Kehidupan Sesungguhnya yang Baru di Mulai
Hari ini merupakan hari Senin. Tepatnya kini sudah satu minggu sejak pernikahan Aryan dan Karin. Tidak banyak yang berubah dari keduanya. Namun pagi ini ada kejadian yang membuat Karin sedikit terkejut. Perempuan itu mendapati Aryan sudah terbangun dari tidurnya, tanpa usahanya untuk membangunkan lelaki itu. Ya, salah satu kebiasaan baru yang terjadi adalah Karin yang harus membangunkan Aryan. Terutama jika Aryan ada kuliah pagi, Karin harus mengerahkan tenaga ekstra untuk membuat Aryan bangun dari tidurnya yang kelewat nyenyak itu.
“Tumben bisa bangun sendiri. Kamu pasang alarm?” tanya Karin begitu Aryan menarik kursi di dapur, kemudian lelaki itu duduk di sana.
“Kebangun sendiri, aku nggak pasang alarm,” jawab Aryan.
Karin pun mengangguk-angguk, lalu kembali mengalihkan atensinya dari Aryan pada masakannya. Setelah semuanya siap, Karin mengambil dua piring untuk menyajikan sarapan. Satu untuk dirinya dan satu untuk Aryan.
Karin menarik kursi di hadapan Aryan setelah menaruh dua piring french toast yang dilengkapi dengan buah-buahan yang nampak segar. Karin juga menghangatkan segelas susu untuknya dan membuatkan secangkir kopi susu panas untuk Aryan.

Setelah Karin menelan suapan pertama french toast-nya, alisnya pun mengernyit sembari menatap ke arah Aryan. “Kamu kebangun karena aku berisik masak di dapur, ya?” tanya Karin.
Aryan yang mendengar pertanyaan Karin seketika menganggukkan kepalanya. “Itu salah satu faktornya. Tapi mungkin faktor lainnya karena udah kebiasaan kamu bangunin, jadi nggak terlalu susah untuk bangun sendiri,” ujar Aryan.
Karin hanya beroh ria saja mendengar jawaban Aryan. Kemudian keduanya fokus menikmati sarapan masing-masing dan tidak ada percakapan lebih lanjut yang terjadi. Sekitar 10 menit berlalu, french toast di piring Aryan sudah bersih, begitupun dengan Karin. Namun Aryan masih setia di meja makan, lelaki itu tengah menikmati kopinya yang masih tersisa. Sementara Karin bergerak membawa piring kotor miliknya dan milik Aryan ke wastafel.
“Karin, piringnya nggak usah dicuci. Hari ini ada asisten yang dateng ke sini,” ujar Aryan dan seketika menghentikan aksi Karin.
Begitu Karin berbalik dari wastafel, ia mendapati Aryan sudah berada tepat di belakangnya. Aryan pun meletakkan gelas bekas kopinya yang telah kosong di wastafel.
“Kamu ada kelas jam berapa hari ini?” tanya Aryan.
“Jam 12 siang. Kelas terakhirku jam 5 sore,” jawab Karin.
Beberapa kali keduanya kerap berangkat dan pulang bersama. Jika jam mulai dan berakhir kelas mereka berdekatan, Aryan akan sekalian membawa Karin bersamanya.
Hari ini Karin tidak memiliki kegiatan lain setelah perkuliahan, baik BEM atau pun kepanitiaan. Jadi Karin bisa langsung pulang setelah kelas terakhirnya selesai.
“Oke, kalau gitu kita bisa pulang bareng. Nanti aku kabarin kamu lagi,” ucap Aryan.
***
Karin berada di mobil, ia duduk di kursi penumpang di belakang. Sementara Aryan sudah siap di balik kemudinya. Alasan mereka belum keluar dari pelataran parkir kampus adalah seorang perempuan yang kini baru saja membuka pintu di samping kemudi.
Begitu masuk ke mobil, Shakina menatap ke arah Karin sekilas, kemudian perempuan itu menatap Aryan dan memamerkan senyum manisnya. Shakina merangkul satu lengan Aryan dari samping, lalu menyandarkan kepalanya di sana.
“I missed you,” ucap Kina sembari mendongakkan wajahnya untuk mempertemukan netranya dengan netra Aryan. Detik berikutnya, Kina kembali menduselkan kepalanya di lengan Aryan, “I need five minutes for this.”
Beberapa hari yang lalu, Kina dan Aryan memang tidak bertemu dikarenakan perbedaan jadwal keduanya. Kina ada pekerjaan yang harus diselesaikannya sementara sehabis kelas, Aryan ada jadwal magang di perusahaan papanya.
“Sayang, kita nggak jadi dinner berdua ya?” tanya Kina setelah akhirnya melepaskan pelukannya di lengan Aryan.
“Besok aja kita dinner-nya. Oke?” ujar Aryan.
“Well okey. Aku udah seneng kok, yang penting hari ini aku bisa ketemu sama kamu,” ujar Kina sembari mengulaskan senyumnya.
Aryan pun balas tersenyum ke arah Kina, sebelum akhirnya Aryan bergerak untuk mulai memanuver mobilnya keluar dari pelataran parkir fakultas.
Sebelumnya Aryan tidak menduga kalau Kina meminta diantar pulang hari ini dan kekasihnya itu mengatakan begitu merindukannya. Namun yang terjadi, Aryan juga tidak bisa membiarkan Karin pulang sendiri. Karin sudah mengatakan bahwa ia bisa naik taksi online, karena hari ini Rey tidak bisa mengantarnya pulang. Akhirnya Aryan pun memutuskan tetap membawa Karin dan tetap mengantar Kina. Toh Aryan bisa mengantar Kina lebih dulu baru setelah itu ia dan Karin pulang.
***
Aryan mendapati Karin tengah tertidur di jok belakang sesampainya mereka di parkiran apartemen. Aryan segera turun dan membuka pintu di samping Karin. Ketika tubuh Karin hampir saja limbung, Aryan segera menahannya menggunakan satu lengannya.
“Karin, kita udah sampai,” ujar Aryan di dekat Karin.
Respon yang didapatkan Aryan dari Karin hanyalah sebuah gumaman tidak jelas dan sedikit pergerakan dalam tidurnya.
Sesaat Aryan memperhatikan wajah tertidur Karin. Kegiatan Aryan itu tidak berlangsung lama, dikarenakan Karin bergerak lagi dalam posisinya.
“Karin,” panggil Aryan lagi untuk membangunkan Karin. Sepertinya usaha Aryan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhasil, Karin terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya.
“Oke, aku gendong kamu,” ucap Aryan. Berikutnya yang terjadi adalah Aryan menyelipkan lengannya di bawah lekukan kaki Karin, lalu lengan satunya lagi berada di balik punggung perempuan itu.
Aryan hampir saja melupakan sesuatu. Ia kembali berbalik untuk mengambil tas milik Karin dan berusaha sebisa mungkin menyampirkan benda itu di pundaknya. Begitulah Aran harus melakukannya hingga langkahnya sampai di unit apartemen mereka.
Ketika sampai di kamar, Aryan membaringkan Karin dengan perlahan di atas kasur. Setelah itu tidak lupa Aryan melepaskan flat shoes Karin, meletakkannya di lantai, dan bergerak menyelimuti tubuh Karin. Sebelum pergi dari sana, Aryan meletakkan tas Karin di kursi meja belajarnya. Kemudian memandang wajah Karin sesaat, lalu ia bergegas untuk mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur.
Aryan berpikir bahwa kehidupan baru yang ia jalani ini tidaklah mudah. Ia memiliki istri, tapi juga memiliki kekasih. Namun ketika melihat Karin, Aryan tahu bahwa beban perempuan itu akan lebih berat darinya, mulai sekarang maupun nanti ke depannya. Karin akan mengandung selama sembilan bulan dan melahirkan seorang anak, itu bukanlah persoalan yang mudah.
Tidak sepatutnya Aryan mengeluh dan menyalahkan keadaan. Pola pikirnya yang perlu diubah. Tidak lama lagi ia akan menjadi seorang ayah dan memiliki tanggung jawab yang besar. Meskipun yang terjadi malam itu antara dirinya dan Karin adalah kecelakaan, Aryan tidak ingin menjadi lebih berengsek lagi dengan meninggalkan Karin dan membiarkan perempuan itu menjalani semuanya sendiri.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷