Doing Something Special for You
Ada seseorang yang mengatakan pada Aryan bahwa dirinya ingin menghabiskan waktu bersamanya. Selama Aryan menjalani hidupnya, belum pernah ia merasa begitu dispesialkan seperti ini. Aryan mendapat kesempurnaan itu dari keluarganya, tapi belum pernah ada seorang dari luar yang memperlakukan ia sebegininya.
Sekitar pukul 11 siang, akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat. Karin mengatakan tempat pertama yang akan menjadi tujuan mereka adalah Jakarta Aquarium Safari. Karin sengaja memilih waktu lumayan pagi, sehingga sat mereka sampai di aquarium indoor tersebut, tempat itu masih lumayan sepi.
Jenis pengunjung yang datang ke sana berbagai macam. Ada yang bersama keluarga, sahabat, dan mungkin sama seperti Aryan dan Karin, yakni sebagai sebuah pasangan. Dari luar mereka sungguh terlihat seperti itu, terlebih lagi ketika Aryan meraih tangan Karin dan menggenggamnya erat. Hal kecil yang begitu diperhatikan oleh Aryan, perlakuan sederhana lelaki itu padanya, membuat Karin merasa bahagia.
“Kak, kita harus ambil foto,” ucap Karin. Mereka kini berhenti tepat di depan sebuah kolam kaca di mana terdapat ubur-ubur cantik dengan berbagai warna. Latar belakang yang mereka miliki itu nampak indah, warna neon dari ubur-ubur tersebut sangat kontras satu sama lain dan terlihat begitu sempurna.
Aryan dan Karin akhirnya meminta seorang petugas untuk membantu mengambil foto mereka. Terdapat beberapa hasil jepretan. Sebagian memang tampak seperti hanya siluet karena tempat ini tidak terlalu cukup cahaya. Namun justru itu yang menjadikan hasil fotonya nampak estetik.

Setelah mengucapkan terima kasih pada pegawai tersebut, Aryan dan Karin pun kembali melanjutkan perjalanan untuk melihat-lihat hewan akuatik maupun non-akuatik lainnya.
“Kamu mau liat apa lagi habis ini?” tanya Aryan.
“Mermaid. Katanya sih hari ini ada pertunjukan mermaid. Habis liat mermaid, baru kita ke tempat kedua ya. Takutnya nanti hujan kalau terlalu sore,” ujar Karin.
“Emangnya kenapa kalau hujan?” tanya Aryan sembari menautkan alisnya.
“Kalau hujan, hadiah utamanya kemungkinan nggak jadi, Kak.”
“Oke. Kita bisa pergi dari sini sebelum hujan,” putus Aryan sembari menyunggingkan senyum semringahnya.
***
Hari ini tidak hanya Aryan yang merasa bahwa hidupnya spesial. Karin pun merasakan demikian. Rencana yang Karin susun nampaknya berhasil. Meskipun belum mengetahui hadiah darinya, Karin dapat melihat bahwa Aryan menganggap acara ini begitu berharga.
Dari ujung rambut sampai kaki, penampilan Aryan hari ini sangatlah sempurna. Itu juga yang terjadi dengan mobil yang mereka tumpangi. Karin tahu bahwa kemarin Aryan baru saja membawa mobilnya ke salon dan hari ini Karin tidak menemukan setitik pun debu di dalam BMW putih tersebut. Aryan membuatnya semuanya nampak spesial, selama di jalan menuju tempat kedua, Karin hampir tidak berucap sama sekali. Beginikah Aryan memperlakukannya. Ketulusan Aryan, Karin dapat begitu merasakan semuanya saat ini.
“Karin, kita udah sampai,” ucap Aryan yang seketika sukses membuyarkan lamunan Karin.
“Benar ini tempatnya?” tanya Aryan memastikan.
“Iya, benar ini tempatnya. Kita nggak ke mall-nya, tapi ke rooftop,” terang Karin.
Aryan nampak berpikir sejenak. Ia jelas tahu bahwa di rooftop bangunan ini merupakan tempat wahana bianglala yang cukup besar. Mall ini terletak di tengah ibukota dan menyajikan pemandangan gedung-gedung serta lampu kota yang begitu indah untuk malam hari. Sehingga rasanya begitu cocok menaiki wahana tinggi sembari di temani oleh pemandangan malam yang indah ini.
“Kita beli makanan dulu. Kamu laper, kan?” celetuk Karin.
Aryan pun segera mengangguk. Karin lantas menjelaskan rencana kencan terakhir mereka malam ini. Mereka akan menaiki bianglala sambil menikmati makan malam dengan suasana dan pemandangan perkotaan yang cantik dari atas nanti.
Aryan yang mendengar penjelasan Karin seketika terdiam sesaat. Begitu netra Aryan menangkap Karin hendak meraih pintu mobil dan membukanya, Aryan segera berujar, “Karin.”
“Ya?” Karin kembai menghadap ke arah Aryan, tangannya tertahan di pintu mobil.
“That’s gonna be a beautiful date,” ucap Aryan.
Ini terasa sederhana, tapi memiliki makna yang besar untuk Aryan. Aryan akan melakukannya bersama orang yang tepat dan itu lebih dari sekedar indah untuknya.
***
Seperti yang sudah Aryan bayangkan sebelumnya, berada di dalam bianglala akan terasa begitu menakjubkan. Pemandangan kota terlihat sempurna malam ini dari atas, tempat di mana kini Aryan dan Karin berada. Namun jika keindahan hadir tanpa adanya seseorang yang terasa tepat di hati, semuanya mungkin akan terasa sia-sia dan hampa. Kini Aryan melakukannya bersama seseorang yang telah mengisi hatinya, jadi semuanya terasa begitu indah dan sempurna.

Ukuran satu bianglala yang cukup besar itu, membuat Aryan dan Karin dapat menikmati dengan leluasa makanan yang sempat mereka beli. Keduanya duduk berhadapan di bangku bianglala, sembari makan, sesekali mereka mereka membicarakan hal yang intim. Seperti tentang Karin yang jujur tentang alasannya ingin mengajak Aryan pergi seharian ini. Saat-saat yang mereka telah lewati bersama, membuat Karin mengerti apa yang dibutuhkan oleh Aryan. Maka Karin ingin mewujudkannya untuk lelaki itu malam ini. Karin ingin menghabiskan waktu bersama Aryan dan membuat lelaki itu merasa bahwa dirinya berharga dan spesial.
Aryan akhirnya mengerti, apa yang Karin lakukan karena perempuan itu begitu memikirkannya. Selama ini yang Aryan butuhkan hanyalah hal yang sederhana, tempat dan pemandangan hanya sebagai pelengkap. Bagian terpenting yang sejatinya Aryan inginkan adalah waktu yang dihabiskan bersama seorang yang berarti baginya.
Makanan dan minuman Aryan maupun Karin sedikit lagi sudah hampir habis. Mereka lantas merapikan bungkusan tersebut dan memasukkannya ke dalam satu plastik. Nanti saat turun, mereka bisa langsung membuangnya.
“Kak, aku mau nanya sesuatu ke kamu,” ucap Karin. Aryan seketika menoleh dan memfokuskan atensinya kepada Karin.
“Are you happy this night?” Itulah pertanyaan yang dilontarkan Karin. Ia ingin tahu apakah dirinya berhasil memberi kebahagiaan itu untuk Aryan.
Aryan nampak berpikir sejenak setelah mendengar pertanyaan Karin barusan. Tentunya tingkah Aryan itu membuat Karin penasaran. Beberapa detik setelahnya, Aryan mengulaskan senyum jenakanya, membuat Karin mengernyitkan alisnya.
Raut wajah Karin terlihat memancarkan kecemasan. Namun Aryan tidak membiarkan itu berlangsung lama, lelaki itu segera meraih kedua tangan Karin. Menggunakan ibu jarinya, Aryan mengusap lembut punggung tangan Karin, lalu ia berujar, “Aku bahagia, Karin. Makasih buat waktu yang kamu kasih malam ini.”
Sebuah senyum seketika terbit di wajah Karin begitu mendengar jawaban itu. Sebuah senyuman yang begitu tulus dari dalam hatinya. “Kak, sebenernya aku akan ngasih jawaban ke kamu malam ini,” ucap Karin dengan gaya bicaranya yang lugas.
Sontak kalimat Karin itu membuat Aryan mematung. Perlahan-lahan Aryan merasakan Karin melepaskan tangannya dari genggaman Aryan. Bianglala yang mereka tumpangi kini tepat berada di atas dan memang sedang berhenti untuk beberapa saat. Hal ini dilakukan agar para penumpang dapat sekedar berfoto atau menikmati suasana malam di atas langit yang nampak begitu cantik.
Detik berikutnya, mata bulat Karin menatap tepat ke iris legam Aryan. Karin giliran melakukannya, ia meraih kembali kedua tangan besar Aryan dengan tangan kecilnya, lalu menggenggamnya di sana.
“Kak, aku bisa ngerasain kalau semua yang kamu lakuin untuk aku itu tulus. Aku bahagia setiap ngabisin waktu sama kamu. Perlakuan kamu dari yang paling besar sampai yang paling kecil, bikin aku percaya untuk membuat sebuah komitmen dalam rumah tangga, dan aku bersedia melakukan itu sama kamu,” Karin menjeda ucapannya sesaat, lalu dengan senyum kecil di paras cantiknya, Karin kembali berujar, “Kamu udah membuktikan pernyataan kamu waktu itu. Nggak cuma dari ucapan, tapi dari setiap perilaku kamu, kamu udah membuktikan perasaan itu.”
Aryan tidak hanya mengatakan perasaannya, tapi membuktikannya melalui melalui setiap aksi yang mungkin Aryan sendiri tidak menyadarinya. Aryan melakukannya dan berdampak besar terhadap Karin. Karin telah menyadari, bahwa perasaannya terhadap Aryan adalah perasaan cinta.
Karin paham bahwa sejatinya perasaan cinta kepada seseorang akan hadir dengan seimbang. Jika ada bahagia, maka juga ada luka di sana. Luka yang pernah Aryan berikan padanya, Karin tahu bahwa lelaki itu tidak berniat untuk melakukannya. Namun itu terjadi begitu saja, karena tanpa Karin juga sadari, ia telah menganggap Aryan bagian yang penting dalam hidupnya. Maka dari itu, setiap perlakuan Aryan padanya begitu reaktif terhadap Karin. Ketika Aryan menatapnya dengan tatapan kecewa karena salah paham di acara awards malam itu, Karin merasa begitu hancur.
Karin menyadari bahwa orang yang paling bisa menyakitimu sesungguhnya adalah orang yang paling besar posisinya di hatimu. “Karin, is it real?” tanya Aryan setelah dirinya berhasil berucap. Lidahnya beberapa saat lalu terasa begitu kelu, sehingga Aryan perlu waktu untuk mencerna semuanya.
Tidak beberapa lam kemudian, bianglala mereka mereka tumpangi telah sampai di bawah. Pintu di depan mereka pun di buka oleh seorang pegawai, menandakan keduanya harus segera turun dari sana. Setelah Aryan keluar lebih dulu, Karin pun langsung menyusulnya.
Beberapa langkah saat Aryan berjalan di depan Karin, lelaki itu kembali berbalik dan meraih tangan Karin, menggenggamnya untuk memastikan Karin berada di sisinya.
Karin hanya menatap genggaman tangan itu, lalu ia tertawa kecil. Begitu mereka berada di lift untuk turun ke parkiran di basement, Aryan berujar, “Karin, kamu belum jawab pertanyaan aku.”
“Pertanyaan yang mana Kak?”
Kini keduanya telah berada di dalam mobil. Aryan belum berniat untuk menjalankan mobilnya, tapi mesinnya sudah dinyalakan. Aryan lantas memiringkan tubuhnya agar dapat berhadapan dengan Karin. Tatapannya lurus dan begitu lekat memandang Karin seutuhnya.
“Apa yang tadi kamu bilang di bianglala, semua itu benar?” tanya Aryan kemudian.
Dengan penuh kepastian, Karin pun menjawab pertanyaan Aryan dengan sebuah anggukan pasti. Berikutnya Karin hanya mendapati Aryan menghembuskan napasnya yang terdengar begitu lega. Karin memperhatikan Aryan dengan raut wajah bahagianya, sebuah senyum secara sukarela ikut mengembang di paras Karin.
Sejak awal, Karin sebenarnya telah merasakan perasaannya terhadap Aryan, tapi Karin mencoba untuk menampik semuanya. Ia tidak ingin perasaan itu menjadi sebuah kekeliruan, yang mana nanti hanya akan menyakiti Aryan maupun dirinya.
Saat ini Karin sudah memantapkan hatinya. Seperti janjinya pada Aryan sebelumnya, Karin akan berlari menuju Aryan kalau memang hatinya berkata bahwa Aryan adalah orangnya.
Seterjal apa pun jalan yang harus Karin lewati, ia akan bersedia untuk melaluinya. Karin tidak berjuang sendiri untuk menghadapinya, ia tahu bahwa Aryan akan selalu berada di sampingnya. Aryan pun akan melalukan hal sama yang seperti Karin lakukan, berjuang untuk hubungan mereka. Karin tidak perlu menanyakan itu, karena ia sudah mengetahui jawabannya.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷