Happiness is About You Fight For It

Usia kandungan Karin saat ini telah memasuki 39 minggu. Sebelumnya Aryan dan Karin memang telah berencana untuk menggunakan metode water birth untuk kelahiran anak pertama mereka. Setelah melakukan konsultasi dengan dokter dan mendapat berbagai pertimbangan, akhirnya Karin dan Aryan sepakat agar menggunakan metode tersebut untuk proses persalinan.

Karin sudah merasakan kontraksi di perutnya sejak tadi malam. Hingga saat pagi hari tiba, begitu tenaga medis membantu mengecek, ternyata pembukaan jalan lahir sudah sampai ke pembukaan 4. Berbagai persiapan pun segera dilakukan. Sekitar pukul delapan pagi, 2 orang tenaga medis serta 1 dokter sudah siap membantu Karin untuk melakukan persalinannya.

Di lantai satu rumah mereka, sudah disediakan sebuah bak air yang telah diisi dengan air hangat yang dipastikan steril. Tempat persalinan pun harus dibuat senyaman mungkin, dengan tujuan membuat sang ibu dapat lebih rileks saat menghadapi rasa sakit dari proses melahirkan.

Karin masih berada di kamarnya, ia baru saja selesai mengganti dress tidurnya dengan sebuah sport bra hitam dan sebuah handuk yang melilit pinggangnya. Aryan berada di sana bersama Karin, selalu berada di sisinya dan berusaha menenangkannya.

“Kak,” ujar Karin pelan. Karin duduk di tepi ranjang dan Aryan berdiri di hadapannya. Karin lantas mendongakkan kepalanya untuk dapat menatap Aryan.

“Kenapa, Sayang?” balas Aryan kemudian, tatapannya begitu teduh dan lembut menatap Karin.

“Aku takut, Kak. Semuanya bakal baik-baik aja, kan?” tanya Karin.

Meskipun Aryan memiliki kekhawatiran yang sama dengan Karin, ia akan berusaha untuk tidak memperlihatkan itu di hadapan istrinya.

“Kalau kamu takut, itu wajar, Sayang. Ini momen pertama buat kamu. Tapi kamu tau, hari ini akan jadi hari yang spesial buat kamu dan juga buat aku. Anak kita akan lahir, kamu senang kan mau ketemu sama dia?” tutur Aryan lembut.

Karin perlahan-lahan akhrinya mengangguk. Perkataan Aryan terasa benar di hatinya. Tidak masalah saat merasa takut, itu hal yang wajar. Karin memiliki sosok yang menguatkannya, Aryan dan anak mereka. Selain itu, rasa cinta Karin pada anaknya melebihi rasa cintanya terhadap dirinya sendiri. Begitulah sejatinya seorang ibu, sesakit apapun akan tetap dilalui demi sang buah hati.

Detik berikutnya, Karin segera bergerak dari posisinya. Karin berdiri dan sedikit berjinjit untuk meraih Aryan ke dalam pelukannya. Dalam dekapan tersebut, Karin selalu dapat merasa nyaman dan tenang. Aryan adalah rumah baginya.

Beberapa detik kemudian akhirnya pelukan mereka terurai, Aryan menatap Karin sembari berujar, “Satu hal yang kamu harus tau, Sayang.” Aryan mengarahkan tangannya untuk menangkup kedua sisi wajah Karin, ia menatap wanitanya dengan tatapan penuh afeksi. “Aku ada sini terus sama kamu. Kamu pegang tangan aku ya,” sambung Aryan.

***

Bak air yang berukuran cukup besar itu menjadikannya sangat cukup untuk ditempati oleh Karin dan Aryan. Sudah sekitar 2 jam lebih Karin menghadapi rasa sakit dan berjuang melahirkan anak mereka. Aryan berada di belakang Karin, mendekap tubuh wanitanya, dan selalu memberikannya semangat.

Dua orang tenaga medis pun turut membantu Karin, beberapa kali mengecek ke bagian bawahnya untuk memastikan kondisi si bayi. Saat sudah mencapai pembukaan sepuluh, seorang dokter lantas memberi Karin instruksi untuk mengejan. Karin diarahkan untuk mengambil napas, lalu menghembuskannya, dan melakukan dorongan semampunya dengan perlahan-lahan.

Beberapa kali juga, Karin merubah posisinya untuk mendapat spot ternyaman. Kali ini Karin ingin menghadap Aryan. Karin membutuhkan lelaki itu untuk menguatkannya. Dengan posisi berhadapan dan saling berpelukan ringan, kini Karin tengah menyandarkan kepalanya di dada bidang Aryan, mencari kenyamanan dan kekuatan di sana.

Aryan sesekali memberikan kecupan di kening Karin dan mengusap peluh yang membanjiri pelipisnya. Aryan kemudian berujar pelan di dekat Karin, “Sayang, kamu pasti bisa laluin rasa sakit ini. Kamu perempuan hebat dan kuat. I love you.”

Mata Karin yang memang sebelumnya sudah berkaca-kaca, saat mendengar kalimat yang diutarakan oleh Aryan, seketika membuat tangisnya pecah. Rasa sakit akibat proses melahirkan bercampur rasa cinta yang Aryan berikan padanya, akhirnya tidak kuasa membuat Karin menahan lagi tangisnya.

Tiga puluh menit berlalu setelah itu, dengan perjuangan yang begitu luar biasa, akhirnya suara tangis bayi terdengar begitu kuat terdengar memenuhi ruangan tersebut. Karin telah berhasil melahirkan anaknya. Dengan kedua lengannya, Karin lantas memeluk putranya untuk yang pertama kali. Karin masih berada di dalam di dekapan Aryan, membuat lelaki itu kini dapat merengkuh dua dunianya yang begitu berharga. Mereka memandangi wajah anak mereka bersama, bahkan tangis Aryan pecah juga saat menyaksikan anaknya menatap ke arahnya.

Karin mengusapkan ibu jarinya perlahan di pipi lembut anaknya, lalu ia berujar, “Hai, anak Mama dan Papa.” Karin lalu mendongak, mempertemukan netranya dengan Aryan, “Sayang, liat. Hidungnya mirip kamu banget,” ujarnya.

Aryan lantas mengulaskan senyum lebarnya, lalu dengan gerakan lembut, Aryan menyematkan sebuah kecupan di pipi anaknya. Bayi lelaki yang berada di dalam pelukan kedua orang tuanya itu memiliki kedua mata yang begitu mirip dengan mamanya, tapi sisanya hampir semua mengambil gen dari papanya. Bentuk hidung mancungnya persis seperti milik Aryan, bibirnya juga persis dengan milik lelaki itu.

Karin telah melewati perjuangan yang begitu besar untuk melahirkan anak pertamanya, dan pengalaman ini tentunya tidak akan Karin dan Aryan lupakan. Karin merasa begitu utuh dan sempurna menjadi seorang perempuan yang bisa melahirkan seorang nyawa baru ke dunia.

Setelah proses pengeluaran plasenta yang nyatanya lebih sakit dari proses melahirkan itu sendiri, Karin pun diperbolehkan untuk beranjak dari bak air. Namun tepat sebelum itu, posisi Karin yang berhadapan dengan Aryan, memudahkannya untuk memberikan kecupan di bibir lelakinya. Netra Aryan melebar selama beberapa detik karena terkejut mendapati serangan mendadak dari Karin, tapi ia segera beralih untuk membalas ciuman itu. Adegan tersebut mau tidak mau disaksikan oleh tenaga medis dan dokter yang masih berada di sana. Mereka otomatis mengulaskan senyum terharu sekaligus bahagia, menyaksikan dua sejoli bersatu dalam ikatan cinta yang begitu kentara.

Setelah ciuman itu akhirnya terurai, Aryan mendekatkan Karin padanya, memangkas jarak yang ada di antara mereka, tapi tidak sampai habis seperti biasanya. Kini ada kebahagiaan baru yang tengah hadir di antara keduanya, yakni bayi lelaki tampan yang mereka beri nama Svarga Tarendra Brodjohujodyo. Svarga memiliki arti surga dalam bahasa sanskerta. Tarendra memiliki arti pangeran bintang, dan Brodjohujodyo adalah nama keluarga yang memang diwariskan untuk keturunan-keturunan selanjutnya.

Aryan dan Karin sengaja memilih nama Svarga, karena bagi mereka, Svarga merupakan anugerah selayaknya surga yang sebelumnya telah mempersatukan cinta mereka.

Svarga (dibaca) : Varga

***

Setelah hampir satu jam lebih memejamkan matanya, Karin akhirnya terbangun dari tidurnya. Tubuhnya terasa jauh lebih baik saat ini. Energi Karin seperti diisi ulang kembali, setelah melewati lelah letihnya sebuah proses melahirkan.

Ketika Karin menyandarkan punggungnya ke header kasur di kamar, ia mendapati Aryan membuka pintu kamar dengan menggendong anak mereka di dalam dekapan lelaki itu.

Aryan segera mendekat pada Karin, masih dengan menimang pelan Svarga di gendongan, keduanya pun menatap wajah Svarga bersamaan.

“Anteng banget kamu, Nak. Di gendong siapa sih emangnya?” ujar Karin sembari menjawil pelan pipi halus Svarga.

Detik berikutnya, Karin mendongakkan kepalanya untuk mempertemukan netranya dengan netra Aryan.

“Karin,” ujar Aryan kemudian.

“Iya Kak?”

Wajah Aryan yang semula nampak biasa saja, kini air mukanya berubah sedikit memerah dan terlihat kilatan bening di kedua bola mata tersebut. Aryan lantas bergerak mengambil posisi di tepi ranjang, ia duduk di sana.

“Terima kasih ya, kamu udah melahirkan Svarga,” ucap Aryan sembari tidak melepaskan pandangannya dari Karin. Aryan lantas mengulaskan senyum bahagianya, ia menatap Karin dengan pancaran cinta yang begitu dapat dirasakan oleh Karin sendiri.

Karin masih terdiam di tempatnya mendapati kalimat Aryan. Beberapa detik berlalu, Karin pun mengalihkan pandangannya dari Aryan. Karin lantas meletakkan tangannya di atas tangan Aryan yang tengah mendekap Svarga.

“Kak, aku juga terima kasih sama kamu. Tanpa kamu, mungkin aku nggak akan bisa sekuat ini untuk melahirkan Svarga. Perjuangan aku yang berhasil melahirkan Svarga, di dalamnya ada peran kamu yang besar banget. Makasih ya,” tutur Karin.

Detik berikutnya, mereka bersamaan mengulaskan senyum simpul. Aryan dan Karin telah berhasil mewujudkan kebahagiaan untuk mereka, dan juga surga yang sejak awal telah mempersatukan keduanya. Aryan dan Karin belajar untuk saling mencintai setelah di awal mereka pernah sama-sama dihancurkan oleh keadaan. Namun berkat usaha dan tekad kuat keduanya, Aryan dan Karin telah berhasil mewujudkan kebahagiaan yang mereka impikan sebelumnya.

Svarga

Mom and Baby Hand

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷