Hubungan Rumit Orang Dewasa

Tiara berjalan keluarkamarnya dengan langkah mengendap karena tidak ingin membangunkan siapa pun yang ada di rumah. Ia membawa selimut tebal di pelukannya dan berjalan keluar menuju ruang tamu.

Sesampainya di sana, Tiara menyelimuti tubuh Aryo dan memastikan suaminya tidak terbangun karena kegiatannya. Dengan kegigihan Aryo, akhirnya ayah dan bundanya mengizinkan suaminya untuk menginap di rumah malam ini. Andi dan Alifia merasa mereka tidak berhak memisahkan keduanya. Terlebih sekarang Aryo dan Tiara mempunyai buah hati yang menjadi pengikat mereka.

Tiara hendak kembali ke kamarnya, tapi tiba-tiba perutnya terasa sangat mual dan sesuatu mendorong untuk segera dikeluarkan dari kerongkongannya. Tiara segera berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.

Tiara mengeluarkan isi perutnya di wastafel dan merasakan ada seseorang yang membantu menepuk-nepuk pelan punggungnya dan memijat tekuknya. Kemudian membantunya juga menyilakan rambut panjangnya agar tidak terkena muntahan ataupun air dari wastafel.

Setelah mengeluarkan hampir setengah isi perutnya, Tiara merasa jauh lebih lega. Ia berbalik dan mendapati Aryo yang ternyata membantunya.

Tiara tersenyum kikuk begitu pun Aryo yang sedikit canggung. Dua detik setelahnya, sebuah suara terdengar di antara mereka. Tatapan keduanya mencari-cari sumber suara tersebut. Keduanya pun tersadar dan mendapati itu adalah suara perut Aryo. Aryo melebarkan matanya dan tampak kerutan di keningnya. Ini situasi yang sungguh memalukan, batinnya.

“Kamu belum makan?” tanya Tiara.

***

Tiara membawakannya piring berisi nasi yang lengkap dengan lauknya dan juga segelas air putih. Saat Aryo hendak mengambil suapan pertamanya, ia melihat Tiara menarik kursi meja makan di hadapannya, lalu duduk di sana.

“Kamu nggak balik ke kamar?” tanya Aryo setelah mengunyah makanannya.

“Aku nggak bisa tidur. Mungkin beberapa jam lagi baru ngantuk,” ujar Tiara.

“Sejak hamil?”

Tiara mengangguk. “Dokter bilang bisa beda-beda disetiap orang. Kamu makannya pelan-pelan.” Tiara memperingatkan Aryo agar pria itu tidak makan terburu-buru.

Aryo menahan kedua ujung bibirnya yang hampir saja saling tertarik membentuk sebuah senyuman. Aneh juga rasanya kalau tiba-tiba ia tersenyum seperti orang gila. Namun salahkan hatinya yang tidak bisa berbohong bahwa ia sangat senang karena Tiara masih memedulikannya.

“Tiara,” panggil Aryo ketika pria itu sudah selesai makan.

“Kenapa?”

Aryo berdeham, lalu menatap Tiara lekat, “Gimana kalau kita coba cara biar kamu bisa tidur? Kalau kamu berhasil tidur lebih cepat dengan cara ini, bukannya itu bagus juga buat kamu dan bayinya?”

“Tapi gimana caranya?”

***

“Kalau kamu udah tidur, nanti aku pindahin kamu ke kamar,” ujar Aryo.

“Maksud kamu kita tidur berdua disini?” Tiara menatap sofa yang ada di hadapan mereka.

Aryo mengangguk. Pria itu berdeham, sebelum mengutarakan pemikirannya, “Tapi kalau kamu nggak mau, nggak papa. Kamu bisa ke kamar,” ucap Aryo seolah mampu membaca apa yang sedang Tiara pikirkan.

Ide Aryo membuat Tiara teringat akan perkataan dokter yang menyarankannya untuk menjalin koneksi yang kuat dengan Ayahnya si bayi. Tujuannya supaya janin di kandungannya dapat merasakan kehadiran ayah dan ibunya secara bersamaan. Dengan begitu, memungkinkan si bayi merasa senang yang dapat mempengaruhi hormon si ibu, sehingga menjadi lebih stabil. Hormon kehamilan yang dialami Tiara membuatnya kesulitan tidur dan mengalami muntah-muntah saat tengah malam dan pagi hari.

Tiara akhirnya menyetujui ide Aryo dan ingin mencobanya. Ia membaringkan tubuhnya lebih dulu di sofa, baru setelah itu Aryo menyusulnya. Tiara memunggungi Aryo sementara pria itu di sampingnya, menjaga tubuhnya agar tidak terjatuh.

“Aku akan nungguin kamu sampai tidur,” ujar Aryo.

Masih ada sedikit jarak di antara mereka dan muncul sebuah kecanggungan. Tiara belum bisa memejamkan matanya karena yang terjadi justru jantungnya berdegup cukup kencang di dalam rongga dadanya. Aryo telah menjadi aspek yang begitu besar di hidupnya, sehingga sulit sekali membangun tembok pertahanan itu. Terlebih saat ini mereka memiliki seorang buah hati yang menjadi pengikat batin keduanya.

“Ra, kayaknya cara ini nggak berhasil deh,” ujar Aryo.

“Kita emang nggak bisa nebak bayinya mau apa,” terang Tiara. Tiara juga bingung dengan apa yang terjadi padanya. Semenjak hamil tubuhnya seperti bukan miliknya lagi.

“Disini dingin, walaupun udah pakai selimut. Kamu ke kamar aja ya,” putus Aryo. Pria itu bangun dari baringannya dan meminta Tiara untuk kembali ke kamar saja.

“Kayaknya cara kita salah. Kita coba sekali lagi, gimana?” Tiara mengungkapkan pemikirannya. Meski awalnya terasa canggung ketika Tiara meminta Aryo untuk memeluk pinggangnya dan saling mendekatakan diri, tapi keduanya berusaha melakukannya demi si buah hati. Seorang orang tua yang rasa sayangnya begitu besar akan melakukan yang terbaik untuk anaknya.

“Kayak gini?” tanya Aryo setelah mereka membenahi posisi. Punggung Tiara menempel pada dada bidangnya dan perlahan Aryo menaruh dagunya di puncak kepala Tiara.

“Iya kayak gini,” balas Tiara. Sebenarnya ia juga merasa kurang yakin, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba.

“Oke. Semoga ini berhasil,” ujar Aryo.

Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Tiara merasakan tubuhnya lebih rileks dan matanya yang mulai terasa mengantuk. Perempuan itu mulai memejamkan matanya seolah-olah ada sihir ajaib yang menuntunnya untuk pergi ke alam mimpi.

Aryo memerhatikan Tiara yang mulai terlelap, lantas ia ikut memejamkan matanya dan mengulaskan sebuah senyum tipis.

Great job, bayi kecil,” gumam Aryo sebelum menuju alam mimpinya.

***

Pemandangan pagi hari di ruang tamu adalah Tiara dan Aryo yang masih terlelap dengan posisi saling memeluk. Adik perempuan Tiara, Chelsea, mendapati pemandangan tersebut. Chelsea tersenyum melihatnya. Ia memang tidak mengerti hubungan orang dewasa yang menurutnya sangatlah rumit. Namun melihat Aryo dan Tiara bersama lagi, entah kenapa membuatnya bahagia.

Anak perempuan berusia 7 tahun itu dapat melihat perubahan pada kakak perempuannya sejak kembali ke rumah mereka. Kakaknya itu seperti boneka mainan miliknya ketika baterainya sedang habis, sehingga tidak bisa berfungsi dengan semestinya. Chelsea khawatir melihat Tiara yang berubah, walaupun saat di depan keluarga, Tiara berusaha menyembunyikan itu semua. Setahunya karena Tiara sudah menikah, kakaknya itu harus tinggal bersama suaminya. Maka dari itu Chelsea menyebut bahwa hubungan orang dewasa itu sungguh rumit, ketika mendapati Tiara pulang ke rumah dan memilih tinggal bersama mereka lagi.

Chelsea terkejut saat ia ketahuan oleh Aryo tengah memerhatikan kedua orang dewasa itu. Aryo telah bangun lebih dulu dari Tiara, sementara istrinya itu masih tertidur di dekapannya. Aryo melemparkan sebuah senyum pada Chelsea, lalu ia meletakkan telunjuknya di depan bibir. Chelsea yang mengerti hal tersebut lantas mengacungkan ibu jarinya, tanda bahwa ia mengerti.

“Terima kasih, Chelsea,” ucap Aryo sedikit berbisik ketika anak perempuan itu akan berbalik pergi.

“Sama-sama. Terima kasih juga Kakak udah ke sini untuk jagain Kak Tiara,” ujar Chelsea dengan suara dipelankan. Kemudian gadis kecil itu mengulaskan senyum manisnya dan berlalu dari sana.

***

Setelah menggendong Tiara untuk memindahkan perempuan itu ke kamarnya, Aryo mendapat telfon dari kantor yang mengharuskannya untuk pergi sekarang.

Sebenarnya Aryo masih ingin menghabiskan waktunya lebih lama dengan Tiara, tapi ini juga hal yang sangat penting. Aryo akan mengungkap kasus itu dengan semua kemampuan yang ia miliki. Ia tidak akan membiarkan orang itu hidup tenang setelah apa yang diperbuatnya. Terlebih perbuatan tersebut menyebabkan luka belasan tahun yang sangat dalam bagi orang yang ia cintai.

Saat Aryo hendak melangkahkan kakinya dari kamar Tiara, lengannya di tahan oleh Tiara. Aryo tidak bergeming, ia tidak ingin membuat Tiara terbangun dari tidurnya.

“Aryo,” Tiara memanggil namanya dalam tidur. Aryo memerhatikannya dan sederhananya hal tersebut dapat membuat rongga dadanya menghangat.

“Jangan tinggalin aku,” ucap Tiara lagi.

“Emangnya kenapa aku nggak boleh ninggalin kamu?” Aryo iseng menanggapi igauan Tiara. Ia tidak berharap dapat jawaban yang relevan. Namun tanpa tanpa di sangka beberapa detik kemudian, Tiara menjawabnya pertanyaannya.

“Aku bohong waktu bilang nggak cinta sama kamu,” ucap Tiara. Setelah itu Tiara tidak mengingau lagi. Mungkin jika perempuan itu sedang dalam keadaan sadar, ia tidak akan mengatakan perasannya yang sebenarnya di hadapan Aryo. Aryo mengusap puncak kepala Tiara dengan lembut, lantas memberikan kecupan singkat di sana.

Aryo berjanji akan membawa Tiara kembali ke rumah setelah berhasil mengungkap kasus itu. Aryo tidak akan mundur meskipun ia harus melawan salah satu anggota keluarganya sendiri.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷