Hujan dan Pelangi di Ujung Jalan
2 tahun berselang, Aryo dan Tiara kembali di beri kepercayaan oleh Tuhan. Tiara mengandung seorang bayi perempuan yang kehadirannya begitu di tunggu oleh seluruh keluarga.
Akhirnya di usianya yang ketiga, Aryan menjadi seorang kakak. Bocah lelaki itu sangat senang, bahkan seringkali mengajak adiknya untuk bermain koleksi mobil-mobilan miliknya. Meskipun bayi mungil itu baru bisa berceloteh-celoteh kecil, Aryan tetap senang mengajak mengobrol atau menjaga ketika adiknya sedang tertidur.
Nayna Harla Brodjohujodyo, bayi perempuan dengan mata indah berkelopak monolid itu begitu cantik. Ketika baru lahir, Nayna memiliki kulit yang begitu putih sampai rona kulitnya berwarna pink. Aryo gemas sendiri terhadap anaknya. Katanya, Nayna itu mirip boneka hidup.
“Aryo, jangan di gigit anaknya,” peringat Tiara ketika mendapati suaminya langsung menyerbu Nayna. Padahal Tiara baru saja meletakkan anaknya itu sebentar di ranjang.
“Habis gemes Ra. Jadi pengen gigit,” ucap Aryo.
“Yaa itu bayi, Aryo. Bukan boneka,” Tiara menatap Aryo dengan tatapan memperingati.
“Lucu banget tapi, Ra. Pipi sama bibirnya pink,” Aryo mengamati Nayna yang baru saja di dandani Tiara pagi ini. Anaknya itu baru selesai mandi dan istrinya suka sekali mendandani Nayna dengan baju-baju lucu dan juga aksesoris.
“Anak Papa cantik banget sih hari ini, wangi lagi,” cerocos Aryo sambil menciumi Nayna. Aryo sangat senang bermain dengan Nayna dan Aryan setiap ia ada waktu. Apalagi hari ini adalah hari libur, jadi ia akan menghabiskan waktunya untuk istri dan anak-anaknya.
Tiara yang telah selesai mandi dan menyisir rambutnya, lekas menghampiri Nayna untuk menyusui anaknya itu.
“Nayna, gantian sama Papa boleh nggak, Nak?” celetuk Aryo.
“Gantian apa—”
Tiara mendapati cengiran di wajah Aryo dan seketika itu ia membelalak “Aryo kamu nih ya,” Tiara lantas melayangkan tangannya di lengan Aryo, memukulnya pelan.
“Aku kan juga mau Sayang,” Aryo nampak mencebikkan bibirnya.
“Kalau Nayna kan masih kecil, belum ada giginya. Kamu mah suka gigit,” cetus Tiara. Setelah Nayna puas menyusu dan sudah tertidur, Tiara menimang-nimang Nayna di gendongannya supaya anaknya itu cepat pulas.
“Aku nggak gigit, Sayang. Beneran deh,” ucap Aryo.
“Eh Sayang, kamu kan udah janji sama Aryan, mau beliin dia hot wheels yang limited edition.”
“Aku beliin Aryan mobil aslinya aja, gimana Sayang?”
“Buat apa, Aryan mana ngerti. Itu mah maunya kamu,” Tiara tertawa meledek Aryo.
Di tengah situasi itu, Aryan melenggang masuk ke kamar orang tuanya setelah bocah 3 tahun itu mengetuk pintunya.
“Kak, Papa udah ketemu mobil hot wheels yang kakak mau tuh kemarin,” ucapan Tiara itu sukses membuat Aryan terlihat senang.
“Beneran, Pah?” tanya Aryan pada papanya.
“Beneran dong, Sayang. Nanti siang mobilnya di anterin sama om Rama ya,” ujar Aryo.
Saat Nayna sudah pulas, Tiara meletakkan anaknya itu ke dalam box bayi. Kemudian Tiara meminta Aryan mendekat padanya dan ia membisikkan sesuatu.
“Pah, Aryan maunya Papa yang ambil mobilnya sama Aryan. Nggak mau sama om Rama,” ujar Aryan pada Aryo usai mamanya mengatakan sesuatu padanya.
Tiara lantas mendekati Aryo dan mengusap lengan suaminya itu, “Tuh, anaknya mau quality time sama kamu. Temenin dulu, nanti pulangnya aku kasih kamu hadiah.”
“Hadiah apa Sayang?” tanya Aryo.
“Ada deh, rahasia. Tapi kayaknya kamu akan suka.”
“Oke, kalau gitu. Aku anterin Aryan beli mobil dulu ya Sayang,” Aryo kini beralih pada Aryan setelah ia mengambil kunci mobilnya.
“Bro, let's go. Today is boys day out. Aryan nanti pilih aja mau yang mana ya mobilnya. Papa beliin yang Aryan mau.”
“Hot wheels Pah?” tanya Aryan.
“Bukan, Nak. Mobil beneran yang besar, yang bisa jalan. Aryan mau warna apa? Merah atau biru?”
“Wow keren banget, Pah. Aryan mau warna biru deh kalau gitu, boleh ya?” seru bocah itu nampak gembira dan antusias.
“Bener-bener mirip kamu, Sayang. Hobi kok beli mobil,” celetuk Tiara.
“Iya, dong. Aryan, kamu boleh koleksi mobil nanti kalau sudah besar, ya. Papa buatin garasi khusus buat kamu dan kamu bisa pilih mau diisi sama mobil apa aja.”
Setelah berpamitan dan menyalami tangan Tiara, Aryan kecil segera menyusul langkah papanya. Tiara memerhatikan punggung dua lelaki itu menjauh. Dua lelaki hebat yang selalu siap untuk melindunginya dan juga Nayna.
Aryo menjadi papa yang begitu penyayang dan meletakkan keluarganya di prioritas utamanya. Tiara selalu bangga terhadap pria itu. Sejak mereka memiliki anak, Aryo menjadi sosok yang lebih baik dan mau belajar banyak hal. Aryan, anaknya itu menjadi kakak dan lelaki yang pintar, penurut, dan selalu bersikap lembut terhadap mama dan adiknya. Terakhir Nayna, bayi perempun itu menjadi pelengkap yang begitu manis di hidup mereka.
Hidup Tiara kini terasa lebih cukup. Namun seperti yang pernah Aryo katakan padanya, pria itu tidak bisa selalu menjanjikan kebahagiaan pada Tiara. Kalau ada bahagia, maka akan ada sedih juga. Beberapa orang melihat kehidupannya seperti fairytale yang memiliki happy ending. Seorang putri yyang menemukan pangeran baik hati dan dikaruniai anak-anak yang pintar. Kenyataannya padahal tidak selalu begitu.
Tiara mengalihkan tatapannya pada foto pernikahan yang terpajang di bingkai besar di kamar. Pria yang berada di sampingnya di fotoitu bukanlah sosok yang sempurna. Namun Tiara sempurna karena bersamanya. Bersama Aryo, Tiara rela melewati hujan dan jalanan berlubang untuk menemukan pelangi di ujung jalan itu. Rasa cintanya kepada Aryo tanpa syarat. Saat Tiara tidak punya alasan lagi untuk mencintai Aryo, tapi ia memilih untuk terus mencintainya. Kira-kira seperti itu lah yang dapat Tiara gambarkan.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷