Do You Love Me So ?
Aryo harus berhadapan dengan Felicia yang pagi ini mengunjungi rumahnya dan mendapatkan ketidakberadaan istrinya di rumah mereka.
Aryo tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana. Satu hal pasti, ia belum bisa menceritakan soal kejadian 11 tahun silam dan mengenai rencananya mengungkap kasus itu. Sebenarnya Aryo sangat ingin mamanya mengetahui bahwa Tiara tengah mengandung anaknya, tapi untuk saat ini bukan waktu yang tepat memberitahu kabar bahagia tersebut. Membutuhkan waktu menjelaskan semua hal pada mamanya dan Aryo tidak memiliki waktu yang banyak untuk menceritakan kabar itu saat ini.
“Bisa kamu jelasin apa yang terjadi antara kamu dan Tiara? Kenapa kalian pisah rumah?” tanya Felicia.
“Aryo akan jelasin semuanya, tapi nggak bisa sekarang, Mah. Aryo harap Mama ngerti itu.”
“Kalian bertengkar?” Kedua alis Felicia bertaut.
“Aryo sama Tiara baik-baik aja. Aryo lagi ngelakuin sesuatu dan Aryo nggak ingin Tiara terlibat di dalamnya.”
Aryo menjeda ucapannya dan menghembuskan napasnya yang terdengar sedikit berat, “Aryo janji akan bawa Tiara kembali ke rumah ini.”
Felicia menatap Aryo dan ia dapat membaca dari sorot mata putra sematawayangnya itu, bahwa putranya sungguhan mencintai Tiara. Awalnya Felicia sedikit ragu saat Aryo bersikeras untuk menikahi Tiara. Pernikahan di keluarga mereka biasanya terjadi melalui sebuah perjodohan dengan tujuan memenuhi kepentingan bisnis. Namun Aryo bertekad kuat memilih sendiri pendamping hidupnya.
Seiring berjalannya waktu, rupanya Tiara mampu menjadikan putranya pria yang tangguh yang ada di hadapannya. Kini ada seorang perempuan hebat yang mendampingi putranya dengan kasih sayang dan penuh kesabaran. Felicia sangat tahu sifat anaknya yang keras kepala, perfeksionis, dan egois. Sifat itu tidak hilang, tapi dengan cinta yang diberikan Tiara, segala kelebihan dan kekurangan Aryo itu menjadi kekuatan dan peluang baginya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Felicia berdeham lantas ia menatap putranya, “Oke, Mama akan pegang janji kamu. Kamu harus bawa menantu Mama pulang. Kalau kamu nggak bisa nepatin itu, lebih baik kalian berpisah. Karena suami dan istri itu seharusnya tinggal bersama. Kalau kamu butuh bantuan Mama dan papa, jangan sungkan untuk meminta itu ya, Nak. Setangguh apapun kamu, kamu tetap anak Mama. Mama dan papa akan selalu ada buat kamu,” tutur Felicia.
***
Hari ini Aryo memiliki jadwal muay thai dan latihan menembak setelah jam kantornya. Egha menyiapkan mobil yang akan atasannya pakai ini sekaligus menyetir untuk tuannya itu.
“Gue bisa bawa mobil sendiri Gha,” ucap Aryo ketika diperjalanan.
“Saya hanya menjalankan perintah Non Tiara, Tuan.”
“Maksudnya?”
“Non Tiara meminta saya mengantar Tuan.”
Egha tidak sengaja mendapati ekspresi tuannya yang berubah cerah setelah kalimatnya berusan.
“Makanan yang semalam di meja makan juga atas perintah Non Tiara. Beliau tidak ingin sampai Tuan telat makan lagi,” ungkap Egha.
***
Aryo sengaja menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dan meminta tolong pada Rama untuk meng-handle beberapa pekerjaannya yang masih tersisa. Aryo ingin mengisi dayanya setelah melakukan kegiatannya yang cukup padat dan menguras tenaga seharian ini. Tiara adalah sumber dayanya dan Aryo membutuhkan istrinya berada di sisinya.
Saat Tiara pergi dari rumah mereka, sebagian jiwanya terasa pergi bersama perempuan itu. Sebuah definisi yang tidak bisa dijelaskan oleh Aryo sendiri. Namun Aryo tidak ingin menyerah begitu saja. Aryo bertekad akan membawa Tiara kembali padanya. Ia percaya Tiara masih mencintainya dan tidak ada yang dapat merubah perasaannya pada Tiara. Istrinya itu sudah menempati setiap ruang di hati dan isi kepalanya.
Aryo sampai di rumah mertuanya dan mendapati Tiara sedang bersama sahabat-sahabat lelakinya berada di teras rumah, termasuk ada Akmal juga di sana. Mereka sedang mengobrol dan tidak ada satupun yang merokok disana. Jadi Aryo pikir, Tiara-nya aman bersama mereka.
Tiara menghampiri Aryo begitu melihat sosoknya. Teman-teman Tiara seperti mengerti bahwa perempuan itu butuh waktu berdua dengan Aryo. Jadi lah mereka pamit pada Tiara untuk pindah ke kafe di samping rumahnya.
Tiara memperhatikan penampilan Aryo yang masih mengenakan stelan kantor. “Kamu baru pulang kantor?” tanya Tiara.
“Iya. Maaf ya, aku ke sini nggak ngabarin,” tutur Aryo.
“It’s oke,” balas Tiara.
“Kamu udah makan?” tanya Tiara.
“Udah. Egha yang beliin tadi.”
Tiara mengerutkan dahinya, “Egha bilang apa aja ke kamu?”
“Nggak bilang apa-apa,” dusta Aryo. Sepertinya biarkan seperti ini. Aryo bersikap seolah tidak tahu bahwa Tiara masih perhatian padanya.
“Egha mana?”
“Yang dicari Egha? Suami kamu di depan kamu lho ini.”
“Kamu nggak nyetir sendiri kan?” tanya Tiara sambil menatap selidik pada Aryo.
“Aku punya supir, ngapain nyetir sendiri,” senyum dibibir Aryo otomatis mengembang melihat tingkah istrinya yang sedang mengkhawatirkannya.
“Sekarang aku yang tanya, boleh?” tanya Aryo. Oh astaga, begini rasanya rindu, batinnya.
“Kamu mau nanya apa?”
“Kamu udah makan? Udah minum vitamin dari dokter?”
“Udah.” Tiara menjawab semua pertanyaan Aryo.
“Oke, satu pertanyaan lagi. Boleh aku peluk kamu?”
Tiara menatap Aryo, lalu menjawab pertanyaannya dengan sebuah anggukan. Ia membiarkan Aryo merengkuhnya ke pelukan pria itu. Tiara balas memeluk torso suaminya ketika Aryo merengkuhnya. Segala tentang suaminya yang ia rindukan, akan ia ungkapkan malam ini.
Sebuah perasaan menyakitkan yang tidak bisa Tiara gambarkan ketika ia harus pergi dari rumah meninggalkan Aryo. Hatinya sungguh sakit membayangkan perpisahan yang kelak mungkin harus dirinya dan Aryo hadapi.
“Aryo, aku minta maaf ya.” Suara Tiara bergetar dan perempuan itu mulai terisak. Aryo masih memeluknya dan mendapati kemejanya basah karena air mata Tiara.
“Tiara … kenapa?” tanya Aryo dengan nada khawatirnya. Pelukan mereka lantas terurai.
“Aku nggak bener-bener mau ninggalin kamu waktu pergi dari rumah. Aku cuma nggak mau mereka nyakitin kamu karena aku,” ungkap Tiara. Ia jufa mengatakan setelah kepulangannya ke rumah, rupanya Andi dan Alifia sudah mengetahui rencananya dengan Rudi untuk membuka kembali kasus kecelakaan itu. Ayah dan bundanya juga tahu soal tujuan Tiara menikah dengan Aryo yakni karena ingin mencari bukti kuat supaya bisa menangkap orang yang menyebabkan Erlangga tiada. Indri, istri Rudi meminta pertanggungjawaban atas suaminya yang saat ini tidak di ketahui keberadaannya. Indri tahu semuanya bahwa Rudi diam-diam nekat membuka kembali kasus sebelas tahun lalu yang sudah resmi ditutup.
“Aku nggak tau mereka siapa. Mereka ngancam lewat telfon mau nyakitin kamu dengan cara apapun,” ujar Tiara menjelaskan maksud dari perkataannya.
“Apa aja yang mereka bilang ke kamu?”
“Selama kamu ada di dekat aku, mereka bisa ngelakuin apa aja untuk nyakitin kamu.”
Aryo menghembuskan napasnya, “Ra, dengerin aku ya. Aku akan cari tahu soal mereka. Aku pastiin mereka nggak akan bisa nyakitin siapa pun. Kamu, aku, bahkan keluarga kita. Ohiya, om Rudi yang kamu maksud itu Rudi Abimana?”
Tiara mengangguk, “Iya. Om Rudi adalah detektif yang dulu nanganin kasus kecelakaan Ayah sekaligus orang yang selama ini bantuin aku. Tapi beberapa hari yang lalu, beliau dan tangan kanannya, om Bagas, di serang gerombolan orang dan sampai saat ini belum kembali. Om Bagas selamat, tapi Om Rudi di bawa sama mereka. Mereka nggak minta uang tebusan atau apapun, tapi mereka bilang bisa lakuin apa aja ke om Rudi. Apa mungkin mereka punya tujuan gunain om Rudi untuk ngancam kita? Kalau orang yang sandera om Rudi adalah orang yang sama dengan target kita, ada kemungkinan dia udah tau semuanya dan memang mengincar om Rudi dari lama,” papar Tiara.
Aryo nampak memikirkan ucapan Tiara. Kemudian pria itu berdeham sebelum berbicara, “Bisa jadi itu benar. Tapi sebaiknya kita jangan gegabah dulu hadapin semua ini. Aku akan cari om Rudi dan bawa beliau kembali dengan keadaan selamat. Aku akan berusaha untuk itu, Ra. Kamu percaya kan aku bisa?”
Tiara menatap suaminya lekat. Perasaannya kini campur aduk. Di satu sisi, ia ingin sekali orang yang sudah menyebabkan kepergian ayahnya mendapat balasan yang setimpal. Namun di sisi lain, rencana ini dapat membahayakan suaminya sendiri.
“Aryo, kamu mau nggak nurutin satu aja permintaan aku?” tanya Tiara.
“Apa itu?”
“Kalau aku minta kamu nggak usah terlibat dengan kasus ini, gimana?”
“Tapi Ra—”
“Ini bahaya, Aryo. Aku mohon, dengerin aku. Aku khawatir, takut, dan cemas. Aku nggak siap kehilangan seseorang yang aku sayang untuk kedua kalinya,” ucap Tiara dengan gamblang. Pupil matanya bergerak ke kanan dan kiri, ia menatap Aryo dengan tatapan khawatir. “Aku nggak mau kehilangan kamu,” tukas Tiara.
Aryo yang mendengar rentetan perkataan istrinya itu justru mengulaskan senyum tipis di wajahnya.
“Aku lagi khawatir sama kamu, kamu malah senyum-senyum.” Tiara memerhatikan Aryo dan wajahnya berubah jadi masam.
“Do you love me so?”
“Kamu masih nanya? Ngapain aku khawatir kalau aku nggak cinta. Aku nggak tahu lagi kalau harus kehilangan kamu. Mungkin aku bisa gila, Aryo,” cerocos Tiara.
“Kamu nggak akan kehilangan aku, Tiara,” ucap Aryo berusaha meyakinkan Tiara. Pria itu menangkup kedua sisi wajah wanitanya, ia menatapnya dengan tatapan hangat.
“Nggak ada jaminan untuk itu, Aryo. Kamu sendiri tau, kamu akan berhadapan sama siapa. You’re stuborn.”
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷