Hati yang Berdesir Hangat
Satu minggu telah berlalu sejak Karin meminta maaf pada Aryan dan lelaki itu juga telah menyadari kesalahannya. Keduanya sudah saling berdamai dan memutuskan untuk berkompromi dalam urusan yang berhubungan dengan anak mereka ke depannya.
Menekan ego tidak akan membuat seseorang mencapai tujuan yang baik. Justru sebaliknya, ego yang tidak bisa dikendalikan dapat menghancurkan satu sama lain. Aryan maupun Karin sama-sama belajar dari itu.
Pagi ini ketika matahari bahkan masih terlelap di peradabannya, Karin harus menghadapi morning sickness-nya. Rasanya hampir separuh isi perutnya kini sudah mengalir bersama air di wastafel. Kedua lutut Karin seketika lemas dan kepalanya terasa pusing. Usai dirasa tidak ada lagi yang ingin dikeluarkan, Karin mengambil tisu untuk mengusap sisa air bilasan di sekitar bibirnya.
Karin yang melihat Aryan mengambil gelas dan merebus air, lekas berjalan menghampiri lelaki itu. Karin berdiri di samping Aryan dan saat Aryan menoleh padanya, Karin bertanya, “Kak, kamu mau bikin apa?”
“Aku bikin teh chamomile buat kamu,” ucap Aryan.
Karin lantas mengangguk dan mengulaskan senyum kecilnya. Aryan pun meminta Karin untuk menunggu di sana dan selesai menyeduh tehnya, lelaki itu akan membawakannya untuk Karin.
Sesampainya Karin di ruang tamu, ia mendaratkan dirinya di sofa. Mata Karin terpejam dan otomatis jemarinya memijat pelipisnya saat rasa pening itu kembali menyerangnya.
Tidak lama kemudian, begitu mendengar derap langkah kaki, Karin segera membuka matanya dan mendapati Aryan di hadapannya membawakan secangkir teh.
“Masih pusing?” tanya Aryan.
Karin menjawab Aryan dengan sebuah anggukan lemah. Karin melihat Aryan menaruh cangkir tehnya di meja di dekat sofa, lalu Aryan melenggang dari hadapannya dan mencari sesuatu di nakas samping TV.
Aryan kembali pada Karin dan menyerahkan sebuah benda kecil dari tangannya. “Kamu pakai ya, biar pusingnya reda,” ujar Aryan. Karin pun memakai minyal aroma terapi dengan wangi laveder itu sekitar pelipisnya dan sedikit di bagian tengkuk. Rasa hangat dan wangi yang menenangkan itu seketika membuat Karin merasa lebih rileks dari sebelumnya.
“Hari ini kamu ada kuis atau presentasi di kampus?” tanya Aryan. Lelaki itu mengambil tempat di samping Karin, matanya menatap Karin dengan tatapan khawatir.
“Nggak ada,” jawab Karin. “Kenapa emangnya?”
“Kalau nggak ada, kamu istirahat aja. Nggak usah ke kampus dulu hari ini,” saran Aryan.
Karin kembali meletakkan cangkirnya setelah meminum tehnya. Karin tahu dari tatapannya, Aryan benar-benar peduli dan tulus terhadap anaknya. Karin melihat sisi lain dari seorang Aryan yang sebelumnya tidak pernah ia lihat dengan matanya sendiri.
“Karin?” panggilan Aryan seketika menyadarkan Karin dari lamunannya.
“Iya, hari ini aku di istirahat di apart aja,” putus Karin.
“Kak,” ujar Karin saat Aryan hendak beranjak dari posisinya. Lelaki itu akan membawa cangkir bekas minum Karin ke dapur.
Aryan lantas berbalik menghadap Karin, “Kenapa?”
“Makasih ya. Aku tau kamu benar-benar tulus dan dan sayang sama anak ini,” ujar Karin.
Samar-samar Aryan nampak mengulaskan senyumnya. Selama beberapa detik setelah terjadi keheningan di antara mereka, Aryan akhirnya membuka suaranya lebih dulu, “Kamu mau sarapan apa? Biar aku beliin sebelum aku berangkat.”
“Di dapur masih ada roti sama selai coklat. Nanti aku bikin roti bakar aja, Kak,” ujar Karin.
Aryan pun mengangguk mendengar jawaban Karin. Sebelum Aryan pergi dari hadapannya, Karin berujar lagi, “Hari ini mbak nggak dateng, buat sore aku mau order makanan. Kamu makan di rumah nggak? Kalau kamu makan di rumah, biar aku pesennya bisa agak banyakan.”
“Pesen banyakan aja. Nanti aku pulang jam 4.”
“Oke.”
***
Seperti yang dikatakan oleh Aryan sebelumnya, tepat pukul 4 sore, lelaki itu sudah menampakkan batang hidungnya di apartemen. Karin sedang berada di ruang tamu dan menyetel TV ketika Aryan berjalan ke sana.
“Kamu mau langsung makan? Biar aku panasin ayamnya di microwave,” ujar Karin pada Aryan.
“Boleh,” ucap Aryan sembari meletakkan kunci mobilnya di meja ruang tamu.
Sementara Karin melenggang ke dapur, Aryan memutuskan untuk naik ke atas untuk mengganti pakaiannya.
Tidak lama kemudian, begitu Aryan kembali ke lantai bawah, ia mendapati di meja makan telah tersaji ayam goreng krispi yang sudah dihangatkan.
Aryan segera mengisi piringnya dengan nasi dan mengambil satu potongan paha atas yang berukuran cukup besar, lalu ia melangkah menuju ruang tamu.
“Kak, kamu makannya di meja makan. Masa di ruang tamu,” ujar Karin saat matanya menangkap Aryan tengah duduk di sampingnya.
“Kamu udah makan?” Aryan justru melemparkan pertanyaan pada Karin.
“Aku udah makan. Nanti sofanya kotor lho, Kak. Kamu makannya di meja makan gih,” tutur Karin.
“Mau sambil nonton TV,” ujar Aryan dan Karin hanya bisa mengiyakan saja pada akhirnya. Omong-omong soal Karin yang mengubah panggilannya pada Aryan setelah mereka berdamai, itu merupakan hasil kesepakatan keduanya. Lebih tepatnya Aryan yang membahas itu lebih dulu. Karin pun setuju sejak saat itu. Selain faktor usia, Karin melakukannya untuk menghormati Aryan sebagai suami dan ayah dari calon anaknya kelak.
“Kak,” panggil Karin.
Aryan yang sebelumnya fokus pada layar TV dan makanannya, kini beralih menatap Karin. “Iya, kenapa?”
“Itu kulit ayamnya kamu makan nggak?” tanya Karin. Pandangan Aryan pun otomatis menuju ke arah yang sama dengan Karin, yakni ke piring yang berada di tangannya. Di sana terdapat satu kulit ayam yang cukup besar, kebetulan Aryan memang belum memakannya.
Aryan lantas mengambil kulit itu dari piringnya. “Kamu mau?” tanya Aryan sambil mengarahkan tangannya untuk menyuapi Karin. Karin pun mengangguk, sekilas ia tersenyum malu sebelum akhirnya menerima suapan dari Aryan. Begitu Karin mengunyah makanannya, Aryan hanya memperhatikan itu terjadi di hadapannya. Binar bahagia yang terpancar di mata Karin, seketika membuat Aryan ikut merasa senang.
“Karin,” ujar Aryan.
“Iya?”
“Kamu makan yang banyak ya. Kalau kamu happy, bayinya juga happy,” tutur Aryan.
Karin menatap Aryan selama beberapa detik. Tidak lama berselang, senyum simpul pun terukir di paras Karin dan perempuan itu menganggukkan kepalanya. “Dia happy banget lho hari ini, nurut sama aku. Cuma tadi pagi aja agak rewel, habis itu aku udah bisa makan banyak. Pinternya anak Mama,” ujar Karin sembari mengusap perutnya. Ketika netra Karin kembali bertemu dengan Aryan, Karin pun bertanya, “Kamu mau dipanggil apa sama anak kamu?”
“Papa,” cetus Aryan. Aryan pun tersenyum, lalu ia bertanya dengan kedua alis yang menyatu, “Is it good?”
“Of course. It’s sounds nice.” Karin menurunkan pandangannya ke perutnya, lalu ia kembali berujar, “Nak, nanti kamu panggilnya Papa dan Mama ya.”
Tanpa Aryan bisa kehendaki, hatinya pun terasa berdesir hangat. Aryan kini dapat begitu merasakan ikatan kuat antara orang tua dan anaknya.
Keegoisannya waktu itu terjadi karena rasa takutnya akan kehilangan posisi yang seharusnya menjadi miliknya. Namun apa yang dikatakan oleh Karin adalah benar. Aryan tidak akan kehilangan tempat itu, baik sekarang maupun nanti. Meskipun pernikahannya dan Karin tidak dilandasi oleh perasaan cinta, keduanya akan selalu berusaha memberikan kasih sayang yang utuh untuk anak mereka.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷