Can I Follow You?

Ini adalah hari Senin. Berbeda dengan mayoritas remaja seusianya yang tidak menyukai hari pertama masuk sekolah setelah libur akhir pekan. Kaldera justru menyukainya. Sekolah adalah salah satu alasannya untuk keluar dari rumah.

Saat pergi dari tempat tinggalnya itu, Kaldera bisa kembali tersenyum. Terlebih saat mengingat ia akan bertemu seseorang yang juga selalu menunggu pertemuan mereka di sekolah, Kaldera semakin bersemangat.

Kaldera membuka lokernya dan mengambil beberapa buku mata pelajaran yang dibutuhkan untuk kelas hari ini. Hari ini tidak ada matematika, tapi ada ulangan bahasa Jepang dan itu jam pertama. Kaldera memang tidak bersahabat dengan huruf-huruf hiragana dan katakana Jepang, tapi setidaknya mereka lebih baik ketimbang rumus-rumus matematika.

Setelah Kaldera memasukkan buku ke tasnya dan menutup lokernya, suara ramai yang terdengar dari arah lapangan membuatnya menghentikan langkah. Kaldera menatap ke arah lapangan utama sekolahnya dan matanya memindai mencari seseorang.

Begitu Kaldera menemukan sosok itu, hanya sekitar 5 detik, Kaldera segera memutuskan untuk pergi dari sana. Namun aksinya tersebut tertahan kala mendapati Redanzio menatap balik ke arahnya.

Kaldera terkejut di tempatnya, ia ingin pergi saat itu juga, tapi Zio dari bawah sana Zio mengisyaratkan padanya untuk tetap di tempatnya. Kaldera tidak dapat menebak apa yang akan lelaki itu lakukan. Zio terlihat mengambil bola basket dan akan melakukan lemparan three point.

Kaldera memperhatikan bagaimana Zio melakukannya. Ketika Zio melempar bolanya, beberapa siswi yang tengah melewati lantai satu menghentikan langkah mereka untuk menonton seorang kapten basket sekolah melakukan aksi kerennya itu.

Tepat ketika Zio berhasil mencetak lemparan three point itu, semua yang tengah menyaksikannya bersorak untuk memberi apreasi atas aksi tersebut. Namun ada yang membuat mereka heran dan akhirnya mengikuti arah pandang Zio.

Di koridor lantai dua itu, Zio hanya menatap sosok gadis cantik yang merupakan kekasihnya. Dari sana mereka tahu, Zio melakukan three point itu untuk Kaldera. Sebelum Kaldera menghilang dari sana, Zio mengatakan sesuatu padanya tanpa suara. Meskipun begitu, Kaldera dapat mengetahu apa yang diucapkan Zio.

'I did it for you'

Itu yang Zio katakan pada Kaldera.

***

“Kamu bete ya?” tanya Zio sembari memperhatikan raut wajah Kaldera.

Kaldera menganggu pelan. “Nilai ulangan jepang aku 75. Pas banget KKM,” ucap Kaldera diiringi helaan napas panjangnya.

Selanjutnya Kaldera hanya melihat aksi Zio yang melepas hoodie putihnya. Kemudian Zio menyerahkan benda itu ke pangkuannya, meminta Kaldera untuk memakainya.

Mereka kini tengah berada di rooftop gedung sekolah. Kaldera dan Zio biasa menghabiskan waktu bersama ketika jam istirahat. Rooftop adalah tempat favorit keduanya. Selain dapat menyaksikan pemandangan kota yang indah dari atas, tempat ini merupakan tempat yang berarti untuk keduanya.

Angin berhembus cukup kencang, jadi Zio menyerahkan hoodienya untuk dipakai oleh Kaldera.

“Kal, boleh aku rangkul kamu?” tanya Zio. Kaldera nampak berpikir sesaat, lalu berikutnya ia tersenyum kecil dan mengangguk. Kaldera selalu kagum akan sikap Zio yang menghormatinya. Ketika bersama Zio, Kaldera pun merasa aman dan tidak sama sekali ada kekhawatiran dalam dirinya.

Kaldera masih menatap lengan Zio yang kini tengah merangkul ringan pundaknya. Kaldera merasakan jantungnya berdegup kencang di dalam rongga dadanya. Debaran itu masih sama, bahkan setelah 1 tahun mereka bersama.

“Kal, nilai 75 bukannya udah bagus ya?” celetuk Zio yang langsung membuat Kaldera memberikan atensinya pada lelaki di sampingnya.

“Yaa lumayan sih. Tapi aku nggak terima, Zio. Orang sekelas saling nyontek, tapi mereka dapet nilai lebih bagus.”

“Berarti kamu nyontek juga?”

“Nyontek lah. Habis susah banget ulangannya. Aku udah belajar, tapi tetep susah, Zio.”

Zio lantas menyunggingkan senyum kecilnya. “Itu teguran namanya, Kal. Kamu kan udah belajar, coba lebih percaya diri sama kemampuan kamu. Aku tau kamu bisa, Kal. Kamu pasti lebih bangga kalau 75 kamu dapetin dari hasil sendiri.”

Kaldera memikirkan kalimat Zio dengan sungguh-sungguh. Kaldera mengikuti arah pandang Zio yang beralih darinya kepada gedung-gedung kota yang nampak kecil dari posisi mereka saat ini.

“Zio, ulangan berikutnya Kaldera berusaha nggak nyontek lagi. Kaldera bakal belajar lebih giat dan percaya diri,” ucap Kaldera kemudian.

“Nah, ini Kaldera yang aku kenal. Kal, kamu itu hebat. Aku akan selalu support kamu. Inget ya, kamu nggak sendirian, kamu punya aku,” tutur Zio. Otomatis senyum Kaldera langsung mengembang. Kaldera tidak pernah menyangka ia akan begitu mencintai sosok lelaki di hadapannya ini. Dunia mereka yang jelas terlihat sangat berbeda, latar belakang keduanya yang kontras, membuat Kaldera terkadang berpikir apakah i dan Zio bisa terus bersama nantinya?

“Kal, i love you,” ucap Zio sangat jelas dan Kaldera tentu mendengarnya. Kalimat Zio itu sukses membuat jantungnya serasa ingin lompat bebas dari rooftop ini.

“Kal, kok nggak dijawab?” tanya Zio, nadanya terdengar manja.

Kaldera malah membalas perkataannya dengan ekspresi loading dan sedikit kebingungannya.

Zio tertawa seolah ia sangat bahagia menyaksikan Kaldera.Eekspresi gadis itu dapat membuat Zio menghilangkan semua perasaan sedih di dalam hidupnya.

“Kaldera sayang Zio juga, hehe..” Jawab Kaldera akhirnya sambil menyunggingkan senyum kelincinya. Senyum itu cantik sekali, Zio selalu bahagia melihatnya.

“Zio,” celetuk Kaldera tiba-tiba.

“Iya Kal?”

Can I ... follow you?” tanya Kaldera.

Follow me where?” Zio nampak bingung akan pertanyaan yang barusan diajukan oleh Kaldera.

“I will follow you anywhere,” jawab Kaldera.

“Why you want to follow me?” tanya Zio, lelaki itu menatap Kaldera dengan kedua alisnya yang menyatu.

Kaldera menahan senyum lebarnya. Ketika ia sudah dapat mengatur hatinya yang berbunyi dag dig dug, Kaldera kemduian berujar lagi, “Cause my mom and dad told me that I should follow my dream.”

***

Flashback 1 ago

Kaldera selalu suka rooftop. Baginya puncak atap sebuah bangunan selalu bisa membuatnya merasa lebih damai. Seolah-oleh beban yang dimilikinya dibawa terbang bersama angin saat ia berada disana. Seperti biasa, pada jam istirahat Kaldera sudah membawa kotak bekalnya dan berjalan menuju rooftop sekolahnya, tepatnya di ujung koridor lantai tiga dekat kelas sepuluh IPA 3.

Sesampainya Kaldera di sana, ia langsung duduk di atas sebuah tutup besi yang menutup mesin air. Kaldera pun membuka kotak bekalnya dan mulai menikmati makan siangnya itu.

Beberapa menit berselang, Kaldera merasakan bahwa ia tidak sendiri disini. Ia mendengar suara derap kaki melangkah dari arah belakangnya.

“Uhuk! uhukk!” Kaldera menutup mulutnya, napasnya tersengal-sengal dan matanya melotot dengan lucu. Kulit wajah Kaldera nampak memerah. Kaldera punya penyakit asma dan ia tidakk bisa menghirup asap rokok. Tunggu ... berarti ada asap rokok di sini?

Kaldera segera menoleh ke belakangnya. Rupanya benar saja, tidak jauh dari posisinya kini, ada seorang laki-laki yang tengah mencumbu sebatang rokok sambil bersandar pada pembatas besi di sana.

Astaga.

Kaldera segera meletakkan kotak bekalnya dan berjalan menghampiri lelaki itu.

“Kamu nggak tau peraturan sekolah ya? Kamu nggak ngekokok di area sekolah, ini malah ngerokok. Aku lagi makan, aku asma dan nggak bisa kena asap rokok—” ucapan Kaldera terhenti kala tangan lelaki itu membekap mulutnya.

“Lephasihhn..!” Kaldera berujar tidak jelas saat tangan cowok itu masih setia menutup mulutnya.

“Lo siapa ngelarang-larang gue?” ketus lelaki itu. Ia melepaskan Kaldera, hingga kini Kaldera menatap sebal ke arahnya.

“Aku terganggu sama rokok kamu. Aku punya penyakit asma dan aku mau makan di sini, jadi tolong jangan ngerkokok di sini,” ucap Kaldera.

“Lo pikir ini sekolah punya lo?” Lelaki itu berucap dengan nada arogannya, lalu mendorong bahu Kaldra cukup kencang seolah mengusir Kaldera dari hadapannya.

“Kamu laki-laki beneran bukan sih? Beraninya kok sama cewek. Tampilan kamu doang sok keren, tapi kelakuan kamu seperti bukan didikan guru di sekolah ini,” cerocos Kaldera.

“Lo aja yang pergi dari sini,” cetus lelaki itu sambil tidak menatap ke arah Kaldera.

“Nggak mau. Aku duluan di sini kok. Kamu aja yang pergi,” balas Kaldera dengan berani.

Kaldera tetap pada posisinya, ia menatap lelaki itu lekat, menandakan bahwa ia tidak terintimidasi dan mengalah begitu saja. Kaldera harus mendongak karena rupanya ia hanya sebatas dada cowok itu. Kalau tingginya sejajar dengan lelaki itu, sudah ia pastikan ia akan meninju wajah laki-laki tidak sopan dan arogan ini.

Lelaki itu menarik lengannya, membuat Kaldera mendekat sehingga iadapat mencium aroma rokok yang menguar dari seragam putih lelaki itu. Kemeja putihnya sedikit acak-acakan, matanya sayu ada lingkaran hitam di bawahnya. Kaldera mulai ciut dan pias, pasalnya ia tidak bisa kabur dan tenaganya dibandingkan cowok itu tentu tidak ada apa-apanya.

“Nama lo?” ujar lelaki itu di dekat Kaldera.

“Kaldera,” jawab Kaldera pelan. Apakah cowok ini akan menyakitinya karena telah menantangnya. Tiba-tiba Kaldera kepikrian hal-hal buruk yang bisa saja terjadi padanya.

“Gue akan buang rokok gue, tapi dengan satu syarat.” Cowok di hadapannya membuat angka satu dengan jari telunjuknya.

“Emangnya lo siapa ngajuin syarat ke gue seenaknya kayak gitu?” Kaldera susah tidak peduli dengan tata bicaranya. Kaldera dapat merasakan deru napas lelaki itu yang makin mendekatkan diri padanya.

“Apa lo punya sesuatu untuk di makan?” suara serak lelaki itu terdengar sedikit parau. Kaldera sempat merasa simpati selama 2 detik, tapi setelahnya tawa Kaldera menyembur begitu saja.

Kaldera tertawa sambil memegangi perutnya. Namun itu tidak berlangsung lama karena cowok itu menarik tangannya dan mencengkramnya cukup kuat.

“Kalo lo masih ketawa, gue cium lo,” ancam lelaki itu.

“Apa lo bilang? Berani-beraninya lo mau—apa?!” Kaldera pun brutal, ia memukuli lengan lelaki itu yang mencengkram lengannya, pundak, kemudian menendang tulang keringnya dengan satu tendangan maut. Lelaki itu tersungkur beberapa centi, tapi tenaganya seolah cepat sekali pulih sehingga berhasil menangkap Kaldera jauh sebelum ia kabur.

Kaldera merasa tubuhnya melayang dan buminya seketika terbalik. Kemudia tubuhnya terasa sedikit di banting dan pantatnya lumayan sakit.

Apa dia gila? Lelaki yang dihindari Kaldera rupanya sungguhan ada di dunia ini dan kini Kaldera berhadapan dengannya. Lelaki itu menggendong Kaldera layaknya ia adalah karung beras, lalu menghempasnya ke besi yang sebelumnya Kaldera tempati.

“Jangan sentuh makanan gue. Itu makanan terakhir gue!” seru Kaldera begitu matanya melihat lelaki itu mengambil kotak bekalnya.

“Makanan ini sekarang milik gue,” ujar lelaki itu dengan santai.

Rasanya Kaldera ingin menangis. Lelaki yang tidak dikenalnya itu melahap habis makanannya seperti belum melihat nasi 2 hari. Sekarang Kaldera tidak tahu apakah ia sanggup menahan rasa laparnya hingga nanti sore.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂