Babak 1

Aryo memutar stir menggunakan satu tangannya ketika memundurkan mobil. Setelah menarik rem tangan, mobil pun terparkir dengan sempurna di garasi basement rumah mereka.

Mesin mobil dan radio yang masih menyala memutar sebuah lagu yang melodinya terdengar nyaman dan indah. Lagu milik Rex Orange Country berjudul Best Friend terdengar memenuhi mobil.

And that's because I wanna be your favorite boy… I wanna be the one that makes your day.. The one you think about as you lie awake.. I can't wait to be your number one.. I'll be your biggest fan and you'll be mine, But I still wanna break your heart and make you cry..

Usai penggalan lirik tersebut, tatapan Aryo dan Tiara otomatis bertemu. Tangan Aryo yang tidak lagi memegang stir, menghela sisi kanan wajah Tiara untuk mendekat, lalu ia mengusap lembut pipi Tiara dengan ibu jarinya.

I’m grateful to have you, Tiara,” ucap Aryo. Kehadiran Tiara terasa begitu cukup bagi Aryo di hidupnya.

Aryo memangkas jaraknya dengan Tiara untuk mengecup bibir ranum perempuan itu. Tangan kanan Aryo yang bebas bergerak mematikan radio dan mesin mobil karena tidak ingin apapun mengangggu kegiatan mereka. Penyatuan itu terjadi dengan tempo yang lambat tapi begitu pasti dan terasa begitu sempurna.

Aryo dengan mudahnya menghela tubuh mungil Tiara untuk berpindah tempat ke pangkuannya. Ketika keduanya menggunakan waktu untuk mengambil napas, Aryo malah mendapat tatapan protes dari Tiara.

“Ada yang bilang nggak mau bikin istrinya kecapean. Tapi apa—”

Aryo memajukan tubuhnya untuk mengunci bibir Tiara dengan bibirnya, lagi. Hanya satu kecupan singkat yang langsung membuat Tiara bungkam. Aryo menjaga tubuh perempuan itu di pangkuannya dengan melingkarkan lengannya di pinggang Tiara. Wajah Tiara memberengut kecil tapi juga memerah malu.

“Kamu punya dua pipi tomat, Tiara,” ujar Aryo dengan nada menggodanya.

“Apa?” Tangan Tiara reflek memegangi keduanya pipinya yang terasa panas. Aryo tertawa menyaksikan warna merah yang kontras dengan kulit putih Tiara.

“Mesin mobilnya mati Aryo, pantes jadi panas,” kilah Tiara. Aryo mengunci pandangan Tiara yang membuat perempuan itu terdiam malu.

“Nggak di sini juga Aryo, ini sempit,” peringat Tiara ketika ia mengerti kemana mereka akan menuju selanjutnya.

“Kursinya bisa dimundurin,” ujar Aryo pelan.

Kemudian yang terjadi adalah Tiara mendapati Aryo memundurkan kursinya sehingga bagian mobil yang mereka tempati menjadi sedikit lebih luas.

“Laki-laki dengan semua idenya,” ujar Tiara.

“Tapi kamu suka kan,” ujar Aryo dan kembali melakukan penyatuan dengan Tiara. Kedua lengan kekar Aryo menghela pinggang Tiara semakin mendekat agar memudahkan aktivitas mereka.

Tiara yang merasakan penyatuan ini semakin intens, berusaha mendapatkan kekuatan, dengan melingkarkan lenganya di seputaran leher Aryo dan juga untuk mempermudah segalanya.

Tempo yang lebih cepat menjadikan kursi mobil bergerak dengan konstan. Pajero hitam itu menjadi saksi bisu atas aktivitas keduanya menyalurkan kasih di dalam.

Jemari Tiara menelusup masuk di antara helaian rambut hitam legam Aryo yang terasa halus. Ia meremas pelan surai itu ketika Aryo melancarkan kecupan di sekitar tengkuk hingga turun ke bagian atas dadanya.

We need a room,” ucap Tiara ketika Aryo menghentikannya kegiatannya.

Of course,” Aryo menyatukan keningnya dengan kening Tiara, tangannya bergerak mengusap sisi wajah Tiara yang permukaan kulitnya terasa lembab dan hangat. Peluh sama-sama membanjiri keduanya dengan perasaan mendebarkan yang menimbulkan gejolak perasaan bahagia.

***

“Sementara kalian bisa letakin barang-barang di lantai satu. Besok, tolong pindahin ke lantai dua,” tutur Aryo pada Erza dan Egha.

Keduanya pun menuruti perintah atasan mereka dan hanya membawakan barang-barang dari depan rumah sampai ke ruang tamu lantai satu. Erza dan Egha pun pamit dari hadapan Aryo dan Tiara sebelum meninggalkan kedua majikannya itu.

“Kenapa barang-barangnya nggak dibawa langsung ke lantai dua?” tanya Tiara yang bingung atas perintah Aryo itu.

“Biar tempat ini hanya jadi miliki kita, Tiara.” Aryo mengerahkan lengan kekarnya untuk meraih tubuh ramping Tiara dan menggendong perempuan itu persis seperti koala. Tiara yang terkejut atas perlakuan Aryo yang tiba-tiba itu, reflek mengaitkan lengannya di pundak Aryo untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.

Aryo menaruh lengannya di bawah kedua paha Tiara, menjaga perempuan itu tetap aman bersamanya. Masih tetap dalam posisi seperti itu, mereka menuju lantai dua. Tiara menyandarkan kepalanya di pundak Aryo sembari menatap wajah rupawan suaminya dari posisinya nyamannya saat ini.

“Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?” Aryo terkekeh karena tingkah Tiara yang sedari tadi hanya menatapnya.

Tiara menggeleng, membuat rambut panjangnya yang diikat ponytail bergerak lucu. Tiara mengeratkan pelukannya pada pundak Aryo, ia membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu.

Mereka telah sampai di lantai dua dan keluar dari lift.

“Dimana kuncinya?” Aryo mencari-cari kunci kamar yang tidak ia temukan di kantong celananya.

“Kayaknya kita perlu minta tolong bantuan Erza atau Egha. Kamu pasti lupa naruh kuncinya,” saran Tiara.

“Nggak perlu. Rumah ini punya banyak kamar, Ra.”

Oh ya, benar juga, batin Tiara.

“Tempat ini lebih cocok untuk disewain,” ucap Tiara.

No.”

Why?

“Nanti tempat ini bakal ramai dengan kehadiran anak-anak kita.”

“Rumah ini besar banget, Aryo. Kamu mau punya anak berapa emangnya?”

We’ll see.” Aryo menatapnya sembari tersenyum simpul, lalu memutar langkahnya menuju kamar lain yang tadi pria itu sebutkan.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷