Can You Ignore The Feeling ?
Tiara tidak ada kelas siang ini karena dosennya tiba-tiba membatalkan kelas. Gadis itu berniat untuk pulang dan cabut kelas yang masih tersisa di jam tiga sore nanti. Namun ia membatalkan niatnya karena seseorang yang telah membiayai kuliahnya. Pengaruh dan eksistensi Aryo telah memberikan dampak yang begitu besar bagi aspek-aspek di kehidupan Tiara.
Tiara keluar dari kelasnya dan mendapati ponselnya berbunyi.
“Dimana Ra?” ujar suara di ujung sana.
“Baru aja keluar kelas. Lo dimana?”
“Lo masih ada kelas kan nanti sore?”
“Iya. Kenapa emang Mal?”
“Sekarang lo sama siapa? Lo nggak sendirian kan?”
Tiara tidak langsung menjawab.
“Gue telfon Valdo ya?” ujar Akmal sebelum Tiara menjawabnya.
“Nggak usah, Mal. Ini orangnya lagi jalan ke arah gue.” Tiara menatap lurus pada sosok Valdo yang terlihat berjalan ke kearahnya di lorong lantai dua.
Ketika Valdo berada di hadapannya, sambungan telfonnya dengan Akmal pun berakhir.
“Akmal?” tebak Valdo.
“Iya, tadi hampir nelfon lo, tapi lo udah nongol.” Tiara dan Valdo berjalan bersama menuju lift untuk turun.
Tiara mengamati ekspresi Valdo yang nampak berbeda dari biasanya itu.
“Lo kenapa?” tembak Tiara. Ia menyadari ekspresi sahabatnya itu nampak berbeda dari biasanya.
“Nggak papa,” jawab Valdo.
Tiara telah sangat mengenal sahabatnya itu dan firasatnya mengatakan ada sesuatu yang Valdo sembunyikan dari Tiara.
“Do, lo tau kan gue nggak suka sahabat gue nyembunyiin sesuatu dari gue.”
***
“Acaranya masih lima belas menit lagi. Lo nggak mau ngasih tau istri lo?” Rama melihat arloji di tangannya dan beralih menatap atasannya. Mereka berada di satu ruangan khusus untuk menunggu yang telah di sediakan oleh panitia acara.
“Untuk apa?” Aryo justru balik bertanya.
“Ngasih tau lo ada di sini lah,” ujar Rama.
“Dia mahasiswi di sini Ram. Lo lupa?”
“Cuma ketemu sebentar elah. Kali aja lo kangen,” ujar Rama sambil menampakkan wajah jenakanya.
“Terus apa yang harus gue bilang, kalau ada yang orang yang liat?”
Rama pun seketika mengangguk mengerti. Kondisinya memang tidak memungkinkan bosnya itu bertemu istrinya di hadapan umum yang kemungkinan dapat memancing kehebohan.
“Tapi kalau akhirnya dia tau lo di sini, gimana?”
“Menurut lo dia akan marah nggak kalau tau dari orang lain?” Aryo terlihat berpikir dan ia meminta pendapat asistennya itu.
“Perempuan emang sulit ditebak, Bro. Tapi habis ngungkapin perasaan, biasanya mereka lebih sensitif. Saran gue, jangan nyembunyiin apapun dari istri lo. Insting seorang istri kuat coy, intel mah lewat.”
***
“Kita bisa bicarain ini di rumah, Tiara.”
“Kenapa nggak disini aja? Udah tujuh jam dari pertanyaan gue, tapi lo belum jawab,” kekeuh Tiara.
Aryo mendapati Tiara hadir di seminar itu dan kini gadis itu menemuinya di lorong menuju ruangan khusus tamu, setelah acara selesai. Tiara meminta Aryo menjawab soal diskusi mereka untuk memiliki anak.
“Lo ngehindarin gue. Bahkan gue tau lo di sini dari orang lain,” ucap Tiara.
“Tiara,” interupsi suara berasal dari belakang Tiara. Terlihat Akmal berjalan menghampiri keduanya.
“Maaf Pak Aryo, apakah Anda memiliki urusan penting dengan salah satu mahasiswi kami?” tanya Akmal pada Aryo.
“Mahasiswi yang kamu maksud adalah istri saya,” ucap Aryo.
Tiara bergantian menatap kedua orang yang saling melemparkan kalimat dengan tatapan dan nada yang terdengar tidak bersahabat itu.
“Tapi kehadiran Bapak di sini adalah sebagai pembicara seminar. Demi ketertiban acara, jika ada urusan pribadi dengan mahasiswi kami, mohon di selesaikan di luar area kampus,” tukas Akmal.
***
Saat Tiara keluar dari kelas terakhirnya sekitar pukul lima sore, Akmal sudah menunggunya di depan kelas gadis itu.
“Hai Mal,” sapa Tiara.
“Hai Ra. Kita jadi kan ngerjain tugas bareng?”
Tepat saat itu ponsel Tiara berbunyi dan ternyata Aryo yang menelfonnya.
“Suami lo?” tanya Akmal.
Tiara mengangguk. “Dia cuma bakal nanyain gue dimana terus minta gue pulang. Yang lo bilang ke gue ada benernya, Mal. Gue cuma aset yang akan bawa dia buat dapetin jabatan itu. So, that's the reason he really wants to protect me.”
***
“Mal gue mau nanya sesuatu deh sama lo,” ujar Tiara.
“Nanya apa Ra?”
Setelah mengambil beberapa foto pemandangan untuk keperluan tugas mata kuliah fotografi, mereka berjalan santai bersama beberapa orang yang sedang menikmati indahnya pantai di sore hari.
Semakin menjelang malam, pemandangan pantai yang merupakan reklamasi teluk di ibukota ini semakin indah. Bermacam-macam orang datang kesini dengan tujuan yang berbeda. Beberapa meter lagi, mereka akan sampai untuk melihat dengan jelas pemandangan matahari terbenam.
“Lo pernah nolak perasaan lo, saat lo suka sama seseorang?” tanya Tiara.
“Pernah,” jawab Akmal. Langkah kaki keduanya berhenti dan di depan mereka kini terpampang pemandangan matahari terbenam.
“Terus gimana?”
“Gue nggak bisa nolak perasaan itu selamanya. Jadi gue mutusin suka sama orang itu sampai saat ini,” jelas Akmal.
Tiara dan Akmal menikmati pemandangan sunset di tambah angin yang bertiup lembut, terasa begitu menenangkan pikiran.
“Lo nggak pernah cerita sama gue soal ini, padahal kita temenan lama. Lo emangnya nggak anggap gue sahabat lo?” tanya Tiara dengan nada seolah-olah ia tengah marah besar pada Akmal.
“She have someone, Ra.”
Tiara termangu mendengarnya. Ia memutuskan tidak bertanya lebih lanjut karena tidak ingin membuat perasaan sahabatnya menjadi kacau.
“Ohya Ra, lo tahu kenapa gue suka banget sama tempat ini?”
“Kenapa?”
“Saat lo punya masalah, entah itu cinta, keluarga, atau lo khawatir dengan masa depan lo. Tempat ini bisa bikin lo tenang. Nggak akan ada yang ngeliat lo dengan tatapan ingin tau, xkarena mereka juga memiliki tujuan masing-masing ke tempat ini.”
“Lampu jalannya cuma ada dikit Mal. Pantes aja di sini gelap.” Tiara menyapukan pandangannya ke sekeliling untuk memastikan. Benar saja, lampu jalan disini sangat minim.
“But I still can see a star, in front of me,” papar Akmal.
“Where?”
“Here,” Akmal mengunci pandangan Tiara dengan kedua netranya. Tiara mendapati Akmal menatapnya dengan cara yang berbeda selama ia mengenal pria ini.
“Like a star, you light up my world, Tiara.”
Tiara terdiam tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Ia menyadari satu hal hari ini. Sahabat lelakinya tengah menaruh perasaan padanya, sebuah perasaan untuk menjadi lebih dari seorang teman.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷