Babak 2
Aryo menatap wajah cantik Tiara dengan seksama. Perempuan itu masih berada di dekapan kedua lengannya. Aryo menatap sepasang mata bulat milik Tiara yang selalu berbinar, ciri khas ketika perempuan itu berbicara dengan serius maupun antusias. Ketika Tiara hanya menatapnya, perempuan itu telah memberikan seluruh isi dunia yang ingin Aryo miliki.
Ketika sampai di kamar, Aryo membaringkan Tiara di atas kasur berukuran king size di sana. Setelah melepas jaket hitamnya, Aryo menghampiri Tiara dan memosisikan lengannya di sisi kanan dan kiri tubuh Tiara. Tiara jadi terlihat tambah mungil ketika Aryo memanjarakannya dengan kedua lengan kekar pria itu. Tangan Aryo menjepit kedua belah pipi Tiara yang gembil, hingga bibir gadis itu jadi menyatu di tengah dan kesulitan bicara. Berkat ulahnya itu, pipi Tiara memerah lagi seperti tadi di mobil.
“Hai, pipi tomat.” sapa Aryo dengan nada jahil setelah melepaskan pipi Tiara yang barusan telah menjadi sasarannya.
“Kamu cubit beneran, ya merah lah,” protes Tiara.
Lantas Aryo menjalarkan tangannya untuk menangkup pipi Tiara dan mengusapnya di sana.
“Masih sakit?” tanya Aryo dengan ekspresi khawatirnya.
“Udah nggak terlalu, tapi aku mau balas dendam ke kamu.”
“Apa—”
Tidak sampai dua detik kemudian, Tiara menarik tengkuk Aryo, lalu segera melumat lembut bibir pria itu. Aryo posisinya masih duduk, sementara Tiara sudah sepenuhnya berbaring di kasur yang membuat Aryo harus menjaga tubuhnya agar tidak menimpa tubuh Tiara.
Kurang dari 15 detik, Tiara menyudahi ciumannya dan bergerak dari posisinya untuk duduk. Tiara menyandarkan punggungnya di sandaran kasur. Perempuan itu lantas menampilkan senyum jahilnya dan ekspresinya yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.
“Barusan itu balas dendam?” tanya Aryo.
“Huum.”
Aryo wajahnya berubah serius menatap Tiara ketika Tiara masih memasang tampang lempengnya.
Mata mereka kembali bertemu. Aryo mendekatkan wajahnya pada wajah Tiara, memangkas sisa jarak yang ada untuk memagut bibir Tiara. Aryo memperdalam ciumannya dan melesakkan lidahnya untuk mengabsen apapun milik Tiara yang ada di dalam. Tiara mengusapkan tangannya di belakang kepala Aryo, mengisyaratkan prianya untuk memperlama aktivitas mereka. Setelah beberapa menit penyatuan yang indah itu, bibir keduanya sama-sama menyunggingkan senyum ketika sudah saling melepaskan.
Aryo menatap netra Tiara, menyelam ke dalam iris gelap yang binarnya sangat indah itu.
Posisi Tiara kini berada di bawah Aryo berkat aktivitas yang mereka lakukan. Napas keduanya saling berhembus memburu, mengisi kamar yang menjadi tidak begitu sunyi lagi. Jangan lupakan sprei putih yang bentuknya sudah berbeda dari saat mereka baru memasuki kamar ini.
Aryo mengangkat tangannya untuk mengusap kepala Tiara, sekaligus menyilakan helaian surainya yang jatuh di wajahnya ke belakang telinga. Beberapa helai rambut Tiara mencuat keluar dari ikatan ponytail-nya berkat ciuman mereka yang cukup brutal kali ini. Bibir Tiara rasanya sedikit nyeri dan nyut-nyutan karena Aryo menghisap bibir bawahnya dengan cukup kuat.
“Maaf Ra. Aku kelepasan tadi. Kekencengan ya?” Aryo mengusap bibir Tiara menggunakan ibu jarinya. Tiara tersenyum lembut dan meletakkan tangannya di sisi wajah Aryo.
“Oke, dimaafin.”
Setelah itu Tiara meminta Aryo untuk menunggunya. Aryo tidak punya ide tentang apa yang akan dilakukan perempuan itu. Rupanya Tiara tidak terlalu lama berada di walk in closet. Sekitar sepuluh menit kemudian, perempuan itu sudah kembali dengan pakaian yang berbeda. Aryo menyaksikan dengan kedua matanya, sebuah one piece all black yang menawan dan melekat begitu pas di tubuh ramping Tiara.
Aroma vanilla bercampur sedikit kopi yang manis menguar dari tubuh Tiara saat ia mendekat pada Aryo. Tiara mendapati suaminya hanya menatapnya tanpa berminat melihat ke arah lain ataupun berkedip satu kali saja. Posisi Aryo masih merebahkan tubuhnya di kasur, ia mengambil satu bantal untuk diletakkan dibawah kepala, lalu kembali memandangi Tiara yang duduk di tepi kasur yang tidak jauh darinya.
Aryo melepaskan rolex di pergelangan tangannya dan beberapa aksesoris yang melekat di jemarinya. Pria itu mengulaskan senyumnya, lalu tangannya merengkuh pinggang Tiara supaya tubuh perempuan itu lebih mendekat padanya. Seperti melakukan latihan sit up, Aryo memajukan tubunya untuk mengecup bibir Tiara. Kecupan yang singkat namun Aryo melakukannya bertubi-tubi.
Aryo lantas bangun dari posisinya, melepaskan ikatan ponytail Tiara sehingga surai panjang gadis itu terurai sampai sebatas punggungnya. Aryo memosisikan Tiara berada di bawahnya dengan jarak antara mereka hanya tersisa dua centi.
“I love you, Tiara,” ucap Aryo.
Tiara langsung mencium Aryo dari posisinya. Mereka saling melepaskan apa yang masih melekat di tubuh keduanya, hingga saat ini satu helai benang pun tidak ada di sana.
“Kenapa one set itu susah banget dilepasin,” ucap Aryo.
Aryo menatap one piece all black yang sudah terdampar naas di lantai marmer putih, berkat kerja kerasanya beberapa menit yang lalu. Seperti melalui ebuah medan perang, pertama Aryo harus melepaskan resleting di bagian depannya, lalu beranjak ke pengait yang terdapat di bagian kanan dan kirinya. Ohya, jangan lupa tali yang ada pengaitnya di bagian kedua paha. Tadi Aryo sempat kesulitan melepaskan kaitan-kaitan tersebut.
“Kamu nggak sabaran sih ngelepasinnya, padahal kan bisa pelan-pelan,” jelas Tiara.
“Gimana aku bisa sabar? Istri aku cantik banget gini. Sejak kapan kamu punya baju itu? Aku nggak habis pikir. Kamu mau buat aku gila ya, Ra?”
“I bought that one set before the wedding. That’s so sexy and beautiful. I think I must have one. Waktu kita honeymoon aku lupa pakai, jadi sayang kan, kalau nggak dipakai. Kamu suka nggak?”
“Look so damn amazing on you. But you don’t have idea to wear it again.“
“Kalau kita mau liburan ke pantai gimana? One set berenang bentuknya kan kayak baju tadi,” ucap Tiara.
“You’re a naughty girl. Kita bisa berenang di indoor jacuzzi. Atau kamu aku buatin kolam renang pribadi yang besar?”
Tiara justru tertawa mendengar penuturan Aryo tersebut.
“Kok kamu ketawa?” tanya Aryo.
“Aku harus sering latihan biar nggak kesusahan kayak tadi.” Aryo kembali memangkas jarak antara mereka untuk mengecup bibir Tiara, tanpa memberi waktu untuk Tiara mengambil napasnya. Tiara dapat merasakan deru napas hangat Aryo menyapa permukaan kulitnya dari pipi, turun ke rahang, hingga sampai ke tengkuknya. Itu membuat dadanya berdesir bahagia dan buncahannya meletup-letup semakin kencang.
Tiara meremas sprei dengan tangannya dan kakinya menggeliat di bawah ketika Aryo mengecup tengkuknya. Itu memberikan sensasi nikmat sekaligus mendebarkan bagi Tiara. Rasanya saat ini jutaan kupu-kupu terbang di perutnya hingga menimbulkan rasa geli dan menggelitik.
Tiara menggigit bibir bawahnya ketika ciuman Aryo turun ke bagian puncak buah dadanya yang terasa sudah mengencang. Aryo memberi kecupan lembut di sana yang bisa membuat Tiara lebih rileks dan merasa nyaman.
“Ra, ini akan sakit. Kamu tahan ya,” ujar Aryo.
Tiara mengangguk sebelum Aryo memasukkan sesuatu pada bagian bawahnya. Itu memang terasa sakit sama seperti pertama mereka melakukannya. Namun kini Tiara lebih rileks dan terbiasa.
Aryo menambah satu lagi jarinya ketika Tiara mengatakan ia menginginkan lebih. Aryo menggerakkan jarinya di surga miliknya yang membuat Tiara melengkungkan bibirnya ke dalam. Tiara membelalakkan matanya saat Aryo semakin dalam melancarnya jarinya pada miliknya.
Pembukaan jalan Tiara sudah cukup besar dan miliknya sudah cukup lembab dan licin, sehingga Aryo lebih mudah melakukan puncak penyatuan mereka. Aryo mengecup bibirnya lembut saat puncak penyatuan itu terjadi dan memeluk tubuhnya, mengusapkan tangan hangatnya di punggung Tiara untuk membuatnya nyaman dan tenang.
Saat semakin dalam sesuatu panjang dan keras itu memasuki miliknya di bawah, Tiara merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Namun berkat rasa cintanya pada Aryo, ia dapat mengalahkan rasa sakit itu. Sebuah hormon memberi sinyal kepada otaknya untuk memunculkan sebuah perasaan bahagia.
Tiara mengalungkan lengannya di seputaran leher Aryo. Mata mereka saling bertemu, lalu tangan Tiara bergerak menyisir helaian rambut Aryo di sana. Tiara merasakan sesuatu itu kembali menghentaknya di bawah sana, menyebabkan pelupuk matanya mengeluarkan setitik air bening.
Aryo mengecup area sekitar matanya dengan lembut. Tiara dapat merasakan Aryo mencintainya dengan tulus dari cara pria itu memperlakukannya.
“Aaahhh sakittt,” rintih Tiara sambil memejamkan kedua matanya.
“Sayang, buka mata kamu. Kamu bisa lihat aku,” bisik Aryo. Suara Aryo rasanya seperti air lemonade di musim panas. Tiara tersihir dan akhirnya membuka matanya untuk bertemu dengan mata indah milik Aryo.
Saat Tiara membuka netranya, ia sudah tidak terlalu merasakan sakit. Justru perasaannya sangat bahagia, hanya dengan mengetahui fakta bahwa ia melakukannya bersama orang yang mencintainya dan juga ia cintai.
Aryo mengusapkan ibu jarinya di bibir Tiara yang terlihat hampir lecet karena Tiara sempat menggigit bibirnya untuk mengalihkan rasa sakit dari penyatuan mereka.
Tiara melantunkan nama Aryo saat mereka berdua menemukan pelepasan masing-masing. Kemudian keduanya terengah bersama dan saling menikmati menatap wajah yang sudah dibanjiri oleh peluh. Aryo bergerak untuk berbaring di sampingnya dan mengamati setiap detail wajah Tiara. Paras yang tidak bisa ia lupakan sejak pertama kali pertemuan mereka dan membawanya untuk mencintai Tiara.
“Let's sleep. Kamu besok kuliah, kan? Aku khawatir kamu nggak bisa bangun karena kecapean.” Aryo pun terkekeh jahil.
“ARYO!!” Tiara memukul pelan pundak polos suaminya. Aryo meraih pergelangan tangannya, lalu mengecup punggung tangannya di sana.
Aryo mendekap tubuh Tiara dengan pelukannya dan meletakkan dagunya di puncak kepala Tiara.
“Besok aku antar kamu ke kampus ya,” ucap Aryo.
“Emangnya kamu nggak kerja? Aku ada kelas pagi jam delapan lho.”
“Aku bisa datang telat ke kantor. Aku mau mastiin kalau istriku baik-baik aja.”
Tiara merasakan Aryo mengeratkan pelukan pada tubuhnya.
“Tiara, terima kasih,” ucap Aryo sembari menyematkan kecupan hangat di dahi Tiara.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷