Boomerang

Reynaldi menatap satu persatu orang-orang yang telah bekerja lama untuknya. Sesaat kemudian, menggunakan satu tangannya, ia memasukkan sebuah rudal ke loading peluru. Jemarinya hampir saja menarik pelatuk pistol dan mengarahkannya pada deretan botol-botol kaca berisi minuman mahal di ruangannya. Namun pria itu mengurungkan niatnya, ia menjauhkan kembali jarinya dan meletakkan senjatanya di atas meja.

Sebuah senyum picik tercetak di wajah Reynaldi, “Saya mau apa pun caranya, bukti itu sampai ke tangan saya,” ujarnya.

Sang kepala bodyguard memutuskan angkat bicara ketika tidak ada satu orang pun yang berani membuka mulut. “Tapi Bos, bagaimana caranya? Bukti itu sudah ada di tangan Rudi,” ujar pria berusia kisaran 30 tahun itu.

“Seorang petarung tidak akan mundur, bahkan sebelum perang dimulai,” ujar Reynaldi. “Siapkan semua senjata terbaik yang kita punya di markas. Kita perlu menyusun rencana,” tukas Reynaldi.

***

Markas Polisi

“Reynaldi udah sepakat untuk bertemu. 3 hari lagi, ini lokasi pertemuannya,” ujar Rudi sambil menunjukkan sebuah lokasi melalui layar laptopnya.

Di samping Rudi, Bagas membuka sebuah gulungan karton tebal di atas meja panjang di hadapan mereka. “Ini mind mapping untuk rencana kita,” ujar Bagas. “Akan ada tiga tim. Langkah yang pertama, dua kubu akan bertemu dan pasukan kita bergerak untuk menahan pasukan Reynaldi, supaya dia nggak punya back up untuk melawan atau kabur. Setelah itu, tim kita yang lain akan kasih salinan buktinya dan tepat saat itu, pasukan polisi siap mengeksekusi target,” ujar Bagas menjelaskan rencana yang akan mereka lakukan.

“Sesuai rencana awal kita, Reynaldi berhasil terhasut dan masuk ke perangkap,” ujar Akmal yang diangguki oleh semua orang yang ada di sana.

Tiara yang berada di samping kanan Aryo menoleh dan menatap suaminya. Tiara memerhatikan Aryo yang nampak tidak setuju dengan ucapan Akmal barusan. Pria itu menghela napas pelan sembelum berujar, “Gue pikir Reynaldi emang udah terhasut. Tapi gue curiga dia nyiapin back up plan. Nggak mungkin Reynaldi menyerah cuma-cuma dan datang ke tempat pertemuan tanpa persiapan apapun,” ujar Aryo.

Semua pasang mata mengarahkan tatapan mereka ke arah Aryo. Risa dan Aurorae pun mengangguk setuju atas ucapan pria itu. “Yang Aryo bilang ada benarnya. Gue tau Reynaldi orang yang seperti apa. Dari dulu, dia udah berambisi untuk menguasai perusahaan. Karena dia nggak punya keturunan dari pernikahannya, dia bertekad membuat perusahaan ada di genggaman tangannya,” jelas Risa.

“Jadi apa yang harus kita lakuin untuk mengantisipasi ini?” tanya Bagas.

“Kita harus tau lebih dulu. Kira-kira apa kelemahan tim kita yang bisa dijadiin sasaran empuk Reynaldi untuk nyerang kita balik,” ujar Risa.

Rudi setuju dengan perkataan Risa. “Sekarang Reynaldi menjadikan kita sebagai musuh besarnya. Tapi dia nggak mungkin menyerang satu persatu dari kita, itu cuma akan membuang waktunya. Pasti dia punya satu yang akan dia jadikan target,” ucap Rudi. Semua yang ada di sana seketika berpikir keras akan kemungkinan yang bisa dilakukan oleh Reynaldi untuk melempar serangan balik.

Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di dalam benak Tiara. Ia mengambil tangan Aryo di sampingnya dan mengenggamnya. “Aryo,” ujar Tiara dengan nada suaranya yang seperti tertahan di tenggorokan. Aryo mendapati Tiara menatapnya dengan tatapan getir.

“Ra, kenapa?” tanya Aryo dan pikirannya pun mulai terasa kacau. Di dalam kepalanya, seperti ada sebuah sirine pengingat akan sebuah bom waktu, yang kapan saja bisa meledak dan menghancurkan semua recana yang telah tim mereka susun sejauh ini.

Tiara mengatakan pada tim bahwa ada kemungkinan Reynaldi mencari keberadaan Michelle untuk dijadikan senjata. Mendengar perkataan Tiara tersebut, seketika membuka lebar jalan pikiran semua orang yang ada di ruangan itu. Satu minggu lalu, tim mereka berhasil menemukan bahwa Reynaldi sengaja memanpulasi para pemegang saham Harapan Jaya untuk menarik saham mereka. Reynaldi sudah mengetahui bahwa bukti kematian Michelle Taninka Sinaga adalah pernyataan palsu dan Aryo berada di balik semua itu. Penjahat kelas kakap sekelas Reynaldi tidak mungkin berpikiran dangkal dan melepaskan targetnya dengan begitu mudah.

Pupil mata Aryo yang menatap Tiara, bergerak ke kanan dan kiri, menandakan bahwa pria itu kini sedang gelisah. Genggaman tangannya di tangan Tiara pun mengerat. Aryo berusaha menampik pemikiran buruk yang baru saja terlintas di benaknya. Sebuah pemikiran bahwa Reynaldi bisa saja menargetkan Tiara untuk mengancam titik terlemah dari tim mereka. Kemungkinan terburuknya adalah Reynaldi menemukan fakta bahwa Tiara adalah Michelle Taninka Sinaga. Kalau sampai hal tersebut terjadi, maka mereka harus siap menerima boomerang yang akan dilemparkan oleh Reynaldi.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷