Can We Start Our Project ?
Ketika Tiara sampai di lantai satu, ia mendapati Aryo menunggunya di sana dan pria itu masih dengan stelan kantornya.
“Jam berapa ini Tiara?” tanya Aryo.
“Hampir jam sepuluh.”
“Ayo kita bicarain yang tadi sempat tertunda,” ujar Aryo.
“Gue pikir udah nggak ada yang perlu dibicarain.” Tiara menatap Aryo dengan tatapan datarnya.
“Kenapa? Tadi lo bersikeras diskusiin itu sama gue.”
Tiara termenung tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Lo tau, apa yang gue lakuin adalah untuk ngelindungin lo. Di saat gue ngelakuin itu, justru lo yang membahayakan diri sendiri.” Aryo menunjukkan sebuah foto di ponselnya. Aryo mendapatkan dari salah satu omnya yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan. Om nya itu sangat mendukungnya, sehingga berbaik hati menyerahkan foto itu padanya untuk disimpan saja.
“Good job for you. Gue nggak nyangka bisa nikah sama diktator yang keren kayak lo.” Tiara bertepuk tangan sambil menyunggingkan senyum smirk-nya. Kemudian Tiara hendak mengambil langkah pergi melewati Aryo, namun pria itu menahan pergelangan tangannya.
“Gue mau ke kamar, jadi tolong lepasin gue,” desis Tiara.
“Gue lepasin, setelah lo jelasin foto itu,” ujar Aryo.
“Lo nganggap gue istri lo, di saat lo cuma butuh kuasa atas gue? Hello sir, you can’t do anything you want to do. Gue sama Akmal pergi berdua buat ngerjain tugas fotografi,” jelas Tiara yang lantas membuat pegangan tangan Aryo terlepas pada tangannya.
Tiara tidak ingin perasaannya terhadap Aryo semakin dalam karena ia tahu pada akhirnya mereka tidak akan pernah bisa bersama. Dari awal pertemuannya dengan Aryo, Tiara sadar ia memiliki perasaan terhadap lelaki ini, tapi lebih baik membangun tembok antara dirinya dan Aryo demi kebaikan keduanya.
“Terus dengan mudahnya, lo berpikir ngasih keluarga keturunan? Lo pikir semudah itu untuk punya anak?” tanya Aryo.
Tiara berbalik kemudian menatap Aryo, “Bukannya gampang aja buat lo? Gue cuma aset lo untuk dapetin posisi itu. Asal nantinya lo nggak punya perasaan untuk gue, kita bisa punya anak. Setelah itu cerai. Gimana?”
“Gimana dengan perasaan lo sendiri?”
“It’s easy. Every woman never think about love only for one men. So can we start our project?”
***
Siang ini Tiara mengunjungi rumah mertuanya. Mertuanya meminta supir menjemput Tiara agar datang ke sana. Mamanya itu berencana menyiapkan surprise untuk papa mertuanya dan suaminya, karena hari ini adalah hari ulang tahun keduanya yang jatuh berbarengan.
“Malam ini, kamu sama Aryo nginap disini aja ya?” ucap ibu mertuanya pada Tiara. Melihat reaksi menantunya itu, Felicia lantas menyunggingkan senyumnya.
“Tenang aja, suami kamu pasti mau kok. Sejak Aryo nikah, rumah ini makin sepi. Habis semua ini matang, tolong siapin bekal untuk diantar ke kantor suamimu ya,” tutur Felicia.
Tiara mengiyakan ucapan mertuanya diiringi sebuah senyuman. Bagaimanapun ia tidak enak menolak permintaan Felicia untuk menginap. Lagipula Aryo itu kan anak tunggal, jadi wajar mertuanya merasa rumah sebesar ini begitu kosong sejak anak satu-satunya menikah.
“Kenapa Tiara? Aryo sibuk banget di kantor ya? Dia jarang luangin waktunya buat kamu?” duga ibu mertuanya ketika memerhatikan raut wajah Tiara.
“Aryo besok harus ke luar kota untuk urusan kerjaan, Mah. Jadi kayaknya kita nggak bisa nginap malam ini,” ujar Tiara mengatakan alasan mungkin mereka tidak bisa menginap.
“Ohya? Artinya dia akan ninggalin kamu berhari-hari dong? Padahal kalian itu kan pengantin baru. Harusnya dia bisa bagi waktu antara kerjaannya dan kamu.”
Tiara membantu mertuanya membawa makanan yang telah matang ke meja makan. Sepertinya mertuanya salah menangkap. Kini mertuanya ingin dirinya dan Aryo menghabiskan waktu bersama hanya berdua.
“Kalau seperti ini terus, kalian susah punya waktu bareng. Yaudah gini aja, malam ini kalian harus nginap di sini ya. Mama pastiin Aryo setuju,” ucap Felicia sambil memegang tangan Tiara. Kemudian ibu mertuanya itu menepuk punggung tangannya itu dan tersenyum hangat.
***
Sekitar pukul tujuh malam, Aryo berada di perjalanan pulang dari kantornya. Jalanan ibukota seperti biasa dipenuhi oleh kendaraan yang menyebabkan jalanan padat. Mobil Aryo mau tidak mau ikut terjebak macet dan hanya bergerak sedikit demi sedikit.
“Tuan, tadi ibu Feli bilang kalau Tuan harus ke rumah dulu untuk ngambil titipan ibu,” ujar supir pribadinya.
“Tumben. Biasanya mama langsung nelfon saya sendiri.”
“Ibu bilang, Tuan cuma diminta untuk mampir sebentar.”
“Oh yaudah Pak, kita langsung ke rumah mama aja,” tutur Aryo.
Aryo menoleh ke samping jok dan terdapat tas bekal yang tadi siang diantar ke kantornya. Wajahnya mengernyit curiga, namun ia mengulaskan senyum semringah setelah kembali mengingat isi tulisan di notes dalam kotak bekal.
Aryo tidak tahu mamanya bisa seromantis ini padanya di hari ulang tahunnya. Mamanya itu mengirimkan kotak bekal disertai notes kecil berwarna peach. Di dalam notes tersebut, berisi untaian kalimat doa yang begitu indah di hari ulang tahunnya.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷