Hukuman yang Paling Pantas
Aryan sedikit menyesal karena ia bangun agak siang pagi ini. Hal itulah yang mengakibatkan dirinya dan Karin hanya memiliki sedikit waktu sebelum mereka harus berangkat ke kampus. Dua jam lagi kelas Aryan dimulai, tapi lelaki itu tampak tidak terlalu memikirkannya. Aryan masih setia mendekap tubuh Karin dengan kedua lengannya, sesekali Aryan juga memberi usapan lembut di punggung Karin.
“Kak, kapan kamu mau mandi? Kelas kamu jam 9 lho, ini udah jam 7,” ucap Karin.
“Sebentar lagi, Sayang,” ujar Aryan, suaranya masih terdengar sedikit serak, khas sekali orang yang baru bangun tidur.
“Berapa menit?” tanya Karin kemudian.
“Mau cium kamu dulu,” ujar Aryan.
“Aku tanyanya berapa menit, Kak.”
Aryan lantas melayangkan tatapan jenakanya pada Karin. “Cium dulu, habis itu janji, aku langsung mandi.”
Sebuah senyuman seketika terulas di wajah Karin. Kemudian tidak lama setelah itu, Karin memberikan sebuah kecupan lembut di sisi wajah Aryan. Aryan otomatis tersenyum lebar, begitu ,erasakan bibir lembap Karin menyentuh permukaan kulitnya.
“Mau cium di mana lagi?” tanya Karin. Tatapan keduanya bertemu, lalu netra Aryan turun ke arah bibir Karin. Di sana Karin nampak menggigit bibir bawahnya, membuat Aryan gemas melihatnya.
“There’s so many spot that we can explore, Sayang,” ucap Aryan dengan suara husky-nya. Bisikan lembut Aryan di dekat telinga Karin tersebut sukses membuat bulu-bulu lengan Karin berdiri.
Pandangan Karin seketika jatuh ke bibir penuh Aryan. Bibir tebal yang tampak begitu sempurna, garis yang membentuknya sangat indah. Karin jadi ingat perkataannya malam itu. God was happy when he created Aryan. That is very true, Karin benar-benar menyadari itu sekarang.
“Can I?” ujar Karin dengan suaranya yang melemah.
Aryan jelas mengerti maksud Karin, ia pun lekas mengangguk sembari mengulaskan senyum kecilnya. Setelah itu, Karin mendekatkan dirinya pada Aryan, kini sepenuhnya tubuhnya menempel di torso keras dan berotot milik Aryan.
Karin memiringkan kepalanya sedikit, lalu dengan gerakan perlahan dan lembut, ia mulai menempelkan bibirnya di bibir Aryan. Itu berjalan begitu mulus, Karin menggerakkannya dengan gerakan yang halus dan semuanya terasa begitu indah bagi keduanya. Saat pagutan tersebut bergerak semakin intens, Karin mengalungkan lengannya di seputaran leher Aryan. Semakin dalam mereka saling mencumbu, Karin merasakan sesuatu tidak bertulang itu mulai menyapa miliknya di dalam, mengabsen semua celah di rongga mulutnya.
Tubuh Karin sedikit menjengit kala Aryan semakin menambah tempo ciumannya, itu memberikan sensasi yang begitu nikmat dan memabukkan, sampai-sampai menciptakan sebuah lenguhan yang terdengar begitu seksi yang lolos dari bibir Karin.
Sejenak mereka memutuskan mengurai ciumannya, guna mengambil napas. Kemduian mereka saling melempar tatapan mesra, lalu tanpa diduga oleh Aryan, Karin bergerak ke atas tubuhnya. Posisi Karin kini berada di atas Aryan, kedua lengan perempuan itu ia tempatkan di kedua sisi wajah Aryan. Karin kembali mengecup lembut bibir Aryan. Selagi itu terjadi, tangan Aryan bergerak mengusap lengan Karin dengan gerakan sensual, memberi isyarat supaya Karin tetap melakukan ciumannya seperti itu.
Sekitar hampir sepuluh menit berlalu, penyatuan tersebut terpaksa harus di sudahi. Sebenarnya keduanya belum cukup puas, tapi masuk terlambat ke kelas juga bukan pilihan yang bagus.
“Kamu mandi duluan, habis itu aku mandi,” ucap Karin.
Aryan pun mengangguk, “Dua menit lagi, Sayang. Aku mau peluk kamu dulu,” ujar Aryan.
“Ada aja alesannya ya kamu,” cetus Karin.
Berikutnya sesuai perkataan Aryan, lelaki itu menyelipkan kedua lengannya di bawah lengan Karin, mendekap torso Karin untuk saling mengisi dengannya. Karin sedikit mendongakkan wajahnya, untuk menatap wajah Aryan. Lebih tepatnya, Karin memandanginya, kegiatannya tersebut membuatnya nyaman dan bahagia. Detik berikutnya Karin bergerak menaikkan posisi kepalanya agar dapat sejajar dengan Aryan.
“Kak,” ujar Karin.
“Iya?” sahut Aryan.
“Soal kasus itu, aku mau Kina dapat hukuman dari yang paling pantas ngasih hukumannya,” ucap Karin.
“Maksud kamu?” tanya Aryan yang tampak belum paham.
Karin pun menjelaskan perkataannya lebih detail. Karin tidak ingin Aryan membawa kasusnya ke jalur hukum, karena Karin ingin Kina mendapatkan pelajaran dari apa yang dilakukannya dari sosok yang paling pantas memberikannya, yakni Tuhan. Hukum karma dan sanksi sosial adalah yang paling adil dibandingkan apa pun. Karin yakin, suatu hari nanti semuanya akan terkuak. Ia ingin membiarkan alam yang bekerja untuk itu dengan sendirinya.
“Karin, tapi gimana kalau dia macem-macem lagi sama kamu? Aku khawatir,” ungkap Aryan menjelaskan apa yang belakangan ini telah membebani pikirannya.
“Kamu tenang, ya. Everything is oke,” Karin mengarahkan tangannya untuk mengusap lengan Aryan sekilas, berusaha mengurangi kekhwatiran lelaki itu. “Kalau Kina berani ngelakuin itu lagi, kamu boleh bawa kasusnya ke jalur hukum. Oke?” sambung Karin.
Karin mengatakan bahwa mereka tidak perlu khawatir. Ibaratnya saat ini mereka memegang kartu AS yang kapan saja bisa digunakan, jika Kina melakukan hal-hal yang diluar nalar lagi.
Karin menatap Aryan dengan tatapan lembutnya, ia sedang berusaha meyakinkan lelakinya. Karin memberi pengertian yang masuk akal pada Aryan, hingga akhirnya lelaki itu setuju akan rencana yang sebelumnya ia usulkan.
“Karin, kamu mau janji satu hal sama aku?” ucap Aryan beberapa detik kemudian.
“Janji apa?”
“Kamu nggak boleh pergi kemana-mana sendirian. Kalau aku lagi nggak bisa temenin kamu, kamu bisa minta tolong sama Nayna, Leon, pak Hamdi, om Rama, atau teman-teman kamu. Aulia sama Nadhifa, atau Beryl juga boleh.”
Usai perkataan Aryan tersebut, ia malah mendapati Karin menatapnya sambil mengulaskan senyum simpulnya.
“Karin, are you willing to promise to me?” tanya Aryan.
“Iya, aku janji, Kak. Aku nggak akan pergi kemana pun sendirian. I will make sure that I’m safe. Are you happy right now?” ujar Karin sembari memperhatikan raut wajah Aryan.
Aryan mengangguk sekali. “Oke, aku udah tenang kalau gitu. Hp kamu juga harus selalu aktif ya. Kalau ada apa-apa, kamu langsung telfon aku,” ucap Aryan yang lekas mendapat anggukan dari Karin.
“Kak,” ujar Karin, kedua netranya memandang Aryan tepat diiris hitam legamnya.
“Iya?”
“Kamu kalau kayak gini mirip sama papa deh.”
“Maksudnya?” tanya Aryan.
“Protektifnya mirip papa. Mama pernah cerita ke aku. Dulu katanya papa lumayan protektif sama mama, sampai minta bodyguard khusus buat jagain mama.”
Mendengar itu Aryan pun tertawa sekilas. “Oh iya, jelas. Bagus dong. Bodyguard papa udah terlatih banget dan profesional. Kalau kamu mau, aku bisa minta salah satu bodyguard papa buat jagain kamu.”
“Masa kemana-mana nanti aku diikutin sama bodyguard,” Karin tertawa, hingga menampakkan deretan gigi depannya yang tampak rapi. “Aku kan udah ada kamu, udah cukup. Aku nggak perlu bodyguard,” ujar Karin lagi.
“Oke-oke. Yaudah aku mandi dulu ya. Kelas pertama kamu jam berapa?”
“Jam 11 sih. Tapi aku berangkat bareng kamu aja,” ujar Karin.
“Berangkatnya aja yang bareng?” tanya Aryan sembari menatap Karin dengan tatapan menggodanya. Kedua alis bergerak naik turun, membuat Karin tidak dapat berpikiran ke arah yang positif. Pasti ada sesuatu, sepertinya Karin sudah mulai hapal setiap tatapan dan gestur tubuh seorang Aryan Sakha.
“Iya, berangkat ke kampusnya bareng. Emangnya apa lagi?” ucap Karin masih berusaha santai. Karin pun segera mengusir berbagai macam pikiran yang tidak-tidak yang seringkali datang ke pikirannya ketika ia sedang bersama Aryan.
“Nggak mau mandi bareng? Kamu tadi ciumnya lama banget lho, aku hampir telat nih. Kita bisa lebih hemat waktu kalau madinya bareng. Gimana?”
Karin tidak dapat mengontrol rona merah yang muncul di dua belah pipinya. Namun Karin bersyukur, bahwa pikirannya masih bisa bersikap sedikit normal. Maka ia membalas perkataan Aryan, “Kamu yakin bisa hemat waktu? Kayaknya malah jadi lebih lama deh Kak, kalau kita mandi bareng. Nanti kamu telat masuk kelas lho.”
Setelah Aryan memikirkan ucapan Karin, itu ada benarnya juga. Dirasa tidak mungkin hanya sekedar mandi jika mereka pergi berdua, akhirnya Aryan memutuskan untuk mandi lebih dulu. Baiklah. Besok tolong ingatkan Aryan untuk menyetel alarm di pagi hari. Aryan ingin bangun lebih cepat dari biasanya, ia akan berusaha untuk melakukan itu, meskipun ada sedikit keraguan di dalam hatinya kalau ia akan berhasil. Aryan tetaplah Aryan yang menjadikan tidur sebagai salah satu hobinya, tapi kini terasa sedikit berbeda. Ada yang lebih menarik dan berharga dari tidurnya itu, yakni eksistensi dan peringai seorang Karina Titania di dalam hidupnya.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷