I Love You Michelle

“Tante Risa?” kalimat pendek itu yang keluar dari bibirnya Aryo ketika netranya menangkap sosok perempuan yang sangat dikenalnya, kini berada di hadapannya. Risa Brodjohujodyo, putri dari Gyatri, istri kedua Prawira Brodjohujodyo. Setelah bertemu tantenya itu, Aryo dan Risa diberi waktu untuk berbicara berdua di ruangan lain.

Risa memberi sedikit penjelasan kepada Aryo mengenai alasannya bersedia membantu Tiara dan masuk ke dalam tim.

“Tante tau, Tante nggak akan bisa melawan Reynaldi sendiri,” jelas Risa. Perempuan itu mengatakan, ia menyimpan dendam terhadap Reynaldi karena mendapat perlakuan tidak adil di keluarga. Ibu kandungnya yang merupakan istri kedua Prawira, nyatanya tidak pernah benar-benar di terima di keluarga mereka.

“Sejak kapan Tan?” tanya Aryo.

“Sejak Reynaldi selalu berhasil mendoktrin eyang kakung dan berambisi menguasai seluruh kepemilikan perusahaan. Tante kenal sama Erlangga, ayah kandungnya Tiara. Dulu Erlangga sering bantu mama dan tante setiap kali Reynaldi membuat keluarga memperlakukan kami dengan tidak adil. Setelah Erlangga kecelakaan, Rudi menemui Tante dan meminta bantuan, akhirnya kita bekerja sama,” jelas Risa.

Pada saat itu Aryo masih berusia dua belas tahun, saat eyang kakung menikah lagi dan membawa istri keduanya ke rumah keluarga. Aryo belum terlalu mengerti situasi di usianya yang masih remaja. Satu hal yang hanya dapat ia pahami, beberapa waktu setelah itu, eyang kakung memiliki dua rumah. Rumah pertama untuk eyang putri, rumah kedua untuk Gyatri, istri keduanya.

Setelah Aryo dan Risa bicara berdua, mereka kembali ke ruangan dimana ada Tiara, Akmal, dan Bagas. Tiara sudah mengatakan sebelumnya bahwa Aryo telah mengetahui semuanya dan berniat membantu mengungkap kasus itu, jadi saat ini mereka berada di kapal yang sama.

“Selama ini Reynaldi mencari keberadaan Michelle Taninka,” ujar Tiara membuka pembicaraan. Mereka memutuskan melakukan rapat tim untuk merencanakan langkah yang harus di ambil selanjutnya.

Tiara menatap bergantian empat orang di meja panjang itu. Ia memaparkan percakapan antara Reynaldi dan El yan gdi dengarnya tempo hari.

“Reynaldi kerja sama dengan El untuk mencari Michelle dan membawanya ke hadapannya, hidup ataupun mati. Situasi ini bisa kita manfaatkan untuk mengecoh Reynaldi dengan ngasih dia pancingan,” ujar Aryo menyampaikan pemikirannya yang sebelumnya ide tersebut sudah ia katakan pada Tiara.

“Keterangan kematian palsu atas nama Michelle Taninka Sinaga, itu bisa jadi pancingan untuk buat Reynaldi lengah. Dia udah dapetin om Rudi di tangannya, tapi kemungkinan baiknya adalah Reynaldi belum tau kalau om Rudi nggak sendiri untuk melawan dia,” jelas Tiara.

Dari semua yang ada di ruangan itu, akhirnya Bagas yang lebih dulu mengutarakan pendapatnya mengenai ide Aryo dan Tiara. “Ide itu kemungkinan berhasilnya sekitar 60 persen. Kita harus siap tanggung resikonya kalau sampai di eksekusinya ada kecacatan.”

“Rekayasa keterangan kematian gue rasa nggak bisa cuma dengan pernyataan tertulis aj,” ujar Risa.

“Tante Risa benar,” cetus Akmal. Lantas semua pasang mata yang ada di ruangan itu menatap ke arah Akmal.

“Lawan kita bukan orang biasa,” Akmal pun mengeluarkan selembar kertas yang berisi biografi singkat Reynaldi Brodjohujodyo yang telah di buat oleh ayahnya. Di sana tertulis riwayat hidupnya, seperti dengan siapa pria itu pernah bekerja sama, aset senjata yang di miliknya, serta trek rekor bodyguard-nya. Memang Reynaldi bukanlah sembarang orang, seperti yang di katakan Akmal, mereka harus benar-benar mematangkan rencana yang akan mereka jalankan.

“Selain pernyataan kematian tertulis yang resmi, kita perlu merekayasa bukti fisik kematian. Rekayasa abu hasil kremasi, apa kira-kira itu memungkinkan?” cetus Bagas.

“Eksekusinya mungkin akan sedikit sulit. Kita harus mengurus beberapa hal dan tentunya punya koneksi orang dalam untuk memudahkan eksekusi,” ujar Risa.

“Kita bisa bagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tujuannya supaya kita bisa tetap fokus dan pastiin semuanya aspeknya berjalan baik,” saran Aryo.

Atas usulan tersebut, akhirnya mereka membagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing di bidangnya. Risa dan Aryo akan mengurus masalah dokumen kematian yang membutuhkan akses hukum. Risa merupakan seorang pengacara dan Aryo akan membantu tantenya itu alam urusan koneksi orang dalam yang di milikinya. Sementara Bagas akan mengurus bukti kematian berupa bukti fisik, pria itu memiliki koneksi yang berhubungan dengan urusan tersebut.

***

“Aryo.”

“Yaa, Sayang?”

“Aku sama Akmal nggak dapat tugas?” tanya Tiara begitu mereka memasuki penthouse.

Tiara mendongakkan kepalanya untuk menatap Aryo yang merangkul bahunya, karena tingginya hanya sebatas bahu pria itu, Tiara jadi nampak mungil kalau di samping Aryo.

“Aku kasih Akmal tugas kok.”

Aryo masih merangkul Tiara hingga mereka memasuki kamar. Pria itu menutup dan mengunci pintunya.

“Mau ngapain kita ke kamar?” tanya Tiara yang baru tersadar bahwa mereka kini sudah masuk ke kamar.

“Tidur siang bareng. Kelonin ya?” pinta Aryo. Tiara melemparkan senyum khasnya kalau Aryo sudah manja-manja gini sama dia.

“Akmal kamu kasih tugas apa?” tanya Tiara yang mengikuti langkah Aryo ke walk in closet. Tiara mendapati suaminya itu sudah menanggalkan kemeja putih dari tubuhnya, membuat Tiara menyaksikan pemandangan gratis tubuh shirtless Aryo.

“Tugas dia jagain kamu aja. Aku akan lebih sibuk dari biasanya, pekerjaan di kantor dan mempersiapkan semuanya untuk rencana kita. Kalau kamu kesepian di rumah, kamu boleh ajak teman-teman kamu ke sini buat nemenin kamu. Gimana?”

Tiara melebarkan matanya, ia mengatakan bahwa dirinya sedikit tidak percaya atas ucapan Aryo itu. “Dulu aja nggak boleh,” celetuk Tiara.

Aryo nampak berpikir sejenak sebelum menjawab, “Iya, sekarang boleh.”

“Oke. Terima kasih,” balas Tiara diiringi senyum semringahnya.

***

“Aryo ... pake bajunya nggak. Astaga, kamu yaa,” omel Tiara sambil berjaan mundur perlahan menjauhi Aryo. Aryo segera menyusulnya, ia pun berhasil menangkap Tiara dan menahan punggung perempuan itu dengan lengannya, sehingga torso keduanya hampir saja menempel.

“Kamu mau kemana?” ujar Aryo dengan suara lembutnya di dekat Tiara.

“Nggak ada kelon ya, kalau kamu belum pakai baju,” titah Tiara yang seketika membuat Aryo mencebikkan bibirnya.

“Tapi gerah Ra, enakan nggak pake baju gini,” ujar Aryo.

“Nanti kamu masuk angin lho shirtless begitu. Kalau kamu sakit, yang repot siapa coba? Aku juga kan.”

Namun bukan Aryo namanya jika tidak keras kepala dan memiliki seribu akal. Aryo menatap Tiara lekat, lalu mengarahkan tangan perempuan itu untuk berada di pundaknya. Dengan jarak mereka yang begitu intim, netra Tiara dapat dengan jelas melihat pahatan sempurna otot lengan dan perut Aryo yang nampak liat dan keras itu. Sempurna, indah, dan menawan, entah kata apa lagi yang dapat mendeskripsikan pahatan di hadapan Tiara saat ini.

Aryo menorehkan senyumnya, “Kamu ... mau pegang ini?” tanya Aryo yang menangkap basah Tiara tengah memandang abs-nya.

Tiara terkejut karena ia tertangkap jelas memandangi perut six pack milik Aryo. Tatapan mereka pun bertemu dan Aryo lekas mengunci pandangan Tiara. Atas perintah pikirannya, Tiara mengangguk pelan. Rasa penasaran yang kuat mendorong Tiara untuk menyentuh otot-otot itu, meskipun ia sudah pernah melakukannya. Hei, setan apa yang sedang merasuki dirimu Tiara, ayolah sadar! batinnya.

It's all yours, Tiara.” Aryo meraih tangan Tiara untuk membawanya menyentuh otot-otot perut milik Aryo. Ketika meletakkan tangannya di sana, Tiara dapat merasakan itu sungguh keras dan sesuai penampilannya, perasaan ketika menyentuhnya, sungguh melebihi ekspekstasi.

“Jadi aku pake baju aja atau shirtless gini?” tanya Aryo diiringi senyum smirk di wajah tampannya.

Tiara menatap paras Aryo, ia berusaha menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan di dalam sana. Kini kedua lengannya berpindah untuk melingkar di seputaran leher Aryo.

I can touch them ... again?” tanya Tiara mengikuti perintah otak dan hatinya yang kali ini benar-benar sinkron.

Yes, you can touch them. Everytime you want,” jawab Aryo seraya mengulaskan senyum lembutnya.

***

I love you, Michelle,” gumam Aryo ketika pria itu membuka matanya. Mereka berakhir tidur siang bersama dengan Aryo yang shirtless dan tidak melepaskan Tiara dari dekapannya sama sekali. Sudah sekitar 3 jam mereka terlelap dan ketika terbangun, rasa lelah yang sebelumnya hinggap kini menghilang entah kemana.

“Siapa kamu bilang? Michelle??” tanya Tiara dengan keningnya yang menekuk.

“Michelle Taninka kan kamu, Sayang,” jelas Aryo.

“Ohiya. Aku kira kamu selingkuh sama cewek namanya Michelle.”

“Mana ada aku selingkuh. Kamu lucu banget yaa, posesif gini.”

Tiara menampakkan cengirannya, lalu tangannya bergerak untuk usapin halus pipi Aryo, “Berani nggak kamu selingkuh?” tanya Tiara.

“Aku udah ketemu pawangnya, galak lagi. Coba ... gimana berani aku selingkuh?”

“Okee, bagus bagus.” Tiar pun tergelak. “Aku galak ya emang?” tanya iara dan Aryo lantas menjawabnya dengan anggukan berkali-kali.

“Kalau nggak galak, artinya nggak sayang,” ujar Tiara.

“Gitu ya?” Aryo memandangi paras cantik Tiara yang sukses membuat perempuan itu salah tingkah.

Tiara nampak memikirkan sesuatu. Itu sebuah kilas balik ketika Andi dan Alifia merubah marga mereka menjadi Lubis dan mengubah namanya. “Kalau di pikir-pikir, Michelle Taninka nggak akan di kenal sama banyak orang. Tapi Mutiarani Ivanka nggak akan pernah di kenal sama ayah dan bunda,” ungkap Tiara.

“Iya juga ya. Kamu lebih suka jadi Michelle atau Tiara?” tanya Aryo.

“Aku suka jadi dua-duanya. Michelle akan selalu di kenang dan disayang sama ayah dan bunda. Mungkin luka itu akan tetap ada di salah satu ruang di hati Michelle. Tapi Tiara, dia udah coba untuk berdamai dengan luka itu. Kalau kamu lebih suka yang mana?”

“Aku suka dua-duanya. Tapi Ra, menurut aku, nama itu cuma sebuah identitas. Pribadinya tetap sama. Michelle or Tiara, adalah dua perempuan hebat.”

“Aryo.”

“Ya?”

Tiara merubah posisinya agar dirinya dan Aryo saling berhadapan. “Aku mau kenalin kamu sama ayah dan bunda.”

Sure. Meskipun nggak secara langsung, aku mau menyampaikan banyak hal buat mereka.”

“Kamu mau bilang apa aja emangnya?”

“Rahasia dong, Sayang. Nanti kamu juga akan tau.”

***

*Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷