Hati dan Pikiran yang Tidak Sejalan

Dara sedang mengecek pesan masuk dari email yang ia khususkan untuk urusan pekerjaan Karin. Kedua mata Dara memindai satu persatu deretan pesan itu, berharap mendapat balasan berupa kabar baik. Namun harapan Dara seketika sirna kala membaca isi balasan itu. Beberapa brand mengajukan pembatalan kontrak untuk bekerja sama dengan Karin. Selain itu, sekitar lebih dari 30 puluh approaching brand untuk endorse yang sebelumnya telah diajukan, batal ketika sampai di tahap dealing.

Dara menghela napasnya sejenak sebelum mengambil ponselnya dan mendial nomor Karin. “Halo Rin,” ucap Dara begitu sambungannya telah terhubung dengan Karin.

Karin yang berada di lokasi yang berbeda dengan managernya itu, dapat langsung menebak kabar apa yang akan Dara sampaikan. Helaan napas berat Dara, seolah sudah dapat menjelaskan semuanya.

“Kita masih punya kesempatan buat approaching sama brand lain. Don't be worry, oke? Nanti malam gue apart lo. Lo lagi craving apa gitu kira-kira? Bilang aja, nanti sekalian gue bawain,” ucap Dara dengan nada ceria khasnya. Dara berusaha untuk membuat keadaan nampak baik-baik saja di mata Karin.

“Dar, gue minta maaf ya. Selama ini lo udah kerja keras untuk karir gue, tapi gue malah bikin semuanya berantakan.”

“Lo ngomong apa sih, Rin. Denger ya,” Dara menjauhkan ponselnya sejenak dari Karin, berusaha menahan isakan kecil yang hampir saja lolos dari bibirnya.

Tidak sampai lima detik berikutnya, Dara kembali berbicara dengan Karin, “Apa pun yang terjadi sama lo, gue akan selalu ada buat lo, Karin. Lo harus inget itu.”

***

Di tempatnya saat ini, Karin baru saja mengakhiri sambungan telfonnya dengan Dara. Karin lekas memasukkan barang-barangnya ke dalam tote bag miliknya. Hari ini Karin telah resmi kehilangan gelar mapres (Mahasiswi Berprestasi) miliknya setelah pihak kampus mengetahui fakta bahwa dirinya hamil di luar nikah. Namun di antara banyak hal berat yang datang kepadanya, Karin berusaha mensyukuri kebaikan yang masih terjadi padanya. Seperti sian ini misalnya, dosennya memberi tahu bahwa tidak ada kelas dan hanya memberikan tugas individu yang dikumpulkan 3 hari lagi. Jadi Karin bisa langsung pulang ke apartemennya dan beristirahat.

Semenjak dirinya mengandung, Karin merasa jadi lebih cepat lelah. Belum lagi mual-mual yang ia alami telah menganggu konsentrasinya selama berada di kelas.

Karin melangkahkan keluar dari lift dan sampai di lobi gedung. Matanya pun segera menangkap sosok Rey yang berjalan ke arahnya. Hari ini Karin dan Rey memang sudah berencana untuk pergi berdua.

“Rey, kita date-nya di apart aku aja ya. Nggak papa, kan?” tanya Karin.

It's oke. Dara ada rencana mau ke apart kamu nggak?”

“Tadi bilangnya sih mau ke apart, tapi agak maleman. Soalnya Dara masih ada kuliah sampai jam 6,” terang Karin.

Alright. Kira-kira malam ini Dara bisa nginep di apart kamu?”

“Masih ada beberapa kerjaan sih di studio. Mungkin Dara mau nginep. Kenapa kamu nyuruh Dara nginep?”

“Buat temenin kamu di apart.”

“Rey, kenapa kita ke parkiran mobil? Kamu biasanya ke kampus bawa motor,” ucap Karin saat baru sadar bahwa dirinya dan Rey tengah berjalan ke arah parkiran mobil.

“Iya, hari ini aku bawa mobil,” ujar Rey. Sesampainya mereka di depan sebuah Honda HRV berwarna putih, Rey segera membukakan pintu penumpang di samping supir dan mempersilakan Karin untuk masuk. Karin pun bergerak untuk masuk ke dalam mobil itu. Setelah Karin duduk di jok mobil, hatinya seketika membatin. Karin pun akhirnya mengerti apa yang sedang coba Rey lakukan untuknya.

***

Rey memperhatikan kedua mata Karin yang kini tampak sayu. “Kamu ngantuk ya?” tanya Rey. Setelah masak dan makan bersama, kegiatan kencan sederhana mereka hari ini dilanjut dengan menonton siaran netflix dari TV di ruang tamu apartemen Karin. Film yang berdurasi 2 jam itu baru saja berakhir dan Rey bergerak menekan tombol off pada remote control.

“Rey,” ujar Karin.

“Ya?”

Karin mengulaskan senyum kecilnya, “I just want to say that I love you.”

Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Karin, lekas membuat Rey memamerkan senyum lebarnya. Rey pun menggerakkan tangannya untuk mengusap kepala Karin. Ia menatap Karin dengan tatapan penuh afeksinya, lembut, dan terasa begitu teduh. Karin hanyut mendapatkan setiap perlakuan yang Rey tujukan padanya.

Karin mengambil tangan Rey, lalu mengenggamnya, “Everything happened and knowing that I still have you in my life after everything happened, made me feel so grateful, Rey.”

“Aku juga bahagia karena aku memiliki kamu, Karin,” balas Rey.

Setelah beberapa detik keduanya hanya saling bertatapan, Rey kini kembali berujar, “Karin, aku mau ngomong sesuatu yang penting sama kamu.”

“Kamu mau bilang apa?” Kini Karin menopang satu sisi wajahnya menggunakan tangan, menatap Rey dalam-dalam. Selama Karin masih menatapnya seperti itu, Rey tahu bahwa Karin sungguh mencintainya.

“Aku mau menikahi kamu,” ucap Rey dengan nada yakinnya.

Tiga detik berlalu dan perkataan Rey itu masih setia membuat Karin terdiam. Karin tidak tahu bagaimana harus menanggapi empat kata yang baru saja Rey ucapkan.

“Rey, kamu becanda—”

Sebelum Karin menyelesaikan kalimatnya, Rey kembali berbicara, “Aku serius, Karin. Aku nggak ingin liat kamu hadapin semuanya sendiri. Aku mau ada di samping kamu.”

Rey pun menjelaskan walau ia bukan ayah biologis dari anak yang dikandung Karin, ia mencintai anak itu dan menganggap anak Karin sebagai bagian yang penting dari dirinya.

“Rey, kamu tau kalau orang tua kamu nggak setuju. Aku nggak ingin kamu melakukan sesuatu yang dilarang sama mereka. Mereka yang udah membesarkan kamu, Rey.” Karin berusaha untuk mengatakannya, meskipun secara bersamaan hatinya ikut terasa sakit.

Rey menggelengkan kepalanya, kemudian ia mengambil kedua tangan Karin. Rey menggenggam tangan Karin sembari menatap perempuan itu dengan tatapan sayangnya. “Karin, aku akan berjuang untuk dapatin restu dari orang tuaku. Aku mau tetap sama kamu dan selalu jagain kamu. Kamu mau kan, nunggu aku buat nikahin kamu?”

Karin menatap Rey sesaat, sebelum akhirnya ia menganggukkan kepala. Namun tidak bisa dipungkiri oleh Karin bahwa pikirannya mengatakan hal lain yang berbanding terbalik dengan hatinya. Hati dan pikirannya kini terasa tidak sejalan. Kemungkinannya sangatlah kecil baginya dan Rey untuk bisa bersatu dengan kondisinya saat ini. Karin sungguh mencintai Rey dan ingin hidup bersamanya. Namun situasi yang terjadi telah mengakibatkan keadaannya jauh berbeda dari sebelumnya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷