Antara Ego dan Rasa Peduli

Sore ini Aryan menjemput Karin di apartemen miliknya. Aryan menunggu Karin selesai melakukan shooting untuk video youtube di studio miliknya di bantu oleh Dara dan tim kameramennya. Karin pun mengatakan pada Dara bahwa ia harus pulang bersama Aryan dan ada yang perlu ia dan Aryan bicarakan. Ini urusan rumah tangga, Dara akhirnya bersikap mengerti. Managernya itu membiarkan Karin pergi dan mengatakan bahwa beberapa pekerjaan yang tersisa masih bisa dilakukan besok.

Ketika sampai di apartemen, Karin tidak langsung naik ke kamarnya. Ia dan Aryan memutuskan untuk membicarakannya berdua. Di dalam perjalanan tadi, mereka berusaha terlebih dahulu meredakan emosi, agar bisa mendiskusikannya dengan kepala dingin ketika sampai di apartemen.

Pandangan Karin yang sebelumnya tidak mengarah pada Aryan, kini beralih menatap lelaki jangkung itu. Mereka duduk berhadapan di sofa ruang tamu, Aryan pun berujar lebih dulu, “Karin, aku masih punya tabungan dan gaji dari hasil magang. Aku bisa membiayai rumah tangga, tanpa perlu kamu kerja.”

Aryan telah mengetahui bahwa Karin mengambil beberapa job untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Karin merasa bahwa ia masih sanggup bekerja dan karena ini untuk keperluan pribadinya, ia tidak ingin mengandalkan uang yang Aryan berikan padanya. Sementara Aryan sudah mengatakan bahwa sementara Karin tidak perlu kerja. Karin hanya perlu kuliah dan pulang. Namun Karin tetap bekerja bahkan terkadang sampai larut malam ia baru kembali.

“Aku tau kamu berusaha menuhin kebutuhan rumah tangga. Aku terima kasih sama kamu untuk itu. Tapi untuk kebutuhan pribadi aku, aku nggak mau membebani kamu. Aku ingin tetap kerja,” jelas Karin.

Aryan terdiam selama beberapa saat, lelaki itu menghembuskan napasnya dan akhirnya berujar, “Karin, aku nggak izinin kamu buat kerja sementara. Kamu bisa bilang ke aku soal kebutuhan kamu, aku akan berusaha untuk penuhin itu.”

Kalimat yang Aryan ucapkan itu sontak membuat Karin menatapnya dengan tatapan tidak percaya. “Kamu punya alasan dari semua ini?” tanya Karin.

“Maksud kamu alasan apa?”

“Alasan atas sikap kamu yang larang aku untuk kerja,” ujar Karin. Melihat keterdiaman Aryan, seketika membuat Karin kembali membuka suaranya, “Kamu nggak punya jawaban itu, Aryan.”

Karin hendak melangkah pergi, ia pikir pembicaraannya dengan Aryan sudah selesai. Namun sebelum Karin melangkahkan kakinya, Aryan telah lebih dulu menahannya.

“Karin, I have the answer. Aku peduli sama anakku, kamu bawa dia sama kamu,” ucap Aryan.

Karin lantas berbalik untuk kembali menatap Aryan. “Aryan, kamu mempermasalahkan hal kecil yang bahkan sebenarnya nggak perlu kamu permasalahkan. Aku juga peduli sama anakku dan aku selalu berusaha lindungin dia, jadiin dia prioritas utamaku.”

Pegangan Aryan di pergelangan tangan Karin pun perlahan-lahan mengendur. Beberapa hari yang lalu, Aryan mendapati Rey mengantar jemput Karin saat perempuan itu pulang malam karena bekerja. Melihat setiap perhatian yang Rey berikan kepada Karin, membuat ego Aryan akhirnya tersentil.

“Aryan, apa ini soal Rey?” tanya Karin dengan nadanya yang terdengar sedikit tidak yakin.

Karin kembali menatap Aryan tepat di matanya, ia berusaha mencari jawaban itu di iris legam Aryan.

“Iya, kamu benar,” ucap Aryan.

Rupanya tembakan Karin tersebut tepat sasaran. Jawaban Aryan dan tatapan dinginnya kini sukses membuat Karin terdiam di tempatnya. Karin tidak menyangka, semua masalah ini dipicu dari satu sumber yang sebenarnya Karin pikir Aryan tidak perlu mengambil pusing soal itu.

Karin mengalihkan tatapannya dari Aryan, ia memejamkan matanya dan tangannya bergerak memijat pangkal hidungnya. “Aryan, kamu cuma menuruti apa kata ego kamu. Kamu nggak benar-benar tulus sama ucapan kamu soal peduli sama anak ini,” ujar Karin.

Semua kalimat yang Karin ucapkan terasa benar. Aryan pun mencermatinya dan berpikir bahwa sikapnya telah merefleksikan egonya terhadap Karin. Aryan menemukan kekecewaan di kedua mata Karin ketika perempuan itu kembali menatapnya.

Karin menghela napasnya, lalu menghembuskannya perlahan. Karin lantas menatap Aryan lekat, “Perlakuan Rey ke aku, semua itu tulus, Aryan. Rey nggak punya niat untuk merebut posisi kamu sebagai ayahnya bayi ini. Aku paham kalau kamu peduli sama anak kamu. Tapi aku mohon, jangan sampai rasa peduli itu membuat kamu bersikap kayak gini.”

“Aku naik ke atas dulu, aku mau istirahat,” sambung Karin sebelum akhirnya melenggang dari hadapan Aryan.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷