Be Yours
Siang harinya Aryo dan Tiara keluar dengan mengendarai vespa untuk menikmati pemandangan dan suasana kota. Aryo tidak membiarkannya melakukan apapun hari ini karena Tiara sedang menjalani masa hukumannya. Hukumannya itu adalah mereka berdua tidak melakukan apapun dan Aryo sangat ingin menikmati waktu seharian ini bersama Tiara. Mereka makan siang dan makan malam yang dimasak langsung oleh seorang koki yang handal.
“Kenapa di resort dan pantai ini cuma ada kita?” tanya Tiara ketika mereka menikmati hidangan dessert setelah menu makanan utama. Sebuah tempat tidak jauh dari area pantai, malam ini di dekorasi menjadi tempat candle light dinner untuk mereka.
“Aku sewa tempat ini untuk kita,” terang Aryo.
Keduanya saling bertatapan, Tiara mengulaskan senyumnya yang menular otomatis pada Aryo.
“Berapa harganya cupcake ini?” tanya Tiara dan ia menebak cupcake yang sedang di santapnya.
“Bisa ditukar untuk satu kendaraaan roda dua,” jelas Aryo.
Tiara melongo. Ia menatap piringnya yang berisi The Golden Phoenix Cupcake yang tersisa setengah dan tanpa sadar ia telah memakan sajian penutup yang sangat enak dan mahal ini.
Tiara meletakkan sendok kecil berwarna emas di piring yang memiliki warna serupa. Tiara berpikir mungkinkah peralatan makan ini terbuat dari emas sungguhan karena ternyata terdapat emas asli 24 karat hanya dalam sajian sebuah cupcake.
“Thankyou for made this everything for me,” ucap Tiara diiringi senyum terharunya.
“I want to tell you something, but for right now, I just I can’t.” Tiara hampir saja ingin mengatakan semuanya pada Aryo, tapi ia tidak siap mendapati reaksi pria itu terhadap hal yang selama ini ia tutup rapat dari suaminya. Suaminya yang telah ia cintai, tapi Tiara tahu mereka tidak bisa bersama untuk selamanya.
Aryo menatapnya dengan lembut dan berusaha mencerna kalimat yang barusan Tiara ucapkan.
“Maybe someday you will find out. Everything. But I want you to know, I’ll always keep every happy moment with you in my memory.” Tiara mengulaskan senyum lembutnya, tapi tatapan matanya berkata lain. Seperti ada sesuatu yang teramat ingin ia sampaikan tapi terasa begitu sulit diungkapkan.
“Apa yang lagi kamu bicarain Tiara?” Aryo menatapnya dengan tatapan meminta penjelasan.
“Kenapa kamu bilang aku adalah bencana indah untuk kamu?” Tiara malah balik bertanya.
“Tiara. Kamu nggak perlu ngalihin topik awal pembicaraan kita,” ujar Aryo dengan nada tegasnya.
“Topik itu akan nyakitin kita berdua. Aku cuma mau kita bahagia, selama kita di sini.” Tiara memundurkan kursinya, lalu ia berdiri dan menghampiri Aryo. Tiara mengulurkan tangannya dan Aryo menggapainya, lalu ia mengenggam tangan besar dan hangat lelaki itu.
“So I'm a beautiful disaster for you?” tanya Tiara.
“Yes, and you’re already stuck in my mind. Always,” ungkap Aryo.
Mereka lantas berjalan berdua dengan tangan yang masih saling menggenggam.
“Kamu nggak romantis,” ujar Tiara.
“Terus kamu mau aku jawab apa?” tanya Aryo.
“Nggak romantis kamu mah,” Tiara menendang-nendangkan langkah kakinya ke depan sambil matanya yang melihat jalan berpasir putih yang mereka lalui.
Tiara semakin sebal karena Aryo tidak menggubrisnya. Dengan mendadak, Tiara menghentikan langkahnya, lalu berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Aryo.
Aryo menatapnya dengan tatapan heran dan bertanya.
“Kenapa perempuan selalu dengan mood-nya masing-masing?” ucap Aryo yang tidak mengerti dengan kemauan istrinya itu.
“Terus kenapa laki-laki selalu nggak peka?”
“Bukan laki-laki yang nggak peka, Tiara. Perempuan selalu mau segalanya sesuai apa yang mereka rencanain.”
“Kita ini lagi bulan madu, Aryo. Harusnya emang romantis. Kalau cuma ngingep kayak gini, aku juga sering lakuin sama temen-temen aku,” cerocos Tiara.
Aryo membulatkan matanya dan menggelengkan kepala saat kalimat itu keluar dari bibir Tiara.
“Oke-oke. Romantis yang ada di kepala kamu itu kayak gimana?” tanya Aryo. Tiara terkejut ketika Aryo menatapnya dengan tatapan lebih berani dan justru seperti menantang balik dirinya. Tiara berkacak pinggang dengan satu tangannya. Melihat perilaku Tiara membuat Aryo menurunkan posisi tangan istrinya kembali menjadi posisi sebelumnya.
“Istri harus bersikap baik dan sopan sama suaminya,” ujar Aryo.
“Kalau gitu, suami juga harus bersikap romantis dong sama istrinya.” Tiara berjalan lebih dulu menuju resort dan meninggalkan Aryo di belakangnya.
Aryo mengambil langkah untuk menyusul Tiara. Aryo baru menyadari satu hal, bahwa menghadapi istrinya ternyata lebih sulit dari pada menghadapi para klien dan petinggi di perusahaannya.
***
Menikah bukanlah jalan yang dapat diambil untuk melupakan atau lari dari permasalahan. Aryo paham makna kalimat itu sekarang.
Aryo tetap memutuskan menikahi Tiara meskipun ada sesuatu yang ia ketahui. Aryo memilih jalan menikah sebagai solusi dari itu semua karena ia menyadari perasaannya terhadap Tiara. Aryo memang tidak berpikir panjang saat itu, yang ada di pikirannya hanya ia tahu hatinya tidak sanggup untuk kehilangan Tiara. Rasanya ia terlalu egois dengan memikirkan dirinya sendiri tanpa tahu perasaan Tiar.
Aryo tidak tahu tepatnya sejak kapan, ia telah menyukai Tiara. Sepertinya sejak gadis itu menyebutkan namanya kemudian mengulurkan tangan untuk berjabatan dengannya. Perasaan itu semakin berkembang ketika Tiara menolongnya di bar dan setelah kejadian malam itu, Aryo berniat menyatakan perasaannya pada Tiara. Namun yang terjadi, ada oknum yang sengaja menyebarkan fotonya dan Tiara ke media dan terbentuklah skandal tersebut. Aryo memutuskan untuk menikahi Tiara dan akan membuat gadis itu mencintainya.
Aryo telah sampai di resort dan melepas sandalnya di teras. Pria itu berjalan menuju kamar untuk menemukan Tiara.
“Tiara?” panggilnya.
“Kita bisa bicarain ini baik-baik,” ujar Aryo yang tidak menemukan Tiara di kamar dan rupanya gadis itu sedang berada di kamar mandi.
“Kenapa mandi malam-malam gini?” anya Aryo dari depan pintu kamar mandi.
Aryo tidak habis pikir apa yang dilakukan Tiara dengan mandi malam-malam seperti ini. Terdengar suara derasnya air dari shower kamar mandi yang membuat Tiara tidak mendengar suaranya dari dalam sana.
Aryo menunggu Tiara di atas kasur. Sudah mandi malam-malam, kenapa juga memakan waktu yang begitu lama. Entah apa saja yang dilakukan istrinya itu di dalam sana.
Aryo berinisiatif untuk mengetuk pintu kamar mandinya setelah hampir 30 menit gadis itu tidak berniat keluar dari sana.
“Tiara, jangan macem-macem. Bisa buka pintunya? Apa yang kamu lakuin di dalam?” Aryo terdengar khawatir dari nada bicaranya. Berkali-kali mendapati sifat Tiara yang sedikit lain dari gadis biasanya sebelum mereka menikah, menjadikan Aryo berpikir Tiara melakukan hal diluar akal manusia normal.
Pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan Tiara disana dengan bathrobe merahnya. Wangi vanilla bercampur rose menguar begitu pekat di sekelilingnya. Rambut coklat gelap Tiara yang setengah basah, ia biarkan tergerai begitu saja.
“Kenapa kamu mandi malam-malam?” tanya Aryo.
“Cuacanya panas,” jawab Tiara enteng sambil mengedikkan kedua bahunya.
Saat akan melewati Aryo, lelaki itu menahan tangannya.
“Masih marah?” tanya Aryo.
Tiara menggelengkan kepalanya yang membuat Aryo tersenyum cerah.
“Masih, sedikit,” jawaban Tiara seketika membuat senyuman di wajah Aryo memudar.
“Bukannya kita harus baikan?” Aryo menghembuskan nafasnya. “Aku nggak mau kita saling menjauh kayak gini dan cuma pertahanin ego masing-masing, Ra.”
Tiara terdiam beberapa detik dan setelahnya ia menatap Aryo sambil mengangguk setuju. Aryo mengunci mata Tiara beberapa saat, kemudian pria itu tertawa sekilas. Entah keberapa kalinya Tiara berdebar bahkan hanya dengan mendengar tawa itu.
Aryo menyugar rambut bagian depannya yang sudah mulai memanjang dan Tiara hanya memperhatikan hal tersebut terjadi. Beberapa detik yang lalu, suasana nampak normal, tapi saat ini terasa agak berbeda. Udaranya menjadi lebih panas, hingga menimbulkan bintik-bintik keringat di dahi Tiara.
Hey, Tiara cmon! He’s just play with his hair! ujar Tiara dalam hati.
“Ra, apa kita akan ngelakuin itu malam ini?” tanya Aryo yang membuat Tiara meneguk salivanya dengan susah payah.
Aryo menundukkan pandangannya, lalu mengaitkan jemarinya yang berukuran lebih besar dengan jemari Tiara yang berukuran lebih kecil. Aryo mengulas senyumannya dan secara otomatis menular pada Tiara. Tangan Aryo yang satunya lagi terangkat untuk mengusap lembut kepala Tiara hingga turun sampai ke pipinya.
“Kamu yakin?” Tiara menaruh tangannya pada tangan Aryo yang masih berada di pipi kanannya.
“Aku yakin. Kalau kamu gimana?” tanya Aryo.
Tiara menatap Aryo sesaat.
“Apa nanti kita bisa ngerawat dia, kalau dia hadir ke dunia ini?” Aryo menjawab pertanyaan Tiara dengan mengangguk cepat, tanda ia yakin bahwa mereka bisa merawat anak mereka bersama.
“Kita akan mencintai dan merawat dia sama-sama, Tiara.” Aryo menatapnya lembut sementara Tiara hendak bicara lagi, tapi Aryo lebih dulu menaruh telunjuknya di depan bibir Tiara.
“Apapun yang terjadi nanti, aku akan perjuangin kamu dan pernikahan kita. Kamu telah mengisi hati aku, Tiara. I love you,” ucap Aryo dengan tulus.
Aryo mencondongkan wajahnya untuk memberikan sebuah kecupan pada sisi wajah Tiara. Ciuman itu menimbulkan sebuah bunyi yang terdengar menggemaskan karena yang mengenai permukaan kulit pipi Tiara adalah hidung tinggi pria itu.
“Please be mine tonight, Tiaram” ucap Aryo sebelum menggendong tubuh Tiara dengan mudah menggunakan kedua lengannya. Tangan Tiara otomatis berada di pundak Aryo untuk menjaga dirinya tetap aman berada di dekapan pria itu.
***
“Apa makanan kesukaan kamu?” tanya Tiara.
“Tiba-tiba” Alis Aryo menyatu mendengar pertanyaan Tiara itu.
Tiara pun mengangguk.
“Aku suka banyak makanan, Ra,” jawab Aryo.
“Pilih satu aja, Aryo,” ucap Tiara. Wajahnya cemberut lucu. Aryo yang melihatnya menjadi gemas. Kemudian sebuah senyum menawan terlukis di wajah pria itu dan perasaannya sungguh bahagia pagi ini.
“Oke, kalau cuma satu, aku pilih makanan Amerikam” Aryo menjawabnya setelah tangannya terangkat lalu ia mengusap pipi Tiara dan menatap matanya.
“Banyak dong, curgang kamu ih. Makanannya dong, bukan jensinya. Tapi aku juga suka American food sih. Jangan-jangan kita jodoh ya.” Tiara menyunggingkan senyumnya.
“Don’t make your face like that, Tiara,” peringat Aryo sambil tertawa.
“Kenapa sih?” Tiara ikut tertawa.
“Aku jadi pengen cium kamu lagi.”
“Aku masih mau nanya lagi, jangan cium dulu. Kalau tempat favorit kamu dimana?”
“Switzerland.”
“Kamu udah pernah ke sana?”
“Belum. Kamu kenapa tiba-tiba nanya kayak gini?”
Tiara nampak berpikir. Ia juga tidak tahu pasti jawabannya. “Aku pengen tau aja. Aku mau tahu suamiku sukanya apa,” jawab Tiara diiringi senyum manisnya.
Aryo tertawa memerhatikan tingakah laku dan senyuman itu. Senyuman yang sukses memotivasi jantungnya untuk berdetak tidak normal.
“Oke, kamu mau tanya apa lagi? Aku bakal jawab semuanya.” Aryo menaruh lengannya di pinggang Tiara, ia merengkuh tubuh gadis itu agar lebih mendekat padanya.
“Hmm… gimana kalau misalnya kita harus berpisah, apa yang akan kamu lakuin?”
“Berpisah bisa karena dua hal. Berpisah karena kematian atau karena peceraian. Maksud kamu yang mana?”
“Perceraian, maybe.”
“Apa alasan pasangan harus bercerai? Karena udah nggak cinta lagi?”
“Banyak alasan yang bikin pasangan harus berpisah, Aryo. Nggak semata karena udah nggak cinta. Kalau ada sesuatu yang mengharuskan untuk berpisah, gimana?”
“Kamu harus tau, Tiara. Sesulit apapun jalan untuk kita, aku akan berusaha untuk laluin jalan itu.”
“Meskipun jalan itu punya banyak duri yang bisa bikin kaki kamu berdarah?”
Aryo lantas mengangguk.
Tiara menatap iris hitam legam milik Aryo. Ia amati setiap inci fitur wajah di hadapannya dan menyadari betapa ia telah jatuh cinta pada manusia di hadapannya ini.
“I love you. I’m who I am because of you,” ungkap Tiara. Mata keduanya pun saling mengunci satu sama lain.
“You are the reason, every hope and every dream I’ve ever had. No matter what happens to us in the future, every memory we have together, is the greatest day of my life. I will always be yours,” ucap Tiara dan sedetik setelahnya ia memulai ciuman yang lembut terlebih dulu. Tidak terasa air mata turun membasahi pipinya saat Aryo membalas ciumannya lebih dalam. Tidak ada kesan menuntut dan penuh hasrat. Itu hanya sebuah ciuman yang lembut dan manis.
“Kenapa kamu nangis?” Aryo mengusap jejak sungai di pipi Tiara setelah ciuman mereka terlepas.
“Kamu tau nggak? Sebelum kita pergi honeymoon, aku diam-diam pergi sama mama ke dokter,” ungkap Tiara.
“Oke. Mama punya ide apa lagi?”
“Ngecek kesuburan. Kata dokter aku lagi masa subur, makanya mama nyuruh kita honeymoon sekarang. Semua hasil pemeriksaannya juga bagus. Mungkin pulang dari sini, akan hadir Aryo junior. Kamu seneng nggak?” Tiara tersenyum semringah, ia memperhatikan raut wajah Aryo karena ingin melihat reaksi pria itu.
“Emang bisa secepet itu Ra?”
“Kamu beneran belum sadar ya? Oke, aku mau jujur satu hal lagi. Aku masukin ramuan ke minuman kamu waktu kita dinner tadi.”
“Oh, god. Ramuan apa itu Tiara?” Aryo membelalakkan matanya. Setelah ia coba mengingat lagi, sepertinya memang ada yang berbeda dari dirinya setelah acara makan malam spesial mereka. Seperti ada sebuah perasaan dari dalam dirinya yang sangat menggebu ketika melihat Tiara selesai mandi. Hanya dengan menghirup aroma semerbak dari tubuh istrinya, rasanya Aryo kepanasan dan perasaan itu sangat menguasai dan mendesak dirinya untuk menyentuh Tiara.
“Ramuan dari Ayah, aku sengaja minta itu sama beliau. Aku juag minum rumuannya. Tujuannya biar semuanya berjalan lancar dan bagus,” ucap Tiara dengan suara pelan. Lantas gadis itu tersenyum jahil dan mengacungkan ibu jarinya dari dalam selimut yang membungkus bersama tubuh polos mereka.
“Kenapa harus diam-diam? Kamu bisa kasih ke aku, aku akan minum ramuannya.”
“Serius kamu mau?” tanya Tiara.
Aryo pun mengganguk yakin. “Aku nggak sabar nunggu Tiara junior dan Aryo junior hadir di dunia ini. Kalau kembar kayaknya lebih lucu deh Ra. Gimana menurut kamu?”
***
Aryo dan Tiara akan meninggalkan tempat ini sore nanti. Satu minggu ini terasa sangat berkesan bagi keduanya. Mereka menghabiskan waktu berdua dan saling berbagi kasih. Namun sayangnya mereka tidak terlalu punya banyak watu untuk berada di tempat dengan alam yang indah ini. Aryo tidak bisa berlama-lama meninggalkan pekerjaannya di kantor. Selain itu Tiara juga tidak bisa meninggalkan kuliahnya untuk waktu yang lama.
Siang ini cuaca cukup cerah dan angin yang berhembus terasa sejuk saat menyapa kulit. Di lantai dua resort ini, Aryo menghampiri Tiara yang sedang merapikan pakaian mereka ke dalam koper.
“Kenapa?” tanya Tiara ketika Aryo mendekap tubuhnya dari belakang.
“Aku mau peluk kamu kayak gini,” Aryo menaruh dagunya di pundak Tiara. Tubuh mungil Tiara menjadikannya tenggelam di dalam pelukan tubuh tinggi dan besar Aryo.
“Aku kira kamu kode minta yang tadi malam diulang lagi.”
“Aku nggak mau kamu kecapean,” tutur Aryo.
Tanpa dapat Tiara cegah, pipinya memanas mendengar penuturan Aryo. Tiara tidak dapat menyalahkan Aryo juga atas kejadian malam itu yang akhirnya berlanjut ke malam-malam berikutnya. Sebenarnya tanpa minuman itu sendiri, stamina Aryo sudah cukup kuat untuk mereka melakukannya sampai pagi hari. Namun malam yang pertama itu membuat Tiara cukup kualahan menghadapi Aryo. Keduanya sangat bahagia bisa melakukannya bersama orang yang dicintai. Aryo mengatakan pada Tiara bahwa ia menginginkan anak karena mencintainya, bukan semata karena keluarga menuntut mereka untuk memberikan pewaris.
Tiara masih melanjutkan kegiatannya menaruh beberapa barang ke dalam koper seperti peralatan mandi dan bodycare miliknya maupun milik Aryo.
“Aku nggak bisa cepat selesai kalau kamu masih gelayutan gini, Aryo,” ucap Tiara karena Aryo memang tidak merubah posisinya sedikit pun.
“Kita honeymoon-nya sebentar banget Ra,” ujar Aryo.
“Iya sih. Tapi bukannya hari pemilihan semakin dekat? Kamu harus siapin semuanya, kan?”
“Iya. Aku akan lebih sibuk dari biasanya dan mungkin lebih sering lembur. Are you okay with that?”
“I’m okay. Tapi kamu harus langsung pulang ya kalau udah selesai,” ujar Tiara.
Aryo tersenyum. Ia merubah posisinya dan membalikkan tubuh Tiara sehingga mereka kini saling berhadapan.
“Iya. Aku langsung pulang. Janji,” ujar Aryo.
Tiara mengulaskan senyumannya mendengar jawaban Aryo. Namun tiba-tiba ia teringat kembali satu hal mengenai tujuannya menikah dengan Aryo. Tujuan yang mungkin menjadi alasan pria itu tidak akan selamanya bisa menjadikannya tempat untuk pulang.
Tiara mendapati Aryo tersenyum padanya. Senyuman itu terasa seperti air dingin yang menyiram luka belasan tahun lalu di hati Tiara. Rasanya begitu damai dan Tiara belum pernah merasakan hal yang seperti ini sebelumnya. Hatinya yang hancur berkeping bertahun-tahun lalu, perlahan mulai tersusun menjadi satu kesatuan yang utuh.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷