ENDING : Tentang Hari Tua dan Penerus Perusahaan
Tiara menyapukan pandangannya pada unit penthouse yang kini berada di hadapannya. Mewah. Satu kata itu rasanya sangat cukup untuk menggambarkan tempat ini.
“Aryan, penthouse ini dalam rangka apa?” tanya Tiara pada Aryan.
Aryan lantas menyusul langkah Tiara memasuki unit penthouse lebih jauh. Penthouse ini sudah diisi oleh berbagai furnitur dan fasilitas pelengkap lainnya, jadi siap untuk dihuni kapanpun mereka ingin.
“Papa kamu beli penthouse lagi?” tebak Tiara.
Aryan mengambil sesuatu dari saku celananya,“Iya, Mah. Papa beli penthouse ini untuk Mama. Sertifikat hak miliknya juga atas nama Mama. Sudah serah terima kunci, dan ini kuncinya,” Aryan menyerahkan sebuah kunci ke tangan Tiara.
“Aryan kamu nggak lagi becandain Mama, kan?” Tiara memicingkan matanya ke arah anaknya itu.
“Engga dong, Mamaku sayang. Papa sama Nayna sebentar lagi nyusul kita ke sini. Papa masih ada urusan di kantor dan Nayna lagi on the way dari sekolahnya,” terang Aryan diiringi sebuah senyum di wajahnya.
***
“Happy anniversary yang ke dua puluh satu yaa, Sayang. I love you,” ucap Aryo. Di balkon luas penthouse itu, Aryo muncul di hadapan Tiara sambil membawa sebuket bunga mawar yang nampak ranum.
Tiara mengulaskan senyumnya, ia menerima buket bunga itu dan bergerak untuk membawa torso Aryo ke dekapannya.
“Terima kasih, Sayang,” ucap Tiara di dekat Aryo. Mata Tiara yang bertubrukan langsung dengan Aryan dan Nayna, mendapati kedua anaknya itu tersenyum bahagia menyaksikan orang tua mereka.
Tidak lama kemudian, Tiara mengurai pelukannya, “Jadi hadiah anniversary kita adalah penthouse ini?” tanya Tiara sambil menatap Aryo.

Aryo pun melirik sekilas Aryan dan Nayna, lalu pria itu menatap Tiara lagi dan menganggukkan kepala.
“Hadiah ini atas ide Aryan dan Nayna juga, Sayang. Anak kita ingin Mama dan Papanya punya hunian masa tua yang cukup.”
“Aryo, tapi ini lebih dari cukup,” ujar Tiara.
“So this is a good news, right?”
“Iya, penthouse ini bagus, tapi terlalu besar. Rumah kita udah cukup. Gimana Aryan? Nayna, menurut kamu gimana, Sayang?” Tiara menanyakan pendapat kedua anaknya.
“Mom, this penthouse is definetely amazing. Unit ini punya akses lift sendiri dan area parkir pribadi untuk setiap pemilik. Lokasinya juga strategis, dekat pusat perbelanjaan,” itu pendapat Nayna. Sebenarnya Aryan dan Nayna tidak heran lagi dengan kebiasaan papanya membeli properti dan segala tetek bengeknya itu. Tiara pun juga begitu, ia sangat mengenal suaminya. Namun ia merasa ini semua terlalu berlebihan.
“Menurut Aryan, penthouse ini cocok banget untuk jadi tempat tinggal. Papa dan Mama bisa menikmatinya berdua. Aryan sama Nayna sudah memikirkan ini, kita hanya mau yang terbaik buat Mama dan Papa,” Aryan melirik Nayna dan langsung diangguki oleh adiknya itu.
Tiara nampak terdiam sesaat. Dua detik berikutnya, Tiara menatap Aryo dan bergantian pada Nayna lalu Aryan. “Aryan, Nayna, terima kasih karena sudah memikirkan semuanya dan menginginkan yang terbaik untuk Papa dan Mama. Mama menghargai yang kalian berikan. Tapi tempat sebesar ini akan terasa hampa tanpa hadirnya orang-orang yang kita sayang,” ungkap Tiara.
Dari ungkapan Tiara tersebut, Aryo, Aryan, dan Nayna pun menjadi paham. Tiara menghargai apa yang mereka usahakan, tapi semua itu akan sia-sia kalau kita justru merasa kesepian. Tiara ingin menikmati hari tuanya bersama anak, menantu dan cucu-cucunya kelak. Itu hal sederhana tapi justru paling tidak ternilai baginya.
“Sayang, aku ngerti apa yang kamu pikirkan. Kita akan tinggal sama-sama di sini, sama Aryan dan Nayna juga,” ucap Aryo.
“Mama, Nayna nggak kepikiran sama sekali soal itu. Maafin Nayna, Mah. Nayna nggak berniat bikin Mama kesepian atau ninggalin Mama dan Papa buat tinggal berdua,” Nayna menghampiri Tiara lalu segera memeluk mamanya. Aryan juga ikut melakukan hal yang sama dengan yang Nayna lakukan.
“Iya, Sayang. Nggak papa,” ucap Tiara sambil balas memeluk Nayna dan Aryan. Tiara pun mengurai pelukannya tidak lama kemudian, ia mengusap bergantian pipi Nayna dan Aryan.
“Aryan,” ujar Aryo.
Aryan pun menoleh pada papanya, “Iya Pah?”
“Kamu masih punya waktu untuk menentukan. Kalau kamu ingin meneruskan perusahaan, kemungkinannya kamu harus segera menikah. Kamu bisa menikah setelah kamu lulus kuliah,” ujar Aryo.
“Mah, Pah,” ujar Nayna yang lantas membuat Aryo dan Tiara menoleh padanya. “Koko tuh punya pacar, tapi nggak tau mau dikenalin ke Papa dan Mama kapan,” sambung Nayna diiringi senyum jenakanya.
Aryo menatap Aryan sembari memicingkan matanya, “Benar yang dibilang Nayna, Aryan?”
Tiara pun ikut menoleh ke Aryan, “Jadi perempuan yang waktu itu benar-benar pacar kamu?” tanya Tiara sambil mengulaskan senyum menggodanya kepada putra sulungnya itu.
Aryan pun akhirnya mengangguk pelan. Ia melirik sekilas ke arah adiknya lalu melemparkan tatapan mematikan. Nayna pun membalas Aryan dengan senyum santainya seolah ia tidak takut ditatap seperti itu oleh Aryan.
“Orang Koko sama pacarnya udah sering stay cation bareng,” cicit Nayna pelan. Seketika Aryo dan Tiara menatap Aryan dengan tatapan memperingati.
Aryo menghela napasnya, “Aryan, dengar nasihat Papa. Jangan berani kamu melakukan apapun kalau kamu belum siap menanggungnya, oke? Papa percaya kamu udah mengerti soal itu dan tahu batasannya. Soal meneruskan perusahaan, keputusan itu tetap ada di tangan kamu, Aryan. Kalau kamu serius dan bertekad terhadap perusahaan dan pasangan kamu, kamu harus siap menikah dan memikul perusahaan di kedua pundak kamu,” tutur Aryo panjang lebar.
“Aryan, kamu pikirin ini matang-matang dulu. Bicarakan juga sama pacar kamu baik-baik,” ujar Tiara.
“Mama ingin Aryan cepet-cepet menikah? Nanti Aryan akan punya kehidupan sendiri dan mungkin nggak tinggal sama Papa dan Mama lagi” Gimana?” tanya Aryan.
“Nggak papa dong, Sayang. Asalkan kamu bahagia sama keluarga kecil kamu, Mama dan Papa akan bahagia juga. Kita kan bisa sering-sering main ke rumah kamu nanti, ya kan Pah?”
Aryo mengangguki, “Benar yang Mama bilang, kita pastinya bahagia kalau kamu bahagia. Oh iya, kamu mau mulai magang kapan di perusahan Papa? Biar Papa ajukan. Dari magang itu, nanti kamu bisa belajar punya tanggung jawab dan dapat penghasilan dari usaha kamu sendiri.”
“Kalau soal magang, secepatnya nanti Aryan infoin ke Papa. Aryan masih harus nunggu persyaratan dulu dari dosen,” jelas Aryan.
“Oke. Papa tunggu kabar dari kamu.”
“Udah Ko, nikah aja. Kata Oma, lo dapet warisan jalur VIP lho kalau nikah muda. Itung-itung magang dan dapat gaji itu buat lo latihan jadi calon kepala keluarga. Iya kan Pah, Mah?” ujar Nayna.
Aryo dan Tiara mengangguki ucapan Nayna dan tampak begitu setuju. Setelah itu Mama dan Papanya pamit untuk berlalu lebih dulu, meninggalkan Aryan yang masih ingin berada di balkon. Hembusan semilir angin menyapa halus kulit dan rambut bagian depan pria berparas oriental itu.
Nayna rupanya berbalik lagi setelah beberapa langkah mengikuti langkah papa dan mamanya. Nayna mengatakan, ia merasa empati dengan kakaknya itu. Cukup sulit rupanya menjadi anak sulung laki-laki karena memiliki tanggung jawab untuk meneruskan usaha milik keluarga.
“Lo sama kak Shakina kan udah pacaran lumayan lama juga. Gue tahu, sebucin apa lo dan kak Kina. Kalau lo lamar dia, kemungkinan besar dia akan terima lo. Kenapa nggak coba aja lo purpose,” ucap Nayna.
Aryan menoleh ke arah Nayna dan berujar, “Nggak semudah itu untuk menikah, Nay. Menikah itu menyatukan dua keluarga, gue harus mikirin tanggapan keluarganya Kina juga soal pernikahan. Kina punya cita-cita yang mungkin buat dia nggak mau menikah cepat.”
Nayna pun mengangguk, “Oke, gue paham. Tapi ini menurut gue aja ya, Ko. Kalau dia benar-benar serius dan mantap banget sama lo, dia nggak akan nolak lamaran lo. Dalam berhubungan, sekarang komitmen ke jenjang serius adalah hal yang lumayan penting,” ujar Nayna.
“Jadi menurut lo gue harus coba lamar Kina?” tanya Aryan.
“Yes, you should try. Saran gue sebelum lo purpose, lo pastiin dulu sekali lagi. Yakinin hati lo kalau emang she's the one for you. Good luck Ko, gue masuk ke dalam dulu ya. Di sini dingin banget,” Nayna menepuk pundak Aryan sebelum gadis itu berlalu.
Aryan jelas sudah memikirkan tentang masa depannya. Papanya memang memberikan pilihan untuk tidak meneruskan perusahaan dan memutuskan jalan hidupnya sendiri. Namun ia memiliki tanggung jawab sebagai anak laki-laki pertama.
Aryan ingin papa dan mamanya dapat menikmati masa tua mereka tanpa memikirkan apapun. Poin tersebut sudah masuk ke dalam goals list teratas di hidupnya. Aryan akan mengusahakan itu, mempertimbangkan untuk melamar Shakina dan menikahi kekasihnya.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya. Sampai di sini pertemuan kita di Emergency Married. Sampai bertemu di ceritaku yang selanjutnya.
Regards, Aya 🌷