Keajaiban yang Menjadi Penguat

Aryan dan Karin mengantar Nayna sampai ke depan pintu apartemen. Tidak lama setelah adegan akting tersebut, Nayna mengatakan bahwa ia akan pulang karena Aryan sudah kembali. Adik perempuan Aryan itu menggoda Aryan dan Karin dengan menambahkan bahwa ia tidak ingin mengganggu pengantin baru yang tengah di mabuk cinta.

“Selamat menikmati waktu berdua, Koko dan Cici kesayanganku. Aku pulang dulu yaa, bye bye!” ucap Nayna sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi.

Saat punggung Nayna mulai menjauh, Karin pun masuk lebih dulu dan Aryan mengikuti langkahnya di belakang perempuan itu. Karin berjalan menuju ruang tamu dan mengambil tempat di sofa, Aryan pun duduk di hadapannya.

“Kak.”

“Karin.”

“Kamu duluan,” ujar Aryan mempersilakan Karin untuk bicara lebih dulu.

“Oke. Aku mau tanya, kenapa kamu udah pulang? Bukannya kamu bilang mau nginep dua hari.”

“Kina ada kerjaan mendadak yang harus diselesaikan. Kayak yang kamu lihat, jadinya aku cuma nginep semalam. Sekarang boleh aku gantian tanya?”

Karin pun menganggukkan kepalanya dan mempersilakan Aryan untuk bertanya.

“Barusan yang kita lakuin itu apa?” tanya Aryan.

Karin menampakkan senyum segannya kala Aryan membahas kejadian tersebut. Karin menghela napasnya, kemudian perempuan itu berujar, “Itu cuma akting. Semuanya terjadi karena tiba-tiba Nayna curiga kalau kamu nginep sama Kina. Nayna ngasih syarat ke aku, dia akan percaya kalau aku bisa buktiin kamu emang pergi karena urusan kampus. I don’t have any idea how to proved it. So I just decided to acting like we are actually a real couple.”

Alright. Akting kamu bagus juga,” ucap Aryan diiringi tawa kecilnya. Aryan lantas menatap Karin lekat, membuat Karin langsung membuang pandangannya dari Aryan. Kalau mengingat kejadian tadi, rasanya Karin ingin menghilang saat ini juga dari hadapan Aryan.

“Akting kamu juga bagus. Malah sempurna banget, aku sampai kaget lho,” komentar Karin guna mencairkan suasana.

“Untung aku peka ya, coba kalau enggak,” timpal Aryan.

Well, I think you are good at it,” cetus Karin sambil mengedikkan kedua bahunya.

So … I think you have to paid me tho,” balas Aryan diiringi senyum tipis dan satu alisnya yang terangkat.

Kedua alis Karin pun tampak menyatu dan mata bulatnya membola. “Maksud kamu aku harus bayar kamu? Pakai apa? Aku juga akting lho tadi, bahkan kamu sendiri yang puji aktingku,” ujar Karin dengan nada tidak percayanya.

Setelah mengucapkannya, Karin pun hendak bangun dari posisinya. Namun belum sempat itu terjadi, Aryan lebih dulu menahan pergelangan tangannya. “Are you want to watch movie with me this night?”

***

Karin tidak punya alasan untuk menolak Aryan, ia hanya melakukannya begitu saja. Toh tidak ada yang salah kan dari menonton film berdua. Karin dan Aryan kini sudah berada di ruang tamu setelah mengambil beberapa cemilan dari dapur. Mereka menonton film action sembari menikmati makanan ringan yang sekarang sudah berada di pangkuan masing-masing.

Aryan dan Karin's Netflix and Chill

Selama satu jam film telah diputar, Karin pun fokus menikmati filmnya. Namun Karin dapat mengetahui bahwa Aryan tidak sepenuhnya fokus pada layar di depan mereka. Karin tidak berniat untuk bertanya mengenai alasannya. Karin pun berpikir ia tidak berhak untuk tahu lebih jauh soal kehidupan pribadi Aryan.

Netra Aryan yang sebelumnya melihat ke arah TV, kini beralih ke samping, lelaki itu menatap Karin lekat. “Karin,” ujar Aryan.

Karin yang merasa diperhatikan pun lantas memberikan atensinya kepada Aryan. “Hmm?”

In your opinion, what is love means?” tanya Aryan.

Karin nampak berpikir sejenak mendengar pertanyaan Aryan. Karin mengatakan bahwa jawabannya hanya akan berdasarkan dialaminya secara langsung.

“Menurut aku cinta itu tentang waktu. Saat seseorang membuat waktunya untuk seseorang yang dia cintai, bukannya meluangkan sebagian waktu dari kesibukannya, itu bisa disebut sebagai cinta. Waktu itu nggak dicari, tapi dibuat,” ujar Karin.

Aryan lantas menganggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban Karin. “That’s a great answer and it feels make sense.”

Suddenly asking?” tanya Karin,

I’m just curious,” jawab Aryan. Detik berikutnya, Aryan kembali menatap Karin setelah tadi mengarahkan tatapannya pada jemari-jemari di pangkuannya, “Sometimes I felt I’m worthless for her. I’ve tried to gave her my best, but it can’t never made her to stay. She always left at the end and I’m just feeling so empty.”

Karin terdiam kala mendengarnya. Tanpa Aryan menyebutkannya, Karin tau sosok yang Aryan maksud dalam kalimatnya.

You’ve done what the best, you must love her very much,” ujar Karin setelah beberapa menit keduanya hanya larut dalam diam.

Yes, I do,” ucap Aryan dengan suara pelannya. Dari tatapan mata sekecil sabit milik Aryan, Karin dapat melihat ada sebuah guratan luka di sana.

“Malam itu di hotel Bali, aku melamar Kina. I gave her a ring. I asked her to marry me, but she said that she’s not ready yet.”

Karin membiarkan Aryan bercerita sampai selesai, ia tidak berniat untuk mengatakan apa pun sampai Aryan benar-benar tuntas mengungkapkannya.

“Aku bilang aku akan nunggu dia. Saat aku tanya berapa tahun waktu yang dia butuhin untuk siap menikah, Kina nggak bisa memberi jawaban itu. After all that failed purpose, she left me. I drunk, two bottle of champagne, and I met you.” Aryan menjeda ucapannya sesaat, ia menatap Karin dengan tatapan bersalahnya.

“Setelah aku tau kalau kamu hamil, aku malah hampir buat kamu kehilangan anak kita. I’m really sorry for that, Karin. Mungkin menikahi kamu nggak sepenuhnya bikin semuanya jadi lebih baik, aku tetap ngajuin kesepakatan itu ke kamu. Aku melakukannya karena aku nggak bisa kehilangan Kina. Aku pantas dapat pukulan dari Rey waktu itu. I deserved that.”

Karin terdiam sesaat sebelum akhirnya ia berujar, “Kak, apa pun itu yang sekarang kamu sesali, kamu masih punya kesempatan untuk memperbaikinya. Setiap orang punya sisi hitam dan putihnya, tapi setiap orang juga berhak untuk jadi orang yang lebih baik ke depannya. Aku percaya kalau kamu bisa. You already showed your love for our child and I’m really thankful for that,” tutur Karin panjang lebar.

Malam ini Aryan merasakan sebuah rasa sakit yang tidak dapat ia gambarkan. Seketika rentetan kejadian dalam hidupnya belakangan seperti terputar kembali di dalam benaknya. Ketika melihat Karin, Aryan pun masih didatangi oleh perasaan bersalah dan menunjukkan seberapa berengsek dirinya selama ini. Namun malam ini juga, Aryan tidak menyangka bahwa seseorang yang disakitinya justru mengulurkan tangannya dan berusaha membuatnya untuk bangkit kembali.

“Karin, aku mau pegang anak kita. Boleh?” tanya Aryan.

Karin seketika mengarahkan tatapannya mengikuti arah pandang Aryan yang kini melihat ke arah perutnya. Karin pun mengulaskan senyum kecilnya dan mengangguk, “Boleh.”

Setelah anggukan Karin tersebut, Aryan lekas mengarahkan tangannya perlahan menuju perut Karin. Detik-detik Aryan menyentuhkan telapak tangannya di atas perut Karin, Aryan merasakan hatinya berdebar bahagia. Begitu Aryan mengusapkan tangannya di sana, ukurannya masih sangat kecil, tapi ia dapat merasakan gundukan itu di sana.

“Hai, anak Papa,” ucap Aryan dengan suaranya yang sedikit bergetar. Tangannya masih berada di atas perut Karin, ia mengusapnya dengan satu kali usapan, setelah itu baru kembali menjauhkannya.

Usai Aryan melakukannya, Karin mendapati kedua mata Aryan berkaca-kaca diiringi sebuah senyum bahagia di wajahnya. Di antara berbagai kejadian yang menerpa hidupnya dan Aryan, Karin bersyukur bahwa satu keajaiban dapat menjadi penguat, bukan hanya untuknya saja, tapi juga untuk Aryan.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷