For Our First Night

Tepat dua minggu lagi, pernikahan Aryo dan Tiara akan dilaksanakan. Berbagai persiapan pun dilakukan dan sudah 90% selesai. Namun terdapat beberapa hal yang perlu Tiara dan Aryo diskusikan dan lakukan bersama. Rasanya sampai di titik ini, Tiara masih tidak menyangka. Lelaki yang akan dinikahinya adalah laki-laki yang menabrak motornya, yang ia tolong malam itu di bar, dan yang mengambil ciuman pertamanya. Fakta yang terakhir adalah, pria itu merupakan keturunan keluarga Brodjohujodyo, sekaligus calon pewaris Harapan Jaya Group yang selanjutnya. Mungkin ini yang disebut kebetulan untuk membalas dendam dengan cara yang cukup halus.

Jam 12 siang ini, Aryo akan menjemput Tiara di kampus setelah kelas terakhir mata kuliahnya. Beberapa orang telah mengenali identitasnya sebagai calon istri Aryo Bimo. Saat ini, para mahasiswi di fakultasnya sedang menghebohkan seorang calon penerus Harapan Jaya yang akan menjemput tunangannya yang berkuliah di kampus mereka. Tiara tidak tahu berita kedatangan Aryo ke fakultasnya tersebut menyebar dari mana, yang jelas kabar itu tersebar luas dengan sangat cepat.

“Lo nggak turun, Ra? Calon suami lo di bawah kan jemput lo?” tanya Latisha, teman sekelasnya yang masih berada di kelas ; disaat semua mahasiswa sudah berebut lift untuk turun.

Mungkin cewek-cewek dari kelasnya salah satu dari sekian banyak yang ingin melihat secara langsung, si pewaris Harapan Jaya tersebut. Dibawah sana, sepertinya sudah terjadi hiruk pikuk manusia yang ingin melihat sosok Aryo Bimo Brodjohujodyo dengan mata mereka sendiri.

“Ini gue mau turun kok. Gue duluan ya Tish, bye!” ujar Tiara sebelum ia berlalu dari hadapan Latisha.

***

Tiara berhasil masuk ke mobil setelah melewati jalur tersembunyi. Salah satu bodyguard Aryo menjemputnya dan melindunginya dari kerumunan massa. Gerombolan tersebut dikelabuhi dan akhirnya mereka dapat selamat dari terpaan orang-orang itu.

“Gimana mereka bisa tau lo ada di sini?” tanya Tiara pada Aryo yang kini duduk di sampingnya. Mereka dalam perjalanan dengan mobil yang Tiara duga, mobil inilah yang ikut menjadi andil suasana heboh siang ini di kampusnya.

Aryo menurunkan kacamata aviator abu-abu yang bertengger di pangkal hidungnya. Kemudian pria itu menoleh untuk menatap Tiara. “Gue nggak tahu soal itu. Tapi sekarang lo aman, kan?” ucap Aryo sembari menaikkan sebelah alisnya.

“Lo tau, satu kampus gue heboh karena kedatangan lo,” ucap Tiara. Bagaimana bisa pria itu berpikir menjemputnya ke kampus dengan mobil yang sangat mencolok seperti ini. Tentu itu akan semakin mengundang perhatian ketika sebuah tesla memasuki area fakultasnya.

Bodyguard gue cukup handal untuk situasi kayak gini, Tiara. Jadi lo nggak perlu khawatir,” ucap Aryo. Tiara sukses melongo dibuatnya. Sepertinya ia harus membiasakan diri dengan apapun yang bisa saja terjadi ketika ia sedang bersama Aryo Bimo.

***

Aryo mendorong troli belanjaan dengan Tiara yang berjalan di sisinya. Ketika melewati area kasir, Tiara merasa Aryo tidak berada di sampingnya. Ia pun menoleh ke belakang dan menemukan pria itu memasukkan satu barang ke troli ; yang diambilnya dari etalase yang terletak di dekat kasir.

Tiara melihat barang tersebut dan mendapati benda dengan kemasan berwarna ungu yang berukuran tidak terlalu besar itu.

“Ngapain beli ini?” tanya gadis itu setelah melihat dengan jelas dan menemukan bahwa benda itu adalah alat kontrasepsi.

For our first night,” ucap Aryo dengan tampang lempengnya. Kemudian pria itu memasukkan satu tangannya ke saku celananya dan kembali mendorong trolinya. Hari ini Aryo mengenakan stelan formal, yakni kemeja putih yang dilapisi tuxedo hitam yang nampak licin, celana bahan hitam, dan tidak lupa kacamata aviatornya yang ia sematkan di atas kepalanya. Penampilan Aryo yang sedemikan rupa itu, berhasil membuat para pengunjung di supermarket rela menghabiskan lima detik mereka—untuk sekedar menatap ke arah pria tinggi dan gagah itu.

Can you repeat your words?” tanya Tiara sambil menatap Aryo dengan tatapan beraninya.

For our first night, Tiara.” Aryo mengulangi ucapannya, kali ini dengan penekanan pada setiap kata-katanya.

We will never do that,” ucap Tiara cepat.

Aryo menatap Tiara tepat di iris matanya dan mencondongkan tubuhnya untuk mendekat. “We will see,” ucap Aryo pelan, namun Tiara dapat sangat jelas mendengar kalimat pria itu.

Aryo kembali mendorong trolinya dan berjalan meninggalkan Tiara beberapa langkah di belakangnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷