First Time LDR
Ulang tahun Aryo jatuh berbarengan dengan papanya. Setiap tahun mereka akan merayakan ulang tahun untuk dua orang sekaligus. Tahun lalu, ibunya turut mengundang mantan kekasihnya untuk private fine dining. Aryo berpikir tahun ini akan sedikit berbeda karena kesibukan dan juga statusnya saat ini.
Aryo memasuki rumahnya sambil tangannya menekan layar sentuh di ponselnya. Kemudian ia menempelkan benda pipih itu ke telinga, menunggu seseorang di ujung sana mengangkat panggilannya.
“Tiara, gue pulang agak telat. Lo udah di rumah?”
Aryo menunggu Tiara yang tidak kunjung menjawab, hingga sebuah kerutan muncul di dahinya dan langkah kaki yang terhenti.
“Tiara?” panggil Aryo.
“Kenapa pulang telat?” Tiara justru bertanya balik di sambungan telefon.
“Ada sesuatu yang perlu gue ambil di rumah mama,” ujar Aryo.
“Habis itu langsung pulang?”
“Iya Gue cuma mampir sebentar.”
Aryo mengernyit curiga. Ia menyapukan pandangannya ke sekeliling rumah dan berjalan ke ruang tamu. Ia penasaran karena suara Tiara di telepon terasa begitu dekat denganya. Aryo rasa ia mulai tidak waras berpikiran Tiara berada di dekatnya.
“Are you ... at home?” Aryo masih bertanya dengan nada setengah yakin.
“Of course.”
“Our home?”
***
Setelah Aryo menemukan Tiara berada di rumah orang tuanya tanpa sepengatahuannya, Tiara membawanya untuk sampai di rooftop. Malam ini taman yang terdapat di rooftop rumah itu di dekor sedemikian rupa untuk merayakan sebuah acara ulang tahun. Sebuah meja dan empat kursi di tata, makanan-makanan yang nampak lezat tersaji, lampu cantik dan berkilau menambah indah suasana malam itu.
Papa dan mamanya memberinya ucapan selamat dan sebuah pelukan untuknya. Acara tersebut berjalan dengan sempurna. Setelah menyantap makanan utama, sekarang giliran dessert yang menjadi penutup indah untuk di nikmati bersama. Pemandangan kota dari atas yang nampak menjadi pelengkap keindahan acara tersebut.
“Malam ini kalian nginap di sini aja ya?” ujar Felicia.
Aryo dan Tiara saling bertatapan ketika mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Felicia.
“Aryo, bukannya besok kamu harus ke Lembang untuk nunjukin progress pekerjaan disana?” tanya Edi pada anak sematawayangnya itu.
“Iya, Pah. Besok Aryo harus ke sana,” jawab Aryo.
“Aku kan juga ingin lihat anak dan menantuku. Rumah ini rasanya sepi banget lho Pah,” ujar Felicia sambil menatap suaminya.
“Lain kali aja bisa, Mah. Lagian mereka nggak bawa persiapan untuk nginap,” ucap Edi menanggapi Felicia.
“Semua yang dibutuhin, ada disini. Tiara, tinggal bilang aja sama Mama, ya Sayang?” Felicia menatap menantunya diiringi kedua netranya yang berbinar.
***
Tiara dan Aryo mau tidak mau tidur di dalam satu kamar yang telah disiapkan untuk mereka. Satu jam yang lalu, para asisten perempuan di rumah ini membantu dan melayani Tiara. Apa yang ia butuhkan semuanya ada di sini. Mulai shower gel, parfum, body lotion hingga piyama untuknya.
Tiara memasuki kamar dan duduk di atas kasur setelah selesai dengan acara mandinya. Tiara tidak tahu dimana keberadaan Aryo. Mungkin pria itu masih mandi atau sedang menyelesaikan pekerjaannya yang harus diselesaikan malam ini. Setahu Tiara, besok pagi-pagi sekali Aryo harus berangkat ke stasiun.
Pintu kamar yang terbuka membuat Tiara menoleh kearah daun pintu. Ia menemukan Aryo di sana dengan stelan piyama biru dongkernya.
“Aryo, ada nggak kamar lain?” tanya Tiara dengan nada ragu.
“Ada, kamar tamu di lantai satu,” jawab Aryo setelah menutup pintunya dan berjalan ke kasur.
“Berarti gue bisa tidur di kamar itu, kan?” Tiara hendak turun dari kasur, tapi Aryo menahan tangannya.
“Nggak bisa, Tiara.”
“Kenapa nggak bisa?”
“Mama di bawah masih nonton tv, beliau belum ke kamar. Lo mau turun ke bawah dan dapat pertanyaan dari mama?”
Tiara menghela napasnya panjang.
“Lagian mama ada benernya, nyuruh kita untuk nginap,” cetus Aryo.
“Gimana lo bisa bilang kayak gitu,” ucap Tiara dengan nada kurang setuju.
“Kalau kita kayak gini terus, gimana caranya kita bisa punya anak?”
Astaga, Tiara melupakannya. Padahal dirinya sendiri yang kekeuh dari kemarin mengenai hal itu.
“Kalau kita punya anak, apa itu akan buat posisi lo di perusahaan semakin kuat?” tanya Tiara.
“That's right,” jawab Aryo diiringi sebuah anggukan.
“Kalau lo dapetin itu, gue juga ingin dapetin hal yang sama sebagai gantinya. Gue mau lo ngabulin satu permintaan gue, sebelum kita bercerai.”
***
“Ram, kita masih punya waktu berapa menit lagi?” tanya Aryo pada Rama.
“Kurang lebih tiga puluh menit lagi sebelum keretanya berangkat Bos,” jawab Rama.
“Oke, wait gue mau ke sana dulu,” ucap Aryo pada asistennya itu.
Rama mengiyakan ucapan Aryo dan melihat pemandangan di depannya saat ini. Aryo berjalan menghampiri sosok perempuan yang merupakan istrinya itu.
Ketika Aryo berhadapan dengan Tiara, ia membungkukkan sedikit badannya, lalu menghela torso perempuan itu untuk berada di dekapannya.
“Kenapa? Ada yang ketinggalan?” tanya Tiara.
Tangan Tiara yang semula berada di sisi tubuhnya pun bergerak perlahan untuk membalas pelukan Aryo.
“Keretanya udah mau berangkat kan?” tanyaTiara ketika Aryo belum juga melepaskan pelukan mereka.
“Sebenernya gue sama Rama masih harus nunggu klien yang berangkat bareng kita,” jelas Aryo.
“Tapi sebentar lagi keretanya berangkat, Aryo.”
Aryo tersenyum. “Masih tiga puluh menit lagi keretanya, Ra. Gue udah lumayan kenal juga sama kliennya.”
Tidak lama kemudian, orang yang ditunggu menghampiri Aryo dari arah yang berlawanan.
“Maaf yaa gue telat. Gue kira kita naik dari gerbong yang disana. Oh hai, Tiara ya? Lo masih inget gue nggak?” Perempuan itu menyapa Tiara dengan sebuah senyuman di bibir merah ranumnya. Perempuan itu hanya membawa tas tangannya sedangkan seorang asisten laki-laki di balik punggungnya membawakan dua buah koper berukuran sedang.
“Gue inget lo kok. Lo cuma mantannya suami gue,” ucap Tiara dengan santai.
“Kita harus berangkat sekarang,” ucap Aryo.
Tiara menoleh pada Aryo yang memecah topik pembicaraannya dengan Aurorae. Tiara melemparkan tatapan sebalnya atas perlakuan Aryo yang menurutnya sedikit tidak adil padanya. Bagaimana pun Tiara harus membungkam mulut mantan kekasih suaminya itu dengan mulutnya sendiri.
“Tiara, gue udah minta tolong sama Erza buat jemput lo disini. Lo pulang sama dia ya,” ucap Aryo pada Tiara dan gadis itu hanya bisa menahan keinginannya untuk melawan Aurorae. Tiara mengulas senyumnya, ia menatap Aryo lalu mengambil tangan pria itu dan menciumnya di sana.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷