Kasih Sayang yang Besar
Karin mengantar Kavin sampai ke pintu. Pagi tadi sekitar pukul enam, Karin mendadak memiliki tugas membangunkan dua orang lelaki dan itu tidaklah mudah. Aryan ada kelas jam sepuluh karena hari ini lelaki itu harus presentasi untuk Ujian Tengah Semesternya. Kalau sampai terlambat, mungkin Aryan tidak akan mendapat nilai dan berakhir harus mengulang mata kuliah. Begitu juga dengan Kavin, lelaki itu harus segera berangkat ke stasiun kalau tidak ingin terlambat menghadiri kuliahnya siang nanti.
Seusai sarapan, akhirnya Kavin memutuskan untuk berangkat. Kavin pun menyalami tangan Karin, tapi bukannya segera berangkat, Kavin malah masih menatap kakak perempuannya itu.
“Kenapa, Dek? Ada barang kamu yang ketinggalan?” tanya Karin.
“Kak Karin sama Kak Aryan baru aja berselisih ya kemarin?” Kavin justru melempar pertanyaan pada Karin.
Karin pun terdiam mendengar ucapan Kavin. Apa Aryan menceritakannya pada Kavin? Tapi untuk apa? pikir Karin.
Seolah dapat membaca isi pikiran Karin, Kavin pun kembali berujar, “Kak Aryan nggak cerita detail masalahnya,” ujar Kavin.
Kavin pun menjelaskan pada Karin bahwa Aryan merasa menyesal akan sikapnya yang melarang Karin untuk bekerja. Mendapati Karin kecewa pada Aryan, entah kenapa membuat Aryan tidak karuan. Kavin dapat merasakan bahwa Aryan beberapa kali tidak fokus ketika bermain, padahal level lelaki itu lebih tinggi darinya dan Kavin mengira ia yang akan kalah banyak tadi malam. Namun kenyataannya justru terbalik, Aryan yang banyak kalah dan Kavin mendapatkan kemenangannya.
“Kak, aku nggak mau ikut campur. Ini urusan rumah tangga Kak Karin sama kak Aryan. Aku cuma mau ngasih saran, sebaiknya Kakak bicarain ini sama kak Aryan. Yaudah, aku berangkat dulu ya Kak,” papar Kavin.
“Oke, Dek. Kamu hati-hati di jalan ya,” ucap Karin.
“Kak Aryan nggak minta aku buat ceritain ini ke Kakak. Aku cuma ngerasa perlu menyampaikan ini ke Kakak,” ucap Kavin lagi sebelum benar-benar melangkah pergi.
Sepeninggalan Kavin, Karin kembali masuk ke apartemennya. Karin memikirkannya dan ia pun merasa bahwa dirinya telah keterlaluan. Perkataan Karin tempo hari mungkin telah membuat Aryan terluka. Urusannya dengan Aryan belum selesai, Karin pun bertekad akan menyelesaikannya hari ini juga.
***
Karin berada di apartemen, ia menunggu Aryan pulang dari kampus. Hari ini Karin pulang lebih dulu karena ia hanya memiliki dua kelas dan selesai lebih cepat dari Aryan. Karin mengirim pesan pada Aryan dan menanyakan jam pulangnya. Aryan tahu Karin sudah pulang lebih dulu, jadi ketika sampai di apartemen, Aryan langsung menuju kamar di lantai atas.
Karin pun bangun dari baringannya ketika melihat kehadiran Aryan di sana. “Aryan, ada yang mau aku bicarain sama kamu,” ujar Karin.
Aryan lantas mengangguk, ia mengambil tempat di tepi ranjang. Karin menjauhkan punggungnya dari sandaran kasur, ia menatap Aryan lurus tepat di matanya. “Aryan, aku minta maaf.” Itu kalimat pertama yang Karin ucapkan.
Iris mata Aryan memperhatikan Karin, ia terlihat sedikit bingung atas permintaan maaf yang tiba-tiba Karin lontarkan padanya. “Karin, kamu minta maaf untuk apa?”
“Aku minta maaf karena udah nganggap kamu nggak tulus. Aku terlalu terbawa emosi kemarin. Aryan, aku benar-benar minta maaf, aku salah di sini. Seharusnya aku bicarain dulu sama kamu dan dapat persetujuan kamu soal pekerjaanku. Aku lupa kalau seharusnya pernikahan emang berjalan seperti itu,” papar Karin.
Aryan lantas balas menatap Karin dengan tatapan menyesalnya. “It’s totally fine, Karin. Di sini aku juga salah. Aku minta maaf sama kamu. Nggak seharusnya kemarin aku bersikap egois dan melarang kamu untuk kerja,” ujar Aryan.
Dua hari belakangan Aryan merasa bahwa dirinya tengah kacau. Mendapati Karin kecewa karena perilakunya, entah kenapa membuat hatinya terasa tidak karuan. Seharusnya Aryan tidak perlu memikirkan Karin sebegitunya. Seharusnya hatinya merasa baik-baik saja, tapi kenyataan yang Aryan dapati tidaklah begitu.
“Aryan.” Panggilan Karin itu menarik Aryan kembali dari pikiran monolognya. Aryan lantas menatap Karin. Mata teduh Karin yang kini memandangnya, pemikiran dewasa Karin, telah berhasil meruntuhan ego sekeras baja yang sebelumnya bersarang di hati Aryan.
“Kamu bisa melakukan apa pun untuk anak kamu, Aryan. Kamu berhak untuk itu, apa pun kondisi kita, orang tuanya. Kamu nggak perlu merasa kalah dari Rey. Aku sadar kalau kamu larang aku kerja karena kamu peduli. Aku terima kasih sama kamu untuk itu,” jelas Karin.
Karin lantas mengusap perutnya, tapi pandangannya tidak lepas menatap Aryan. “Seorang anak punya rasa sayang yang sangat besar untuk orang tuanya. Ikatan batin itu kuat, Aryan. Begitu pun orang tua ke anaknya. Suatu saat nanti, anak ini akan bisa merasakan, kasih sayang yang kamu berikan untuk dia.”

***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷