Karma is Really Existed

Satu tahun sudah berlalu sejak kelahiran Svarga. Itu artinya Karin juga telah selesai dari cuti pekerjaannya. Sejak minggu lalu, Karin sudah kembali bekerja. Hari ini Karin ada pemotretan untuk salah clothing line milik brand lokal.

Kalau satu tahun yang lalu, Karin hanya perlu mempersiapkan dirinya sebelum berangkat bekerja, kini Karin memiliki tanggung jawab yang harus dikerjakannya sebelum dapat meninggalkan rumah. Ada dua manusia yang harus diurusnya, yakni satu manusia kecil dan satunya manusia besar. Karin harus memastikan mereka aman sentosa saat nanti ia tinggalkan.

Biasanya Karin akan memilih menyuapi Svarga dan memandikannya lebih dulu. Sembari membuat makanan untuk anaknya, Karin akan sekalian memasak makanan untuk suaminya. Karin telah belajar beberapa menu kesukaan Aryan dan saat ini sudah semakin ahli ketika membuatnya.

Pagi ini setelah anaknya selesai makan dan mandi, Karin meletakkannya di arena bermain bayi yang terdapat di ruang tamu. Setelah itu Karin segera bergegas menyiapkan pakaian kantor untuk Aryan. Karin biasanya meminta bantuan mbak Fitri untuk menjaga Svarga selama ia tengah mengurus keperluan Aryan. Terkadang juga suaminya itu masih harus di bangunkan olehnya, tapi beberapa kali lelaki itu bisa bangun sendiri. Karin bangga akan hal itu. Meski harus gagal beberapa kali, Aryan tetap berusaha mencobanya.

“Sayang, Svarga mana?” tanya Aryan begitu mendapati Karin memasuki kamar seorang diri. Biasanya Karin sedang menggendong Svarga atau anaknya itu ada di kamar ketika Aryan terbangun.

“Udah makan sama mandi, udah ganteng anak kamu. Tinggal Papanya nih, masih bau iler,” cetus Karin.

“Mana iler?” tanya Aryan sembari mengarahkan tangannya untuk meraba area di sekitar dagu dan dekat bibir. Setelah Aryan mendapati Karin tersenyum jahil, Aryan segera meraih lengan Karin agar perempuan itu semakin dekat padanya.

“Sini aku cium kamu,” celetuk Aryan.

“Nggak mau, kamu belum mandi Kak,” balas Karin sambil menghindar dari Aryan yang sudah akan mencondongkan diri ke arahnya.

“Emangnya aku bau?” tanya Aryan kemudan.

“Enggak sih.”

“Jelas, mana ada aku bau. Orang kamu ciumin aku terus kalau tidur.”

Karin seketika menampakkan sebuah cengiran manis di wajah cantiknya kala mendengar kalimat Aryan itu.

“Padahal kan kamu tidur, kok tau sih kalau aku ciumin?” Karin nampak keheranan.

“Tau dong. Orang kamu nyiumnya brutal,” terang Aryan.

Pada akhirnya Karin pun tergelak. Setiap Karin tertawa bahagia seperti ini, Aryan selalu merasa bahwa Tuhan sedang memberkatinya. Aryan dapat menyaksikan senyum dan tawa orang yang ia cintai, itu adalah kebahagian yang bernilai besar untuknya.

Saat perlahan-lahan tawa Karin akhirnya reda dan tatapan mereka bertemu, mereka hampir sama-sama ingin mengucapkan sesuatu. Namun akhirnya Karin mempersilakan Aryan untuk mengatakannya lebih dulu.

Happy second wedding anniversary, Sayang. You have to know that two year that we’ve been through, my love for you is still the same. I love you endlessly, not only two year, but it last until forever,” tutur Aryan.

Karin tersenyum lebar mendengarnya. “Aku sebenarnya mau ngucapin juga. Selamat anniversary pernikahan yang kedua ya, Sayang. Semoga kita bisa saling terus mencintai dan kalau ada masalah, kita bisa menyelesaikannya sama-sama,” ujar Karin.

Aryan lantas mengangguk. Satu tangan Aryan lalu terangkat untuk mengusap lembut puncak kepala Karin hingga turun ke pipinya. “Hari ini hari pertama kamu kerja lagi, kan? Nanti aku jemput ya. Kamu selesai jam berapa?”

“Uhmm … kayaknya jam 3 sore udah selesai deh. Nanti aku kabarin kamu lagi. Tapi kamu bukannya kerja hari ini? Kok bisa jemput aku?” Karin baru tersadar. Ini kan hari kerja dan biasanya jam pulang kantor suaminya itu pukul 6 sore. Karin segera memicingkan matanya dan menatap Aryan dengan tatapan meminta penjelasan.

“Aku udah siapin hadiah buat anniversary kita. Khusus hari ini, aku bisa pulang cepet dari kantor,” terang Aryan.

“Jadwal kamu bukannya lagi padet banget Kak di kantor? Nggak papa kalau misalkan nggak bisa hari ini, pas weekend aja. Jadi kita undur rayainnya. Gimana?” Karin memberikan sebuah usul agar pekerjaan suaminya tidak terganggu.

Aryan pun nampak berpikir sejenak. Tidak lama kemudian, lelaki itu meraih satu tangan Karin. Setelah mengusapnya lembut, Aryan memberikan sebuah kecupan di punggung tangan Karin.

“Aku udah izin sama papa buat pulang cepet hari ini. Kamu lupa kalau perusahaan tempat aku kerja itu punya papa?” ujar Aryan.

“Ohh ... gitu. Ya aku nggak lupa sih. Tapi bener juga, kamu anaknya yang punya kantor. Yaudah, nanti sore kita rayain anniversary kita ya,” ujar Karin sembari mengulaskan senyum hangatnya.

“Oke. Aku mandi dulu kalau gitu. Pagi ini ada rapat di divisiku. Kamu berangkat ke tempat pemotretannya jam berapa?” tanya Aryan.

“Jam 10. Nanti aku berangkat sama supir aja,” terang Karin.

“Nggak bareng aku dong?” tanya Aryan.

Dua tahun usia pernikahan mereka, Aryan masih lah suaminya yang sama, yang bisa berubah clingey di hadapannya dan sebisa mungkin selalu berusaha agar berada di dekatnya.

“Kita cuma nggak berangkat bareng, Kak. Nanti sore kan kita ketemu. Udah, kamu mandi dulu sana, nanti telat ke kantor lho,” ujar Karin. Pada akhirnya Aryan mengangguk dan menuruti perkataan Karin. Aryan pun segera beranjak dari kasur untuk pergi mandi. Namun tepat sebelum itu terjadi, pergerakannya ditahan oleh Karin. Tatapan mereka lantas bertemu dan keduanya saling mengunci pandangan satu sama lain.

Karin akhirnya lebih dulu memangkas jarak yang ada di antara mereka, hingga udara saja enggan bergabung untuk mengusik suasana romantis tersebut. Kedua mata Aryan otomatis terpejam begitu merasakan sesuatu yang kenyal dan lembut tengah menyapa belah bibirnya.

Karin mencium Aryan lembut, pergerakannya terlihat lihai, tapi tetap terasa pasti. Aryan pun lekas membalas ciuman Karin dengan tidak kalah mesra, bahkan ia memberikan gigitan kecil di bibir bawah Karin.

Sensasi berciuman di pagi hari memang selalu terasa dahsyat dan menyenangkan. Maka sejak Aryan dan Karin memutuskan untuk bersama dua tahun yang lalu, setiap malam keduanya selalu menggunakan obat kumur sebelum pergi tidur. Aroma buah lemon bercampur mint yang segar, itulah aroma yang mereka rasakan ketika keduanya saling mencumbu. Aryan dan Karin selalu ingin memberikan yang terbaik untuk masing-masing, begitu lah mereka menjalani kehidupan pernikahan selama dua tahun ini.

***

Satu tahun vakum dari dunia permodelan dan kini telah kembali, rasanya Karin begitu merindukan semua yang berhubungan dengan pekerjaannya. Studio pemotretan, catwalk, serta waktu-waktu yang ia habiskan bersama teman-teman model sejawatnya saat backstage.

Kedatangan Karin disambut begitu hangat oleh teman-teman sesama model, makeup artist, dan juga para stylist. Satu persatu yang ada di sana memeluk Karin secara bergantian. Begitu Karin bertemu Jihan yang giliran mendekapnya terakhir, sahabatnya itu membisikkan sesuatu di dekat telinga Karin.

“Rin, lo harus tau. There’s so many designer wants you to wear their design. They’re really waiting for you're comeback,” ujar Jihan.

Begitu pelukan mereka terurai, Jihan kembali mengatakan sesuatu kepada Karin. “Ini baru project kecil yang akhrinya lo terima setelah cuti panjang. Masih banyak project besar yang menanti lo. Oh iya, lo pasti udah liat berita di sosial media, kan?”

Berkat pertanyaan Jihan di akhir kalimatnya itu, Karin pun menjawab dengan sebuah anggukan. Nama Karin kembali baik usai isu perselingkuhan yang telah mencoreng namanya dan juga sempat mengancam karirnya.

Karin mendapatkannya kembali berkat kerja keras dan dukungan orang-orang tercintanya. Selain itu, ada pembuktian bahwa Karin dijebak, jadi semua yang terjadi adalah sebuah kecelakaan. Ternyata dalam waktu yang cukup lama dari masa cutinya, alam tidak diam begitu saja. Sesuai hakikatnya, hukum karma pun bergerak selaras dengan rencana yang telah Tuhan tetapkan.

“Jih, tapi gimana bukti-bukti itu akhirnya bisa kesebar?” tanya Karin pada Jihan. Dari awal Karin memang telah memutuskan untuk tidak mengungkap pelakunya. Bukti yang tersebar adalah benar, tapi bukan dari pihak Karin yang akhirnya mengungkap siapa dalang di balik kecelakaan tersebut.

Jihan segera menjawab dengan sebuah gelengan kepala. “Gue juga nggak tau pasti Rin. Tapi yang jelas, beritanya heboh banget di berbagai platform. Semuanya terungkap gitu aja.”

Seorang stylist bernama Cynthia tiba-tiba datang dan menginterupsi percakapan keduanya. Cynthia mengatakan bahwa Jihan harus segera di makeup karena sebentar lagi gilirannya untuk pemotretan.

Sebelum pergi dari hadapan Karin, Jihan menatap sahabatnya itu dan mengatakan sesuatu. “As your friend, I’m really proud of you, Rin. Mungkin kalau gue yang ada di posisi lo, gue nggak bisa diam aja. Gue akan mengungkap perbuatan dia dengan tangan gue sendiri. Tapi ternyata Tuhan bener-bener adil ya. Tuhan dengerin banget doa-doa lo selama ini. Saat seseorang ngehancurin hidup orang lain, sebenarnya dia lagi daftarin hidupnya sendiri untuk dihancurin balik. Karma is really existed.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷