Alasan yang Tidak Pernah Diharapkan
Kaldera menatap pintu ruang UGD yang beberapa detik lalu baru saja ditutup. Sepanjang perjalanan sampai tiba di rumah sakit, Kaldera tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Pikirannya sungguh kalut, hingga ia hanya dapat memikirkan kondisi Zio.
Kafka yang melihat hancurnya Kaldera ikut merasa terpukul. Saat lelaki itu hendak menghampiri kekasih sahabatnya, Kaldera rupanya sudah lebih dulu mendongak dan menatapnya. Kilatan mata Kaldera memancarkan kekecewaan dan emosi yang begitu mendalam.
Detik berikutnya, Kaldera mengalihkan tatapannya kepada Aksa yang berdiri tidak jauh darinya. Dengan langkah lebarnya, Kaldera berjalan menghampiri Aksa.
Kaldera yang tidak dapat berpikir jernih, menyalahkan Aksa atas apa yang terjadi pada Zio. Aksa juga merasa bersalah, ia tidak menduga kejadiaannya akan berakhir seperti ini.
“Kal, maafin gue ... ” ucap Aksa dengan suaranya yang sedikit bergetar.
Kaldera menatap Aksa dengan matanya yang berkaca-kaca. “Kalau Zio sampai kenapa-napa, kata maaf lo nggak ada artinya Sa,” ucap Kaldera, air matanya luruh lagi membasahi pipinya.
Tidak lama berselang setelah Kaldera kembali ke kursinya, ia mendapati kedatangan dua orang yang penting di hidup Zio. Tante Indri dan mas Raegan, mama dan kakaknya Zio, mereka ada di sana.
Sosok pria jangkung berparas tegas yang merupakan kakaknya Zio itu berbicara pada salah satu perawat yang sebelumnya membawa Zio ke ruang UGD. Perawat itu menjelaskan pada Raegan soal apa yang terjadi dengan Zio. Kaldera masih berdiri di tempatnya, menyaksikan Indri berderai air mata dan beliau terlihat menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Sekitar 30 menit berlalu, pintu ruang UGD terbuka dan menampakkan seorang perawat di sana. Indri dan Raegan segera berdiri dari posisi duduknya untuk mengetahui perkembangan kondisi Zio.
“Kondisi pasien sempat membaik beberapa saat lalu, tapi kini kondisinya kembali memburuk. Pasien meminta untuk bertemu dengan dua orang,” ujar perawat dengan jubah kesehatan berwarna hijau itu.
Setelah itu semua yang ada di sana saling melempar pandangan. “Untuk saudara Kaldera dan Raegantara, silakan ikut saya ke dalam.”
***
Ini pertama kalinya Kaldera melihat sosok itu. Raegantara Rahagi Gumilar, seorang kakak yang selama ini sering Zio ceritakan padanya. Kini di ruang UGD itu, Kaldera berada di sisi kanan ranjang Zio, sementara Raegan berada di sisi kirinya.
Zio memejamkan kedua matanya sesaat, sebelum akhirnya membuka lagi. Zio menatap Kaldera, pandangannya nampak sendu, tapi lelaki itu tetap mencoba untuk mengulaskan sebuah senyum. “Kal,” ucap Zio, ia mengarahkan tangannya untuk mengusap jejak sungai di pipi Kaldera.
Berikutnya Zio mengalihkan tatapannya kepada Raegan. “Mas, gue punya satu permohonan sama lp. Kalau nanti gue nggak bisa bertahan, gue minta tolong lo buat jagain Kaldera. Gue cuma percaya sama lo,” ucap Zio dengan susah payah, hembusan napasnya terdengar berat dan melemah.
Raegan tidak merespon ucapan adiknya itu. Baginya kalimat Zio hanyalah sebuah lelucon. Adiknya bisa bertahan, dan Raegan mempercayai hal tersebut.
Detik berikutnya Zio meraih tangan Kaldera, ia meminta Raegan menggenggam tangan kekasihnya. “Mas, dia berarti banget buat gue. Tolong ya, gue titip dia sama lo,” ujar Zio.
Setelah Zio mengucapkannya, Kaldera menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Kaldera menggelengkan kepalanya dengan kuat, ia tidak ingin mempercayai itu.
“Zio, kamu ngomong apa. Kamu bisa bertahan,” ucap Kaldera.
Seolah ucapan Kaldera hanyalah angin lalu, Zio kembali melanjutkan perkataannya. Zio mengatakan bahwa ini adalah wasiat terakhirnya sebelum ia pergi. Zio mempunyai firasat bahwa ia tidak akan bisa bertahan. Rasanya terlalu sakit, ia ingin tetap di sini, tapi seolah takdir tidak mengizinkannya.
“Mas Raegan, gue ngasih lo dua pilihan,” ucap Zio lagi.
“Lo nggak perlu wasiat itu, Zio. Lo bisa bertahan. Gue panggil dokter dulu ya—” ucapan Raegan seketika terhenti berkat Zio yang segera menahan lengannya.
Zio mengatakan pada Raegan bahwa ia ingin menjadikan Kaldera bagian dari keluarga mereka. Zio tidak dapat memikirkan apa pun saat ini, meski keluarganya rumit, tapi ia yakin bahwa Raegan dapat menjaga Kaldera dengan baik.
Wasiat Zio berisi dua pilihan. Pilihan yang pertama adalah Zio ingin keluarganya mengangkat Kaldera menjadi anak, yang mana artinya Kaldera akan menjadi adik bagi Raegan dan anak kedua bagi Indri. Sementara pilihan yang kedua adalah menjadikan Kaldera menantu keluarga Gumilar. Untuk pilihan kedua itu, Zio meminta Raegan mencoba mencintai Kaldera dan menikahi kekasih adik kandungnya sendiri.
***
Kaldera menyapukan pandangannya pada penjuru rumah megah dengan dominan warna putih, tempat di mana saat ini ia menginjakkan kakinya. Di ruang tamu rumah tersebut, terdapat satu figura yang berukuran cukup besar. Di sana Kaldera dapat melihat potret sebuah keluarga kecil yang nampak begitu bahagia. Keluarga yang lengkap, sebuah keinginan yang terasa sederhana, tapi Zio tidak lagi memilikinya.
Di rumah besar ini, Kaldera akhirnya mengerti rasa kesepian yang selama ini Zio rasakan. Setelah ini pasti Zio akan lebih merasa kesepian. Zio telah pergi, meninggalkan semua orang yang ia cintai yang hari ini akan mengantar kepulangannya untuk selamanya.
Tatapan Kaldera terlihat kosong dan ia tidak mempedulikan orang-orang yang tengah berlalu lalang. Ketika mereka mengucapkan belasungkawa kepadanya, Kaldera hanya menoleh dan menatap dengan pandangan tanpa arti.
Satu persatu pelayat mulai bergerak meninggalkan rumah duka untuk pergi ke pemakaman. Namun Kaldera masih duduk di salah satu kursi plastik di halaman rumah itu, ditemani beberapa karangan bunga yang merupakan simbol ucapan belasungkawa. Sebuah mobil ambulans baru saja membawa kekasih hatinya pergi, hati Kaldera sangat sakit dan terasa seperti diremas dengan begitu kuat.
“Kal,” panggil seseorang yang suaranya terasa fameliar. Atas panggilan itu, Kaldera akhirnya menoleh. Kaldera mendapati Risa, salah satu mantan pacar Zio yang Kaldera kenal dengan sangat baik.
Seketika tangis Kaldera kembali pecah. Kaldera tidak dapat membendungnya lagi dan saat itu juga Risa segera meraih Kaldera ke dalam pelukannya. Risa berusaha memberi kekuatan pada Kaldera, meskipun ia tahu mungkin itu tidak berarti terlalu besar untuk Kaldera.
“Kal, Zio beruntung banget punya lo. Lo tau, lo selamanya akan selalu ada di hati dia,” tutur Risa sembari mengusapkan tangannya di punggung Kaldera.
***
Di sore yang tampak cukup cerah, Kaldera terlihat berjalan bersisian dengan Indri menuju ke sebuah area pemakaman. Wanita yang merupakan ibu dari kekasihnya itu memeluk lengan Kaldera, mereka sama-sama mencoba saling menguatkan, meskipun tidak tahu sampai mana usaha tersebut akan berhasil.
Setelah berjalan melewati lapangan golf yang cukup luas, mereka akhirnya ampai di pemakaman. Sebenarnya pemakaman ini memiliki dua jalan untuk sampai ke sana, tapi Indri mengatakan pada Kaldera bahwa ia ingin melewati lapangan golf. Indri ingin mempersiapkan hatinya dan menenangkan pikirannya sejenak, sebelum ia harus mengantar Zio pergi untuk selamanya.
Raegan berjalan di belakang Indri dan Kaldera. Dari luar mungkin pria itu terlihat seperti sosok yang paling kuat menghadapi kepergian adiknya. Namun tidak ada yang tahu, bahwa Raegan tengah mati-matian menahan kehancurannya. Kalau ia hancur, maka mamanya akan lebih hancur saat tidak memiliki tempat untuk bersandar. Raegan tidak boleh terlihat lemah, ia menanamkan hal tersebut di dalam pikirannya.
Pemakaman akhirnya berjalan sebagaimana mestinya. Tanah coklat itu perlahan-lahan mulai mengubur sosok yang menjadi cinta bagi semua yang mengantar kepergiannya sore ini. Semua kenangan tentang Redanzio yang tersisa, akan menjadi memori di dalam hati. Begitu tanah telah sempurna tertutup dan sebuah nisan marmer hitam dipasang, Raegan mendapati kehadiran papanya di sana.
Kaldera yang berada di samping Raegan, melihat lelaki itu melangkah menuju seorang pria berusia 50 tahunan di sana. Kaldera menebak bahwa sosok yang dihampiri Raegan itu adalah papanya Zio.
“Kaldera, kita tabur bunganya bareng ya Sayang,” ucap Indri yang langsung mengalihkan perhatian Kaldera.
Kaldera mengangguk pelan. Kemudian ia mengambil bunga di keranjang dan menaburkannya di atas pusara Zio, diikuti oleh Indri yang melakukan hal yang sama dengannya.
Kaldera mengusap sekilas batu nisan itu. Ia berusaha menahan air matanya, tapi air bening itu mengalir lagi untuk yang kesekian kalinya. Beberapa saat kemudian, setelah memanjatkan doa, para pelayat satu persatu mulai meninggalkan tempat itu. Langit tampak menggelap, Kaldera mendongak menatap awan yang sudah berubah menghitam.
“Indri, maaf saya datangnya telat,” ucap sebuah suara yang lantas menginterupsi Indri dan Kaldera.
Indri menoleh pada sosok itu, ia bangkit dari posisi berlututnya di samping makam Zio.
“Makasih kamu sudah datang,” Indri hanya mengucapkan itu sembari mengulaskan sebuah senyum getir.
Kaldera menyaksikannya dengan mata kepalanya. Saat Satrio, papanya Zio, mengucapkan kata maafnya pada Raegan dan Indri, Raegan terang-terangan bersikap dingin dan seperti enggan menanggapi papanya.
Akhirnya untuk yang pertama kali, Kaldera bertemu dengan seluruh anggota keluarga Zio. Papanya Zio ada di sana, beliau datang bersama beberapa ajudannya. Seperti yang Zio sering ceritakan padanya, papanya adalah pejabat negara yang cukup sibuk dengan pekerjaannya. Zio selalu mencoba mengerti kala papanya tidak dapat hadir di hari pentingnya. Saat olimpiade olahraga basketnya, saat hari kelulusan SMP-nya, atau bahkan saat hari ulang tahunnya.
Dari sekian banyak tempat di dunia ini, Kaldera mempertanyakan, mengapa harus di sini orang-orang yang Zio cintai akhirnya dapat berkumpul? Mengapa mereka berkumpul atas alasan yang sama sekali tidak pernah mereka harapkan?
***
Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮
Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜
Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂