Binar Mata yang Berbeda
Sekitar pukul delapan malam, Karin baru saja kembali setelah menginap di apartemennya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kavin, adik lelakinya yang barusan menjemput dan mengantar Karin pulang.
“Kak Aryan lagi nggak di sini Kak?” tanya Kavin begitu netranya tidak menemukan sosok Aryan di penjuru apartemen.
Sejenak Karin nampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan Kavin. “Kayaknya lagi tidur di atas. Sebentar Kav, Kakak naik dulu ya,” ucap Karin dan segera melangkah meninggalkan Kavin di ruang tamu.
Sesampainya Karin di lantai atas, benar saja, ia menemukan Aryan tengah tertidur di kamar. Karin mengambil tempat di tepi kasur, selama beberapa detik, ia hanya memerhatikan paras damai tertidur Aryan.
Tidak sampai satu menit berlalu, Karin pun memutuskan untuk meninggalkan Aryan di kamar. Aryan terlihat lelap sekali tidurnya, Karin tidak tega kalau sampai lelaki itu terbangun karena terganggu oleh suara pergerakan di sekitarnya.
Karin pun turun dan menawarkan makan malam untuk Kavin. Karin juga belum makan, ia lantas bergegas menghangatkan mac and cheese menggunakan microwave. Ketika Karin dan Kavin menikmati makanan bersama di meja makan, keduanya mendapati Aryan tengah turun dari tangga dan berjalan menghampiri mereka.
Aryan pun menyapa Kavin dan mereka berakhir mengobrol bersama. Aryan sudah makan katanya, tapi ia butuh kopi. Jadi Karin membuatkan secangkir kopi susu kesukaan Aryan.
“Kak, malam ini gue boleh nginep di sini nggak?” tanya Kavin kepada Karin.
Karin yang telah selesai mencuci piring bekas makannya pun sontak menoleh ke arah Kavin. Otomatis pandangan Karin juga bertemu dengan Aryan. Mereka malah cuma jadi lihat-lihatan tanpa mengeluarkan suara apa pun.
Selang beberapa detik kemudian, Karin akhirnya berujar, “Mau ngapain nginep? Kamu bilang mau langsung on the way ke Bekasi, besok ada kuliah pagi, bukannya?”
“Kelas gue besok siang, Kak. Ini udah malam juga, gue takut balik naik KRL. Lagian gue sama Kak Aryan mau begadang main game. Iya kan, Kak?” Kavin mengakhiri kalimatnya sembari mengarahkan tatapannya ke arah Aryan.
“Iya, Karin. Aku sama Kavin mau main game bareng. Nggak papa Kavin nginep di sini,” ujar Aryan.
Keputusan Aryan itu sontak membuat kelopak mata Karin melebar. Karin tidak percaya bahawa Aryan dengan mudahnya menyetujui keinginan bocah lelaki berusia 18 tahun itu. Bagaimana bisa Kavin menginap, sementara adiknya itu tidak tahu bahwa Karin dan Aryan memiliki kesepakatan pernikahan.
Aryan yang sebelumnya berada di ruang tamu bersama Kavin, kini menghampiri Karin di dapur.
“Kamu izinin Kavin nginep di sini?” tanya Karin pada Aryan dengan suara pelannya.
“Emang kenapa kalau Kavin nginep?” Aryan justru balik bertanya seolah tidak ada masalah yang akan terjadi kalau Kavin menginap.
“Oke, kalau gitu. Kamu silakan sharing sofa sama Kavin ya.” Karin pun menaruh piring yang telah ia cuci ke tempat tatakan piring bersih. Untung saja piring yang sudah kinclong itu tidak lolos begitu saja dari tangannya. Beberapa detik yang lalu, piring itu hampir saja meluncur dari tangannya saat Karin mengetahui bahwa Kavin akan menginap.
“Aku emang mau begadang sama Kavin. Kita nggak mungkin begadang bertiga, kan? Kamu silakan tidur di atas, kita berusaha nggak berisik supaya kamu tetap bisa tidur,” jelas Aryan.
Karin pun mengangguki ucapan Aryan. Benar juga apa yang dikatakan oleh Aryan. Kenapa pikiran Karin yang justru rumit memikirkan Kavin akan curiga tentang pernikahannya dengan Aryan. Tidak seharusnya setiap malam suami dan istri tidur bersama, bukan?
Khusus untuk malam ini, biarlah Kavin mengira bahwa hanya sekali Aryan dan Karin tidak tidur bersama. Toh Aryan dan Kavin akan bermain sampai malam atau bahkan pagi. Biasanya para lelaki akan melupakan segalanya kalau sudah bermain game. Sebuah senyum kemudian terulas di wajah Karin. Semuanya akan baik-baik saja, ujarnya dalam hati.
***
Waktu menunjukkan pukul 1 malam lebih 10 menit ketika Karin terjaga dari tidurnya. Karin pun mendengar suara gaduh dari lantai bawah yang seketika membuatnya menggelengkan kepala. Lelaki dan game, dua hal yang sulit terpisahkan jika sudah dipertemukan.
Karin memutuskan untuk mengambil air minum di bawah karena rasa haus yang tengah mengganggu tidurnya. Sesampainya Karin di dapur, ia segera mengambil botol minum dan mengisinya sampai hampir penuh. Karin akan membawa botol itu ke atas bersamanya.
Ketika Karin berjalan melewati ruang tamu, ia melihat Kavin tengah menangis. Rupanya itu terjadi karena sebuah game, adiknya itu baru saja kalah bermain.
Saat Karin melihat ke arah Aryan, lelaki itu nampak santai karena ia telah menang. “Kan bisa main lagi buat naikin levelnya. Gitu aja kok nangis sih,” komentar Karin. Ia sudah sering melihat lelaki dan game-nya, tapi rupanya Karin masih heran dengan dampak yang ditimbulkan akibat bemain game yang nyatanya cukup serius itu.
“Tadi Kak Aryan juga kalah sampai nangis kok. Bukan aku doang, Kak. Sayangnya Kak Karin nggak lihat,” adu Kavin.
Berkat ucapan Kavin itu, Karin pun menatap Aryan dan Kavin secara bergantian. “It’s okey. Nggak selamanya harus menang. Itu kan wajar, manusiawi,” ujar Karin sembari memamerkan senyumnya pada dua lelaki di hadapannya itu.
“Gue aja lo ledekin, giliran Kak Aryan lo bilang manusiawi. Paham banget gue mah,” Kavin masih fokus terhadap gamenya, tapi kalimat yang terlontar dari bibirnya itu berhasil membuat Karin seketika bungkam.
Begitu pandangan Karin bertemu dengan Aryan, Karin menangkap sebuah kesedihan dari pendar mata itu. Tidak, bukan begini biasanya binar mata Aryan. Karin tidak mengerti apa yang terjadi. Namun tiba-tiba ia terpikirkan akan satu hal. Apakah dua hari lalu ia telah kelewatan menyampaikan kalimatnya pada Aryan?
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷