Kapal yang Berbeda
Kaldera merasa bahwa keputusannya menolak permintaan Raegan adalah pilihan yang paling tepat. Kaldera tidak ingin Indri dan Raegan terlibat dengannya, yang artinya mereka harus berurusan juga dengan tantenya. Ini adalah yang terbaik, begitu pikir Kaldera.
Terkadang Kaldera masih menyalahkan apa yang sudah terjadi. Setelah kedua orang tuanya pergi, mengapa Tuhan kembali mengambil orang yang begitu ia cintai? Mengapa ia harus melalui hal seberat ini?
“Kaldera!” seruan yang memanggil namanya itu seketika membuat Kaldera menoleh. Di koridor lantai satu sekolahnya, Kaldera mendapati Icha tengah berlari ke arahnya.
Begitu Icha sampai di hadapannya, perempuan itu berusaha mengatur napasnya yang berkejaran.
“Lo kenapa Cha lari-lari gitu? Ngejar apa sih?” tanya Kaldera yang keheranan melihat tingkah sahabatnya itu.
Icha menghembuskan napasnya sebelum akhirnya berujar, “Lo harus tau ini, Kal. Itu si Aksa ditahan sama polisi!” seru Icha dengan wajah paniknya.
“Gue denger-denger dari anak OSIS, Aksa jadi tersangka kasusnya Zio, Kal ...” lanjut Icha, tatapannya turut prihatin.
Kaldera masih belum merespon Icha, hingga akhirnya Icha menggerakkan tangannya di depan wajah Kaldera untuk menyadarkan gadis itu dari lamunannya.
“Kal, lo nggak tau apa-apa soal ini?” tanya Icha.
“Gue baru tau berita ini dari lo,” jawab Kaldera apa adanya. Ia memang tidak tahu menahu tentang Aksa yang ditahan.
Di tengah-tengah situasi itu, tiba-tiba seorang lelaki menghampiri Kaldera dan Icha. Lelaki itu adalah Kafka. Kafka adalah sepupu Aksa yang malam itu memberitahu Kaldera lokasi yang dituju Zio untuk membantu Aksa.
“Kal, gue tau lo akan anggap gue kurang ajar kalau gue bilang ini. Tapi gue mohon Kal, tolong bantu Aksa untuk bebas dari penjara. Gue yakin, bukan sepupu gue pelakunya.” Ucapan Kafka seketika membuat Kaldera menoleh dan menatap lelaki itu tepat di iris matanya. Kaldera nampak bingung harus merespon apa. Semua ini terasa bertubi-tubi datang menghampirinya.
“Kal, cuma lo yang bisa bujuk keluarga Zio untuk cabut tuntutannya. Zio sama Aksa sahabatan, Aksa nggak punya motif apapun untuk celakain Zio,” ujar Aksa lagi.
***
Kaldera telah setuju untuk membantu membebaskan Aksa dari tuntutan itu. Kaldera akan mencobanya, tapi ia tidak berjanji bahwa itu akan berhasil. Di sinilah Kaldera dan Kafka sekarang, di lobi sebuah gedung mewah pencakar langit yang merupakan kantor perusahaan batu bara ternama. Seseorang yang diduga membuat tuntutan tersebut, berada di gedung ini. Jadi mereka akan mencoba menemuinya untuk membicarakan tuntutan itu.
Begitu Kaldera dan Kafka sampai di pintu lobi, langkah keduanya ditahan oleh dua orang satpam berbadan tinggi dan besar.
“Mohon maaf, ada keperluan apa datang ke sini? Apakah sudah membuat janji untuk bertemu?” tanya salah seorang satpam.
Kaldera dan Kafka lantas saling berpandangan. Kaldera akhirnya membuka suara setelah menimang itu di dalam pikirannya. “Saya ingin bertemu dengan bapak Raegantara Rahagi. Saya sudah menelfon beliau, tapi belum mendapat respon,” jelas Kaldera.
“Kalau belum ada persetujuan dari beliau, mohon maaf Anda tidak bisa bertemu,” ujar satpam itu lagi.
“Tapi saya harus bertemu dengan beliau,” ucap Kaldera tetap berusaha mendapatkan izin masuk itu.
“Baik, kalau Anda memaksa. Saya akan sampaikan pada bapak Raegan. Tapi bisa jelaskan lebih dulu hubungan apa yang Anda miliki dengan beliau?”
***
Siang ini Raegan sedang berada di ruangannya ketika bodyguard-nya mengatakan bahwa ada seseorang yang bertekad untuk menemuinya.
“Calon istri?” tanya suara bariton itu. Raegan beranjak dari kursi kebesarannya, ia melempar tatapan tidak percaya pada bodyguard yang telah lama bekerja untuknya. Pasalnya Arjuna mengatakan bahwa orang yang ingin menemuinya adalah calon istrinya.
“Betul, Pak. Di luar ruangan Anda, ada seorang gadis delapan belas tahun yang mengaku sebagai calon istri Bapak. Saya tidak percaya karena dia tidak punya bukti apapun. Mohon maaf telah mengganggu waktu Bapak, saya akan mengurus ini segera,” ucap Arjuna dan hendak berbalik pergi dari hadapan Raegan.
“Tunggu,” ucap Raegan menghentikan langkah Arjuna.
“Dia gadis SMA?” tanya Raegan dengan matanya yang nampak memicing.
“Benar, Pak.”
“Izinkan dia masuk. Saya mengenalnya,” putus Raegan.
“Apa betul gadis itu calon istri Bapak? Bukannya mbak Kaluela—”
“Tugas kamu di sini hanya melakukan apa yang saya perintahkan, bukan untuk mencampuri urusan pribadi saya,” tukas Raegan yang seketika membuat Arjuna bungkam.
***
Raegan menatap dua orang yang kini ada di hadapannya. Kaldera Ruby Rinjani, sosok kekasih almarhum adiknya. Gadis itu datang bersama seorang lelaki yang memiliki hubungan keluarga dengan tersangka pembunuh adiknya.
Raegan menatap Kaldera dengan tatapan datarnya. Pria itu tampak acuh dengan kehadiran Kaldera dan Kafka. Di kursi kebesarannya, Raegan terlihat menselancarkan jemarinya pada layar ipad di tangannya, tanpa berniat membuka pembicaraan terlebih dahulu.
“Kenapa Anda menuntut orang yang tidak bersalah?” akhirnya Kafka membuka suara.
Raegan yang mendengar kalimat itu, langsung menaruh ipad-nya di meja dengan gerakan sedikit kasar. Raegan mengarahkan tatapannya pada Kafka. “Kalau sepupu Anda tidak bersalah, pengadilan akan membuktikan itu di persidangan nanti. Saya melakukan tuntutan bukan tanpa bukti yang kuat. Bukti yang ada jelas mengarah ke sepupu Anda,” tukas Raegan dengan satu tarikan napas.
“Anda bisa melakukan penyelidikan tanpa menghancurkan masa depan Aksa. Saya tau, Anda punya uang sehingga bisa membeli hukum dengan uang itu. Dengan mudahnya Anda memasukkan orang ke penjara,” ujar Kafka lagi.
Kaldera yang duduk di samping Kafka, mencegah lelaki itu untuk melanjutkan lagi ucapannya. Kaldera merasakan bahwa situasi yang tengah terjadi antara Kafka dan Raegan berangsur memanas. Dikhawatirkan jika semakin jauh, akan muncul permasalahan yang lebih besar lagi.
Tanpa Kafka memprediksinya, kalimat sembrononya itu telah menciptakan amarah yang kentara jelas di raut wajah Raegan. Raegan beranjak dari posisi duduknya, ia melangkah menuju Kafka dan berujar, “Lantas apa yang telah dilakukan sepupu kamu terhadap adik saya? Lebih dari menghancurkan, bukan?”
Berikutnya tatapan Raegan beralih pada Kaldera. Dari sorot mata itu, Kaldera dapat melihat ada kekecewaan.
“Kaldera, kamu nggak perlu ikut campur ke dalam urusan ini,” ucap Raegan.
“Aku punya alasan untuk ikut campur,” ujar Kaldera.
Raegan lantas menyunggingkan senyum smirk-nya. “Alasan apa yang membuat kamu ada di pihak pembunuh pacar kamu, Kaldera?” Raegan masih di sana, menatap Kaldera dengan mata elangnya. Kaldera dapat merasakan tatapan tajam bercampur rasa kecewa yang dalam, saat iris legam Raegan menatapnya.
Kaldera bergeming di tempatnya, ia menunduk dan hanya dapat menatap ke arah lantai marmer hitam di ruangan ini.
“Aku nggak memihak siapa pun,” ucap Kaldera kemudian. Kaldera berusaha menatap Raegan meski rasanya Raegan dapat mengulitinya melalui sorot mata itu.
“Apa kamu nggak sadar kalau dia lagi manfaatin kamu untuk kepentingannya sendiri?” tanya Raegan. Pria itu menjeda ucapannya sesaat. Raegan menghela napasnya, lalu menghembuskannya dengan sedikit kasar. “Dengar Kaldera, sekalipun kamu yang saya meminta untuk mencabut tuntutan itu, saya tidak akan melakukannya. Kamu memang orang yang dicintai adik saya, tapi itu tidak cukup untuk merubah keputusan saya.”
Semua perkataan Raegan rasanya seperti tamparan tak kasat mata bagi Kaldera. Benarkah bahwa Kaldera telah melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan? Kaldera bertanya-tanya di dalam hatinya.
Belum cukup semua perkataan tajam Raegan padanya, Kaldera rupanya masih mencoba melunakkan hati Raegan. “Kita bisa selesaikan ini dengan kepala dingin dan nemuin pelaku sebenarnya. Aku mohon sama kamu, tolong cabut tuntutannya,” ucap Kaldera.
Raegan tidak habis pikir bahwa Kaldera justru berada di kapal yang sama dengan musuhnya. Kaldera mencoba menjelaskan pada Raegan, tapi pria itu keras kepala. Raegan tetaplah pria yang berpegangan kuat terhadap apa yang ia yakini benar.
“Saya katakan ini sama kamu untuk yang terakhir kali,” Raegan menatap ke arah dengan tatapan tegasnya. “Saya tidak sudi untuk berhubungan dengan orang yang telah menyebabkan adik saya tiada. Saya bisa menemukan pelakunya dengan tangan saya sendiri,” tukas Raegan.
Seolah perkataan Raegan adalah telak dan tidak dapat diganggu gugat. Raegan memilih berlabuh menggunakan kapalnya sendiri dan tidak ingin bekerja sama dengan orang yang memiliki hubungan dengan tersangka.
“Kalian bisa pergi dari ruangan saya,” ucap Raegan kemudian. Pria itu tidak segan-segan mengerahkan bodyguard-nya untuk mengantar Kaldera dan Kafka meninggalkan ruangannya.
***
Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮
Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜
Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂