Brankas dan Liontin

Semua pasang mata di ruangan itu menatap seorang perempuan yang kini di bawa oleh Aryo ke markas. Sebelumnya Aryo telah menyampaikan pemikirannya, bahwa mereka membutuhkan satu komponen lagi untuk menjalankan rencana baru. Komponen tersebut adalah satu hal yang mereka belum miliki, jadi meminta bantuan kepada ahlinya adalah salah satu alternatif yang dapat di lakukan.

“Aurorae Hartanto,” perempuan bersurai hitam legam itu memperkenalkan dirinya.

“Rudi Abimana, senang bisa bertemu dengan Anda lagi,” ucap Aurorae ketika pandangannya bertemu dengan Rudi. Dari semua yang hadir di ruangan itu, hanya Rudi yang sudah mengenal Aurorae. Seperti yang Aurorae katakan, siapa pebisnis yang tidak mengenal Rudi Abimana. Ini merupakan pertemuannya dengan Rudi yang ketiga kalinya.

Setelah perkenalan singkat tersebut, Aurorae menjelaskan lebih dulu alasannya berada di sini dan apa yang dapat ia berikan sebagai bantuan.

Rudi mengeluarkan sebuah foto di atas meja. Aurorae memerhatikan foto tersebut, tangannya lantas terulur untuk mengambilnya. “Reynaldi Brodjohujodyo. Are you guys ... want to against him?” Aurorae menatap Rudi, Bagas, dan Rama secara bergantian. Kemudian perempuan cantik itu mengarahkan tatapannya ke arah Aryo.

Aryo pun mengangguk. “Reynaldi diduga adalah dalang dari kecelakaan Erlangga Sinaga sebelas tahun yang lalu. Pembunuhan berencana, suap, dan pembelian properti ilegal,” jelas Aryo.

It's not that easy to beat him. But we still have a chance. Berapa bukti yang udah berhasil di temukan? Oh wait, who is Erlangga Sinaga?”

Rudi dan Bagas menjelaskan lebih detail kepada Aurorae. Setelah mendengar semuanya, perempuan itu membuat sebuah coret-coretan di whiteboard besar di hadapan mereka. Menggunakan spidol merah, Aurorae membuat sebuah kesimpulan agar mereka dapat menentukan langkah selanjutnya.

“Jadi maksud lo kita harus masuk ke sarang musuh untuk mendapatkan bukti kuatnya?” tanya Rama selesai ia membaca mind miping yang dibuat oleh Aurorae.

Aurorae tersenyum tipis, ia meletakkan spidol merahnya. “Correct. Satu-satunya cara menangkap musuh kali ini adalah dengan mendapatkan bukti yang kuat.”

“Gimana kalau kita nggak dapat apa-apa dan justru eksekusi itu membuat kita terperangkap di sarang musuh?” ujar Bagas menyuarakan pemikirannya.

We will never know if we never try, right? Dalam dunia hukum, kejahatan kayak gini memerlukan bukti yang kuat. Benar begitu, Om Rudi?” ujar Aurorae sambil mengarahkan tatapannya pada Rudi.

Rudi mengangguk. “Yang di bilang Aurorae benar. Kita akan terus stuck kalau nggak punya bukti kuat untuk mengungkap perbuatan Reynaldi.”

Okey, let say kitamasuk ke sarang musuh. Tapi gimana caranya kita ke sana tanpa tercium?”

“Gue kepikiran satu cara. Kita cuma perlu teknologi yang canggih untuk masuk ke sana tanpa meninggalkan bau apapun. Untuk persoalan itu, gue akan coba bantu.”

“Setelah kita dapat buktinya, apa kita bisa langsung buat laporan kasus ini ke polisi?” tanya Rama.

“Nggak semudah itu untuk membuat laporan tuntutan. Reynaldi pasti sudah mempersiapkan semuanya untuk mencuci tangannya. Dilihat dari trek rekornya, dia beberapa kali lolos dari kasus suap dan penggelapan dana,” ungkap Aryo.

Rudi berdiri dari kursinya dan berjalan ke depan, pria itu membuat sebuah catatan di papan tulis, “Setelah kita dapat buktinya, kita pancing musuh untuk masuk ke perangkap,” Rudi menarik sebuh garis yang dihubungkan ke garis yang lainnya. “Tepat saat itu, kita akan siapkan pasukan di belakang untuk menangkap musuh di tempat kejadian,” pungkasnya.

***

Tim mereka berhasil melakukan sabotase dan sadap suara pada target. Atas kerja sama tim, orang dalam, dan kemampuan bernegosiasi, mereka membobol markas Reynaldi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Dari hasil rekaman suara yang di dapat, Reynaldi mengatakan bahwa ada sebuah brankas yang selama ini dicari olehnya. Sampai saat ini Reynaldi belum dapat menemukan dimana Erlangga menyimpan brankas tersebut.

“Sekarang kita udah tau kalau buktinya ada di brankas itu. Tapi tim kepolisian Om Rudi belum bisa nemuin dimana Ayah kamu nyimpan brankasnya,” ujar Aryo.

“Aryo.”

“Ya?” Aryo menghentikan usapan tangannya di surai Tiara.

“Ayah punya notaris, tapi jauh sebelum Om Rudi berniat buka lagi kasusnya, kita sempat cari keberadaan beliau dan belum ketemu. Kita nggak tau beliau dimana, tapi ada kemungkinan beliau tau sesuatu soal brankas itu,” ucap Tiara.

Mendengar perkataan Tiara, membuat Aryo memikirkannya. “Ayah kamu nggak mungkin nyimpan brankas itu di sembarang tempat.” Aryo beranjak dari posisi tidurannya, ia menghubungi seseorang melalui ponselnya.

“Kamu mau cari notarisnya ayah?”

Aryo mengangguk, “Semoga segera ada titik terang untuk ini.” Aryo memerhatikan paras Tiara, jelas ada kekhawatiran yang bergelayut di sana.

“Hei, kamu mikirin apa?” tanya Aryo.

“Aku cuma khawatir.”

It's oke.” Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap pipi Tiara.

“Aryo, aku laper. Mau makan lagi.”

“Lho, tadi kan kita baru aja makan, Ra.”

“Yaa mana aku tau. Si bayi laper lagi kali,” ujar Tiara.

Aryo lantas tergelak mendengarnya. “Oke, kita cari makanan. Kamu mau makan apa?”

“Aku mau roti maryam yang khas Aceh itu.”

“Kamu serius?” tanya Aryo sambil bangun dari posisi rebahannya. Ia tidak terpikirkan bahwa Tiara akan meminta sesuatu yang cukup sulit didapat malam-malam seperti ini.

Tiara yang melihat wajah kantuk Aryo, menjadi tidak tega. “Yaudah deh nggak usah kalau kamu ngantuk. Besok-besok aja.”

“Aku nggak ngantuk, Sayang. Kita keluar cari roti maryamnya, oke?” tutur Aryo sambil tersenyum. Sebelum mengambil kunci mobilnya, pria itu memerintahkan ajudannya untuk mencarikan makanan yang diinginkan Tiara. Asistennya haruslah serba bisa, pikir Aryo. Mencari roti maryam jam 11 malam begini, itu tidak sulit jika dibandingkan dengan mengintai musuh dan menembak target, bukan?

***

Fredy Siregar, notaris Erlangga yang tim mereka cari akhirnya berhasil ditemukan. Fredy memberitahu bahwa brankas itu disimpan menggunakan jasa safe deposit box di sebuah bank. Selama sebelas tahun, Fredy membayar rutin biaya penyimpanannya. Pria itu telah lama memutuskan pindah ke luar kota demi melindungi diri dari Reynaldi.

“Percuma kalian mengambil brankas itu dari bank. Kunci untuk membuka brankasnya hanya Erlangga yang mengetahuinya.” Fredy juga menambahkan bahwa brankas itu memiliki kekuatan tahan api dan bantingan kuat, sehingga hanya bisa dibuka menggunakan kunci yang telah dibuat khusus.

Siang ini tim mereka kembali mengadakan rapat. Tiara mengeluarkan sebuah kotak beludru di atas meja. Kemudian ia membuka kotak tersebut untuk memperlihatkan isi di dalamnya.

Liontin Tiara

“Benda ini satu-satunya yang ayah kasih ke gue, sebelum beliau pergi. Bentuknya mirip kunci, apa ada kemungkinan kuncinya bisa cocok sama brankas itu?” pertanyaan Tiara itu terdengar seperti sebuah pernyataan baginya dan semua orang yang ada di sana.

Rudi menatap benda tersebut yang seketika membuat sebuah senyum tercetak di wajahnya. “Kita akan coba buktikan. Erlangga nggak mungkin pergi tanpa ninggalin petunjuk apapun,” ucap Rudi.

***

Aurorae bertemu dengan Aryo dan Tiara ketika mereka akan mengambil mobil. Setelah rapat yang panjang dan menguras pikiran, satu persatu mereka memutuskan untuk pulang ketika hari sudah beranjak sore.

“Aurorae.” Tiara menutup kembali pintu mobilnya dan berjalan menghampiri Aurorae. Aryo yang melihat itu memerhatikan sejenak sebelum akhirnya ia bergegas menyusul Tiara.

Tiara mengulurkan tangannya di hadapan Aurorae, tatapan perempuan itu tidak seperti saat mereka bertemu di resepsi dan stasiun kereta waktu itu.

“Gue mau bilang terima kasih sama lo. Lo udah sangat banyak membantu kita,” ujar Tiaa. “I think about it. For what happened in past, about you and Aryo, it's just a past. Lo dan Aryo berhak memiliki itu dan yaa I'm not gonna jealous for that.

Aurorae mengulaskan senyumnya, detik berikutnya ia membalas jabatan tangan Tiara. “Well, gue juga berterima kasih sama lo. You the reason for him to be a better person. Selamat juga atas kehadiran anak kalian, gue ikut senang.”

Di tengah-tengah perbincangan itu, Aryo pun menghampiri keduanya. “Kalian ngomongin apa?”

I must to go. Kalau kamu ingin tau, silakan tanya ke istri kamu,” ujar Aurorae bergantian menatap Aryo dan Tiara. “Ohya, jangan lupa imbalan untuk aku kalau kita berhasil,” ujar Aurorae sebelum perempuan itu memasuki lamborghini merahnya.

Sepeninggalan Aurorae, Tiara mengalihkan tatapannya pada Aryo. “Imbalan apa yang dimaksud Aurorae?” tanya Tiara.

“Dia boleh minta apa aja kalau kita berhasil menangin kasusnya.”

What? Are you serious about that?” Bola mata Tiara sukses melebar kala mendengarnya

“Lho, kenapa emangnya Sayang?”

“Emang kamu tau apa yang akan dia minta? Kalau dia minta yang macem-macem gimana?”

You said that you will not get jealous, Ra. Aku tau apa yang ada di pikiran kamu, Sayang. Let me say, aku udah kasih syarat soal permintaan yang nggak bisa dia minta. Semuanya tetap punya limit-nya,” terang Aryo.

I'm not jealous. Oke well, tell me about the limit.”

Aryo menatap Tiara, detik berikutnya ia mengulaskan seringai jenakanya dan menaikkan sebelah alisnya, “She can ask for anything. But she can't never ask me to comeback with her. She's already moved on from me. I'm already yours, truly, one and only, Sweety. So are we deal with that?

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷