Hari Perayaan Kelulusan
Ballroom hotel dengan nuansa putih dan krem itu di penuhi oleh ratusan wisudawan. Tiara menjadi salah satu di antaranya. Ia di dampingi oleh dua orang tersayangnya, Aryo dan Bunda. Sebenarnya hari ini support systemnya datang lengkap. Namun untuk acara inti, pendamping yang masuk ke ballroom jumlahnya memang dibatasi. Jadi ayahnya, adiknya, dan kedua mertuanya akan datang menyusul nanti untuk acara penutupan.
Tiara nampak cantik menggunakan kebaya berwarna hitam dan rol batik di batas mata kaki. Sebuah topi toga menghiasi kepalanya dan rambut coklat legamnya di curly, sederhana tapi tetap kelihatan anggun.
Tiara menoleh ke samping kanannya. Satu tangannya meraih tangan Aryo di pangkuan, lalu mengenggamnya. Ia menatap suaminya sekilas dan senyuman di terukir di wajahnya.
Di samping kirinya, Alifia menatap putri sulungnya dengan tatapan terharu.
“Kak, Bunda bangga banget sama kamu,” ujar Alifia. Tiara balas menatap bundanya, seseorang yang merawatnya dan mengasihinya dengan tulus. Meskipun ia tidak lahir dari rahim wanita itu.
“Bun, makasih untuk semua yang Bunda berikan buat Tiara,” ucapnya.
Sessat setelah itu, dari panggung besar di depan, nama lengkap Tiara di panggil. “Mutiarani Ivanka Lubis, gelar Sarjana Ilmu Komunikasi, meraih predikat cumlaude. Dipersilakan untuk menuju ke atas panggung,” suara pembawa acara terdengar memenuhi ruangan.
Tiara beranjak dari kursi dan melangkahkan kakinya, melewati para wisudawan lainnya, hingga sampai dirinya di atas panggung. Rektor Fakultas Komunikasi memberinyasertifikat penghargaan kelulusan, mengalungkan medali wisuda, serta ucapan selamat. Setelah tali toga di sampirkan ke kanan dan sesi foto bersama jejeran dekan dan rektor, Tiara melangkahkan kakinya untuk turun dari panggung.
Sesampainya Tiara di kursinya, ia menatap Alifia dan Aryo secara bergantian, “I did it, Bun. Sayang, I did it,” ucapnya sembari menunjukkan sertifikat dan medali toganya.
Alifia lantas merengkuhnya ke pelukan, “Ayah dan bunda pasti bangga sekali sama Michelle,” bisik Alifia pelan. Tiara mengangguk dan tersenyum. Meskipun Erlangga dan Clarissa tidak ada di sini, Tiara yakin orang tuanya ikut bahagia menyaksikannya apa yang telah ia capai.
Saat Alifia mengurai pelukannya, Tiara mendapati bundanya dan Aryo menatapnya dengan kedua mata yang nampak berkaca-kaca. Rasanya masih seperti mimpi bagi Tiara, dua orang tersayangnya kini menatapnya dengan bangga. Ia bisa memberikan sesuatu yang membuat mereka tersenyum bahagia.
Aryo sambil menggenggam tangannya, lalu pria itu mengusapkan ibu jarinya di sana, “You did it very well and I'm so proud of you. Selamat yaa, Sayang. Akhirnya kamu bisa wujudin apa yang jadi impian kamu.”
***
Ada sesi foto-foto dan penampilan dari para bintang tamu di penghujung acara. Selain mengundang beberapa penyanyi, band kampus membawakan dua buah lagu. Tiara mengatakan pada Vania, Wilda dan Cici bahwa dirinya ingin mencari seseorang. Sedari tadi memang Tiara belum bertemu dua orang itu.
Di antara ratusan orang yang ada di sana, setelah Tiara berusaha mencari, akhirnya ia menemukan Akmal lebih dulu. Tiara menghampirinya dan mengucapkan selamat.
“Mal, selamat ya atas kelulusan lo. Dengan segala kesibukan BEM, lo bisa tetap ngejar impian lo, lulus cumlaude. I'm a proud best friend,” ucap Tiara ketika tangannya berjabat dengan Akmal.
“Same like you. I'm very proud of you, Ra. Selamat ya atas gelar dan semoga ilmu kita bermanfaat di kemudian hari,” ujar Akmal.
Tiara mengangguk “Eh, kita belum foto berdua. Lo mau nggak foto sama gue?” tawar Tiara.
“Beneran nggak papa gue foto sama lo?”
“Loh, emangnya kenapa? Gue udah foto sama Vania and the geng. Sama keluarga gue juga udah tadi. Tinggal sama lo Mal. Masa kita nggak foto sih,” cerocos Tiara.
“Yaa gue takut ada yang cemburu aja nanti.”
Mendengar penuturan Akmal itu Tiara mau tidak mau tertawa. “Enggak, tenang aja,” ucap Tiara. Akhirnya Akmal setuju dan mereka pun mencari tempat yang cukup bagus untuk berfoto. Karena di dalam aula cukup ramai, mereka berjalan sedikit keluar dan menemukan spot yang bagus di koridor bangunan hotel ini.
Untuk mengambil fotonya, Cici bersedia menjadi fotografer mendadak bagi Tiara dan Akmal. Mereka pun mendapatkan jepretan berdua. Akmal mengatakan akan mengirim hasil fotonya nanti pada Tiara.
“Cie foto berdua sama mantan crush,” celetuk Cici pelan di dekat Akmal.
Akmal melebarkan matanya dan menoleh menatap Cici. Pandangannya meminta penjelasan atas ucapan perempuan itu. “Lo tau dari mana?” tanya Akmal pad Cici.
“Udah rahasia umum kali Mal, lo crush in Tiara. Gila ya, primadona banget Tiara. Selain lo, si Rafael juga pernah crush-in Tiara. Bayangin, Rafael. Si cassanova dan playboy kampus.”
“Guys, thank you ya for today,” ucap Tiara yang seketika membuat Cici dan Akmal menghentikan ucapan mereka. Akmal segera mengalihka tatapannya ke arah lain.
“Iya, Ra, sama-sama. Congrats juga ya buat lo,” Cici membalas pelukan Tiara. “Gue bakal kangen sama kalian, meet up ya kapan-kapan janagn lupa temen lo semua,” ujar Cici pada yang lainnya juga.
Tiara berpamitan untuk pulang lebih dulu pada Vania, Wilda, Risa, Cici dan beberapa teman-temannya yang lain.
“Jangan lupa kita ad after party lho guys. Pada dateng ya, undangannaya gue kirim di grup,” seru Wilda.
“Siap, pasti dateng lah,” sahut Farhan.
“Lo mah party aja, paling kenceng nyautnya,” celetuk Risya.
“Tiaraa lo udah mau pulang yaa Beb?” tanya Wilda yang terakhir salaman sama Tiara.
“Kasian juga bumil berdiri lama, dedeknya nanti cape nih,” celetuk Cici yang ikutan nimbrung.
“Ohiya, pangerannya udah nungguin, Wil,” timpal Cici lagi. Dari balik punggung dua sahabatnya, Tiara mendapati sosok Aryo yang tengah berjalan ke arahnya.
“Bye guys, gue duluan ya. Pangeran gue udah dateng tuh,” ucap Tiara. Sebelum Aryo sampai di hadapannya dan sahabatnya, Tiara menjulurkan lidahnya meledek Wilda dan Cici.
Seketika dua sahabatnya berbalik dan benar saja. Wilda dan Cici mendapati sosok tampan yang disebut Tiara sebagai pangerannya di tengah-tengah mereka, seketika melebarkan matanya.
Aryo sempat menyapa kedua sahabatnya sebelum akhirnya Tiara pamit dari sana. Wilda dan Cici menyaksikan bagaimana Aryo menggenggam tangan Tiara dan memerhatikan agar Tiara berjalan di sisinya.
“Wil, anjir. Gue jadi mau nikah Wil,” spontan Cici begitu punggung Aryo dan Tiara sudah tidak nampak di pandangan mereka.
“Kerja dulu woy. Nikah nggak gampang kali, butuh biaya banyak.”
“Yaa, tau. Tapi kayak enak banget gitu lho nikah. Ada yang perhatian dan manjain lo. Rezeki kan nggak kemana Wil, bisa di cari juga seiring berjalannya waktu,” kilah Cici.
“Iya, rezeki emang bisa di cari. Mungkin bicara gampang, dan berlaku buat yang udah keturunan konglomerat . Nggak akan kemana-mana tuh hartanya sampai tujuh turunan sekalipun Ci,” ujar Wilda.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷