Cantik dan Naif

“Kaldera!!” panggilan itu memasuki indera pendengarannya Kaldera. Seorang gadis remaja dengan rambut panjang sepunggung masih nampak memejamkan matanya sembari memeluk gulingnya.

“Kaldera!” lagi, panggilan itu terdengar menyentaknya. Berkat gangguan itu, Kaldera akhirnya membuka mata. Kaldera lantas mendapati sosok perempuan berusia 40 tahunan di hadapannya. Wajah itu, wajah yang mirip dengannya. Kaldera terkadang menyalahkan takdir, tapi beginilah adanya. Ia tidak memiliki siapa pun, selain tantenya ini.

“Tante, ini masih pagi. Kenapa bangunin aku?” tanya Kaldera dengan wajah kantuknya.

“Kamu yakin masih mau tidur? Kalau gitu, paket ini buat Tante aja, gimana?” ujar Laura sembari menunjukkan sebuah bungkusan kecil yang ada di tangannya.

Netra Kaldera langsung terarah pada bungkusan berwarna merah muda itu. “Itu paket dari siapa, Tante?” tanya Kaldera.

“Menurut kamu? Dari siapa lagi kalau bukan dari pacar kamu. Kaldera, ternyata Tante nggak sia-sia merawat kamu sejak orang tua kamu meninggal ya.”

Kaldera terdiam sesaat. Ia menatap bungkusan itu, tapi ketika tangannya akan meraih itu dari Laura, tantenya itu malah menjauhkannya dari jangkauan Kaldera.

Kaldera beranjak dari posisinya. Kini Kaldera dan Laura tengah berhadapan, tantenya menatap Kaldera dengan tatapan memicing.

“Maksud Tante apa bicara kayak gitu?” tanya Kaldera, ia meminta penjelasan atas kalimat Laura barusan tentang tidak sia-sia merawatnya sejak orang tuanya tiada.

“Kamu pikir Tante sukarelawan yang akan merawat kamu tanpa imbalan? Semua yang ada di dunia ini nggak gratis, Kaldera. Kamu punya pacar anak orang kaya, lebih baik kamu menikah setelah lulus SMA.”

Atas kalimat Laura itu, kedua belah bibir Kaldera sukses terbuka. Kaldera menghembuskan napasnya yang terdengar kasar, ia membuang pandangannya sesaat dari Laura.

Beberapa detik kemudian, Kaldera kembali menatap Laura. Tidak lupa, ia mengambil paksa bungkusan di tangan Laura. “Tante tenang aja. Kaldera nggak ingin merepotkan Tante Laura. Kaldera akan mencri uang sendiri untuk kuliah.”

Laura menatap Kaldera dengan tatapan tajamnya dan seolah-olah kalimat Kaldera tentang kuliah adalah lelucon yang begitu lucu.

“Kamu bisa terus bermimpi, Kaldera. Silakan. Setidaknya kalau kamu ngga bisa mencapai impian kamu, kamu harus menikah dengan lelaki kaya. Kalau enggak, Tante nggak yakin kamu bisa mengganti semua uang yang Tante keluarkan untuk merawat kamu. Kamu mau mengandalkan gaji pegawai part time kamu di restoran cepat saji itu?” Laura memperhatikan Kaldera dengan tatapan menilai, dari atas sampai bawah, lalu Laura mengulaskan senyum smirknya sambil berujar, “Padahal kamu cantik, Kaldera. Tapi sayang, ternyata kamu terlalu naif.”

Setelah mengatakan rentetan kalimat itu, Laura beranjak pergi dari hadapan Kaldera. Kaldera maish berdiri di sana sambil memegang hadiah berbungkus merah muda di tangannya. Pintu di tutup dengan cukup kencang, hingga terdengar bunyi bantingan yang keras di sana.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 🖤

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂