Bahagia yang Sederhana
Tiara mendapati Rama-lah yang menemuinya setelah ia menunggu hampir tiga puluh menit di lobi hotel. Rama mengutarakan permintaan maafnya karena telah membuat Tiara menunggu cukup lama.
“Rama, boleh gue tau dimana suami gue?” tanya Tiara pada Rama ketika mereka menaiki lift. Rama mengatakan Tiara bisa menunggu di kamar hotel sampai Aryo datang menemuinya.
“Pak Bos lagi tinjauan lokasi sama—”
“Aurorae?”
“Benar, Bu Bos. Pak Bos lagi tinjauan sama Mbak Aurorae dan timnya.”
“Kira-kira selesai jam berapa?”
“Kalau soal itu, tadi Bos bilang diusahain secepatnya.”
Tiara lantas mengulaskan senyum semringahnya mendengar jawaban Rama.
***
Aryo berpikir bahwa istrinya itu memang ajaib dan seperti tidak kehabisan akal. Satu malam keberadaannya di Lembang, ia mendapat sebuah kabar dari pihak hotel bahwa seorang wanita bernama Mutiarani Ivanka Brodjohujodyo ingin menemuinya.
Sementara tadi siang Aryo masih harus melakukan tinjauan project yang berada di bawah tanggung jawabnya. Aryo terjebak macet di jalanan kota Lembang ketika perjalanan pulang. Tiba-tiba ia jadi teringat pembicaraannya dengan Aurorae tadi siang.
“Kamu kenapa sih seharian ini?” tanya Aurorae yang melihat gelagat Aryo yang berbeda dari biasanya. Pria itu terlihat memikirkan hal lain sehingga beberapa kali Aurorae mendapati Aryo kurang fokus.
“Emangnya aku kenapa?” tanya Aryo.
“Kayak bukan kamu aja. Karena istri kamu? Udah aku bilang, lebih baik kamu nggak nikah sama dia.”
“Ini nggak ada hubungannya dengan menikahinya atau enggak, Aurorae.” Aryo menatap Aurorae, lalu pria itu menghembuskan napasnya. “Itu adalah keputusan yang aku ambil sendiri tanpa ada campur tangan siapa pun.”
“Kamu emang udah ada hubungan sama dia, kan? Apa itu sebelum kita memutuskan berpisah?” Aurorae menatapnya penuh luka dan matanya berkaca-kaca.
“Tiara nggak ada hubungannya sama sekali sama masa lalu kita. Aku harap kamu ngerti itu,” pungkas Aryo mengakhiri pembicaraannya dengan Aurorae.
“Bos, kita udah sampai.” Suara Rama menyadarkan Aryo dari pikiran yang barusan bersarang di kepalanya. Aryo mengucapkan terima kasih pada asistennya itu dan segera turun dari mobil.
***
Aryo melepas sepatunya ketika ia sampai di kamar hotel. Ia melenggang menuju kamar dan mendapati Tiara yang sudah menyatu dengan kasur.
Aryo memperhatikan cara tidur Tiara yang menurutnya ajaib. Hanya kepalanya yang nampak menyembul keluar dari selimut, sementara tubuhnya tenggelam di bawah selimut yang besar.
“Lo pulangnya lama banget ... “ Tiara berbicara di dalam tidurnya. Aryo yang mendengar ucapan tersebut lantas memberikan atensinya pada Tiara.
“Maaf ya,” ucap Aryo di dekat Tiara.
Tiara membalas ucapan Aryo dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Suaminya kerja sampe malam bareng mantannya. Bikin istrinya bete,” Tiara membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Aryo.
Aryo melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang melapisi tubuh tegapnya. Ia berpindah untuk menghadap Tiara dan menumpu tubuhnya dengan kedua lutut di lantai.
“Kamu bete ya?” tanya Aryo sambil terkekeh.
“Iyalah. Perempuan itu sengaja ngatur semuanya buat ngerebut suami aku.” Tiara merentangkan satu tangannya ke udara, lalu diraih oleh Aryo untuk diturunkan kembali. Aryo bergerak memperbaiki posisi selimut yang turun hingga kembali menutupi tubuh Tiara sampai ke bahunya.
“Nggak ada yang saling merebut disini, Tiara,” ucap Aryo.
“Oke deh, aku percaya. Aku bakal bilang aku kangen kamu, kalau kamu juga bilang.”
Kedua alis Aryo bertaut mendengar kalimat yang diucapan Tiara, tapi sesaat kemudian sebuah senyum terbit di wajahnya.
“Kamu diam aja, berarti nggak kangen aku ya??” gumam Tiara lagi.
“Aku kangen kamu,” ucap Aryo tulus dari dalam hatinya. Netranya memandang wajah Tiara dengan pandangan sayang.
“Aku juga kangen kamu. Makanya rela jauh-jauh ke sini,” ujar Tiara.
“Ohya? Kamu jauh-jauh ke sini karena kangen aku?”
Tiara mengangguk-anggukkan kepalanya dan Aryo tersenyum kecil melihat itu.
“Ayo kita tidur, aku ngantuk banget,” ucap Tiara.
“Aku mandi dulu ya—”
“Nggak, nggak. Kamu nggak boleh pergi.”
Tangan Tiara mendarat di atas tangannya yang berada di sisi kasur. Aryo statis di posisinya, ia membiarkan Tiara memegangi tangannya sampai bebepa menit kemudian, gadis itu membuka matanya.
Tiara mendapat pemandangan pertamanya adalah Aryo, “Selamat ulang tahun ya. Maaf gue telat ngucapinnya secara langsung,” ucap Tiara dengan suara rendahnya khas bangun tidur. Mata sabit gadis itu kini telah sepenuhnya terbuka.
“Jauh-jauh cuma mau bilang itu?” tanya Aryo.
Tiara menggelengkan kepalanya.
“Mau klarifikasi dan jauhin perempuan itu dari suami gue.” Tiara wajahnya berubah tidak suka ketika menyebutkan tujuan keduanya.
“Klarifikasi soal apa?”
“Notes warna peach yang lo terima, bukan mama yang nulis.”
“Ohya? Terus siapa yang nulis notes itu?” Wajah Aryo nampak sedikit terkejut mendengar fakta tersebut.
“Gue yang nulis ucapan itu buat lo,” jelas Tiara.
Aryo menatapnya sejenak dan sekarang ekspresinya tambah terkejut, tapi perasaanya begitu bahagia. “Terima kasih, Tiara,” ucap Aryo lantas merengkuh tubuh Tiara ke dalam pelukannya.
“Sama-sama,” balas Tiara. Ia mengulaskan senyumnya, lalu tangannya bergerak membalas pelukan Aryo.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷