Aryo's Watermark
“Aku nggak tahu pengen apa Aryo,” ucap Tiara untuk ketiga kalinya. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan yang tidak memiliki tujuan, karena Tiara tidak tahu apa yang ia inginkan, tapi Aryo kekeuh ingin menuruti keinginannya.
Aryo meminta Egha untuk tidak mengganggu keduanya, jadi Egha tidak perlu menyupir untuk Tuan dan Nyonyanya itu.
“Kamu nggak ngidam sesuatu gitu?” tanya Aryo.
“Nggak ada sih kayaknya. Mungkin belum.”
Aryo memberhentikan mobilnya di depan sebuah bangunan yang tidak terlalu besar dengan nuansa putih dan biru. Bangunan itu memiliki desain interior yang lucu dan menggemaskan. Kebetulan mereka melewati toko tersebut dan sepertinya justru Aryo yang sekarang memiliki keinginan.
Mereka memasuki toko perlengkapan bayi yang beberapa saat lalu menarik penglihatan Aryo. Ya, toko perlengkapan bayi. Mungkin tokonya sebentar lagi sudah mau tutup, karena ini sudah malam. Tiara tidak habis pikir apa yang ada di pikiran Aryo dengan mengunjungi toko perlengkapan bayi malam-malam seperti ini.
“Halo, selamat datang. Ada yang bisa kami bantu Ayah dan Bunda?” Pelayan toko menyambut mereka dengan senyuman ramahnya.
Salah satu pelayan akhirnya membantu Tiara memilih beberapa perlengkapan untuk bayi new born.
“Kamu pilih aja yang kamu mau.” Aryo menatap istrinya sambil tersenyum. Aryo ikutan antusias membantu Tiara memilih-milih pakaian untuk bayi yang entah mengapa nampak sangat lucu di matanya. Ia berjalan ke section lain di toko itu, ketika ada yang menarik matanya, langsung ia putuskan untuk membelinya.
“Aryo, kita kan belum tau bayinya perempuan atau laki-laki,” ujar Tiara saat mereka ke section baju tidur untuk bayi. Berbagai warna dan model pun tersedia di sana. Pelayan toko juga membantu Tiara dan menjelaskan baju bayi yang cocok untuk usia new born.
Benar juga apa yang dikatakan Tiara. Kenapa juga Aryo melupakannya. Mereka belum dapat mengetahui jenis kelamin calon anak mereka. Ah, tapi itu tidak masalah bagi Aryo. Karena kebingungan mereka itu, beberapa baju yang dipilih ada yang berwarna feminin dan ada yang memiliki warna maskulin.
“Aryo.” Tiara menahan tangan suaminya yang menggandengnya keluar toko.
“Ya?”
“Kayaknya aku udah tau deh aku mau apa.”
“Ohya? Kamu kamu apa?” Aryo ekspresinya sangat antusias.
Tiara nampak menimang sejenak, “Kehadiran kamu.”
Aryo mengulaskan senyumnya mendengar penuturan Tiara.
“Kalau nanti kita udah tahu bayinya perempuan atau laki-laki, kita kesini lagi,” ujar Tiara.
“Oke. Kamu bisa pilih apapun dan aku akan beliin.”
“Duit kamu banyak banget ya? Konglomerat bukan?”
“Aku bahkan bisa beli toko ini,” ujar Aryo sambil menunjuk toko di hadapan mereka.
“Beli toko? Nggak usah macem-macem deh kamu,” ucap Tiara. Namun kalau dipikir-pikir lagi, suaminya itu sungguhan seorang konglomerat. Perusahaan Harapan Jaya yang memiliki property dan anak perusahaan dimana-mana yang jika dihitung nilainya akan cukup sampai 10 keturunan bahkan mungkin lebih.
“Aryo.”
“Yaa?”
“Jadi aku beneran nikah sama konglomerat ya?”
“Kamu kenapa tiba-tiba nanya gitu?” Aryo terbahak mendengar pertanyaan lucu Tiara.
“Jawab aja.”
“Bisa jadi. Semoga asset suami kamu ini nggak habis sampai dua puluh keturunan dan akan terus berlanjut.”
“Artinya apa anak kita harus jadi pewaris juga kayak kamu?”
“Bisa iya, bisa juga enggak. Aku akan tanya pendapat kamu lebih dulu. Karena kamu ibunya dan kamu yang mengandung dan akan melahirkan dia ke dunia ini. Kalau kamu nggak ingin dia jadi pewaris, aku nggak akan memintanya jadi penerus ayahnya.”
“Aku juga ingin dia bisa milih jalan hidupnya dan apa yang dia mau.” Tiara mengulaskan senyumannya. Ia sudah memikirkannya, kelak nanti ia ingin anaknya dapat menentukan keinginannya. Tugasnya dan Aryo hanya membimbing dan mengarahkan mana yang baik dan yang kurang baik, selebihnya biar anak mereka yang menentukan jalannya.
***
Seperti yang dikatakan Tiara, ia hanya menginginkan kehadiran Aryo di sisinya. Jadi Aryo menginap lagi di rumahnya malam ini. Sebagai asisten yang siap sedia, Egha diminta untuk menjaga Tuan dan Nyonyanya. Beberapa bodyguard di bawah pimpinan Egha pun dikerahkan untuk menjaga rumah Tiara.
Tiara sedang menunggu Aryo selesai mandi. Setelah mereka membeli baju bayi, mereka juga membeli baju tidur untuk Aryo berganti. Tiara telah mendapat jawaban bahwa ia sungguh menikahi seorang konglomerat. Harapan Jaya Group adalah perusahaan multi industri yang mengkombinasikan lebih dari 5 perusahaan yang menjalin bisnis yang secara keseluruhan berbeda dan jatuh di bawah satu kelompok perusahaan. Selain itu Harapan Jaya melibatkan sebuah perusahaan induk dan beberapa subsidier.
Aryo mengatakan jika Tiara mengizinkannya, Aryo sangat mampu membeli mall dan seisinya untuk Tiara. Tiara sekarang percaya Aryo bisa melakukannya, maka ia tidak mengizinkan Aryo membeli mall dan suaminya itu menuruti perkataannya.
Tiara mendapati dompet Aryo di nakas samping kasur dengan posisi terbuka. Nampak sebuah foto berukuran kecil disana. Saat Tiara coba melihatnya, ternyata itu adalah potret calon anak mereka yang beberapa hari lalu Aryo meminta duplikatnya pada Tiara. Tiara mengamati foto tersebut yang kemudian membuat ujung-ujung bibirnya teratik hingga membentuk sebuah senyuman.
Tiara merasa sangat kagum dengan hadirnya nyawa mungil yang tuhan titipkan di rahimnya. Selama kehamilannya, Tiara belum merasakan ngidam atau ingin melakukan sesuatu. Namun ia sadar kehadiran Aryo merupakan sesuatu yang paling ia inginkan. Makhluk kecil yang dititipkan Tuhan di rahimnya sungguh luar biasa dampaknya.
Saat Tiara merapikan jaket hitam milik Aryo yang suaminya itu letakkan di sandaran kursi, ia menemukan sebuah benda yang berukuran tidak terlau besar di bagian kantungnya. Itu adalah sebuah pistol. Tiara tidak mengerti alasan mengapa suaminya sampai perlu membawa benda tersebut bersamanya. Bukankan artinya apa yang sedang di hadapi suaminya bukanlah hal sepele dan mudah. Ini berhubungan dengan hal yang cukup berbahaya. Tiara menaruh benda itu kembali ke tempatnya dan menunggu Aryo selesai mandi.
Aryo yang beberapa menit kemudian selesai, mendapati Tiara menunggunya di depan kamar mandi.
“Tidur duluan aja kalau udah ngantuk Ra,” ujar Aryo yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil dan bercermin di depan kaca yang ada di kamar Tiara. Tiara melingkarkan lengannya di torso suaminya dari belakang. Aryo yang masih melakukan kegiatannya menjadi kesulitan berkat ulah Tiara. Lantas Aryo memutuskan menyudahinya aktivitasnya. Ia melepaskan handuk putih kecil dari tangannya dan berbalik bergantian untuk memeluk istrinya dari depan.
“Aryo, aku mau tanya. Pistol di jaket kamu buat apa?” tanya Tiara dengan suaranya yang sedikit bergetar. Tiara tidak lantas mendapat jawaban dari Aryo. Tiara mengurai pelukannya dan menuju ke kasur lebih dulu, ia membaringkan dirinya di sana dengan posisi membelakangi Aryo.
“Jadi gini istriku kalau lagi khawatir ya?” ujar Aryo yang segera menyusul wanitanya.
Tiara membalikkan tubuhnya dan mendapati Aryo berbaring di sampingnya sambil menatapnya.
“Tidurnya mau dipeluk atau enggak? Kalau mau sini, kamu jangan jauh-jauh.”
“Apa beneran bahaya sampai kamu membawa benda itu kemana-mana?”
“Cuma untuk jaga-jaga, Ra,” jelas Aryo.
“Aku ngerti kamu khawatir. Tapi aku mohon kamu percaya sama aku ya,” lanjut Aryo.
“Kamu hampir ngorbanin semuanya cuma untuk ini, Aryo.”
Aryo terdiam dan berusaha menyusun kalimat yang dapat membuat Tiara paham. “Aku mau ngelakuin sebagai bentuk terima kasih aku sama Ayah kamu. Aku mau jadi menantu yang berbakti untuk beliau,” ujar Aryo akhirnya.
“Terima kasih untuk apa?” tanya Tiara.
“Tanpa beliau, kamu nggak ada di sini. Kita nggak akan bertemu.” Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap surai coklat gelap Tiara.
“Aku udah janji sama mama untuk bawa kamu balik ke rumah. Artinya aku harus menangin kasus itu, Ra. Kalau aku nggak berhasil, mama minta aku buat ngelepas kamu. Mama ngasih pilihan bawa kamu kembali atau bercerai. Beliau tahu aku nggak akan milih pilihan yang kedua, jadi aku akan berusaha bawa kamu kembali ke rumah. Mama sayang banget sama kamu , Ra.”
“Mama udah tau soal kehamilan aku?” tanya Tiara. Mendengar penuturan Aryo membuat perasaannya menghangat. Tiara seketika membayangkan mertuanya itu pasti sangat bahagia jika mengetahui keberadaan calon cucu pertamanya.
“Aku belum ngasih tau ke mama. Mama pasti seneng banget kalau tau, tapi mungkin dalam waktu dekat ini nggak bisa ngasih tau dulu ke beliau. Keadaannya cukup kacau sekarang. Barusan aku dapat laporan kalau tim aku belum nemuin titik terang keberadaan om Rudi. Aku nggak mau ngambil resiko apapun dengan kamu berada di rumah. Saat ini, yang terbaik kamu tinggal dulu disini. Oke?” Aryo meraih tangan Tiara dan menggenggamnya dengan tangan besarnya.
“Kamu lebih suka nggak ada aku di rumah ya?” tanya Tiara pura-pura memasang wajah sedihnya.
“Gimana bisa kamu mikir gitu? Kamu tega suami kamu berasa jadi bujang lagi, nggak ada yang nemenin tidur gitu, hmm … ? Aku kangen banget sama kamu, Tiara,” ungkap Aryo.
“Aku juga kangen kamu. Kangen banget,” aku Tiara.
Aryo merasakan perasaan itu, rasanya begitu hampa tanpa kehadiran Tiara di sisinya. Setiap celah di dalam rumah, aspek kehidupannya, dan di benaknya sekalipun, telah dipenuhi oleh sosok di hadapannya saat ini. Bahkan orang-orang yang bekerja untuknya memiliki andil dengan mengemban tugas dari istrinya untuk memastikan kondisinya selama Tiara tidak berada di rumah.
“You’re so cute, Darling,” ujar Aryo.
“Don’t darling me.”
“I called you Darling cause you are my dear.” Aryo menatap Tiara hangat yang dibalas perempuan itu dengan senyum lembutnya.
“Sayang, aku mau itu,” celetuk Tiara spontan.
“Kamu ... panggil aku apa?”
“Sayang.”
“Kita nggak jadi pisah kan, Ra?” tanya Aryo.
“Enggak.” Tiara mau tidak mau tersenyum. Pipinya tampak sedikit memerah.
“Oke, Sayang. Kamu mau apa tadi?” Aryo tidak mengerti yang diinginkan oleh Tiara. Kedua alis Aryo menyatu menandakan ia sungguh tidak mengerti.
“Katanya kamu mau nurutin apa yang aku mau.”
“Tapi aku nggak paham ‘itu’ maksud kamu apa.”
Tiara mengarahkan telunjuknya ke bibirnya kemudian bergerak mengarah bibir Aryo. Aryo yang cepat tanggap dengan kode yang diberikan oleh Tiara, langsung tersenyum lebar.
“Sini.”
“Beneran?” Tiara matanya berbinar.
Tiara lantas menggerutu saat Aryo ternyata hanya memeluknya dengan sedikit digoyangkan gemas. Namun bukan sebuah pelukan yang saat ini diinginkan Tiara.
“Aku nggak mau kelepasan Ra,” ujar Aryo. Aryo sangat paham yang diinginkan istrinya karena ia juga begitu merindukan Tiara.
“It’s only a kiss.”
“Aku nggak mau nyakitin bayi kalau sampai kelepasan menginginkan kamu, Tiara. Kata dokter kan aku harus puasa dulu 2 bulan. Right?” Aryo menjauhkan wajahnya sedikit agar dapat melihat wajah istrinya, lalu ia memberi kecupan hangat dikening Tiara.
“Iya, 2 bulan. Lama juga ya—”
Secara tiba-tiba ucapan Tiara terhenti karena sesuatu yang kenyal dan lembab menyapa belah bibirnya.
“Tadi bilangnya nggak mau,” ucap Tiara saat Aryo melepas pagutan halus itu. Penyatuan itu terjadi dalam durasi yang singkat dan Aryo melakukannya dengan sangat lembut.
Dengan ibu jarinya, Aryo mengusap bibir Tiara yang saat ini tidak terlihat terlalu lembab seperti sebelumnya. Lip balm Tiara sepertinya sudah tertransfer sepenuhnya ke bibirnya sendiri.
“You’re a good kisser. My lip balm is almost gone,” cetus Tiara dan Aryo membalasnya dengan gelak tawa.
“I’ll give it back to you.” Aryo menghela satu sisi wajah Tiara untuk memangkas habis jarak mereka dan kembali mempertemukan belah bibirnya dengan bibir Tiara. Tiara membalas ciumannya dan itu membuat Aryo sedikit kualahan. Rasa bibir Tiara begitu lembut dan manis, hingga membuat Aryo ingin menikmatinya seperti permen.
Mereka sama-sama menginginkan lebih tetapi sepertinya saat ini waktunya kurang tepat.
“Kamu udah jago ya sekarang,” celetuk Aryo.
“Masa iya?”
“Yes. You’re so cool, Babe.”
“Iya, dong. Aku kan belajar langsung sama ahlinya.”
“Siapa?”
“Kamu ahlinya.”
Aryo lantas tertawa dan ia mendekat untuk mengecup kening Tiara.
“Kamu besok kerja?” tanya Tiara.
“Iya. Kenapa? Jadwal kamu periksa kandungan ya?”
“Periksa kandungan masih seminggu lagi. Tadi waktu kamu mandi, ada chat dari mama. Kata mama besok ada acara penting di rumah eyang.”
“Not really important. It’s just grandpa birthday party.”
“Itu acara penting, Aryo. Aku temenin kamu dateng ke sana, ya?”
Aryo terlihat berpikir, ia lantas menggeleng, “Ra, pasti juga hadir di sana.”
“Maksud kamu dia siapa?”
“Dia yang melakukan perbuatan itu sama ayah kandung kamu. Kalau kamu ketemu dia, aku khawatir itu bisa nyakitin kamu lagi. Aku nggak mau hal itu sampai terjadi.”
***
Tiara terbangun lebih dulu dibandingkan Aryo. Ini masih pukul 4.30 dan Tiara pikir ia terlalu pagi untuk bangun. Di sampingnya, netranya mendapati rupa surgawi suaminya yang membuatnya tersenyum kecil. Tiba-tiba terlintas di pikiran Tiara pertemuan pertamanya dengan Aryo. Kalau dipikir-pikir, lucu juga mengingat kejadian itu. Dimana dirinya dan Aryo seperti dua kutub magnet yang berbeda. Namun justru dua kutub magnet yang berbeda itulah yang membuat mereka saling terhubung, karena adanya daya tarik menarik yang mempertemukan keduanya. Merka di dekatkan kembali oleh sesuatu yang bernama takdir.
Meskipun banyak yang terjadi antara dirinya dan Aryo, tapi perjalanan mereka sudah sampai sejauh ini dan semua itu telah mengajarkan banyak hal. Mereka telah sama-sama bertahan dan berjuang untuk cinta mereka. Bahkan saat ini Tiara tidak ingin menyerah untuk rintangan apapun yang akan ia hadapi di depannya. Karena ia memiliki alasan untuk berjuang. Alasannya adalah manusia yang saat ini tertidur di sampingnya. Ohiya, satu lagi alasannya yaitu belahan jiwanya, buah hatinya bersama Aryo yang saat ini ada di dalam kandungannya. Meskipun belum bisa bertemu langsung, Tiara sangat menyayangi makhluk kecil yang tumbuh bersamanya saat ini.
Mengandung terasa sangat menakjubkan. Setiap hari ia selalu ingin mengetahui perkembangan bayinya dan menikmati setiap perubahan yang ia rasakan pada tubuhnya.
“Aryo ... kamu kapan bangunnya sih? Bangun dong,” ucap Tiara yang bosan karena ia tidak dapat melanjutkan tidurnya lagi.
Beberapa saat kemudian, Aryo perlahan membuka matanya, “Kamu mau tau cara bikin aku cepet bangun?” gumam Aryo.
“Emang bisa? Gimana caranya?”
“Kiss me and I will wake up.” Aryo kembali terpejam, tapi sebuah senyum kecil terbit di wajahnya.
“Gampang. Gitu doang?” ujar Tiara dengan suarayang dipelankan dan segala indra Aryo seperti terbangun detik itu juga mendengar suara seksi istrinya.
Berhasil. Justru tanpa ciuman seperti yang dikatakan Aryo, pria itu membuka mata saat Tiara meluncurkan suara lembutnya.
“Kamu curang,” ujar Aryo yang seketika membuka penuh kelopak matanya.
“Lho aku nggak ngapa-ngapain. Kamunya aja gampang kepancing.”
“Kepancingnya suma sama kamu.”
Kini giliran netra Aryo yang menatap wajah cantik Tiara. Aryo memangkas jaraknya dengan Tiara, hingga membuat hidung mereka saling bersentuhan.
“Hello, my life.” Aryo mengecup kening Tiara. Sebuah kecupan di pagi hari du saat udara terasa masih sangat sejuk. Di bawah satu selimut yang sama, jadi terasa lebih hangat karena hadirnya seseorang yang ada di dekapan dan begitu dicintai.
“Kamu dan baby mau sarapan apa?”
“Kayaknya aku ada ke pengen sesuatu deh, semalam kepikiran.”
“Ohya? Oke, kamu mau apa?”
“Tapi kalau susah dicarinya nggak usah nggak papa. Soalnya yang jualan kadang buka kadang enggak.”
“Egha akan cari kemana pun makanan itu sampai dapat. Kalau tempatnya nggak buka, nanti aku minta bodyguard aku buat bujuk penjualnya, biar jualan buat kamu aja.”
“Ohhh suami aku Egha ya bukan Aryo Bimo?”
“Kamu bisa bilang apa yang kamu mau. Aku yang beliin,” serbu Aryo cepat.
“Anak kamu maunya kamu yang beliin. Harus kamu dan cuma kamu.” Tiara mendongak sedikit untuk menatap suaminya, lalu ia mendapat kecupan gemas di kening lalu di kedua belah pipinya.
“Watermark kamu banget ya?”
“Apa?”
“Kalau nyium sampai basah.”
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷