Boomerang
Reynaldi menatap satu persatu anak buahnya. Dengan satu tangannya, ia memasukkan peluru ke *loading peluru dan jarinya hampir saja menarik pelatuk pistolnya, mengarahkannya ke deretan botol-botol kaca berisi minuman mahal di ruangannya. Namun pria itu mengurungkan niatnya, ia menjauhan jarinya dan meletakkan pistol apinya di atas meja.
Sebuah senyum picik tercetak di wajah Reynaldi, “Saya mau apa pun caranya, bukti itu sampai ke tangan saya.”
Sang kepala bodyguard angkat bicara ketika tidak ada satu orang pun yang berani mengemukakan pendapatnya, “Tapi Bos, gimana caranya? Bukti itu sudah ada di tangan Rudi.”
“Petarung nggak akan mundur sebelum berperang,” ujar Reynaldi. “Siapkan semua senjata terbaik yang kita punya di markas. Kita perlu menyusun rencana,” tukas Reynaldi.
***

“Reynaldi sepakat untuk ketemu. 3 hari lagi, lokasinya di sini,” jelas Rudi.
Di samping Rudi, Bagas membuka sebuah gulungan karton tebal di atas meja panjang di hadapan mereka. “Ini peta rencana kita. Setelah kedua kubu bertemu, kita akan kasih salinan buktinya dan saat itu pasukan polisi siap mengeksekusi,” ujar Bagas.
“Sesuai rencana awal kita, Reynaldi terhasut,” ujar Akmal yang diangguki oleh semua orang yang ada di sana.
Tiara menoleh ke samping kanannya, ia memerhatikan Aryo yang nampak tidak setuju dengan ucapan Akmal. Suaminya itu menghembuskan napas pelan sembelum berujar, “Gue pikir Reynaldi emang udah kehasut. Tapi gue curiga Reynaldi nyiapin back up plan. Nggak mungkin dia menyerah semudah ini,” ujar Aryo.
Semua pasang mata mengarahkan tatapan mereka pada Aryo. Risa dan Aurorae kemudian mengangguk setuju. “Yang Aryo bilang ada benarnya. Gue tau Reynaldi orang yang seperti apa. Dari dulu dia berambisi untuk menguasai perusahaan. Karena dia nggak memiliki keturunan, maka dia bertekad membuat perusahaan ada di tangannya,” tutur Risa.
“Jadi apa yang harus kita lakuin untuk mengantisipasi ini?” tanya Bagas.
“Kita harus tau lebih dulu, kira-kira apa kelemahan dari tim kita yang bisa dijadiin sasaran empuk Reynaldi untuk nyerang kita balik,” ujar Risa.
Rudi setuju dengan perkataan Risa. “Saat ini Reynaldi menjadikan kita sebagai musuh besarnya. Tapi dia nggak mungkin menyerang satu persatu dari kita, itu cuma akan membuang waktunya,” ungkap Rudi. Semua yang ada di sana seketika berpikir keras kemungkinan yang di ucapkan Rudi.
Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di benak Tiara. Ia mengambil tangan Aryo di sampingnya dan mengenggamnya. “Aryo,” ujar Tiara pelan, sebuah tatapan getir terpancar dari bola matanya.
“Iya Ra?” Aryo menatap balik Tiara dan pikirannya mulai terasa kacau. Di dalam kepalanya seperti sebuah ada sirine pengingat akan bom waktu yang kapan saja bisa meledak dan menghancurkan semua recana mereka.
Tiara mengatakan bahwa ada kemungkinan Reynaldi mencari keberadaan Michelle untuk di jadikan senjata.
Mendengar pemikiran Tiara tersebut, seketika membuat pikian semua orang yang ada di ruangan itu terbuka. Reynaldi sudah tahu bahwa bukti kematian Michelle Taninka Sinaga palsu. Penjahat kelas kakap sekelas Reynaldi tidak mungkin berpikir secetek itu dan melepaskan targetnya dengan begitu gampang.
Pupil mata Aryo yang menatap Tiara, bergerak ke kanan dan kiri. Genggaman tangan Aryo di tangan Tiara mengerat, pria itu berusaha menampik sebuah pemikiran yang baru saja terlintas di benaknya. Sebuah pemikiran bahwa Reynaldi akan menargetkan Tiara untuk mengancam titik terlemah tim mereka. Kemungkinan terburuknya adalah jika Reynaldi menemukan fakta bahwa Tiara adalah Michelle Taninka, Maka tim mereka harus siap untuk menerima boomerang yang akan Reynaldi berikan.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷