It's Hurt
Malam ini sebuah acara bergengsi diadakan oleh Musse, yakni salah satu platform yang cukup ternama. Musse sendiri merupakan platform sosial media berbasis video yang mewadahi para content creator Indonesia hingga dunia untuk menunjukkan bakat dan kreativitasnya.
Musse Awards tahun ini digelar di salah satu gedung stasiun televisi yang cukup terkenal dan disiarkan secara live. Perhelatan akbat tersebut tidak hanya diisi dengan pembacaan nominasi dan pemberian hadiah bagi para pemenang, tapi juga ada penampilan spesial dari para penyanyi papan atas.
Pembacaan nominasi dan pengumuman pemenang, diselingi dengan penampilan dari para performance. Para pemenang akan menaiki panggung untuk menerima penghargaan dari kategori masing-masing. Kini tiba saatnya untuk pembacaan nominasi untuk kategori Top Beauty Influencer. Kategori tersebut merupakan alasan bagi Karin dan beberapa teman beauty influencer lainnya untuk datang ke acara ini. Mereka yang masuk ke dalam kategori mendapat undangan khusus untuk bisa menghadari Musse Awards.
Dari panggung di depan sana, dua orang pembaca nominasi akan membacakan pemenang kategori Top Beauty Influencer yang didapat hasil dari voting audiens.
“Setelah melihat siapa saja yang mengisi kategori top beauty influencer, berikut kami akan membacakan pemenang dari hasil voting,” ujar salah satu MC.
“Baiklah, pemenang kategori top beauty influencer Musse Awards diberikan kepada Karina Roland. Kepada Karina, kami persilakan untuk menerima penghargaan di atas panggung.”
***
Karin menatap piala penghargaan yang kini berada di tangannya, seketika sebuah senyum terulas di wajahnya. Mungkin ini hanya sebuah simbol dengan ukiran namanya di sana. Namun bagi Karin ini lebih dari itu. Usaha dan ketekunannnya selama ini telah membuahkan hasil dan Karin cukup bangga dengan apa yang telah ia capai.
Karin kini tengah menunggu Dara yang sedang pergi ke toilet. Managernya itu memintanya untuk berada di ruang tunggu sebelum nanti mereka keluar dari gedung bersama. Acara malam ini telah selesai, beberapa teman-teman sejawat Karin ada yang sudah pulang dan sebagian memilih mengadakan acara after party seusai acara awards ini. Karin memutukan untuk langsung pulang, karena ia juga sudah janjian dengan Aryan dan mereka akan bertemu di lobi gedung.
Tiba-tiba sebuah bunyi pintu yang dibuka dan suara langkah kaki yang mendekat, membuat Karin menoleh. Di ruangan itu yang sebelumnya hanya ada Karin, kini terlihat sosok Shakina yang berjalan ke arahnya dengan sebuah senyum tipis di bibir penuhnya.
Begitu Shakina sampai di hadapan Karin, perempuan bersurai coklat gelap sepunggung itu berdeham sebelum akhirnya berujar, “Jadi ini alasan kamu bisa jadi mapres dan mendapatkan segalanya yang kamu inginkan. Aku akuin, kamu emang pintar Karin. Kamu pintar untuk memanfaatkan keadaan,” ujar Kina.
Karin hanya menatap Kina dan mendengarkan ucapannya. Kedatangan Kina secara tiba-tiba ke ruangan yang dikhususkan untuknya tersebut, membuat Karin sedikit terkejut. Namun Karin berusaha menutupi itu, ia membiarkan Kina untuk menyelesaikan ucapannya.
“Piala yang kamu pegang sekarang, harusnya jadi milik aku. Orang yang kamu anggap sebagai suami kamu saat ini, dia yang nawarin kamu kesepakatan buat bercerai, tapi kamu tetap bersedia untuk menikah sama dia. Dia ngelakuin semua itu demi aku, Karin,” Kina menjeda ucapannya beberapa saat dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Setelah menghembusan napasnya dengan sedikit kasar, Kina kembali berujar, “Dia nggak peduli sama kamu, dia cuma peduli sama anaknya yang ada di kandungan kamu. Between you and him, itu semua cuma kecelakaan. So you better watch what you’re doing with my boyfriend,” ucap Kina sambil tidak melepas tatapannya dari Karin sedikit pun.
“Kamu udah selesai?” tanya Karin setelah ia menahan dirinya untuk tetap diam.
Kina tidak menjawab Karin, jadi Karin kembali membuka suaranya, “Kalau kamu udah selesai dengan ucapan kamu, aku permisi.”
Karin pun hendak melangkahkan kakinya melewati Kina, tapi pergerakannya tersebut ditahan oleh Kina yang kini memegang pergelangan tangannya.
“Kamu pikir, kamu bisa pergi gitu aja? Kamu pikir aku rela kamu dan Aryan menikah?” sarkas Kina.
Karin balas menatap Kina, dengan tatapan tenangnya, Karin pun berujar, “Aku nggak berniat untuk ikut campur dalam hubungan kamu dan Kak Aryan. Andaikan aja malam itu kamu nggak nolak lamarannya, mungkin dia nggak akan menikahi perempuan lain. Kalau emang kamu benar-benar cinta sama Kak Aryan, harusnya kamu nggak menyakiti hatinya malam itu.”
Mendengar ucapan Karin bahkan dengan nadanya yang begitu tenang, rupanya sukses untuk membuat emosi Kina tersulut. Kilatan amarah di mata Kina pun terpancar, lalu detik berikutnya Kina mengarahkan tangannya untuk mendarat mulus di pipi Karin.
Karin merasakan pipinya memanas. Kina baru saja menamparnya. Karin nampak menundukkan kepalanya, ia berusaha menahan rasa perih itu dan air matanya yang hampir saja terdorong untuk keluar.
Tanpa mengucapkan apapun lagi, Karin pun memutuskan untuk melangkah melewati Kina begitu saja. Namun belum sampai Karin di pintu, Kina lebih dulu menarik lengannya dan mencengkramnya erat.
“Dari awal semua permasalahan akan selesai kalau bayi di kandungan kamu nggak ada. Bayi itu yang udah halangin hubungan aku dan Aryan,” ucap Kina dengan nada pelannya di dekat telinga Karin.
Kina kini tersenyum penuh kemenangan pada Karin yang tidak bisa berkutik di tempatnya. Karin sangat tahu apa yang akan Kina lakukan dan Karin hanya memikirkan anaknya saat ini. Dengan segala usaha Karin untuk lepas dari Kina, akhirnya Karin pun berhasil melakukan perlawanan dan meloloskan dirinya.
Rintihan kesakitan pun keluar dari mulut Kina bertepatan dengan pintu ruangan yang dibuka. Di sana nampak beberapa staff yang kini melihat kejadian tersebut. Kina terjatuh di lantai berkat usaha Karin melakukan perlawanan. Kaki Kina terkilir karena ia mengenakan high heels yang cukup tinggi.
Belum selesai dengan semua itu, Karin mendapati kehadiran Aryan di sana yang rupanya sedari tadi tengah berusaha untuk menghubunginya. Aryan melayangkan tatapannya pada Karin selama beberapa detik sebelum akhirnya menatap ke arah Kina.
Karin menyaksikannya. Aryan berlutut di dekat Kina dan saat itu juga Kina mengatakan bahwa Karin-lah yang baru saja mendorongnya.
“Aryan, kaki aku sakit,” ujar Kina sambil menatap Aryan.
Aryan pun perlahan membantu Kina untuk bangun dari posisinya. Kina mengatakan ia tidak bisa berjalan, jadi Aryan memutuskan untuk menggendongnya.
Tepat sebelum Aryan pergi membawa Kina dari sana, Dara pun muncul. Manager Karin itu meminta para staff untuk memberinya jalan. Ketika melihat Karin, Dara otomatis melayangkan tatapan khawatirnya.
“Karin, lo nggak papa, kan? Ada kejadian apa sih barusan?” tanya Dara. Pandangan Dara juga tidak luput dari Aryan dan Kina. Seolah mengerti dengan situasinya, Dara pun segera mengajak Karin untuk pergi. Namun Karin justru mematung di sana, ia mendapati tatapan kecewa yang Aryan tujukan padanya. Aryan telah pergi dengan Kina yang berada di gendongannya, lelaki itu juga meminta bantuan pada seorang staff untuk menyiapkan mobil untuk membawa Kina.
Masih di ruang tunggu itu, Karin belum berniat menjawab pertanyaan managernya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dara akhirnya meminta Karin untuk duduk di kursi, agar Karin bisa lebih tenang. Dara memperhatikan mata Karin yang kini nampak berkaca-kaca. Karin masih termangu dengan semua rasa sakit yang tiba-tiba terasa meremas hatinya, menggantikan rasa perih di pipinya berkat tamparan Kina beberapa saat yang lalu.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷