Acara Pernikahan dan Keluarga Kecil Bahagia
Tujuh tahun yang lalu, Nayna Harla Brodjohujodyo ada;ah perempuan yang memiliki cita-cita untuk menjadi seorang desainer terkenal. Terkenal yang dimaksud di sini yakni, Nayna ingin rancangan-rancangan bajunya bisa go international, dipakai oleh model-model hebat, dan dapat membanggakan nama negaranya di kancah fashion dunia.
Tepat saat Nayna ingin pergi untuk mencoba peruntungannya di Paris kala itu, seorang laki-laki datang kepadanya. Lelaki itu mengatakan bahwa ia akan menunggu Nayna meraih mimpinya. 2 tahun, 5 tahun, atau bahkan mungkin 10 tahun lagi, lelaki itu bersedia untuk menanti.
Meskipun harus terhalang oleh jarak yang begitu jauh dan keduanya belum memiliki komitmen apa pun pada saat itu, itikad baik lelaki itu yang yang meminta restu pada kedua orang tuanya, membuat hati Nayna akhirnya tergerak. Mereka pun menjalani Long Distance Relationship dan itu bukanlah hal yang mudah. Namun justru itu juga yang membuat Nayna akhirnya menyadari bahwa ia sungguh mencintai lelaki itu.
Tujuh tahun akhirnya berlalu dan Nayna berhasil sukses membawa nama Indonesia di Paris Fashion Week. Impiannya telah terwujud, deretan model internasional yang selama ini hanya ia kagumi lewat majalah dan program siaran televisi, kini Nayna dapat melihat mereka mengenakan desain miliknya.
Malam itu ketika Nayna kembali, selepas acara perayaan kesuksesannya bersama para desainer lain dan juga tentunya para model, Nayna dibuat terpaku di depan pintu apartemennya. Nayna mendapati sosok fameliar bertubuh jangkung itu berdiri tepat di hadapannya. Hatinya membuncah bahagia dan saat Nayna akan berjalan menghambur memeluk sosok itu, lelaki itu lebih dulu membawa torso Nayna untuk didekap hangat. Rasa rindu selama 7 tahun akhirnya terbayar sudah. Mereka berpelukan hangat dan Nayna ingat ia tidak ingin melepaskan pelukannya sampai lebih dari 5 menit, atau bahkan lebih dari itu. Entahlah. Yang jelas, Nayna begitu bahagia malam itu.
“I have something special for you,” ucap lelaki itu, ia mengeluarkan sesuatu dari kantung leather jacket-nya.
Detik berikutnya, Nayna dapat melihat sebuah kotak beludru merah. Ketika lelaki itu membuka kotaknya, nampak sebuah cincin bermata berlian yang begitu cantik dan menawan di dalam sana.
Nayna tidak sanggup berkata-kata, air matanya pun meluruh sempurna begitu melihat lelaki yang dicintainya berlutut di hadapannya dan mengatakan padanya, “Nayna Harla Brodjohujodyo, I want to take you to be my wife, my life partner, and a mother for our kids in future. With all my excess and lack, please marry with me.”
“Is not a question?” tanya Nayna kemudian.
Lelaki itu segera mengangguk, “Yes, Baby, it's not a questuon. You don’t have an options to chose.”
Lelaki itu memang selalu memiliki cara yang berbeda. Berikutnya Nayna pun mengulaskan senyum lebarnya dan mengatakannya dengan segenap hati. Nayna mengatakan bahwa ia bersedia, memberikan dirinya untuk lelaki itu. Nayna bersedia menghabiskan sisa waktunya bersama lelaki itu, karena ia tidak memiliki pilihan, dan sejak awal lelaki itu tidak membiarkannya memilih. Tugas lelaki itu adalah membuat Nayna tidak bisa memilih, hingga akhirnya dengan hati yang tulus, Nayna bersedia menjadikan lelaki itu pacar pertama dan terakhirnya.
“Now you are officially my ex, Babe,” ujar lelaki itu sembari menyunggingkan senyum tampannya.
“What? So I'm your ex girlfriend?” tanya Nayna.
“Yes. Because as soon as possible, you will be my wife, and you will take my last name. Do you?”
Sambil menatap lelaki di hadapannya dengan penuh cinta, Nayna mengatakannya, “Yes, I do.”
***
Menikahkan anak perempuan satu-satunya, rupanya dapat menghadirkan perasaan yang berbeda di hati seorang ayah, dibandingkan menikahkan seorang anak laki-laki. Ketika seorang ayah menikahkan anak perempuan, rasanya seperti melepas seseorang yang sebelumnya adalah milikmu, dan kamu akan melepasnya untuk pria lain.
Sebentar lagi acara pemberkatan akan dimulai. Dengan perasaan sedikit gugup, Aryo menatap pintu ganda berpelitur jati coklat di hadapannya. Aryo menghela napasnya, lalu menghembuskannya perlahan. Akhirnya setelah terdiam beberapa detik di sana, tangannya terangkat untuk mengetuk pintu itu sebanyak dua kali.
Saat pintu akhirnya terbuka, dari jarak yang tidak jauh dari tempatnya, Aryo dapat menangkap sosok putrinya yang hari ini nampak begitu cantik. Nayna terlihat anggun balutan gaun putih backless yang membalut tubuh rampingnya. Nayna Harla, bayi perempuan yang 29 tahun lalu lahir ke dunia dan pertama kali menggenggam tangannya, kini telah berubah menjadi wanita dewasa yang sesaat lagi akan menggenggam tangan lelaki lain.
“Hai, princess-nya Papa,” ucap Aryo ketika langkahnya sudah sampai di hadapan Nayna.
Nayna lantas menatap papanya dengan pandangan terharu. Kedua mata Nayna nampak berkaca-kaca, membuat Aryo jadi sedikit panik mendapati putrinya akan menangis.
“Don’t ruined your makeup, Princess. Today you’re look very beautiful and stunning,” Aryo menjeda ucapannya sesaat. Masih menatap Nayna dengan tatapan sayangnya, pria berusia 60 tahunan itu berujar lagi, “Papa akan gandeng tangan kamu untuk jalan di altar dan menyerahkan kamu kepada lelaki pilihanmu. Papa selalu berharap agar kamu bahagia, Nak. It's not easy to let you go, but I knew I should*.”
Nayna mengangguk pelan, lalu ia mengulaskan senyum kecilnya untuk Aryo. “Pah, you are still be my best man. Terima kasih telah menjadi papa yang hebat buat Nayna. I’m still gonna be your little daughter, Pah,” ucap Nayna dengan suaranya yang sedikit bergetar.
“Alright. You’re too, Princess. You are an amazing and wonderful daughter for me. Terima kasih karena telah menjadi putri Papa.”
***
Para hadirin yang datang dan duduk memenuhi kursi di gedung tersebut, nampak sudah siap menyaksikan dengan begitu seksama acara pernikahan yang sebentar lagi akan berlangsung itu. Sebuah pintu ganda terbuka dan para bridesmaid memasuki gedung, berbaris rapih di kanan dan kiri red carpet, menandakan bahwa sebentar lagi sang mempelai wanita juga akan memasuki altar.
Di salah satu deretan kursi khusus keluarga inti, tampak dua sejoli yang begitu fameliar di sana. Aryan dan Karin, mereka hadir bersama ketiga anak mereka. Di samping mereka ada mamanya dan para tantenya yang hari ini juga menghadiri hari penting Nayna.
Karin yang duduk di samping kiri Aryan, mengikuti fokus penglihatan suaminya. Rupanya Aryan melihat ke arah lelaki yang akan menjadi suami Nayna sebentar lagi. Lelaki itu menatap lurus ke arah Nayna yang kini tengah berjalan menuju altar. Karin dan Aryan menyaksikan itu bersamaan, calon suami Nayna nampak berkaca-kaca. Kemudian detik berikutnya, nampak derai airmata yang terasa tidak lagi dapat terbendung.
“Sayang,” bisik Aryan pelan sembari mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Karin.
“Kenapa?” tanya Karin.
“Aku iri, aku nggak nangis waktu liat kamu jalan ke altar,” cetus Aryan masih berbisik.
Selama dua detik setelah Aryan mengucapkannya, Karin hanya diam saja. Ia tidak heran lagi akan sikap agak kekanak-kanakan suaminya itu kalau di depannya. Namun di tengah situasi mengharukan ini, bisa-bisanya suaminya itu memikirkan hal yang bahkan sama sekali tidak terlintas di benaknya.
Karin lantas menoleh ke arah Aryan, “Ada-ada aja sih kamu, anak udah 3 padahal,” ujarnya diiringi sebuah tawa pelan.
Kalau dipikir-pikir memang cukup menyakitkan. Ada momen-momen penting yang harusnya Aryan dan Karin lewatkan sebagai sepasang kekasih. Menyaksikan pernikahan Nayna hari ini, rasanya seperti dejavu 11 tahun lalu saat pernikahan Aryan dan Karin. Namun saat Aryan menelaah kembali, walaupun ia tidak menangis waktu Karin berjalan di altar, ada yang yang lebih penting, yakni apa yang mereka jalan saat ini. Mereka telah hidup bahagia dengan anak-anak mereka. Masa lalu biarlah ada untuk disimpan. Boleh sesekali diingat, tapi hanya untuk dijadikan cerita yang kadang bisa menggelitik perut kalau tidak sengaja teringat.
Saat akhirnya serangkaian acara pemberkatan telah selesai, Aryan mendapati papanya kembali ke deretan kursi khusus keluarga, mengambil tempat di samping mamanya. Papanya terlihat habis menangis, matanya nampak memerah.
Tiba saatnya sesi untuk pengantin berciuman, Aryan dan Karin meminta anak-anak mereka untuk menutup mata. Adegan ini cukup dewasa dan belajar dari pengalaman, Aryan tidak ingin anaknya dewasa lebih dulu karena pengaruh lingkungan sekitar. Selama ini Aryan berusaha tidak kelepasan saat mencium Karin, mereka bahkan mengunci kamar agar anak-anak dipastikan tidak menonton orang tuanya.
“Boys, ayo tutup mata kalian. Ada adegan orang dewasa di depan altar,” ujar Aryan pada ketiga anak lelakinya. Mereka pun menurut. Meskipun Svarga si paling besar sudah sedikit mengerti, anak lelaki itu tetap mematuhi perkataan orang tuanya. Begitu juga dengan River, anak keduanya itu telah begitu pintar karena diajari oleh Svarga.
Karin yang posisinya dekat dengan Taura, anaknya yang paling kecil, mengarahkan tangannya di depan mata Taura dan membantu menutupinya. Bocah itu bertanya dua kali pada Karin mengapa ia harus menutup mata. Lantas Aryan yang menjelaskannya kepada Taura.
“Taura, semua hal di dunia punya aturannya masing-masing, Nak. Nanti kalau Taura sudah makin besar, Papa akan jelaskan lebih jauh biar Taura paham ya,” tutur Aryan.
Anaknya yang paling kecil ini memang cukup kritis untuk ukuran anak seusianya. Kadang Aryan maupun Karin seringkali kualahan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Taura. Tentunya anak kecil dan orang dewasa memiliki kemampuan pemahaman yang berbeda. Menjadi orang tua, membuat Aryan dan Karin belajar begitu banyak hal. Aryan dan Karin harus belajar lebih dulu dan benar-benar paham, untuk kemudian memberi pengertian pada anak-anak mereka.
***
Setelah acara pemberkatan, di sisi barat gedung tersebut, para tamu dipersilakan untuk memberi ucapan selamat kepada pengantin di pelaminan. Aryan dan Karin serta ketiga anak mereka turut serta di sana. Mereka sempat melakukan sesi foto khusus untuk keluarga inti. Selepas itu, baru lah sesi pemberian selamat.
“Nay, selamat ya,” ucap Karin pada Nayna. Adik iparnya itu segera memeluk Karin dan mengucapkan terima kasih.
“Kak, bagi tips malam pertama dong,” bisik Nayna begitu pelan.
“Nanti chat aja atau telfon, aku online buat kamu tanya-tanyain. Oke?” balas Karin memberi arahan pada Nayna.
“Siap Kak, makasih banyak ya Kak.”
Kemudian kedua perempuan itu sama-sama terkikik sekilas. Sementara di waktu yang sama, Aryan tengah menghampiri lelaki yang kini resmi menjadi adik iparnya itu. Aryan memeluk lelaki itu dan mengatakan sesuatu, “Congrats, Bro. Lo bener-bener memenangkan hati Nayna dan juga keluarga gue. Pastiin lo bahagiain dia, kalau nggak, artinya lo akan berurusan sama bokap gue, habis itu lo juga akan berurusan sama gue.”
Setelah mengucapkan itu, pelukan khas ala pria yang dilakukan keduanya pun terurai. Aryan mengulaskan senyumnya yang dibalas senyuman simpul di wajah oriental suami adiknya itu.
“Sesuai janji gue sama lo di awal, gue akan bahagiain Nayna. Gue udah berjanji di hadapan Tuhan, gue nggak ingin mengingkari janji itu dan jadi umat yang nggak taat.”
Aryan lantas menepuk pundak lelaki itu sekali. Siapa pun bisa berubah lebih baik karena hadirnya cinta. Kini itu sungguh terasa nyata dan Aryan sangat mempercayainya.
***
Tiba saatnya mencapai puncak acara, ada acara dansa yang memang sudah direncanakan. Konsep dansa yang sangat santai dan modern itu adalah keinginan dari sang mempelai wanita. Nayna mengatakan ingin berdansa bersama tamu-tamunya, jadi tidak ada gap antara pengantin dan semua hadirin. This party belongs to all people that attend this night, begitulah slogan acaranya.
Namun tanpa sepengatahuan dari Nayna, di sebuah layar besar tepat di samping orkestra musik, suaminya telah menyiapkan sebuah surprise untuknya. Begitu Nayna melihat ke layar itu, di sana tampak sebuah video yang menampilkan slide foto-foto kebersamaan keduanya dan ada potret-potret candid Nayna yang diam-diam lelaki itu ambil. Nayna sungguh merasa terharu. Nayna benar-benar dapat merasakan bahwa William sungguh mencintainya sedalam ini.
William Danendra, pria yang hari ini telah resmi Nayna nikahi, menatapnya dengan tatapan penuh cinta di hadapan ratusan tamu yang hadir. Para tamu juga menatap ke arah mereka, menyaksikan dua sejoli yang mulai berdansa dengan iringan alunan musik yang begitu indah. Tidak ingin kalah dengan pasangan itu, beberapa tamu mulai ikut melakukan dansa. Dari mulai para muda mudi, para tetua yang berpasangan pun juga ikut berdansa dengan begitu mesra.
Begitu beberapa menit acara dansa itu berlangsung, terdengar intro lagu Line Without A Hook, itu merupakan lagu kesukaan Nayna. Nayna ingat ia pernah mengatakan pada William bahwa lagu tersebut sangat menggambarkan perjuangan cinta keduanya. Bukan hanya William yang berjuang meyakinkan Nayna bahwa ia sungguh-sungguh mencintai gadis itu. Namun seperti dalam lagu yang mengatakan bahwa seseorang akan hancur tanpa kekasih hatinya, begitulah Nayna saat dirinya tanpa William. Sedangkan bagi William, ia adalah lelaki biasa yang memiliki banyak kekurangan, tapi Nayna memberinya kesempatan untuk berubah menjadi pria yang pantas untuknya. Sampai hari itu tiba, Nayna yang sudah yakin pada William, rela memberikan dirinya untuk lelaki itu.
Di antara tamu-tamu yang berdansa, Aryan dan Karin juga ada di sana, mereka tidak ingin melewatkannya. Sebagai pasangan, mereka juga ingin menikmati waktu ini. Saat masih berdansa diiringi lagu Line Without a Hook yang terdengar begitu merdu, Aryan mengatakan sesuatu pada Karin. “Karina Titania Roland, saya Aryan Sakha Brodjohujodyo, mengambil kamu untuk menjadi istri saya. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Di saat sehat maupun sakit, di saat senang mau pun susah. Saya mencintai kamu dan berjanji di hadapan Tuhan bahwa hanya kamu satu-satunya wanita yang ada di hidup saya, yang akan saya berikan seluruh cinta yang saya miliki.”
Random sekali memang kelakuan Aryan barusan. Namun mau tidak mau, Karin pun dibuat tersenyum karenanya. Aryan mengatakan bahwa ia ingin mengucapkannya karena dulu ia tidak mengatakannya dengan sepenuh hati. Aryan ingin mengulag adegan tersebut dan membuat memori yang indah untuk mereka.
Sesaat kemudian, Karin bergerak meletakkan kedua lengannya untuk melingkar di bahu Aryan. Sambil menatap lelakinya dengan tatapan penuh cinta, Karin pun berujar, “Saya Karina Titania Roland, bersedia menerima kamu Aryan Sakha Brodjohujodyo, untuk menjadi suami saya. Saya mencintai kamu di saat senang maupun susah, di saat sakit maupun sehat. Saya berjanji di hadapan Tuhan, kamu adalah satu-satunya cinta di hidup saya.”
Usai Karin mengucapkan kalimatnya, tanpa aba-aba apapun, Aryan bergerak perlahan mencium bibir Karin. Karin merasakan sesuatu lembut dan kenyal itu tengah mengulum bibirnya dengan lumayan dalam. Otomatis rangkulan Karin di bahu Aryan mengerat, bahkan Karin sedikit berjinjit untuk dapat menyamai tinggi suaminya.
Di antara pasangan lain yang berdansa, rupanya hanya Aryan dan Karin yang melakukan ciuman. Dunia seolah berhenti berputar sesaat, Aryan dan Karin menjadi pemiliknya untuk beberapa detik.
Saat akhirnya pagutan mereka terurai, Karin lekas bertanya kepada Aryan, “Kalau kita punya anak lagi gimana, Kak? Kamu mau?”
Aryan lekas menjawab, “Bagus dong, Sayang. Anak itu kan anugerah,” ujarnya. Aryan mengatakan bahwa ia akan bekerja lebih keras lagi agar bisa mencukupi kehidupan mereka kelak. Aryan akan lebih semangat bekerja jika mereka punya anak lagi, ada motivasi untuknya membahagiakan istri dan anak-anaknya.
“Sayang, dengerin aku. Aku sih seneng banget kalau kita punya anak lagi. Tapi yang hamil dan melahirkan kan kamu, jadi aku akan menyerahkan keputusannya di kamu. Masih ada KB sama pengaman, kalau emang kamu merasa kita udah cukup dengan tiga anak.”
Karin pun mengangguk setuju pada akhirnya. Mereka spontan mengulaskan senyum, seperti anak ABG yang baru pacaran, padahal sudah 11 tahun usia pernikahan keduanya. Saat mereka akan berpelukan sambil kembali berciuman, suasana mesra itu terpecahkan begitu saja oleh kedatangan ketiga anak mereka.
Aryan dan Karin lantas sedikit menjauh dan melemparkan tatapan canggung di hadapan anak-anak.
“Papa sama Mama mau ngapain barusan?” celetuk Taura yang ceplas ceplos. Anaknya yang satu itu memang paling beda, sepertinya Karin kelebihan nutrisi waktu mengandung Taura.
“Barusan itu adalah tanda sayangnya Papa ke Mama, Nak. Tapi cuma boleh dilakukan jika sudah menikah. Contoh lainnya kayak aunty Nay dan Om Willy di altar tadi,” jelas Aryan.
“Papa kiss Mama doang?” tanya Taura lagi.
“Iya dong, kan Mama istrinya Papa. Kalau Papa kiss perempuan lain, Mama bisa marah. Papa akan berdosa juga, Sayang,” ujar Aryan.
“Papa, I want to marry Mama. Because I love her so much,” sela River tiba-tiba. Anak keduanya itu lantas mendekat pada Karin dan menggenggam tangan mamanya dengan posesif.
Aryan pun tersenyum sekilas, lalu ia memberi pengertian pada River. “You couldn’t marry Mama, River. Mama adalah istri Papa. Suatu hari, kamu akan bertemu perempuan baik yang kamu cintai, kamu akan menikahinya. Oke?”
Melihat kelakukan Aryan dan anak-anak mereka, Karin hanya dapat tersenyum maklum. Setiap hari ia sudah kenyang mengkonsumsi obrolan dari yang paling receh sampai yang paling jenius antara bapak dan anak itu.
Kemudian Aryan memiliki ide jahil, ia meminta anak-anak untuk nutup mata. Aryan mengatakan bahwa dirinya akan mencium Karin lagi. Anak-anaknya hanya menurut. Namun ketika Aryan hendak mencium Karin, Svarga si sulung yang paling cerdik itu langsung menarik tangan mamanya untuk menjauh dari Aryan. Aryan yang mendapati itu, segera memberi komandan kepada River dan Taura untuk menyusul Svarga dan Karin.
“Mama kita diculik sama Mas Svarga. Kita harus selamatin Mama, let’s go boys, we should get Mama back,” seru Aryan yang langsung diangguki oleh si polos River dan si kritis Taura.
Potret keluarga itu nampak begitu indah untuk dilihat. Aryan dapat menjadi layaknya seorang teman untuk anak-anaknya. Mereka sering bercanda dan bermain bersama. Ada waktunya untuk serius, dan ada waktunya bersenang-senang. Sementara Karin menjadi idola bagi ketiga anaknya, mereka begitu menyayangi dan menghormati sosok mamanya. Hal tersebut tentunya tidak terbentuk begitu saja, tapi banyak juga yang Karin dan Aryan lakukan untuk mendidik anak-anak mereka. Selain itu Aryan memberi andil yang cukup besar, perilaku Aryan yang menyayangi dan menghormati Karin di depan anak-anak mereka, membuat anak-anak dengan mudah menirunya. Karin begitu disayang oleh empat lelaki yang juga sangat ia sayangi dalam hidupnya. Karin dan Aryan telah sepakat untuk mendidik anak-anak mereka untuk menjadi diri mereka sendiri. Bukan menjadi sosok manusia baru yang mereka inginkan.
Svarga si paling penyayang namun sedikit jahil, River si manja dan sangat jujur terhadap perasaannya, serta Taura si paling kritis dan jenius. Anak-anak mereka unik, berharga, dan punya kelebihannya masing-masing. Aryan dan Karin mencintai anak-anak mereka dengan semua yang ada di diri mereka. Hadirnya Svarga, River, dan Taura, telah membuat Aryan dan Karin merasa begitu bahagia dan lengkap.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷