I'm Grateful to Have You
Aryo memutar stir menggunakan satu tangannya ketika memundurkan mobilnya. Setelah menarik rem tangan, mobil pun terparkir dengan sempurna di garasi basement rumah mereka.
Mesin mobil dan radio yang masih menyala memutar sebuah lagu yang melodinya terdengar nyaman dan indah. Lagu milik Rex Orange Country berjudul Best Friend terdengar memenuhi mobil.
And that's because I wanna be your favorite boy I wanna be the one that makes your day The one you think about as you lie awake I can't wait to be your number one I'll be your biggest fan and you'll be mine But I still wanna break your heart and make you cry
Usai penggalan lirik tersebut, tatapan Aryo dan Tiara secara otomatis bertemu. Tangan Aryo yang tidak lagi memegang stir, menghela sisi wajah Tiara untuk mendekat, lalu ia mengusap lembut pipi Tiara menggunakan ibu jarinya.
“I’m grateful to have you, Tiara,” ucap Aryo. Kehadiran Tiara di hidupanya terasa begitu cukup bagi Aryo.
Aryo memangkas jaraknya dengan Tiara untuk mengecup bibir ranum wanitanya. Tangan kanan Aryo yang bebas bergerak mematikan radio dan mesin mobil karena tidak ingin apapun mengangggu kegiatan mereka. Penyatuan itu terjadi dengan tempo yang lambat, tapi begitu pasti dan terasa begitu sempurna.
Aryo dengan mudahnya menghela tubuh mungil Tiara untuk berpindah ke pangkuannya. Ketika keduanya menggunakan waktu untuk mengambil napas, Aryo malah mendapat tatapan protes dari Tiara.

“Ada yang bilang nggak mau bikin istrinya kecapean. Tapi apa—”
Aryo memajukan tubuhnya untuk mengunci bibir Tiara dengan bibirnya, lagi. Hanya dengan satu kecupan singkat, dapat langsung membuat Tiara bungkam. Aryo menjaga tubuh Tiara di pangkuannya dengan melingkarkan lengannya di pinggangnya. Wajah Tiara memberengut kecil sekaligus merona.
“Pipi kamu merah kayak tomat. These cheeks are so cute,” ujar Aryo dengan nada menggodanya.
“Apa?” Tangan Tiara reflek memegangi keduanya pipinya yang benar saja terasa hangat. Aryo tertawa menyaksikan warna merah yang kontras dengan kulit putih Tiara.
“Mesin mobilnya mati Aryo, pantes aja jadi panas,” kilah Tiara. Aryo mengunci pandangan Tiara yang membuat perempuan itu terdiam malu.
“Nggak di sini juga Aryo, ini sempit,” peringat Tiara ketika ia mengerti kemana mereka akan menuju selanjutnya.
“Kursinya kan bisa dimundurin,” ujar Aryo pelan.
Kemudian yang terjadi adalah Tiara mendapati Aryo memundurkan kursinya, sehingga bagian mobil yang mereka tempati menjadi sedikit lebih luas.
“Laki-laki dengan segala idenya,” ujar Tiara.
“Tapi kamu suka ide itu kan,” ujar Aryo dan kembali menyatukan belah bibir mereka. Kedua lengan kekar Aryo menghela pinggang Tiara semakin mendekat untuk memudahkan aktivitas mereka.
Tiara yang merasakan penyatuan tersebut semakin intens, berusaha mendapatkan kekuatan dengan melingkarkan lenganya di seputaran leher Aryo dan juga untuk mempermudah segalanya.
Tempo yang lebih cepat menjadikan jok mobil bergerak dengan konstan. Pajero hitam itu menjadi saksi bisu atas kegiatan keduanya menyalurkan kasih.
Jemari Tiara menelusup masuk di antara helaian rambut legam Aryo yang terasa halus. Ia meremas pelan surai itu ketika Aryo melancarkan kecupan di sekitar tengkuk hingga turun ke bagian atas dadanya.
“We need a room,” ucap Tiara ketika Aryo menghentikan kegiatannya.
“Of course, Honey” Aryo menyatukan keningnya dengan kening Tiara, tangannya bergerak untuk mengusap sisi wajah Tiara yang permukaan kulitnya terasa lembab dan hangat. Peluh sama-sama membanjiri mereka diiringi debaran membahagiakan yang mengisi rogga dada keduanya.
***
“Sementara leatakin barang-barang di lantai satu aja. Besok, tolong pindahin ke lantai dua,” tutur Aryo kepada Erza dan Egha.
Keduanya pun menuruti perintah atasan mereka dan hanya membawakan barang-barang dari depan rumah sampai ke ruang tamu lantai satu. Erza dan Egha pun pamit dari hadapan Aryo dan Tiara sebelum meninggalkan keduanya.
“Kenapa barang-barangnya nggak dibawa langsung ke lantai dua?” tanya Tiara yang bingung atas perintah Aryo itu.
“Biar tempat ini cuma jadi miliki kita, Tiara.” Aryo mengerahkan lengan kekarnya untuk meraih tubuh ramping Tiara dan menggendong perempuan itu persis seperti koala. Tiara yang terkejut atas perlakuan Aryo yang tiba-tiba itu, reflek mengaitkan lengannya di pundak Aryo untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
Aryo menaruh lengannya di bawah kedua paha Tiara, menjaga Tiara tetap aman bersamanya. Masih tetap dalam posisi seperti itu, mereka menuju lantai dua. Tiara menyandarkan kepalanya di pundak Aryo sembari menatap wajah rupawan suaminya dari posisinya nyamannya saat ini.
“Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?” Aryo terkekeh karena tingkah Tiara yang sedari tadi hanya menatapnya.
Tiara menggeleng, membuat rambut panjangnya yang diikat ponytail bergerak lucu. Tiara mengeratkan pelukannya pada pundak Aryo, ia membenamkan kepalanya di dada bidang pria itu.
Mereka sampai di lantai dua dan langsung menuju kamar.
“Dimana kuncinya?” Aryo mencari-cari kunci kamar yang tidak ia temukan di kantong celananya.
“Kayaknya kita perlu minta tolong bantuan Erza atau Egha. Kamu pasti lupa naruh kuncinya,” ujar Tiara.
“Nggak perlu. Rumah ini punya banyak kamar, Ra.”
“Kayaknya tempat ini lebih cocok untuk disewain deh,” ucap Tiara.
“Kita nggak perlu sewain tempat ini, Ra.”
“Kenapa? Rumah ini besar lho, kalau cuma kita berdua sepi. Lantai satu atau lantai tiga bisa banget kalau mau disewain.”
“Nanti tempat ini akan ramai dengan kehadiran anak-anak kita.”
“Rumah ini besar banget, Aryo. Kamu mau punya anak berapa emangnya?”
“We’ll see.” Aryo menatapnya sembari tersenyum simpul, lalu memutar langkahnya menuju kamar lain yang tadi pria itu sebutkan.
***
Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍
Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷