Arti Jatuh Cinta yang Sesungguhnya
Karin mengambil sebuah dress di bawah lutut berwarna sage green dari dalam lemari pakaian. Ia pikir ini cukup bagus. Tampilannya terlihat simple, tidak terlalu berlebihan, jadi cocok untuk acara dinner dan piknik di tenda malam ini. Setelah siap dengan gaunnya, Karin mengecek lagi riasannya di kaca meja rias. Di rasa makeup-nya telah pas, Karin pun mengambil parfum beraroma manis vanilla bercampur sedikit scent floral yang segar. Karin menyemprotkan parfum tersebut di sekitar pergelangan tangan dan tengkuknya.
Karin pun telah siap. Ia memutuskan melangkah menuruni tangga untuk sampai di lantai bawah. Di ruang tamu, Aryan sudah siap lebih dulu beberapa menit yang lalu dari pada Karin. Saat netra Aryan menangkap kehadiran Karin di anak tangga terakhir, bahkan sampai perempuan itu sampai tepat di hadapannya, Aryan tidak bisa melepas pandangannya pada Karin. Aryan merasa bahwa dunianya telah berhenti dan hanya terarah pada satu titik.
Aryan pun buru-buru mengalihkan tatapannya agar Karin tidak menangkap basah dirinya. Beberapa detik yang lalu Aryan tengah memperhatikan Karin dan terpesona terhadap perempuan itu. Rupanya Karin sendiri sedang memperhatikan penampilan Aryan yang malam ini nampak berbeda dari biasanya. Aryan mengenakan kemeja coklat tua yang bagian lengannya sedikit di gulung dan celana bahan hitam panjang. Tidak lupa di pergelangan tangan kirinya, Aryan mengenakan jam tangan hitam dari merek favoritnya. Apa yang Aryan kenakan terasa pas di tubuh pria itu.
Karin tersadar bahwa beberapa detik yang lalu ia terlalu fokus hanya ke Aryan. Karin pun segera mengalihkan perhatiannya pada ke sisi kanan ruang tamu. Di sana sudah ada sebuah tenda putih yang berukuran cukup besar, lengkap dengan sebuah kasur lantai dan bantal-bantal yang telah ditata rapi. Tidak hanya itu, sebuah lampu hias yang digantung di dalam tenda menyempurnakan kecantikan dekorasi tersebut.
“Kak, tendanya bagus banget,” ucap Karin dengan kedua matanya yang nampak berbinar bahagia.
Mendapati Karin tampak senang dengan hasilnya, rasanya semua seperti terbayarkan, usaha Aryan tidak sia-sia. Meskipun pengerjaaan tadi siang di lakukan oleh mas-mas tukang, tapi Aryan berandil banyak untuk mewujudkan dekor impian Karin menjadi kenyataan.
Sebelum mencoba tenda tersebut, Aryan dan Karin akan menikmati makan malam terlebih dahulu. Karin punya andil untuk memasak makanannya. Masakan yang Karin buat cukup sederhana, tapi semua menunya ini adalah request dari Aryan. Karin mencoba untuk membuat makanan Chinese kesukaan Aryan setelah ia sempat mempelajarinya sedikit dari Tiara.
Aryan dan Karin duduk berhadapan bersila di lantai, di hadapan mereka kini mereka sudah tersaji dua jenis menu masakan. Begitu Aryan menyuap makanannya untuk pertama kali, Karin memperhatikannya karena ingin melihat reaksi Aryan.
Begitu netra keduanya bertemu, Aryan menatap Karin tepat di irisnya, lelaki itu pun serta merta mengulaskan senyum simpulnya. “Masakan kamu enak, Karin. Aku suka,” ucap Aryan.
“Kemarin aku sempat belajar dikit sama mama. Mama bilang ini Chinese food yang paling gampang dari sekian banyak yang kamu suka. Mungkin rasanya nggak seenak buatan mama, tapi untungnya kamu suka dan masih bisa dimakan,” ujar Karin sembari mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
“Kamu bisa belajar lagi, suatu saat pasti bisa sama persis sama buatan mama. Mungkin bisa lebih enak,” cetus Aryan.
Karin lantas mengulaskan senyum kecilnya sembari mengangguk. Keduanya melanjutkan menikmati makanan masing-masing dan tidak ada pembicaraan selama itu berlangsung. Sepanjang makan sampai dengan selesai, Aryan pun terpikirkan akan ucapannya sendiri. Suatu saat Karin akan bisa membuat masakan yang lebih enak dari ini. Namun apakah Karin akan memasak untuknya atau untuk pria lain?
“Kak,” celetuk Karin.
Aryan segera tersadar dari lamunannya dan menatap Karin. “Iya?”
“Sebenarnya aku udah tau dari Nayna, alasan kamu ngadain acara malam ini,” ujar Karin.
Sontak Aryan pun membelalak begitu mendengarnya. Namun ia mencoba untuk tetap bersikap tenang. Aryan lantas mengulaskan senyumnya dan bertanya, “Nayna bilang apa ke kamu?”
Karin terdiam selama beberapa detik sambil akhirnya tidak dapat lagi menahan senyumnya. Bahkan Karin sedikit tertawa sebelum akhirnya berujar, “Nayna nggak bilang apa-apa ke aku. Aku cuma asal nebak aja, Kak.”
Karin masih terseyum bahkan kini terkesan senyumannya itu tengah meledek Aryan. “Kayaknya Nayna emang jadi kotak rahasia kamu ya. Ekspresi kamu nggak bisa bohong, Kak.”
“Ohya?” Aryan pun heran sendiri terhadap dirinya. Apakah semudah itu Karin dapat membaca apa yang ada di pikirannya.
Karin pun mengangguk dnegan cepat. Setelah itu Karin kembali menyuap makanannya yang belum habis. Namun ketika Karin melihat Aryan, justru kini dirinya yang seperti terkunci oleh tatapan Aryan itu. Aryan menatapnya dengan pandangan yang berbeda dari biasanya. Karin berusaha untuk menampik itu, ia pikir apa yang ada dalam pikirannya saat ini tentang Aryan hanya perasaannya yang merupakan kekeliruan.
Karin pun akhirnya mengalihkan tatapannya dari Aryan. Asal tidak melihat Aryan, Karin bisa merasa lebih rileks dan jantungnya kembali berdetak dengan normal.
“Acara malam ini memang diadakan karena sebuah alasan,” ujar Aryan kemudian.
“Karin,” ucap Aryan yang lantas membuat Karin menatap Aryan.
“Setelah makan malam ini, aku ingin membuat sebuah pengakuan sama kamu. Dua hari yang lalu, aku memutuskan untuk bikin malam spesial ini buat kamu,” sambung Aryan masih sambil menatap Karin dengan tatapan teduhnya.
Karin pun balas menatap Aryan. Mendapati Aryan menatapnya dengan lembutnya, membuat Karin seketika terdiam. Kedua mata kecil Aryan yang indah itu, seperti membawa Karin kembali pada malam di Bali waktu itu. Rentetan kejadian tersebut sialnya malah membuat Karin merasakan jantungnya berdegup dengan begitu kencang.
Rasanya tatapan Aryan kini sama seperti tatapannya kala malam itu. Sebagian diri Karin memang terpengaruh oleh obat, tapi sebagian lain dirinya menyadari semua yang terjadi. Aryan adalah sosok yang membuat Karin terjatuh telak malam itu. Sosok yang Karin kagumi dengan kesadaran dan akal waras yang masih tersisa di benak Karin kala itu.
***
Setelah makan malam berakhir, Aryan dan Karin memutuskan untuk menikmati sajian dessert di dalam tenda. Seperti layaknya melakukan camping sungguhan, ini merupakan hal yang pernah Karin inginkan waktu ia kecil. Karin belum sempat mewujudkannya dan malam ini tanpa diduga olehnya, terjadi begitu saja dalam hidupnya.
Karin pun merasa bahagia malam ini. Sebenarnya bukan soal tenda, dekorasi, dan makanan yang enak, tapi yang Karin tidak duga adalah orang yang mengusahakan melakukannya setelah tahu bahwa Karin begitu menginginkannya.
Karin menoleh ke samping, rupanya tepat saat itu Aryan juga tengah melihat ke arahnya. Tenda ini berukuran cukup besar, jadi memungkinkan mereka berdua yang berada di dalam masih memiliki jarak yang cukup memisahkan keduanya.
Detik berikutnya Aryan meletakkan piring dessert miliknya dan milik Karin yang telah bersih di meja kayu kecil di luar tenda. Sekembalinya Aryan, ia menempatkan dirinya untuk berada lebih dekat dengan Karin. Jarak yang sebelumnya terasa besar itu, kini jadi terlihat kecil.
Aryan menatap Karin dalam-dalam, detik berikutnya yang terjadi, Aryan meraih kedua tangan Karin dan mengenggamnya. “Karin.” Aryan menjeda ucapannya sesaat, lelaki berparas oriental itu mengulaskan senyumnya.
Sebuah senyum yang begitu mempesona di mata Karin. Karin pikir dirinya sudah tidak waras karena baru saja memuja Aryan layaknya seorang perempuan kepada seorang lelaki pada umumnya.
Aryan berdeham sekali sebelum akhirnya berujar, “Dinner dan piknik kecil-kecilan yang kamu inginkan, aku bersyukur bahwa aku bisa mewujudkan ini untuk kamu. Semua yang udah kita lalui, waktu aku kehilangan arah, kamu justru begitu peduli sama aku. Aku juga sangat bersyukur untuk itu.”
Aryan mengatakan bahwa ketika dirinya berada di dalam jurang yang gelap, Karin datang padanya tanpa memedulikan pembatas yang ada di antara mereka. Rasa empati dan peduli Karin selama ini, perlahan-lahan dapat membuat Aryan menemui seberkas cahaya, hingga Aryan dapat menemukan petunjuk untuk keluar dari jurang yang gelap itu.
Karin memperhatikan pergerakan Aryan yang mengambil sesuatu dari balik tumpukan bantal yang ada di tenda. Rupanya benda tersebut adalah sebuah buket bunga dengan nuansa pink yang nampak begitu cantik. Aryan memberikan bunga tersebut kepada Karin. Karin menatap buket tersebut sejenak, sebuah senyum kecil lantas tersungging di bibirnya ketika menerima bunga tersebut.
“Karin, you’re look so beautiful this night. I never realized that actually you’re always amazing in your own way,” ungkap Aryan.
Aryan menjeda ucapannya, ia merasa begitu gugup saat ini. Karin pun masih menunggu Aryan untuk mengungkapkan semuanya. Usai menghela napasnya dan menghembuskannya, Aryan kembali berujar, “Aku pikir dua tahun yang lalu aku cuma kagum sama kamu. Rasa itu mungkin hanya akan aku rasakan sebentar dan bisa hilang gitu aja. Aku nggak berpikir kalau kita akan bertemu dan menikah. Sampai akhirnya aku sadar, setiap waktu yang kita lalui, itu berharga buat aku. Karin, I love you. I really fell in love with you. Aku ingin melindungi kamu dan membuat kamu bahagia. Aku mau mewujudkan keluarga yang lengkap buat kamu dan anak kita nanti. Kalau kamu bersedia, aku ingin kita mencoba hubungan yang sesungguhnya dan mengakhiri kesepakatan pernikahan yang kita buat sebelum menikah.”
Aryan selesai dengan semua yang ingin ia ungkapkan kepada Karin. Aryan tahu bahwa Karin begitu mencintai Rey. Rey adalah sosok yang sempurna sebagai seorang kekasih dan tempat bagi Karin disaat senang dan terpuruknya.
Meskipun Aryan tahu jalan yang ia lalui tidak mudah, tapi Aryan akan tetap berusaha untuk memperjuangkan Karin. Selain anak mereka yang membuatnya bertahan dari kehancuran, rupanya Karin juga menjadi alasan bagi Aryan bangkit dan berjuang untuk menjadi sosok lebih baik.
Karin menatap Aryan dengan tatapan terharunya. Karin sedikit terkejut dengan pernyataan Aryan malam ini. Karin melihat bunga yang diberikan Aryan di tangannya, senyumnya pun terulas manis sekali.
Karin menatap Aryan tepat di matanya, lalu ia berujar, “Thank you for the dinner, the beautiful tent, and this flowers. Aku menghargai semua usaha yang kamu lakukan untuk mewujudkan malam ini. Aku nggak pernah berpikir kamu akan menyatakannya. But it just happened and I was very surprised for that.” Karin menjeda ucapannya sesaat. Tiba-tiba di benak Karin terputar memori-memorinya bersama Aryan beberapa bulan belakangan ini. Ada senang maupun sedih di sana. Namun tanpa Karin sadari, semua yang telah ia lalui bersama Aryan terasa berharga baginya. Setiap perhatian yang Aryan berikan padanya, rasanya begitu tulus. Bukan hanya untuk anak di kandungannya saja, tapi untuk Karin juga.
Masih sambil menatap Aryan, Karin pun kembali berujar, “Kak, aku butuh waktu untuk memberikan jawaban ke kamu. Kalau kamu bersedia untuk nunggu, aku akan berikan jawaban untuk mempertahankan rumah tangga kita atau enggak.”
Karin menjelaskan bahwa ia tidak ingin perasaannya keliru. Karin tidak ingin benar-benar merasakan perasaannya yang sejujurnya terhaap Aryan. Karin juga akan akan memberi Aryan kesempatan untuk membuktikan pernyataan cintanya tersebut, bukan hanya dari perkataan, tapi juga dari perbuatan.
Karin berikir bahwa jatuh cinta itu rumit. Apa mungkin seseorang bisa menemukan cinta lainnya disaat hatinya sudah bertuan? Mungkinkah Aryan sungguh-sungguh terhadap perkataannya? Apa Karin bisa mencintai Aryan ketika ada sosok sempurna yang jelas-jelas mencintainya selama ini?
Karin mendongak kala Aryan meraih satu tangannya yang tidak meemgang buket bunga untuk digenggam. “Karin, I will let you to do it. Aku akan memperjuangkan kamu dan menunggu kamu memberi jawaban.” Aryan menjelaskan ia bertekad memperjuangkan Karin dan bersedia menghadapi badai apa pun yang siap menanti di depan. Aryan akan bersedia terhadap keputusan apa pun yang nantinya Karin berikan padanya.
Jatuh cinta bukan hanya tentang perasaan kita sendiri, melainkan juga tentang perasaan orang lain. Aryan ingin membiarkan Karin merasakan perasaannya yang sesungguhnya dari dalam hatinya. Karin harus bahagia nantinya dengan keputusan apa pun yang akan dipilihnya.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷