Kehancuran Bertubi-Tubi
Aryan tidak ingat kapan terakhir kali ia menyetir seperti orang gila. Seluruh darahnya seperti di pompa dengan cepat ke arah jantung, hingga rasanya dadanya berdegup dengan begitu kencang. Aryan kembali menambah kecepatan laju mobilnya dan pegangan tangannya di setir pun tampak begitu erat. Aryan bersumpah tidak akan mengampuni Kina kalau sampai perempuan itu melakukan sesuatu yang buruk kepada Karin.
Tidak sampai setengah jam kemudian, Aryan akhirnya sampai di pelataran kampus. Setelah memarkirkan mobilnya, lelaki jangkung itu bergegas menuju gedung fakultas manajemen. Di sana nampak sepi, ini masih terbilang cukup pagi dan biasanya tidak ada jam kuliah di waktu seperti ini. Namun Aryan ingat bahwa hari ini Karin ada presentasi untuk ujian tengah semesternya. Jadi memang ada kemungkinan Karin berniat datang lebih pagi ke kampus karena ingin mempersiapkan semuanya dengan matang.
Aryan telah bertanya kepada beberapa orang sampai petugas keamanan sekali pun, tapi belum ada yang melihat sosok Karin di penjuru gedung. Aryan menyisir rambutnya ke belakang dan nampak frustasi. Di saat itu juga, ponselnya berbunyi dan rupanya itu panggilan dari Karin. Begitu Aryan mengangkat telfonnya, bukan suara Karin yang ia dengar, melainkan suara Kina.
“Halo, Sayang. Kamu lagi cari seseorang ya?” tanya Kina di telfon dengan nada pelannya.
“Kina, apa pun yang kamu rencanakan, aku pastiin kamu akan menyesal setelah ini,” ucap Aryan.
“Hei, hei, take it easy, Babe. Kalau kamu cari Karin, kamu sendiri yang harus berusaha untuk nemuin dia. Aku cuma mau bilang, sebaiknya kamu bisa menemukan Karin sebelum semuanya terlambat.”
***
Di gedung kampus tersebut, terdapat sebuah ruangan untuk tangga darurat. Keadaan yang masih sepi tersebut, dimanfaatkan oleh Kina untuk menjalankan aksinya. Karin berada di ujung tangga dengan Kina yang memegang lengannya.
Kina menatap Karin dan mengulaskan senyum tipisnya, “Karin, listen to me. Kamu nggak bisa mendapatkan apa yang sebelumnya bukan milik kamu. Salah satunya adalah Aryan. Aryan akan ninggalin kamu kalau udah nggak ada anak di antara kalian. Semua permasalahan akan selesai dan kamu bisa selamanya pergi dari hidup Aryan,” ujar Kina.
Karin terdiam di tempatnya. Jika ia melawan untuk lepas dari Kina, maka kemungkinan terburuk dirinya bisa terjatuh dari tangga. Karin pun memutuskan untuk tidak menunjukkan rasa takutnya di hadapan Kina. Ia mengenal sosok Kina dan jika Karin kehilangan keberaniannya, maka Kina akan merasa semakin berada di atas awan.
“Kina, kamu perlu tau ini,” ujar Karin sambil menatap Kina dengan berani. “Kak Aryan memang mencintai kamu, tapi satu hal, dia juga sangat mencintai anaknya. Kalau dia tau kamu berniat mencelakai anaknya, mungkin selamanya dia nggak bisa maafin kamu,” ujar Karin.
Kalimat yang dilontarkan Karin tersebut seketika membuat Kina nampak berpikir. Beberapa saat setelah itu, sebuah pintu menuju ruangan tangga tersebut dibuka oleh seseorang. Karin melihat Aryan berada di sana dengan wajah khawatirnya.
“Kina, kamu lepasin Karin sekarang,” ujar Aryan dengan nada tegasnya.
Kina menyunggingkan senyum tipisnya seraya menatap Aryan dan berujar, “Kamu pikir bisa semudah itu? Kalau kamu mau sesuatu, kamu juga harus menukarnya dengan sesuatu, Aryan. Bukannya itu yang keluarga kamu ajarkan untuk membangun suatu bisnis yang sukses? Kamu pasti banyak belajar soal itu kan, Sayang?”
Aryan menghembuskan napasnya dan kemudian berujar, “Oke, kamu bisa bilang sama aku. Kamu mau menukarnya dengan apa?”
Mendengar kalimat yang Aryan lontarkan tersebut, Karin lantas menggelengkan kepalanya. Aryan beralih menatap Karin dengan tatapan lembutnya. Dari matanya seolah Aryan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan Karin tidak perlu mengkhawatirkan apa pun.
“Permintaan aku cuma satu, Aryan. Kamu harus kembali sama aku dan selamanya kamu adalah milik aku. Kamu bisa menolak itu, tapi kamu tau resikonya, kan?”
Aryan memejamkan matanya sejenak, sebelum akhirnya ia memutuskan sesuatu. “Alright. Aku akan turutin permintaan kamu,” ujar Aryan diiringi tatapan getirnya.
Detik berikutnya Kina nampak mengulaskan senyum kemenangannya. “Well, kamu membuat keputusan yang bagus. Selama kamu menepati perjanjiannya, semuanya bisa diatur.” Kina menjauhkan dirinya dari Karin dan melepaskan tangannya di lengan Karin.
“You will forever be mine, Aryan Sakha. I’ll see you tomorrow, I have to go right now,” sambung Kina sebelum melenggang pergi dari sana.
***
Saat Karin keluar dari kelas terakhirnya, ia mendapati Aryan berada di depan ruangan kelasnya. Kekhawatiran jelas tergambar di paras lelaki itu. Aryan pun langsung mengajak Karin untuk pulang, bahkan lelaki itu mengantarnya sampai ke kamar dan menunggui Karin hingga tertidur.
Beberapa menit setelah Karin coba memejamkan matanya, rupanya perempuan itu kembali terjaga. Melihat Aryan masih berada di samping ranjangnya, Karin pun berujar, “Kamu pasti capek. Kamu juga butuh tidur, nggak perlu tungguin aku di sini.”
Aryan menatap Karin, lalu tangannya terangkat dan mengusap punggung tangan Karin sekilas. “Aku khawatir sama kamu. Biarin aku di sini sampai kamu tidur, ya?”
Karin akhirnya mengangguk. Sebelum kembali memejamkan matanya, Karin menatap langit-langit sejenak, kemudian pandangannya beralih kepada Aryan. “Kak,” ujar Karin.
“Iya?” sahut Aryan.
Karin bergerak dari posisi baringannya untuk duduk, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kasur. “Kamu mau tidur di sini?” tanya Karin sembari menepuk bagian kasur di sampingnya. Sebelum semuanya nampak canggung, Karin mengambil satu buah guling dan meletakkannya di tengah.
“Nggak papa. We still have boundaries between us,” ujar Karin. Pandangan Karin tertuju pada kedua mata sayu Aryan. Bukti fisik yang terlihat tentu tidak bisa berbohong. Karin seperti tahu ada sesuatu yang terjadi tanpa Aryan perlu mengatakannya.
Detik berikutnya, Aryan bergerak untuk berbaring di samping Karin. Keduanya kini saling berhadapan, Karin menatap Aryan dengan tatapan khawatirnya. “Kak, kamu semalam ke mana? Apa ada sesuatu waktu kamu nganter Kina pulang?” tanya Karin.
“Sebenarnya semalam aku mau buktiin sesuatu,” terang Aryan.
“Buktiin apa?”
“Aku sama Kina putus. We ended up last night. Aku tau akhirnya Kina nggak benar-benar tulus sama aku. She want to be with me just to feel lucky. She’s not truly loves me,” ujar Aryan.
Aryan pun menceritakan apa yang terjadi semalam. Soal Kina yang hampir membuatnya tidur bersamanya. Namun Aryan sudah dapat menebak apa yang akan terjadi, sejak Kina melontarkan ajakan pesta bersama teman-temannya. Maka dari itu Aryan sengaja merencanakan semuanya untuk menangkap basah Kina dan memutuskan hubungan mereka saat itu juga.
Aryan tidak ingin membuat Karin kepikiran, sehingga ia tidak mengatakan yang sebenarnya soal dirinya yang ingin membuktikan sesuatu.
“Karin, aku nggak akan tinggalin kamu lagi kayak kemarin. Aku janji,” ujar Aryan sembari menatap Karin dalam-dalam.
Karin balas menatap Aryan, pikirannya pun melayang pada perkataan Aryan pada Kina. “Kak … tapi gimana janji kamu sama Kina?” Karin berucap dengan nadanya yang terdengar lirih. Karin mengatakan bahwa dirinya merasa bersalah kepada Aryan. Aryan telah berusaha keluar dari rasa sakit saat bersama Kina, tapi justru harus kembali menghadapi rasa sakit itu hanya untuk melindungi Karin dan bayinya.
“Karin, kamu dengerin aku ya. Aku akan urus semuanya. Kamu nggak perlu khawatir, aku cuma mau bikin Kina terkecoh. Tadi yang aku pikirin cuma kamu dan anak kita,” ucap Aryan. Aryan memandangi wajah Karin, ia menelusuri setiap inci paras Karin menggunakan netranya. “Aku nggak akan sanggup kalau harus kehilangan kalian,” sambung Aryan.
Kata-kata Aryan terasa menembus hati Karin dan memberikan kehangatan di dalam rongga dadanya. Karin tidak mampu mengeluarkan kata-katanya. Karin pun hanya mengulaskan senyumnya.
Hari sudah beranjak sore, udara sejuk yang terasa menelusup ke kamar itu melalui sela-sela jendela, membuat Karin dengan cepat dapat terlelap. Karin memeluk gulingnya, wajahnya nampak begitu damai tertidur. Rupanya Aryan belum melakukan hal yang sama seperti Karin, lelaki itu justru nampak betah mengamati Karin yang tertidur.
Sesaat kemudian, Aryan bergerak menarik selimut tebal sampai menutupi bahu Karin. Sebelum memejamkan matanya, Aryan berujar di hadapan Karin yang tengah tertidur, “Karina, I was liked you. Two years ago.”
Pikiran Aryan pun melayang pada kejadian dua tahun yang lalu. Sebuah senyum kecil lantas terukir di wajah Aryan kala mengingat saat-saat tersebut di dalam hidupnya. Dua tahun yang lalu Aryan berada di satu tingkat di atas Karin dan menjadi panitia untuk orientasi mahasiswa baru. Dari sana untuk pertama kali Aryan mengetahui tentang Karin.
Waktu itu satu angkatan memang sudah tahu kalau di jurusan mereka terdapat mahasiswa yang merupakan seorang public figure yang cukup terkenal. Berita itu heboh dan membuat para lelaki baik dari angkatan atas maupun seangkatannya membicarakan tentang Karin. Bahkan ada yang terang-terangan mengincar Karin sampai mengirimkan beberapa hadiah maupun bunga untuk menarik perhatian sang primadona.
Sosok Karina yang cantik, humble, dan pintar, membuat Aryan sempat mengaguminya. Namun yang terjadi saat itu, Aryan mengetahui bahwa Karin telah memiliki kekasih. Tidak lama dari waktu tersebut, Aryan bertemu dengan Kina dan hubungan keduanya pun mulai berjalan. Semuanya terjadi begitu saja. Mereka tidak saling mengenal secara pribadi, tapi Aryan mengetahui tentang Karin. Beberapa kali Aryan pernah berkesempatan bertemu Karin karena Kina bekerja di industri yang sama dengan Karin.
Tentunya Karin mengetahui Aryan sebagai kekasih Kina. Sejak kejadian malam itu, Karin meminta Aryan merahasiakannya karena ia tidak ingin menyakiti temannya sendiri. Sampai kemarin Aryan tahu bahwa Kina yang merencanakan semuanya, Aryan begitu kecewa dan marah terhadap Kina. Kenyataan bahwa Aryan telah menghancurkan hidup Karin, membuatnya merasa begitu buruk.
Aryan kembali menatap wajah Karin dalam-dalam. Karin yang ada di hadapannya saat ini, adalah sosok yang begitu ingin ia lindungi. Saat Karin menatapnya khawatir dan terdapat guratan sedih di wajah ini, entah mengapa Aryan merasa bahwa dirinya ikut hancur. “Karin, sebelum aku ketemu sama Kina, orang yang pernah aku sukai itu kamu. Kamu seseorang yang baik, pintar, dan berbakat. Aku kagum sama kamu,” ucap Aryan pelan.
Selang beberapa menit kemudian, Aryan mendapati Karin bergerak dalam tidurnya. Aryan pun seketika terkesiap. Tidak mungkin kan Karin mendengar semua perkataannya. Aryan pun berujar dalam hatinya. Bagaimana kalau Karin mendengarnya? Apa reaksi yang akan diberikan Karin kalau sampai tahu orang yang Aryan dulu sukai adalah orang Karin sendiri. Pikiran Aryan pun menjadi rumit memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.
“Kak …” Karin bergumam dalam tidurnya.
“Karin kamu tidur lagi ya,” tutur Aryan berusaha menenangkan Karin yang tengah mengigau.
“Kak, kamu jangan pergi,” ucap Karin lagi. Aryan memperhatikan nampak sebuah kerutan di kening Karin, tapi kedua mata Karin masih terpejam.
Aryan mengangkat tangannya, lalu perlahan mendaratkannya di puncak kepala Karin, ia mengusapnya lembut di sana, “Ssshhh… ssshhh … aku di sini, Karin. Aku nggak pergi.”
Perlahan-lahan Karin mulai tenang kembali. Napasnya terdengar teratur dan igauannya telah berhenti. Aryan mengamati paras tertidur Karin yang nampak damai. Rasanya Aryan dapat lebih tenang ketika memandang wajah ini. Segala kekhawatiran dan ketakutan Aryan di hatinya, sedikit demi sedikit mulai terasa menguap. Bagaimana bisa Karin membuatnya seperti ini?
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷