I Will Make You Stay
Dalam perjalanan dari Puncak menuju Jakarta malam ini, Aryan memikirkan keputusan yang akan diambilnya. Aryan telah berencana untuk mengungkapkan perasaannya kepada Karin. Aryan hampir tidak fokus selama menjalani acara makrab bersama teman-temannya. Raganya memang berada di sana, tapi jiwanya seperti berada bersama Karin. Ia selalu memikirkan Karin di setiap waktunya.
Aryan merasakan sebuah perasaan yang begitu menggebu, ia pikir itu adalah rindu. Tadinya Aryan berniat mengajak Karin ke puncak dan ia merencanakan sesuatu untuk menyatakan perasannya pada Karin di sana. Namun Aryan perlu mempersiapkan semuanya terlebih dulu. Karin juga sedang mengandung, jadi Aryan punya kekhawatiran jika harus membawa Karin pergi.
Saat kepergian Aryan diketahui oleh mamanya, beliau langsung membawa Karin untuk menginap di rumah. Aryan mengingat perkataan Karin soal keinginannya punya keluarga yang lengkap, jadi Aryan pikir akan sangat bagus jika Karin menginap di rumah orang tuanya. Aryan berharap Karin dapat merasakan hangatnya keluarga yang sempurna seperti yang selama ini perempuan itu dambakan.
Beberapa jam yang lalu saat mereka akan pulang, Leon yang melihat Aryan uring-uringan pun memintanya untuk tidak menyetir. Jadi Leon memutuskan mengambil alih kemudi dari Puncak sampai Jakarta. Aryan duduk di samping kiri pengemudi, sementara kursi belakang ada William dan Andra yang beberapa saat lalu telah tertidur pulas.
“Leon,” ujar Aryan.
“Apaan?” Leon menyahuti sambil tetap fokus pada jalanan di depannya.
“I will make a confession to Karin.”
Perkataan Aryan seketika membuat Leon terkejut, bahkan lelaki itu sampai terdiam sesaat. Begitu keluar dari tol dan kini mereka sudah sampai di Jakarta, Leon pun menoleh sekilas ke arah Aryan sambil bertanya, “Lo serius?”
“Gue serius,” jawab Aryan diiringi sebuah anggukan di kepalanya.
“Nggak bisa bohong kan lo sama perasaan lo sendiri,” celetuk Leon.
“Tapi kalau Karin nolak gue gimana ya?” tanya Aryan tiba-tiba. Pemikirannya pun seketika dipenuhi oleh berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.
“Pikirin itu belakangan. Gue tau lo pinter. Jangan cuma pinter di akademik aja, masalah percintaan juga harus pinter. By the way, siapa aja yang udah tau soal ini?”
“Baru lo sama Nayna,” terang Aryan.
“Mantep. Nanti kalau nyokap lo kalau tau, beliau juga pasti seneng. Tante Tiara keliatan sayang banget sama Karin. Kalau Nayna sih, udah pasti dukung seratus persen. Adek lo tuh di garda paling depan untuk urusan yang berhubungan sama lo dan Karin.”
Aryan menyetujui perkataan Leon barusan. Aryan bersyukur atas kenyataan bahwa Karin dapat akrab dengan keluarganya, sebaliknya keluarganya juga sangat menerima dan menyayangi Karin. Semuanya terasa lebih baik secara bertahap saat Karin datang ke hidupnya. Aryan mungkin terlambat menyadari itu, tapi ia masih memiliki kesempatan untuk memperjuangkan Karin. Hatinya tidak lagi bisa berbohong, Aryan telah jatuh cinta kepada Karin. He’s really fall in love with her.
***
Aryan melangkahkan kakinya memasuki rumah bergaya eropa modern berlantai tiga. Bangunan yang cukup luas itu membuatnya harus berjalan sekitar beberapa meter untuk sampai di halaman belakang.
Saat Aryan sampai di halaman seluas hampir 1 hektar tersebut, tempat itu di penuhi oleh para saudaranya. Ada makanan dan minuman di meja prasmanan, layar besar untuk menyetel film, lampu-lampu, serta sebuah musik yang di setel di area sudut halaman. Acara movie night-nya sudah selesai, kini tinggal acara bebas dan para tamu diperbolehkan untuk menikmati waktu sesuai keinginan masing-masing.
Aryan menyapa opa dan omanya, papa dan mamanya, serta beberapa keluarganya yang lain. Begitu berpapasan dengan Nayna, Aryan langsung menanyakan keberadaan Karin kepada adik perempuannya itu. Aryan belum melihat sosok Karin di antara banyaknya tamu yang ada di sana.
“Acaranya hampir selesai, Ko. Tadi gue tinggal kak Karin sebentar, pas gue balik, kak Karin ketiduran di sofa ruang tamu,” terang Nayna. Adik perempuan Aryan itu menjelaskan belum lama Karin tertidur, jadi memang belum berniat dipindahkan ke kamar karena takut Karin malah terbangun dari tidurnya.
Nayna pun meninggalkan Aryan setelah kakaknya itu berada di samping Karin yang tertidur di sofa. Posisi ruang tamu itu cukup jauh dari halaman, jadi sepengelihatan Aryan, kini Karin nampak nyenyak dengan tidurnya.
Aryan memperhatikan wajah tertidur Karin selama beberapa detik, sebelum akhirnya Aryan mengusapkan tangannya di puncak kepala Karin. Aryan memberikan usapan lembut di sana, sebuah sentuhan yang halus dan terjadi begitu saja. Aryan menyadari bahwa hatinya membuncah bahagia hanya dengan memandang wajah Karin seperti ini.
“Hei, Karin. I missed you,” ucap Aryan masih sambil memandangi paras Karin. Tidak lama berselang dari itu, Aryan mendapati Karin bergerak dari posisinya dan perlahan-lahan Karin membuka matanya. Nampak sebuah kerutan di kening Karin ketika mendapati Aryan berada di hadapannya.
“Kamu udah nyampe dari tadi?” itu yang pertama Karin tanyakan setelah ia merasa bahwa nyawanya telah terkumpul sempurna.
“Engga, aku baru aja nyampe kok,” ujar Aryan.
Karin posisinya masih setengah berbaring, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Dari posisi Karin saat ini, ia dapat melihat Aryan yang jaraknya cukup dekat darinya. Sayup-sayup tadi Karin mendengar apa yang Aryan ucapkan ketika ia tidur. Namun karena tidak ingin salah mengira, Karin pun memutuskan untuk menyimpannya sendiri.
“Karin,” ujar Aryan memecah pemikiran monolog Karin. Karin pun kembali menoleh dan memberikan atensinya kepada Aryan.
“Iya Kak? Kenapa?”
“Kamu senang selama nginep di rumah mama? Acara malam ini di rumah oma, apa kamu senang dengan semua ini?” tanya Aryan.
Tanpa berpikir lama-lama, Karin pun lekas menjawab pertanyaan Aryan dengan sebuah anggukan. “Of course, I’m happy. I feel like I have a complete family,” ucap Karin diiringi sebuah senyum simpul di wajahnya.
“Oh iya Kak, acaranya udah hampir selesai. Oma tadi bilang, kalau kamu mau, nanti bisa dibuatin lagi acaranya pas kamu ada. Kira-kira kamu bisanya kapan?”
“Kalau lusa gimana?”
Mendengar tiga kata yang dilontarkan oleh Aryan, sontak membuat mata Karin membelalak. Sebelum Karin sempat menanggapi perkataan Aryan, Aryan lebih dulu berujar sambil menatap Karin dalam-dalam. “Karin, aku yang akan buat acaranya, tapi hanya untuk kita berdua.”
Kedua alis Karin pun nampak menyatu, “Acara apa? Kamu nggak pernah bilang sebelumnya. Acaranya mendadak ya?”
“Sebenarnya nggak mendadak. Aku udah rencanain ini dari dua hari yang lalu, kita akan piknik di rumah. Kamu punya request untuk dekorasi atau makanannya?”
Setelah Aryan mengungkapkan maksudnya tersebut, kedua mata Karin pun tampak berbinar. Nampaknya Karin begitu suka dan bersemangat akan rencana yang telah Aryan susun. “Kak, kira-kira kalau pikniknya pakai tenda di dalam apartemen bisa nggak ya?” Karin akhirnya mengungkapkan permintaannya.
Setelah memikirkannya, Aryan pun menjawab, “Oke, kayaknya bisa. Nanti aku coba usahain ya,” ucap Aryan.
Karin lantas mengangguk sembari mengulaskan sebuah senyum di wajahnya. Senyuman Karin dapat memancarkan kebahagiaan yang bisa Aryan rasakan juga sampai ke relung hatinya.
Beberapa saat kemudian, Karin kembali berujar sembari tidak melepaskan pandangannya dari Aryan, “Kak, makasih ya buat kesempatan yang kamu kasih malam ini. Aku bisa ngerasain gimana rasanya punya keluarga yang lengkap. Ada papa dan mama, oma dan opa, dan masih banyak lagi keluarga yang lain.” Karin menjeda ucapannya. Bertemu dengan Aryan dan mengenal keluarganya dengan lebih dekat, dapat memberikan kehangatan dan sebuah kasih sayang yang mungkin selama ini hanya menjadi mimpi buat Karin.
“Kak, meskipun nanti kita akan berpisah, *I will always remember this night. The chance that someone gave to me,” Karin menjeda ucapannya sesaat. Mungkin diawal pertemuannya dengan Aryan bagi Karin adalah bencana. Namun lambat laun setelah lebih mengenal sosok Aryan dan juga keluarga, Karin merasa bahwa dirinya beruntung diberi kesempatan itu. Perjalanannya dengan Aryan hanya sementara, tapi itu memberi banyak pelajaran dan pengalaman indah juga buat Karinn.
Karin kembali menatap Aryan setelah sebelumnya hanya menatap kuku-kuku jarinya. “Kak, Thank you for everything, I’ve glad that I’ve met you and your family,” tutur Karin.
Selesai Karin dengan ucapannya, Aryan kembali menatap Karin dalam-dalam. Aryan begitu ingin Karin mengetahuinya. Tiba-tiba Aryan tidak dapat membayangkan hari tersebut akan terjadi. Hari di mana saat dirinya dan Karin akan berpisah. Seperti yang dikatakan oleh Leon, Aryan tidak ingin dirinya menyesal jika suatu hari Karin benar-benar pergi dari hidupnya. Maka Aryan memiliki tekad yang kuat dalam hatinya. Ia akan berjuang dan membuat Karin untuk tetap tinggal di sisinya.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷