Between Love and Distance

Karina Titania Roland S.Mb. Dalam hatinya, Karin membaca nama yang kini telah diikuti oleh sebuah gelar di belakangnya. Pada selembar sertifikat kelulusan yang kini dipegangnya, nama itu jelas tertulis di sana. Karin berhasil mendapatkan gelar Sarjana Manajemen Bisnisnya berkat perjuangan dan kerja kerasnya selama ini.

Dalam menjalani kehidupan, tentunya seseorang akan selalu membutuhkan semangat dari orang-orang sekitarnya. Saat kita punya tujuan hidup yang jelas dan memiliki orang-orang yang selalu mendukung kita, maka punya alasan untuk bertahan. Mereka merupakan alasan dari surutnya air mata. Mereka adalah alasan sebuah senyum tulus yang terlukis di wajah. Sederhana, tapi rasanya begitu berharga.

Acara wisuda kelulusan Karin hari ini telah selesai. Kini di lapangan berumput luas di depan sebuah gedung rektorat universitas, para wisudawan tengah melakukan sesi foto. Sudah menjadi ciri khas tersendiri setiap tahunnya untuk mengambil foto di depan gedung ini pasca acara kelulusan. Ada yang melakukannya dengan keluarga, sahabat, pacar, bahkan suami ataupun istri. Jenis yang terakhir tentunya hanya dilakukan bagi yang sudah memiliki keluarga sendiri.

Karin termasuk ke dalam jenis orang yang terakhir, yakni yang memiliki keluarga kecilnya sendiri. Hari ini mereka telah menyewa seorang fotografer khusus untuk mengambil potret kelulusan Karin.

Karin terlihat cantik dengan kebaya biru dongkernya, senada dengan kemeja yang dikenakan oleh Aryan dan Svarga. Sebelum sang fotogafer mengambil foto mereka bertiga, Karin meminta waktu sebentar untuk membenarkan rambut anak lelakinya yang sedikit berantakan. Bocah berusia dua tahun itu mengacak rambutnya yang telah ditata rapi menggunakan kedua tangan kecilnya. Setelah selesai merapikan rambut Svarga, rupanya Karin kembali meminta waktu lagi pada fotografernya.

“Mas, sebentar ya,” ujar Karin lagi sambil menampakkan cengiran kecilnya.

“Kenapa lagi Sayang?’ tanya Aryan yang berada di sampingnya.

Karin lalu sedikit berjinjit, dan dengan satu tangannya yang tidak menggandeng Svarga, Karin gantian merapikan kerah kemeja Aryan.

“Ini kerah kemeja kamu agak berantakan,” ujar Karin yang masih dengan kegiatannya merapikan pakaian Aryan. Selang beberapa detik kemudian, akhirnya Karin berujar lagi. “Oke, udah nih. Yuk, kita foto.”

Setelah memberi aba-aba pada sang fotografer, akhirnya mereka bertiga mengambil potret tersebut. Terdapat beberapa foto yang berhasil tertangkap oleh kamera. Dari mulai yang bergaya formal hingga beberapa pose jenaka yang begitu terlihat sangat natural karena mereka membawa seorang balita untuk ikut berfoto. Namun pose tersebut justru menjadi yang paling lucu dan berkesan diantara yang lainnya. Hasil foto tersebut langsung dapat di cetak dan mereka juga akan dapat soft copy-nya yang nanti akan dikirim menyusul.

Saat Aryan dan Karin sampai di mobil, mereka meletakkan Svarga di car seat khusus balita. Setelah memastikan anak mereka terlelap nyaman di sana, Aryan dan Karin melihat-lihat lagi hasil dari cetakan foto yang telah dicetak.

Setelah puas melihat-lihat, Karin merapikan kembali hasil fotonya dan memasukkannya ke dalam sebuah map, lalu ia menoleh ke samping dan menatap Aryan.

“Sayang, selamat ya. Kamu berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan,” ucap Aryan.

Karin kantas mengulaskan senyumnya. “Aku bisa berhasil karena support dari orang-orang terdekatku. Kamu, Svarga, orang tua kita, dan juga sahabat-sahabatku. Terutama kamu, makasih ya Kak.” Karin menjeda ucapannya selama beberapa saat. Kemudian ia teringat mengenai sesuatu. Ia ingat tentang kenaikan jabatan yang didapatkan oleh Aryan. Berkat ketekunan lelaki itu, Aryan kini telah diangkat menjadi manager divisi pemasaran di Harapan Jaya Group.

“Kak, aku punya hadiah buat kamu,” Karin mengambil sesuatu dari dalam tasnya. “Selamat ya Kak, kamu berhasil mendapatkan jabatan itu. You really deserved it. I'm sorry because I'm late, but late is better than never, right?,” ucap Karin sembari menyerahkan kotak di tangannya kepada Aryan.

Aryan lantas menatap sebuah kotak berwarna biru berukuran sedang yang diberikan oleh Karin. Setelah Karin memintanya membuka kotak tersebut, Aryan segera melakukannya.

Di dalam kotak itu, terdapat sebuah jam tangan rolex yang modelnya nampak sangat sesuai dengan seleranya. Aryan langsung mengambilnya dan memakai jam tangan tersebut di tangan kirinya. Kemudian senyum cerah mengembang di wajahnya.

“Kamu suka sama jam tangannya?” tanya Karin sambil memperhatikan jam tangan pemberiannya di pergelangan tangan Aryan.

“Suka banget, Sayang. Makasih ya,” ucap Aryan. Detik berikutnya, Aryan menatap Karin dan menyematkan sebuah kecupan manis di pelipis wanitanya.

“Kak, aku mau nanya sesuatu. Soal S2 kamu, gimana jadinya? Kamu jadi mau lanjutin kuliah, kan?” tanya Karin. Mereka masih di sana, Aryan baru akan menjalankan mobilnya, tapi aksinya itu terhenti kala Karin melemparkan pertanyaan padanya.

Aryan segera menoleh ke arah Karin, ia menatap perempuannya berkat ucapannya barusan. Tiba-tiba air muka Aryan nampak berbeda, ada guratan kesedihan di sana. Perasaan sedikit tidak nyaman tersebut juga yang sebenarnya dirasakan oleh Karin. Jika Aryan melanjutkan S2nya, ada kemungkinan bahwa suaminya harus ke luar negeri untuk menempuh pendidikan tersebut.

Pendidikan S2 di dalam negeri sebenarnya tidak kalah bagus, tapi dari pihak kantor menyarankan agar Aryan menempuh pendidikan tersebut di Australia. Aryan telah bersedia untuk menjadi kandidat CEO yang selanjutnya. Maka dari itu, paling tidak ia harus mendapat pendidikan magisternya.

“Karin, aku nggak bisa jauh dari kamu dan Svarga,” ucap Aryan beberapa saat setelah mereka hanya saling diam.

Karin tahu bahwa ini tidak akan mudah untuk keduanya. Namun Karin berusaha memantapkan hatinya dan bersikap bijak. Suaminya bukan hanya miliknya seorang diri, Karin tidak ingin lebih mementingkan dirinya dan membuat egonya menang.

“Aussie indo kan deket, Kak. Nanti kalau kerjaan aku di sini udah selesai, aku sama Svarga bisa nyusul kamu,” tutur Karin dengan sebuah senyum kecil di wajahnya. Karin berusaha menahan air matanya agar tidur lolos begitu saja. Jika ia menangis, Karin yakin hal itu akan semakin membebani suaminya untuk pergi.

“Kamu beneran nggak papa kalau aku pergi?” tanya Aryan kemudian.

Karin mengulaskan senyum kecilnya, lalu ia mengangguk yakin. “Beneran, Kak. Aku kan nggak berdua aja sama Svarga. Ada papa dan mama, Kavin, Nayna, kak Syerin, mama Vanessa. Kamu nggak perlu khawatir ya, aku sama Svarga bakal baik-baik aja. Kita selalu dukung hal baik yang akan kamu lakukan. Oke?”

Beberapa detik kemudian, Aryan akhirnya setuju dan mereka telah sepakat. Berikutnya tanpa aba-aba apa pun, Karin bergerak untuk memeluk torso Aryan, pelukan tersebut terasa cukup erat. Posisi mereka kini terlihat agak sulit, Aryan maupun Karin harus mencondongkan tubuh mereka dengan cukup ekstra agar keduanya bisa saling mendekap.

“Nanti kalau kamu kangen sama aku dan Svarga, kita bisa telfonan atau video call,” ucap Karin pelan dengan posisi keduanya yang masih saling memeluk. Tanpa Aryan dapat melihatnya, satu tetes air mata Karin kini telah meluncur mulus membasahi pipinya.

Aryan pun mengeratkan pelukannya di tubuh Karin, ia meletakkan dagunya di bahu wanitanya. Dengan gerakan vertikal, tangan Aryan kemudian bergerak mengusap lembut punggung Karin. “Aku bakal sering-sering telfon kamu,” ujarnya.

Meskipun tahu nantinya akan ada waktu untuk bertemu, perpisahan tetap akan terasa menyakitkan. Ketika mengetahui seseorang yang kita cintai berada jauh dari kita, kita tidak dapat memungkiri bahwa rasanya akan begitu hampa dan kehilangan.

Namun Aryan dan Karin telah memutuskan untuk rela melakukannya. Mereka mempunyai kepercayaan yang kuat terhadap satu sama lain. Mereka percaya bahwa rasa cinta yang tulus tidak akan bisa dipisahkan oleh jarak sejauh apapun. Raga memang tidak bersama, tapi hati mereka selamanya akan selalu terhubung. Aryan dan Karin akan setia menunggu sampai hari dimana mereka akan kembali bertemu.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷