pria itu merasa lebih baik dari apapun itu yang mungkin sedang di rasakannya saat ini.

Tapi hey, lima menit berpelukan bukankah itu cukup lama.

Aryo lantas melepaskan pelukannya dan Tiara berpikir itu tidak sampai lima menit.

“Lo bilang lima menit.”

I’m hungry.” Aryo menampakkan cengiran di wajahnya.

“Kayaknya gue mau makan masakan buatan lo,” sambung Aryo.

“Lo mau makan apa?”

“Lo bisa masak nasi goreng?”

“Kalau cuma nasi goreng sih, gue bisa. Lo mandi dulu, abis itu makanannya bakal siap,” ucap Tiara.

***

Sepiring nasi goreng di tambah telur mata sapi serta segelas susu putih hangat telah tersaji di meja makan. Di hadapan Aryo, Tiara duduk sambil menopang wajah dengan kedua tangannya. Ia ingin menyaksikan Aryo memakan masakannya untuk yang pertama kali.

Aryo memulai dengan satu suapan nasi goreng di piringnya dan ia hanya menatap Tiara yang justri menjadi gugup karena kelakuannya itu.

“Gimana? Enak nggak?” Tiara memasang tampang harap-harap cemas.

“Ini enak, Tiara.”

Tiara tersenyum semringah dan menghembuskan napasnya lega. Ia memperhatikan Aryo menyantap masakannya dan itu membuatnya merasakan debaran yang luar biasa dan lebih intens dari yang sebelumnya.

Thank you for this, Ra.” Aryo selesai dengan makanannya. Kemuidan Aryo juga menghabiskan susu putih hangatnya tanpa menyisakannya sedikit pun.

I have something for you,” ucap Aryo setelah menaruh piring dan gelas kotornya di wastafel.

“Oke, kita satu sama. Malem-malem gini?” tanya Tiara yang dijawab anggukan oleh Aryo.

“Serius ini udah malem, Aryo. Jangan yang aneh-aneh,” peringat Tiara.

Aryo hanya memintanya mengikutinya. Ternyata Aryo membawanya ke sebuah tempat yang belum Tiara ketahui di rumah ini, yaitu sebuah ruangan movie theater.

Tiara menatap takjub ruangan itu. Matanya menyapu sekeliling ruangan dengan desain interior berwarna serba ungu dan sedikit sentuhan warna hitam, membuat tempat itu terlihat fancy. Pada bagian langit-langit, terdapat lampu-lampu kecil yang membuat suasana terasa seperti di luar angkasa.

Are you like it?” tanya Aryo ketika mereka sudah duduk bersebelahan dan siap menyaksikan film di layar yang besar.

Tiara mengangguk dengan cepat.

I really like it. Thankyou so much for this.”

Setelah itu mereka menikmati film yang di putar. Selang satu jam film berjalan, Aryo memperhatikan wajah Tiara dari samping dan kepala gadis itu hampir saja membentur tangan kursi kalau saja Aryo tidak sigap memberikan pundaknya sebagai sandaran.

Aryo tersenyum kecil melihat Tiara yang tertidur. Membiarkan gadis itu menggunakan pundaknya sebagai alas dan tidak membangunkannya menjadi pilihan Aryo.

Setelah filmnya selesai, Aryo memutuskan membawa Tiara ke kamarnya. Aryo membaringkan Tiara di kasur queen size-nya. Setelah mematikan lampu kamar Tiara, Aryo memutuskan untuk pergi dari sana, tapi saat iaberbalik lengannya di tahan.

“Aryo,” panggil Tiara.

“Ra, lo bisa tidur lagi.” Aryo mengusap tangan Tiara yang memegang lengannya.

Tiara menggelengkan kepalanya, lalu ia berusaha bangun dari posisinya.

Can we have this night? Only for us?” tanya Tiara. Tiara merasa udara di sekitarnya menipis dan kedua pipinya terasa memanas ketika jarak wajahnya dan Aryo begitu minim.

“Disini aja malem ini, ya?” pinta Tiara.

“Gue temenin sampai lo tidur,” ucap Aryo.

Tiara menggelengkan kepalanya. “Don’t leave me.”

“Tiara, apa lo sadar yang lo ucapin?”

“Apa ucapan gue salah?”

“Kita harus jaga batasan itu, Ra. Demi kebaikan kita bersama,” ujar Aryo.

Why you care? Just don’t care about the feeling. We will eventually get divorced.”

“Lo nggak ngerti, Ra.”

“Akhirnya kita akan tetep bercerai. We just enjoy the time.”

“I want a baby,” cetus Tiara dan dua detik setelah mengucapkannya gadis itu menyatukan bibirnya dengan bibir Aryo. Dari hanya kedua belah bibir yang saling menempel, perasaan menggebu keduanya mendorong mereka untuk sampai ke penyatuan yang lebih dalam.

Aryo memperdalam ciumannya saat Tiara mengalungkan lengannya pada lehernya. Agar mempermudah segalanya, mereka mengambil posisi yang nyaman. Aryo mengunci tubuh kecil Tiara di bawahnya dan penyatuan itu kembali terjadi cukup lama. Aryo mengisyaratkan pada Tiara untuk membuka mulutnya lebih lebar agar Aryo bisa memasukinya dan mengabsen setiap celah milik Tiara yang ada di dalam.

Mereka mengambil napas dengan melepaskan pagutan itu sejenak. Tidak sampai lima detik setelahnya, mereka melanjutkan adegan panas tersebut. Kali ini mereka bergerak dengan tempo sedang yang tidak secepat dan seintens sebelumnya. Sebuah ciuman dengan senyum di kedua bibir masing-masing, ketika lumatan berganti dengan hanya kecupan dan sesapan lembut.

Are you sure?” tanya Aryo atas pernyataan Tiara yang sempat tertunda berkat ciuman panas yang mereka lakukan tadi.

“*Yes. We can have a baby like others,” ujar Tiara.

Tiara sedikit mendongak untuk menatap wajah Aryo begitu sebaliknya pria itu menatapnya sambil tersenyum.

“Artinya kita langgar perjanjiannya?”

***

Saat terbangun, kedua mata Aryo disuguhkan pemandangan wajah tertidur yang damai milik Tiara. Mata gadis itu masih terpejam tenang. Bibirnya terkatup dengan kedua ujungnya yang membentuk sebuah titik kecil. Aryo pikir Tiara sedang bermimpi indah, jadi gadis itu tersenyum dalam tidurnya.

Tidak sampai tiga puluh menit, Tiara terbangun dari tidur nyenyaknya dan mendapati Aryo yang menungguinya. Timbul sebuah perasaan bahagia yang sederhana untuk Tiara.

“Lo bakal telat kerja nanti. Lo harus bangun untuk siap-siap, Aryo,” ucap Tiara ketika sadar bahwa hari sudah beranjak siang, namun yang dilakukan Aryo hanya menatap wajah bangun tidurnya.

Ini bukan yang pertama mereka tidur bersama seperti ini, tapi ada yang berubah yakni perasaannya terhadap Aryo, cara mereka saling menatap, dan perlakuan satu sama lain.

“Siapa yang mau kerja di hari minggu?” tanya Aryo.

Oh my god, my bad. Gue lupa kalau ini hari Minggu. Jadi, hari ini lo nggak ke kantor?”

Aryo mengangguk.

“Oke, hari ini kita di rumah aja. Kita bisa ngelakuin banyak hal,” ucap Tiara kemudian menyibakkan selimut dan hendak turun dari kasur.

Do you have to do list?” tanya Aryo.

Of course. I have a lot to do as a wife. Do a laundry, cooking, cleaning up and more.”

So what can I do as husband?

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷