I Love You Unconditionally

“Kamu masih marah sama aku?” tanya Aryo pada Tiara. Ia mengekori langkah Tiara sampai akhirnya mereka masuk ke kamar.

“Menurut kamu aja,” ucap Tiara.

“To the point, Ra. Kamu maunya apa ?” ujar Aryo lagi.

Tiara tidak menjawab. Aryo yang melihat diamnya Tiara pun semakin dibuat bingung.

“Kalau kamu kayak gini, gimana aku bisa tau. Aku udah jemput kamu ke rumah mama, tapi tiba-tiba kamu maunya nginep di sini. Kamu nggak mau pulang sama aku, kenapa?”

Tiara balas menatap Aryo, “Emang aku minta kamu jemput aku? Kamu bilangnya nyuruh aku nginep di rumah mama, karena kamu lembur. Tapi apa? Kamu yang tiba-tiba jemput.”

“Ra, please. Jangan kayak anak kecil gini dong. Aku nggak tau lho kamu maunya apa,” ucap Aryo.

Usai kalimat itu keluar dari bibir Aryo, sepasang mata Tiara yang menatapnya kini berkilat. Matanya berkaca-kaca dan tidak sampai dua detik kemudian, air matanya luruh. Dengan gerakan buru-buru, Tiara mengusap air matanya.

“Ra, maaf,” ucap Aryo yang merasa bersalah. “Maksud aku bukan kayak gitu,” sambung Aryo, nada suaranya terdengar begitu menyesal.

Mereka hanya saling berhadapan dan menatap selama beberapa detik. Kemudian Tiara berbalik begitu saja dan melangkah pergi dari hadapan Aryo. Aryo segera menyusul langkah Tiara dan berakhir ternyata istrinya itu menemui Feli. Mamanya akhirnya meminta Aryo untuk menunggu, sementara Feli berbicara pada Tiara untuk menenangkan perasaannya.

Aryo pun menunggu Tiara di ruang tamu. Pria itu menghembuskan napasnya dan memijit ujung hidungnya. Ia menyesal karena kelepasan melontarkan kalimat itu pada Tiara. Padahal kedatangannya yang tiba-tiba karena ingin menyenangkan Tiara. Namun yang terjadi justru dirinya kebawa emosi lebih dulu, karena ia tidak memahami apa yang diinginkan oleh Tiara.

Sekitar 10 menit kemudian, Aryo mendapati mamanya menghampirinya.

“Tiara nggak bener-bener mau marah sama kamu. Mama udah jelasin juga sama dia. Kalian salah paham aja. Tiara berharapnya kamu ngelakuin A, tapi kamu ngelakuin B. Baiknya, kalau terjadi kayak gini lagi, kamu dan Tiara cepat selesaikan, bicarakan baik-baik dengan kepala dingin,” tutur Feli.

Aryo mengangguk mengerti. Feli lantas pamit dari hadapannya dan tidak lama Tiara menghampirinya di ruang tamu.

“Ra,” ujar Aryo lebih dulu.

“Maaf tadi aku kelepasan ngomong kayak gitu ke kamu. Aku nggak bermaksud Ra,” sambung Aryo. Perlahan Tiara mengangkat wajahnya dan Aryo mendapati mata istrinya yang sembap.

“Aryo, aku juga minta maaf,” ucap Tiara, suaranya terdengar sedikit serak. “Nggak seharusnya aku bikin kamu bingung. Aku sebenernya nggak tau mau aku apa. Aku cuma mikir kalau kamu harus nurutin apa maunya aku, tanpa aku bilang. Aku udah egois. Maafin aku ya,” tutur Tiara.

Karena sudah malam juga, akhirnya mereka memutuskan untuk menginap dan bergegas tidur. Aryo sudah selesai mandi dan Tiara tengah menunggunya di kasur.

“Sebenernya semalem, aku mau tanyain kamu maunya apa, biar mood kamu lebih baik. Tapi pas aku selesai mandi, kamu udah tidur,” ucap Aryo.

“Kenapa nggak bangunin aku?” tanya Tiara.

“Kasian kamu tidurnya nyenyak banget. Besok paginya, aku harus ke kantor jam 7. Kamu masih tidur, jadi aku kiss kamu di pipi aja, terus aku berangkat kerja deh,” jelas Aryo.

Tiara terdiam sejenak. Ia menyadari bahwa dirinya terlalu bertingkah kekanakan dan hanya memikirkan diri sendiri, tanpa memikirkan posisi Aryo.

“Kamu tuh kenapa sebenarnya, hmm ...?” tanya Aryo. Mereka kini posisi rebahan dan saling berhadapan. Aryo menaruh lengannya di pinggang Tiara dan sesekali memberi usapan di puncak kepala istrinya.

“Kemarin itu aku nggak bisa tidur. Udah tiga kali deh kayanya. Mungkin juga bisa bawaan bayi. Aku nggak tau bener apa engga, tapi setiap kamu pulang lebih dari jam 10, aku nggak bisa tidur. Sementara kamu emang harus pulang malem karena kerjaan di kantor. Aku jadi gampang bete dan sensitif sama hal sepele kayak gitu,” ungkap Tiara.

“Okee, aku ngerti. Lain kali, kalau ada kejadian kayak gini lagi, kita bicarain baik-baik ya. Kalau kamu mau sesuatu, kayak misalnya aku pulang lebih cepet, kamu bisa bilang. Aku akan usahain meskipun aku nggak bisa janji. Yaa ... ?” ucap Aryo.

Tiara akhirnya mengangguk dan ia setuju. Untuk kebaikan hubungn keduanya, mereka sama-sama akan mengutaman komunikasi dan lebih saling mengerti.

“Kamu kenapa tiba-tiba ke sini? Kamu bilang mau nginep di kantor, terus aku disuruh nginep di rumah mama,” ujar Tiara.

Aryo nampak berpikir sejenak, alis tebalnya pun bertaut. Sebelum menjawab, pria itu menaikkan bed cover sampai setinggi bahu Tiara. “Aku mau jemput kamu rencananya, mau ngasih tau sesuatu. Ada kabar baik,” ucap Aryo.

“Kabar baik apa?” tanya Tiara terlihat antusias sekaligus penasaran.

“Soal perusahaan. Harga saham udah mulai naik, profit meningkat, dan respon masyarakat lumayan bagus. Aku pengen kamu tau. Itu terjadi juga karena kamu, karena kamu selalu support aku.”

Tatapan Tiara seketika berubah. Ia tidak menyangka bahwa hal besar yang terjadi di hidup Aryo, pria itu ingin membagikannya pada Tiara. Itu hal sederhana dalam sebuah hubungan, tapi artinya begitu dalam bagi Tiara.

“Aku nggak tau gimana jadinya, kalau aku nggak ketemu kamu. Mungkin aku bukan Aryo yang sekarang. Saat ini aku juga masih punya banyak kekurangan. Tadi aku bikin kamu nangis, dan aku nyesel banget Ra.”

Tiara menggelengkan kepalanya. Dengan lembut, ia mengusap sisi wajah Aryo. Tatapan Tiara padanya begitu teduh seolah perempuan itu telah memberikan seluruh cinta dan kasih sayangnya untuk Aryo.

“Kamu udah ngelakuin yang terbaik. Kekurangan kamu yang justru bikin kamu sempurna, Aryo. Kamu mau belajar dan mencoba untuk jadi lebih baik setiap harinya. Aku bangga sama kamu. Bangga banget,” ungkap Tiara. Sedetik kemudian, Tiara mendekatkan dirinya dan lantas membawa torso Aryo ke pelukannya. Ia memberikan usapan di punggung Aryo dengan gerakan searah.

“Aku mau manja dulu sama kamu,” ucap Tiara yang masih betah memeluk Aryo. Padahal sudah hampir 10 menit posisi mereka statis seperti ini.

“Ini kamu yang mau manja atau dedek bayinya yang manja?” tanya Aryo. Sesaat kemudian Tiara pun mengurai pelukan mereka.

“Dedek bayinya mau manja sama Papanya. Iya kan, Jagoan?” ujar Tiara sambil mengusap perutnya dengan satu tangannya.

“Bilang aja mamanya yang mau,” ledek Aryo.

“Engga juga. Anak kamu nih, kangen sama kamu. Setiap kamu pulang, dia udah tidur.”

“Oh iya? Jagoan Papa udah bobo ya kalau Papa pulang? Maaf ya, Jagoan.” Aryo mendekatkan posisinya agar sejajar dengan perut Tiara. “Besok kalau Papa libur kerja, kita main ya, jalan-jalan juga. Oh iya Ra, aku baru inget sesuatu,” ujar Aryo ketika tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikirannya.

“Jadwal sidang skripsi kamu udah keluar?” tanya Aryo.

“Udah. Minggu depan aku sidang. Terus acara wisudanya minggu depannya lagi. Kenapa emangnya?”

“Aku mau ngajak kamu ke Switzerland habis kamu wisuda. Kamu bilang, kamu mau babymoon, kan? Aku udah cari tau dan usia kandungan kamu udah boleh naik pesawat.”

“Kamu niat banget sih, astaga.” Tiara menyunggingkan senyum manisnya.

“Iya, dong. Aku kan suami dan calon papa siaga. Kamu belum jawab pertanyaan aku Ra, kamu mau kan kita ke Switzerland?”

“Iya, aku mau, Aryo.”

Aryo seketika tersenyum dengar jawaban itu. “Ra.”

“Iya?”

“Aku nggak bisa selalu janji, kamu akan bahagia sama aku. Ada saatnya kamu marah dan kesal sama sifat aku. Atau bahkan kamu nangis,” ucap Aryo. Kedua pipi Tiara di tangkup oleh Aryo dan pria itu menatapnya lekat. “Tapi aku akan selalu belajar dan berusaha untuk bikin kamu bahagia, aman, dan selalu merasa dicintai. Kamu harus tau, kamu nggak akan sendirian lagi, saat rasa sakit dari masa lalu kamu datang. Aku mau jadi tempat kamu berkeluh kesah, nangis, sekalipun tempat kamu marah. I love you, Tiara. I love you unconditionally,” ungkap Aryo panjang lebar.

Tiara terpaku sesaat. Bibirnya tersenyum ke dalam, tanda ia begitu terharu sekaligus bahagia, menjadi satu.

“Aryo, aku nggak tau love languange kamu yang lebih dominan apa. Kita semua punya love 5 love languange, tapi ada yang lebih dominan. So I want to know what is your love language? Ini love languange yang kamu butuhin dari pasangan kamu, bukan yang kamu kasih ya,” ujar Tiara.

Are you really curious about that?” tanya Aryo.

Tiara mengangguk cepat.

“Hmm ... * I think ... physical touch*?” ucap Aryo terdengar kurang yakin.

Are you sure?” Mata Tiara sukses membalalak dan tawanya pecah detik itu juga kala mendengar jawaban Aryo

“*I'm sure,” jawab Aryo dengan nada yakinnya. Pria itu menganggukkan kepalanya dua kali, tanda ia begitu sudah yakin.

Oke. So I need to learn more about your love languange.

“What do you mean? Why you want to learn it?

Because I want to give you the best love of me, cause you are my best, and you must to know about that fact.”

Setelah ucapan Tiara itu, keduanya bersamaan mengulaskan senyum. Tiara kembali mendekat pada Aryo, ia memerhatikan sesuatu di bawah mata kanan Aryo. “Lucu banget ini. Aku boleh kiss kiss?” ujar Tiara.

“Apa yang lucu?”

“Your little mole at you under eye. Looks so cute and make you hansome at the same time,” ucap Tiara. Tanpa sungguhan menunggu izin dari Aryo, Tiara mencondongkan diri lalu memberi kecupan di tahi lalat kecil di bawah mata Aryo itu.

“Barusan itu bagian dari physical touch?” tanya Aryo.

Yes. But it's just a little bit of the whole part. Are you ... nervous tho?” Tiara sukses tertawa memerhatikan Aryo yang kini terlihat gugup.

Aryo lantas memangkas habis jarak mereka. Ia menempelkan keningnya di kening Tiara, kemudian berujar pelan di dekatnya, “I'm little bit nervous, but very excited at the same time, when you do it for me. Should we do it again?”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷